Mantra terus terucap dari suku Barbaro, di bawah terangnya sinar bulan purnama.
Lalu secara mengejutkan, datang angin kencang mengelilingi mereka.
Cahaya terang turun dari bulan, masuk dan menyatu dengan kepulan asap dari kain basah berisikan d*r*h keperawanan Alice.
Duuaarrrrr....
Ledakan muncul dari kepulan asap itu, gumpalan bercahaya itu membentuk naga putih yang melayang-layang di atas patung Dewa Arsena yang di sembah suku Barbaro.
"Dewa kami yang bijaksana, turunkanlah titisanmu ke dunia ini untuk mengalahkan kekejaman Iblis yang telah merusak keseimbangan hidup di Bumi," ucap mereka serentak berulang-ulang.
"Kami persembahkan dua anak manusia berdarah murni, untuk media bersemayamnya kekuatan yang akan Engkau turunkan," lanjut Kepala suku Barbaro.
Lalu, naga putih itu melayang-layang di atas kepala Alan dan Alice, berubah menjadi gumpalan asap dan terbelah menjadi dua lalu masuk dengan cepat ke dalam raga dua anak manusia itu.
Alice merasakan, ada roh yang masuk ke dalan tubuhnya, lalu memberikan energi dan kekuatan yang belum pernah dia rasakan.
Tubuh yang terduduk lemas di pangkuan Alan, kini bisa berdiri dan melepas ikatan tangannya dengan sekali tarik, hingga membuat dahan pohon besar di atasnya roboh dan hampir menimpa banyak orang.
Begitu pula dengan Alan, dia mengalami perubahan di luar akal sehatnya. Otot-otot di kedua lengannya membesar, dadanya membusung dan membentuk kotak-kotak di perutnya.
Meskipun selama ini dia pekerja kasar, serabutan, dan mengangkat junjung barang-barang berat, belum pernah membentuk tubuhnya seperti sekarang ini.
Sekarang dirinya seperti seorang pria perkasa dengan tubuh tegap berotot.
Semua wanita suku Barbaro berteriak histeris, melihat perubahan Alan yang membuat air liur mereka menetes, di tambah otot-otot di juniornya yang ikut bereaksi tegap berdiri.
Tali yang terikat di tangannya terlepas dengan sendirinya, beriringan dengan tubuhnya yang membesar.
Alice melongo melihat perubahan Alan yang begitu menakjubkan di depan matanya, sungguh berbeda dengan Alan yang beberapa hari lalu dia kenal.
"A-alan? A-apa kau baik-baik saja?" tanya Alice.
"Iya, aku merasa lebih baik dan lebih kuat dari sebelumnya," jawab Alan yang menoleh ke arah Alice, lalu menarik pinggang wanita itu ke dalam pelukannya.
"Kau terlihat sangat s*xy dengan perubahan di tubuhmu," bisik Alan di telinga Alice memuji bentuk tubuh baru wanita itu.
"Kau juga semakin menawan dan perkasa dengan tubuh ini," balas Alice membelai lembut d**a Alan hingga turun ke bawah.
"Ssssstt, ahhhhh. Kamu jangan menyentuhnya jika tidak ingin menerima akibatnya," desah Alan ketika tangan Alice tidak sengaja menyentuh juniornya.
Tiba-tiba kepala suku Barbaro datang menghampiri mereka, lalu berkata, "Selamat! Dewa Arsena telah memberkatimu dengan kekuatan setara dengan Dewa. Kalian dua anak manusia yang terpilih untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan yang di buat oleh Iblis. Kalian telah resmi menjadi sepasang suami istri, dan kalian akan segera melahiran anak titisan Dewa, yang akan membantu memusnahkan Iblis di dari muka bumi," ujar Kepala suku Barbaro.
"Dan untukmu anak muda," ucapnya menatap ke arah Alan.
"Kau bisa berc*nt* dengan wanita mana saja, tapi kau hanya bisa memiliki keturunan dengan wanita yang berdarah murni seperti wanita ini," lanjut kepala suku Barbaro yang menunjuk ke arah Alice.
"Terima kasih atas berkat kekuatan yang di berikan Dewa Arsena," balas Alan.
"Tapi, bagaimana kau mengetahui jika aku dan Alice memiliki darah murni? sedangkan kami sendiri tidak tau apa itu darah murni," tanya Alan.
"Darah murni hanya di miliki oleh orang-orang terpilih dari langit. Orang-orang yang memiliki jiwa pemberani, penolong, dan tulus dalam hatinya. Dan terpenting mereka masih menjaga kesuciannya sebelum menikah. Itu sebabnya kami menangkapmu secepat mungkin, sebelum pengaruh Iblis menghasut pikiran kalian, dan terjerumus melakukan hal yang tidak seharusnya," jelas kepala suku Barbaro yang bernama Noelardo.
"Dan untukmu, Nona Alice. Kau bisa ikut dengan para wanita itu, untuk menggunakan pakaianmu. Beristirahatlah, Dewa Arsena akan segera memberkatimu dengan tumbuhnya bayi dalam rahimu," ujarnya pada Alice.
Alice yang masih belum bisa mencerna keadaan itu, hanya pasrah dan mengikuti para wanita suku Barbaro menuju ke pondok mereka. Namun, saat berjalan menuju pondok suku Barbaro, Alice menoleh ke belakang melihat Alan sudah di kerubungi wanita muda dari suku Barbaro.
Ada sekitar tiga wanita muda yang menggoda, dan melemparkan tubuhnya untuk di gagahi oleh Alan.
Rasa amarah dan cemburu membakar hati Alice, saat pria yang sudah menjadi suaminya beberapa saat yang lalu itu, hanya bisa pasrah dengan para wanita yang terus menggenjatnya tanpa rasa malu.
Ada rasa tidak rela dalam hatinya, berbagi pria dengan wanita lain. Namun, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, saat para wanita yang menggandengnya berkata, "Biarkan saja seperti itu, agar sisa-sisa sp*rm* manusia yang sebelumnya menumpuk dalam tubuhnya segera habis, dan berganti dengan sp*rm* baru sebagai utusan Dewa yang akan segera memenuhi rahimmu, dan tumbuh janin di dalamnya," terang salah satu wanita tua di sebelah Alice.
Dengan terpaksa, Alice mengabaikan suaminya yang masih terus di jamah oleh wanita muda suku Barbaro.
Di dalam pondok itu, Alice di beri kain untuk menutupi tubuh bagian bawahnya, sedangkan tubuh bagian atasnya dia di beri selembar kain panjang dengan lebar lima belas centimeter, yang hanya bisa menutupi gundukan kenyal miliknya sangat besar.
Wanita tua di suku Barbaro membantunya memlilitkan selembar kain itu di tubuh Alice, mereka menambahkan aksesoris kalung dan gelang untuknya.
"Tak salah memang kau terpilih menjadi pemimpin kami untuk melawan para Iblis. Selain hatimu yang tulus, kau memang berparas sangat cantik menawan. Aku yang seorang wanita pun terpesona dengan kecantikanmu," puji mereka pada Alice.
"Terima kasih. Tapi, tidak semua paras cantik merupakan anugerah. Kadang bisa merupakan musibah atau bencana di kehidupannya," gumam Alice bersedih.
"Jangan seperti itu! Dunia akan segera membaik jika kau tetap semangat dan menjalani takdirmu. Nasib hidup kita semua berada di tanganmu dan keturunanmu nanti."
"Iya, benar. Kau harus tetap semangat demi kelangsungan hidup makhluk yang masih tersisa di muka bumi ini. Aku Maripo akan selalu di sampingmu jika kau membutuhkan seseorang untuk bersandar," sahut wanita lain yang bernama Maripo.
Alice mengusap airmatanya, lalu senyum mengembang di bibirnya saat melihat perhatian tulus yang di berikan mereka.
"Terima kasih untuk kalian semua. Kalian sangat baik dan perhatian padaku. Aku berjanji akan membasmi Iblis dari muka bumi ini dan menyelamatkan keluargaku dari siksaan mereka," tandasnya bersemangat.
"Syukurlah, kami senang bisa membuatmu tersenyum dan bersemangat lagi. Perkenalan ini adikku yang bernama Marita, dan yang ini temanku yang bernama Lolita," ucap Maripo.
"Namaku Alice, aku senang bertemu kalian, seperti memiliki ibu kembali," balas Alice.
"Kau bisa beristirahat di sana. Suamimu akan segera menyusul setelah semuanya sudah selesai. Kami pamit dulu, semoga tidurmu nyenyak malam ini."
Alice pun merebahkan tubuhnya yang lelah di atas tempat tidur berbahan kayu yang keras. Dirinya sedikit lega, saat ini dia tidak berjuang sendiri untuk melawan para Iblis.
Suku Barbaro berada di belakangnya, mendukung dan menuntunnya untuk mencapai tujuan.
Matanya terpejam dengan cepat, hingga tangan hangat melingkar di perutnya, ikut berbaring dan terlelap bersama hingga menjelang pagi.
Alice bermimpi bertemu dengan Ibunya yang sudah lama meninggal. Dalam mimpinya itu, Ibunya berpakaian serba putih dan bercahaya.
"Putriku, tersayang. Simpanlah buah manggis ini, dan makanlah saat kau sedang hamil nanti," ucapnya lembut lalu semakin menjauh dan menghilang oleh cahaya.
Alice terbangun dalam tidurnya, saat mimpi itu sudah berakhir.
"Ada apa? kenapa kau terbangun dengan nafas memburu seperti itu, Alice?" tanya Alan yang terkejut dan ikut terbangun.
"Aku bermimpi bertemu dengan Ibuku, dan dia memberiku buah manggis, agar aku makan saat aku sudah hamil nanti," jelas Alice.
"T-tunggu dulu. Itu di sampingmu ada buah manggis sungguhan. Jika itu mimpi, kenapa buah manggis itu sungguh ada di sini?" tanya Alan keheranan.
"Aku tidak tau, mungkin ini sebuah peringatan atau pertanda yang di berikan Ibu untukku di masa depan," sahut Alice.