Suku Apa Itu?

1203 Words
Alice merasa melayang-layang di atas tandu, yang di bawa oleh orang-orang yang asing baginya. Dia mengira, ini adalah hukuman untuknya karena sudah melanggar aturan yang sudah di tetapkan di Desanya. Dia dengan sengaja berc*mb* dengan seorang pria yang bukan suaminya, dan bahkan menikmati sensasi yang belum pernah dia rasakan. Air mata menetes dari sudut matanya, sebelum kesadarannya benar-benar menghilang. * Sebuah rapalan mantra terus berdengung di telinga Alan dan Alice, yang masih dalam keadaan setengah sadar. Udara dingin membelai kulit tubuhnya yang terasa t*l*nj*ng, membuat mereka membuka mata dengan paksa. Beberapa saat kemudian Alan membelalakan mata, saat yang dia lihat pertama kali adalah tubuhnya dalam keadaan t*l*nj*ng bulat tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhnya. Di atas batu besar berbentuk bulat seperti Altar persembahan, dengan simbol yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Kedua tangan di ikat ke atas, seperti boneka kayu yang sering di mainkannya bersama anak-anak di desa. Ada banyak orang yang berpakain aneh, dan bahkan ada yang bert*l*nj*ng bulat sepertinya, sedang berdiri mengelilinginya dengan mulut yang terus mengucapkan mantra. Alan melirik ke arah Alice di sebelahnya, sontak membuatnya semakin terkejut, saat mendapati tubuh wanita itu juga dalam keadaan t*l*nj*ng bulat. Tubuh ramping dengan kulit putih yang mulus, terlihat sangat menggoda di bawah sinar bulan purnama. Alan langsung mengalihkan pandangannya dan menyembunyikan juniornya yang mulai mengeras, saat Alice mulai sadar dan mengerjapkan matanya. "Huwaaaaaaa," teriak Alice mendapati tubuhnya tanpa sehelai kain pun, dan di tonton oleh banyak orang asing di hadapannya. Lalu dirinya menoleh ke samping, melihat Alan yang juga bertubuh polos sepertinya. Dengan kedua tangannya yang di ikat menggantung ke atas seperti boneka kayu, Alice masih bisa bergerak menutupi bagian sensitifnya. "Kita ada di mana? dan siapa mereka yang mengelilingi kita?" bisik Alice kepada Alan. "Aku tidak tau. Tapi, di lihat dari cara mereka tidak berpakaian dan tanda di tubuhnya, sepertinya mereka adalah suku Barbaro," balas Alan dengan mata terpejam agar tidak melihat tubuh mulus Alice yang akan menyiksa juniornya. Jantung Alice berdegub kencang, saat tiga orang pria dari mereka mendekat dan naik ke atas batu besar membawa air yang sudah mereka beri mantra. Dua orang di antaranya mendekati Alan, yang memberontak ingin melepaskan diri, lalu kedua orang itu berhasil mencekal kedua tangan dan kepala Alan. Satu orang lagi yang sepertinya kepala suku mereka, menenggakkan air yang di bawanya. Memaksa air itu masuk ke dalam mulut Alan hingga tak tersisa hingga membuatnya tersedak-sedak, kemudian beralih ke arah Alice yang mulai ketakutan. Namun, kedua pria yang memegangi kepala dan tangan Alan turun, berganti dengan dua orang wanita. Dengan cepat, kedua wanita yang sama-sama bertubuh polos itu mencengkram kedua tangan Alice. Kepala suku itu mencengkram mulut Alice, dan memasukan air yang sudah mereka beri mantra. Usaha Alice untuk memuntahkan air tersebut sia-sia, karena mulutnya di bungkam rapat dengan kepala yang di dongakkan ke atas. Tenaga Alice terkuras habis hanya untuk memberontak ketiga orang itu, yang sudah turun ke bawah dan melanjutkan merapalkan mantra-mantra aneh. "Alice, apa kamu baik-baik saja?" bisik Alan yang merasa kasihan dengannya. Alan hanya mendengar suara tangisan lirih dari Alice, yang duduk meringkuk, membenamkan kepalanya di kedua lututnya. Wanita itu sangat terpukul, dengan kejadian yang baru saja di alaminya. Di tambah harga dirinya yang sudah hancur, saat tubuhnya yang di t*l*nj*ngi paksa, dan di lihat oleh banyak orang. "Arrrgghhh, sakit... Panas!" erang Alice yang tiba-tiba mendongak berteriak kesakitan. Rasa panas yang dia rasakan, menjalar di setiap saraf dan nadinya. Tubuh bagian depannya mengeras dan semakin membesar dua kali lipat dari sebelumnya. Setiap inci dalam tubuhnya berubah menjadi lebih padat dan s*nt*l. Reaksi dari ramuan yang di berikan oleh suku tersebut sudah mulai bekerja di tubuh Alice. Tidak beda jauh dengan Alice, Alan pun ikut mengerang kesakitan saat rasa panas menjalar di tubuhnya. Bermuara di bagian bawah tubuhnya yang sudah mengeras dan membesar, membuat kepala Alan ikut berdenyut kesakitan. "Whoo haaa, whoo haa, lahirlah dewa kemenangan dari dua anak manusia yang terpilih," sorak semua orang saat melihat air mantra yang di minum Alan dan Alice bereaksi. Nafas kedua anak muda yang malang itu terengah-engah saat rasa panas dan sakit dalam tubuhnya sudah berakhir. Tapi mereka salah, karena puncak dari reaksi air mantra itu baru di mulai. Mata Alan memerah dan sayu menatap ke arah Alice yang juga bernasib sama. "M-maafkan aku Alice, tapi aku sudah kuat menahannya lagi," lirihnya dengan suara tertahan. "Jangan, Alan. Aku mohon, jangan lakukan itu," balas Alice yang tau apa yang di maksud Alan. Karena tubuhnya sendiri juga merasakan hal aneh dalam intinya, dan menginginkan tubuh Alan untuk memenuhinya. Entah roh dari mana yang merasuki tubuh mereka, hingga keduanya sama-sama mendekat dan bergelayut mesra. Alan dengan rakus mel*m*t bibir Alice, menelusuri setiap rongga di mulutnya. Begitu pun dengan tubuh Alice yang mengkhianati hatinya. Kedua tangannya bergelayut di pundak Alan, memiringkan kepalanya agar pria di hadapannya dapat memperdalam ciumannya. Kewarasan Alan sudah hilang, yang dia pikirkan hanyalah melakukan penyatuan bersama Alice. Tanpa memperdulikan orang-orang suku Barbaro yang sedang melihatnya. Tangan nakal itu sudah turun dan m*r*m*s tubuh bagian depan Alice. Hembusan nafas panas menyapu kulit keduanya, seirama dengan suara erangan dan desahan yang lolos begitu saja. Alan mendorong tubuh Alice hingga terbaring di atas batu besar, lalu memposisikan juniornya di depan inti Alice. Seperti orang kesetanan, Alan mendorong juniornya berkali-kali hingga melesak kedalam inti Alice yang masih terkunci rapat. "Arggghhhh," erangan kesakitan Alice menggema bersama sorakan gembira dari suku Barbaro, ketika Alan berhasil membobol inti Alice yang masih terkunci, mengalirkan darah kesuciannya. Rasa pening di kepala Alan seperti berputar-putar, saat miliknya yang masih diam di cengkram kuat oleh inti Alice ketat dan hangat. Bersamaan dengan beberapa orang yang ada disana pergi meninggalkan tempat itu, menyisakan beberapa orang saja. "Aku harus segera bergerak dan menyelesaikan ini, Alice," racaunya sambil memompa Alice dengan juniornya. Sedangkan Alice hanya bisa mendesah, mengerang, menangis, mendapati dirinya yang sudah tidak suci lagi di tangan pria yang bukan suaminya. Dia merasa berdosa, karena melempar tubuhnya untuk di jamah oleh Alan meski dalam pengaruh mantra suku Barbaro. Alice bergantian bergerak seperti wanita j*l*ng di atas tubuh Alan, tenaganya seolah tidak akan habis jika di gunakan untuk berc*nta malam itu, di bawah terangnya sinar bulan purnama. "Ugghhh, aku tidak tahan Alan. Aku akan meledak sebentar lagi," racau Alice di atas Alan. Alan yang tidak ingin Alice meledak sendirian, menurunkan tubuh Alice dan membuatnya berbalik memunggunginya. Dengan kedua tangan dan lutut yang menopang tubuh Alice, Alan menghujam wanita itu dari belakang dengan ritme yang sangat cepat dan panas. Sampai puncak di mana keduanya sama-sama mengerang panjang, ketika Alan dan Alice meledak bersamaan. Alan membanjiri dan menghangatkan rahim Alice, dengan cairan cinta miliknya. Keduanya sama-sama merasakan kepuasan tiada tara saat pelepasan itu berhasil di keluarkan. Alan menarik juniornya, lalu terduduk membawa Alice yang lemas dalam pelukannya. "Maafkan aku, maafkan aku Alice. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan," bisiknya di telinga Alice. Sampai pengaruh mantra yang di berikan oleh suku Barbaro hilang, dan membuat keduanya semakin lemas dan tak sadarkan diri. Namun, di tengah kesadaran yang mulai menipis, Alice masih bisa merasakan apa yang di lakukan suku Barbaro pada tubuhnya. Seperti ada seseorang yang membersihkan intinya dengan kain basah lalu membawanya di depan patung, yang sedari tadi ada di belakangnya. Mereka merapalkan mantra-mantra yang berbeda dari sebelumnya. Mencampurkan kain basah itu dengan banyak benda-benda aneh, lalu membakarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD