Kicauan burung meramaikan suasana pagi itu, tetesan embun semalam menghantarkan kesegaran dan oksigen yang memenuhi rongga paru-paru.
Setelah selesai mengisi perut, mereka mulai menaiki tebing, setapak demi setapak. Kecuraman yang tidak begitu ekstrim, membuat Alice dengan mudah menguasai medan.
Begitu mereka berdua berhasil menuruni balik tebing itu, mereka di kejutan dengan perbedaan yang tidak bisa di percaya oleh kedua mata mereka. Dunia baru dengan alam yang indah dan subur terhampar nyata di depan mata, sedangkan dunia gelap dan menakutkan yang selama beberapa hari mengikuti mereka terlihat berdampingan di atas langit.
Seperti ada pelindung melingkari hutan dalam ini, hingga kegelapan dan keserakahan iblis itu tidak dapat masuk menyentuhnya.
Puas mengagumi keajaiban yang baru saja mereka saksikan, lalu kembali melanjutkan perjalanan menelusuri sumber suara derasnya air mengalir. Dua puluh menit kemudian, akhirnya Alan dan Alice menemukan sumber mata air jernih yang mengalir deras dengan bebatuan besar.
Tidak mau menyia-yiakan waktu, Alice langsung mengisi penuh semua botol-botol minumnya, dan langsung meminum air sungai yang jernih itu sampai puas.
"Air ini terasa sangat segar dan dingin di tenggorokan," gumamnya setelah menenggak habis satu botol lalu mengisinya kembali.
Setelahnya, tanpa berpikir panjang, Alice membuka bajunya menyisakan penutup atas dan bawah miliknya, lalu menceburkan diri ke dalam sungai itu.
Alan matanya melotot, menyaksikan tontonan gratis yang di suguhkan oleh Alice. Membuat benda tumpul di bawah pusarnya bereaksi, semakin mengeras seiring mata Alan yang tidak mau lepas dari tubuh Alice yang indah itu.
"Akhirnya, tubuhku sudah lengket dan berat selama berhari-hari ini. Mandi dengan air di sini membuatku kembali segar," gumamnya
Alan yang sudah kelimpungan karena juniornya sudah tegak berdiri, akhirnya ikut masuk menceburkan diri untuk menutupi dan menenangkan juniornya.
Puas melepas penat dan dahaga, Alice dan Alan kembali melanjutkan perjalanan mereka, mengikuti insting Alan yang lebih sering melakukan petualangan di bandingkan dengan Alice, yang hanya seorang gadis cantik rumahan.
"Apa kamu tahu? Siapa yang membuat benteng pelindung seperti itu?" tanya Alice menunjuk cekungan cahaya di atas langit yang melindungi hutan itu.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi, kemungkinan suku Barbaro lah yang membuat mantra pelindung itu," terang Alan.
"Dari mana kamu belajar semua pengetahuan itu?" Alice mulai mengorek kehidupan Alan lebih dalam.
"Aku hanya mencuri dengar dari orang-orang saja," jawab Alan asal, belum mau terbuka kepada Alice.
Hari ini sudah memasuki hari kelima, mereka berada di dalam hutan. Dan selama itu pula mereka hanya berputar-putar di tempat yang sama setiap harinya.
Padahal, Alan sudah mencoba menaiki pohon yang paling tinggi di sana, untuk melihat ke arah mana mereka harus berjalan.
"Bagaimana bisa, kita terus berputar-putar dan kembali ke tempat ini setiap hari, Alan?" gerutu Alice yang sudah sangat kesal dan kelelahan.
"Aku juga bingung. Sepertinya ada mantra yang menghalangi kita untuk bisa masuk lebih dalam lagi ke hutan ini," ujar Alan yang sedang mengumpulkan kayu kering untuk membuat api nanti malam.
Mereka berdua terpaksa kembali bermalam di tempat yang sama seperti sebelumnya.
Alan berencana untuk menetap di tempat itu untuk sementara waktu, sampai menemukan cara untuk bisa masuk lebih dalam lagi di hutan.
Maka dari itu, Alan membuat pondok kayu berukuran kecil, menggunakan batang kayu yang sudah dia tebang sebelumnya.
Menutup atapnya dengan beberapa tangkai daun rumbia yang sudah agak kering.
Untuk alas tidur, Alan membuat kerangka dari susunan kayu berukuran pendek, lalu menutupnya dengan daun rumbia juga.
Sedangkan Alice, bertugas untuk menyiapkan makanan, lalu mencari ranting dan daun kering untuk persediaan perapian mereka.
Selama beberapa hari hidup di tengah hutan, Alice sudah belajar banyak untuk bertahan hidup.
Seperti membuat jebakan untuk memburu, berjalan sendirian mencari kayu dan mengambil air sendiri di sungai tanpa di temani Alan.
Hal itu merupakan suatu kemajuan yang besar bagi Alice, yang notabennya adalah seorang gadis cantik dari keluarga kaya raya. Semua hal yang Alice butuhkan sudah ada dan di sediakan sebelum Alice meminta.
Beruntungnya pondok kayu yang di buat oleh Alan selesai tepat waktu, sebab beberapa saat dirinya memasang atap terakhir di pondok itu, hujan deras turun tanpa permisi.
Alan dan Alice segera berlindung di dalam pondok itu. "Astaga! Aku belum sempat memindahkan kayu kering itu ke tempat yang lebih teduh," ujar Alice menepuk jidatnya
"Terpaksa nanti malam kita akan tidur kedinginan tanpa perapian," sahut Alan yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah terkena air hujan.
"Kita bisa berbagi selimut itu kalau begitu," ucap Alice lirih merasa bersalah karena keteledorannya.
Untuk pertama kalinya hujan turun, setelah selama tujuh hari berada di dalam hutan.
Kemungkinan besok jalanan akan menjadi becek dan berlumpur.
Sampai malam, hujan masih saja turun meski hanya rintik-rintik. Alice mengeluarkan makanan yang sudah dia masak sebelum hujan turun tadi siang.
"Ini adalah stok terakhir daging buruan kita. Besok kita harus berburu lagi untuk mengisi perut kita di hari berikutnya," ujar Alice sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Biar aku saja! Kamu tetap di sini menjaga barang-barang kita. Karena pasti besok jalanan akan menjadi becek dan berlumpur, kamu akan kesulitan berjalan jika ikut berburu," tutur Alan dengan makanan yang penuh dalam mulutnya.
Alice pun menuruti perintah Alan, dengan mengiyakan semua perkataan pria itu, sebab pria itu lebih tahu pasti medan yang ada di dalam hutan ketimbang dirinya.
Usai menghabiskan makan malam, mereka merebahkan tubuh lelah mereka di atas tempat tidur yang telah di buat Alan tadi siang.
Tanpa ragu, Alan berbaring di samping Alice. Sedangkan tubuh wanita itu membeku, jantungnya berdebar kencang saat tubuh Alan berada sangat dekat dengannya. Bahkan Alice bisa merasakan dinginnya kulit tangan Alan yang menempel di siku tangannya.
Sebab, untuk pertama kali dalam hidupnya tidur berdekatan dengan seorang pria. Di hari-hari sebelumnya, Alan selalu tidur terpisah denganya, meski masih berada dalam jarak yang cukup dekat.
Selang beberapa saat, terdengar suara dengkuran halus dari mulut Alan. Membuat Alice menghembuskan nafasnya lega, kemudian dia merubah posisi tidurnya dengan sedikit miring, untuk memberi jarak dengan tubuh Alan.
Alice juga membagi sedikit selimut yang menutupi tubuhnya, walau Alan hanya kebagian sedikit selimutnya menutupi sebagian tubuhnya.
Udara malam itu semakin dingin akibat hujan rintik-rintik yang masih turun bercampur sedikit angin.
Tubuh Alan bergerak gelisah mencari sumber kehangatan dalam tidurnya, dengan merapatkan tubuhnya dengan tubuh Alice, untuk berbagi kehangatan dari selimut tipis yang mereka punya.
Alice yang sudah berada di alam mimpi, tidak merasakan pergerakan Alan di balik tubuhnya.
Baru di pagi harinya, Alice merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Dia mengerjapkan mata, mengumpulkan segenap nyawanya, lalu melihat benda apa yang berada di atas perutnya.
Matanya terbelalak, ketika melihat tangan hangat Alan melingkar posesif di perutnya. Dengan perlahan, Alice mencoba melepaskan tangan itu dari perutnya.
Namun, semakin dia mencoba melepaskan diri dari pelukan Alan, malah membuat Alan semakin mengeratkan pelukan itu.
Alice tidak tahu, Alan sengaja melakukan itu atau tidak, sebab dirinya tidak bisa menoleh kebelakang ke arah Alan, dirinya hanya bisa merasakan hembusan nafas teratur bercampur dengkuran halus dari balik tubuhnya.
Tapi, Alice merasakan sesuatu yang aneh berkedut di balik tubuh bagian bawahnya.
Sesuatu yang keras di balik celana Alan, terasa menusuk di pangkal pahanya.
Sontak Alice menjerit lalu bangun dari tidurnya, dan membuat Alan yang tidur di belakangnya terbangun karena terkejut mendengar jeritan Alice.
"A-ada apa? kenapa kamu menjerit seperti itu?" tanya Alan kebingungan dengan wajah mengantuknya.
Alice menutup mata sambil menujuk ke arah celana Alan yang menyembul akibat benda di dalamnya.
Sontak Alan berbalik badan menutupi benda pusaka berharganya itu, yang rutin berdiri di setiap pagi.