Hidup dari keluarga miskin, membuat Alan harus pandai dan punya banyak keahlian untuk tetap bertahan hidup.
Termasuk keahliannya dalam meracik obat-obat yang di sediakan oleh alam.
Dalam waktu beberapa jam saja, suhu tubuh Alice sudah menurun dan bisa kembali terbangun meski masih dalam keadaan lemah.
"Terimakasih, Alan. Aku berhutang budi padamu, karna telah menyelamatkan hidupku," ucapnya masih terbaring lemah.
"Tidak perlu berterimakasih, sudah sewajarnya aku menolongmu. Dulu keluargamu juga sangat baik pada keluargamu," balas Alan tulus.
Hari itu mereka tidak melanjutkan perjalanan, hanya berdiam diri sampai kesehatan Alice benar-benar kembali pulih.
Untungnya masih ada seekor kelinci hasil berburu kemarin, yang kemudian di jadikan sup oleh Alan untuk mengisi perut mereka.
"Makanlah selagi masih hangat, Nona."
"Rasanya sangat aneh, saat kau terus memanggilku Nona. Kau bisa memanggilku dengan Alice saja, kebetulan usia kita tidak jauh bebeda," protes Alice.
"B-baiklah, A-Alice," panggil Alan yang masih terasa kaku di lidahnya.
"Apa lagi hanya tersisa kita berdua saja, kita harus berteman dan saling bekerja sama untuk mencapai tujuan kita tanpa di liputi rasa canggung ataupun kaku di antara kita," ujar Alice mencoba membuat Alan merasa nyaman untuk berteman dengannya.
Saat keadaan Alice sudah membaik, Alan berpamitan sebentar untuk berburu dan mencari ranting kering, untuk persediaan membuat perapian nanti malam.
Karna udara saat malam terasa sangat dingin, Alan tidak ingin Alice kembali sakit karna kedinginan.
"Apa mendapat buruan lagi?" tanya Alice saat melihat Alan kembali pulang membawa tumpukan ranting kering.
"Belum satu pun," jawabnya singkat dengan wajah yang lesu.
"Tidak masalah, kita bisa makan sedikit dari persediaan kita," ucap Alice memberikan semangat.
Dinginnya malam kembali menusuk tulang, perapian yang sedari tadi dibuat tidak cukup untuk menghangatkan mereka berdua.
"Kau bisa duduk di sampingku, kita bisa berbagi selimut ini untuk berbagi kehangatan," ujar Alice yang kasihan melihat Alan mulai menggigil kedinginan.
Tanpa pikir panjang, Alan langsung beranjak dan duduk di samping Alice, kemudian saling berbagi selimut tipis itu. Dia sudah tidak tahan dengan rasa dingin yang menusuk-nusuk tulangnya.
"Jika seperti ini terus, kita akan mati kedinginan sebelum bisa membalas dendam pada iblis-iblis itu," gumamnya yang masih menggigil.
"Benar, besok kita harus memulai perjalanan lagi, dan mencari tempat yang nyaman sebelum musim hujan datang. Kita perlu mencari tempat yang lebih hangat saat malam hari," balas Alice.
Namun sesaat kemudian, mereka di kejutkan dengan suara jeritan hewan dari kejauhan.
Keduanya sontak menoleh dan saling bertatapan. "Sepertinya kau berhasil mendapat buruan," ucap Alice gembira.
Mereka berlari ke arah sumber suara, dengan penerangan yang minim. "Seekor rusa jantan," teriak Alan gembira setelah sampai di lokasi, tempat dia memasang jebakan.
Dengan susah payah, mereka membawa rusa jantan yang sudah di potong oleh Alan untuk mempermudahnya membawa menuju ke perapian.
"Besok kita bisa berpesta dan makan dengan kenyang," celetuk Alan yang di respon dengan gelak tawa dari Alice.
Tubuh yang semula mengigil kedinginan, sekarang penuh dengan peluh keringat, akibat menggotong dan memotong-motong rusa jantan yang terlampau berat.
Malam itu keduanya bisa tidur dengan tenang, karna sudah mendapat hasil buruan yang memuaskan. Dan bisa di jadikan stok makanan mereka untuk beberapa hari.
*
Matahari bersinar lebih cepat pagi itu, Alan yang bangun lebih dulu langsung meng*l*ti rusa jantan yang semalam dia dapatkan.
Dia berencana mengasapi daging rusa tersebut, agar lebih awet dan tahan lama untuk bekal berjalanan mereka selanjutnya.
Mengawetkan makanan seperti itu sudah sangat sering di lakukan oleh penduduk Midle. Agar mereka tetap memiliki stok daging, di saat musim dingin tiba dan tidak perlu lagi mencari buruan di hutan ataupun menyembelih ternak mereka lagi.
Alice ikut terbagung saat mendengar suara berisik dari gesekan pisau Alan. "Akan kau apakan rusa jantan ini?" tanya Alice penasaran. Dia mulai mengagumi Alan yang terlihat sangat ahli di bidang apapun. Alice tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya, di tengah hutan belantara bila tidak bertemu Alan.
"Aku akan mengawetkannya, untuk bekal persediaan makanan kita selama di perjalanan," jawabnya singkat kemudian Alice turun tangan ikut membantu Alan.
Pertama, Alan lumuri daging dengan garam, lalu asapi daging hingga air dan kelembaban pada daging hilang alias mengering. Kemudian menyimpannya di tempat yang kering, mengawetkan daging dengan cara diasap bisa membuat daging bertahan hingga 6 bulan tergantung suhu dan lingkungan.
"Dari mana kau belajar hal-hal seperti ini?" tanya Alice di tengah perjalanan mereka.
"Semua ini aku dapat dari tuntutan hidup, sebagai orang miskin. Dan hal ini sudah biasa di lakukan oleh penduduk Midle dan sekitarnya sejak lama. Karena, di saat kau tidak mempunyai apa-apa di dunia ini, setidaknya kau masih memiliki keahlian untuk bertahan hidup," jawabnya sambil tersenyum kecut menilik kehidupannya yang miskin.
Setelah selesai dengan perbekalannya, Alan mengajak Alice berjalan menggunakan insting petualangnya. Melalui jalur yang cukup sulit membuat mereka tiba di sebuah tebing yang cukup tinggi.
"Kau tunggu di sini, aku akan mencoba naik ke atas sana, dan melihat di mana titik kita berada," pinta Alan lalu berjalan menuju tebing.
Alice hanya dapat menuruti perintah Alan, sebab hidupnya kini bergantung dengan keahlian Alan.
Butuh waktu cukup lama, untuk Alan sampai ke atas tebing. Tektur tebing yang terjal membuatnya kesulitan saat memanjat.
Sesampainya di atas pria itu terkejut bukan main, pasalnya dia melihat desa-desa yang berada di bawah Gunung Elysian sudah di penuhi kabut asap. Desa-desa yang semula subur dan indah, kini berubah menjadi lautan api dan d*rah.
Setelah mengetahui arah mana lagi yang harus ditempuh, Alan dengan hati-hati menuruni tebing terjal itu. "Apa yang kau lihat di atas sana?" tanya Alice ketika Alan sudah sampai di bawah.
"Hal yang mengerikan," jawabnya singkat.
"Hal mengerikan apa yang kau maksud?, cecer Alice penasaran.
"Semua desa yang berada di bawah Gunung Elysian, telah berubah menjadi gelap dan gersang dengan kepulan asap yangmenghitam. Semua desa penuhi kobaran api dan d*r*h, termasuk desa Midle," jelasnya dengan pilu.
Sontak membuat Alice limbung jatuh ke tanah, terkejut mendengar apa yang di lihat Alan. Dia menangis sejadi-jadinya, desa di mana dia dilahirkan telah hancur lebur menjadi sarang Iblis.
"Elma, semoga kau masih tetap hidup, agar aku masih punya alasan untuk hidup di dunia ini," gumamnya sesenggukan. Dirinya sudah kehilangan banyak orang terdekatan termasuk Ayah kandungnya, kini hanya Elma harapan satu-satunya untuk bertahan hidup, lalu membalas dendam atas kematian semua keluarga dan penduduk desanya.
Alan mencoba menenangkan Alice yang masih menangis. "Kita harus segera pergi dari sini sebelum hari menjadi gelap," ajaknya.
Menurut perkiraan Alan, mereka berjalan lurus ke utara, sebelum menaiki tebing terjal namun tidak terlalu tinggi.
"Kita beristirahat di sini saja, besok baru kita mulai menaiki tebing itu," ujar Alan saat sampai di bawah tebing.
Alan dan Alice bekerja sama mencari kayu bakar untuk perapian nanti malam. Mencari dahan berdaun lebar untuk berlindung, jikalau turun hujan.
"Besok kita harus mencari sumber mata air, sebab persediaan air minum kita hanya cukup untuk malam ini," ujar Alice setelah selesai menghangatkan daging asap yang mereka buat kemarin malam.
"Aku mendengar ada suara air mengalir di balik tebing ini, semoga saja ada sungai mengalir di sana," terang Alan.
Tubuh mereka sudah mulai beradaptasi dengan udara dingin di hutan Elysian. Kesehatan Alice pun juga sudah pulih kembali, hanya hatinya yang masih memendam duka mendalam.
Dia hanya bisa berharap semoga para Dewa , segera membawanya sampai ke tempat Suci itu.