Tertangkapnya Elma

1174 Words
Karena tidak menemukan siapapun di antara semak-semak yang di curigainya, Iblis itu pun kembali kepada Elma yang sudah di ikatnya dan kembali mempermainkan tubuh indah wanita itu. Elma tak mampu lagi menahan desahan di sela-sela tangisannya, saat Iblis itu selesai menjamah dan meledakan semua cairan laknatnya memenuhi dan menghangatkan rahim Elma. Kemudian dia terjatuh lemas tak berdaya ke tanah. "Hwaa.. Haa.. Haaa, Akhirnya aku mendapatkanmu keturunan manusia yang murni. Kau akan menjadi Ratu ku, dan melahirkan keturunanku yang hebat," tawa mengerikan Iblis itu menggema di dalam hutan, membuat pepohonan pun enggan menggerakan tangkainya. Iblis bertubuh kekar dan bertanduk itu, mengangkat Elma yang sudah lemas tak sadarkan diri, lalu menggendongnya di atas bahu. Tak lupa menutupi tubuh Elma yang polos menggunakan pakaian Elma yang sudah di robeknya, agar tidak terlihat oleh pasukannya. Alice yang masih berada di persembunyiannya yang baru, bersama seorang laki-laki yang misterius di belakangnya, yang masih terus membungkam mulutnya sedari tadi. Ingin sekali tubuhnya berontak bergegas keluar mengejar kakaknya yang telah di bawa pergi oleh Iblis. Tapi dengan sigap di tahan oleh pria yang sedari tadi berada di belakangnya itu, yang juga ikut menyaksikan peristiwa na'as yang di alami oleh Elma. "Tahan dirimu! jika kau mengejarnya itu sama saja kau menyerahkan tubuhmu pada Iblis itu," ucap pria itu lirih dengan suara baritonnya. Suara ribut tersebut kembali terdengar hingga ke telinga Iblis, meski sudah berjalan cukup jauh dari tempat persembunyiannya. Iblis memutar badan kembali ke tempat semula, memeriksa sumber suara yang dia dengar. Alice melihat itu langsung kembali diam membeku, di tempat persembunyiannya. Jantungnya berdebar kencang, rasa takut dan khawatir kembali menyelimuti pikirannya. Cukup lama Iblis itu mondar-mandir mencari sumber suara keributan tadi, berharap mendapat mangsa baru lagi. Iblis itu akhirnya pergi menjauh, saat para pasukannya datang memanggilnya. "Kami sudah menangkap semua mangsa dan memb*n*h mereka yang mencoba melawan, Tuan," ujarnya dari salah satu pasukan Iblis itu. "Ayo kita segera pergi dari sini, sebelum Suku penghuni hutan ini mengetahui keberadaan kita," perintah Iblis yang mereka panggil dengan Raja. Hembusan perasaan lega memenuhi d**a Alice, setelah pasukan Iblis menjauh dan tak terlihat lagi. Alice lalu melepaskan tangan pria misterius yang masih membungkam mulutnya, lalu menoleh dan menatap pria yang sedari tadi berada di belakangnya itu. "Si-siapa kau?" tanya Alice yang tidak dapat melihat jelas wajah pria itu di dalam kegelapan. "Apakau tidak mengenal wajahku? Ini aku Alan, Nona," ujar pria itu yang memperkenalkan dirinya bernama Alan. Alice mengingat kembali siapa penduduk desanya yang bernama Alan. Ternyata pria itu adalah salah satu penduduk desa yang bekerja di ladang jagung milik Ayahnya. Elma mengingat wajah pria itu, saat datang ke rumah untuk mengambil upahnya setiap minggu. "Apa kau Alan yang bekerja di ladang Ayahku?" tanya Alice memastikan ingatannya. "Iya Nona, benar itu aku." "Apa kau sendirian? dimana orang-orang berhasil melarikan diri tadi?" ucap Alice kebingungan mencari orang-orang yang ikut berlari bersamanya. "Mungkin mereka berhasil sembunyi di tempat lain, Nona. Ayo sebaiknya kita segera pergi meninggalkan tempat ini, sebelum Iblis itu kembali dan menemukan kita," ajak Alan kemudian berjalan keluar dari persembunyiannya sambil melihat situasi sekitar. Sebelum pergi masuk lebih dalam ke hutan, Alice berjalan menuju tempat dimana Elma tertangkap. Di sana dia menemukan tas ransel yang sebelumnya di bawa oleh Elma. "Setidaknya kita menemukan cadangan makan untuk beberapa hari kedepan," ucap Alice saat membuka isi ransel itu. "Maafkan aku Elma, aku tidak bisa menolongmu. Tapi aku berjanji akan membalas semua perbuatan Iblis itu padamu dan keluarga kita," Alice kembali menangis saat menemukan robekan baju yang di pakai Elma. Matahari beranjak naik menyinari bumi, meski hanya sedikit cahaya yang dapat masuk di sela rimbunnya pepohanan. Alice dan Alan sudah berjalan cukup jauh, tapi tidak satupun bertemu dengan penduduk desa yang berhasil lari tadi malam. "Semoga mereka semua bisa melarikan diri dengan selamat," gumam Alan yang masih perpikir positif pada orang-orang itu. "Apa yang ada dalam isi tasmu itu?" tanya Alice penasaran. "Hanya sedikit makanan dan alat-alat yang bisa di gunakan untuk melawan musuh," jawabnya. Kemudian mereka mengeluarkan semua isi tas mereka, melihat stok cadangan makanan yang dapat mereka makan. "Kita harus sedikit berhemat makanan, aku akan mencoba berburu untuk stok makan kita nanti malm," ujar Alan saat beristirahat sejenak di bawah pohon. Setelah di rasa energi mereka kembali terkumpul, Alice dan Alan melanjutkan perjalanan mereka yang masih sangat panjang. Keduanya tidak ada yang tau pasti, dimana letak tempat suci yang dimaksud oleh Tuan Cedrix. Sedangkan Tuan Cedrix sendiri tidak tau dimana keberadaannya, entah masih hidup atau sudah ikut terb*n*h oleh pasukan Iblis. Alan berhenti di tempat yang dirasanya aman untuk beristirahat mereka nanti malam, lalu berkeliling di sekitarnya membuat tali untuk jebakan hewan buruan. "Semoga ini berhasil menangkap seekor kelinci atau rusa," gumamnya saat selesai menutupi tali jebakan dengan daun-daun kering. Kemudian pergi meninggalkannya kembali ke tempat Alice berada. "Apa kita bisa selamat hidup-hidup sampai ke tempat Suci itu?" tanya Alice lirih yang mulai ragu dengan dirinya sendiri. "Yang terpenting saat ini kita mencari cara agar tetap bertahan hidup di tengah hutan ini." "Aku sempat mendengar dari orang-orang kepercayaan Ayahmu, memang sangat sulit untuk mencapai puncak Gunung Elysian. Bahkan ada yang bilang, butuh waktu berbulan-bulan untuk mereka yang belum pernah ke sana," ujar Alan kemudian beranjak berdiri saat mendengar suara jeritan hewan yang kesakitan. "Sepertinya kau berhasil menangkap seekor buruan," puji Alice yang ikut menuju sumber suara hewan itu yang ternyata adalah seekor kelinci yang cukup besar. Alan melepas tali yang menjerat kaki kelinci itu, lalu memotongnya untuk segera di masak. Alice mengolah kelinci itu dengan bumbu seadanya yang mereka miliki. "Beruntung kita masih mendapat seekor buruan lagi, untuk melanjutkan perjalanan kita besok," ucap Alan yang ternyata mendapat dua ekor kelinci di titik jebakan yang berbeda. Malam itu mereka tidur dengan perut kenyang, namun dengan hati yang risau. Alan sesekali terbangun, memasukan potongan ranting ke dalam api agar tidak padam. Hanya kehangatan dari kobaran api yang dapat membantu mengurangi rasa dingin Alan malam itu, sebab satu-satunya selimut tipis yang dia bawa, dia berikan kepada Alice agar tidak kedinginan. Alan memandangi wajah Alice yang terlihat semakin cantik, saat terkena cahaya dari api. Sudah sangat lama Alan mengagumi kecantikan Alice, namun dia sadar diri dengan statusnya yang hanya penduduk biasa. Sedangkan Alice adalah putri dari Tuan Cedrix yang kaya dan terpandang di desa. Di balik musibah ini Alan juga merasa beruntung, karena dapat berdekatan dan melihat dengan jelas wajah cantik Alice setiap saat. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Alice terbangun akibat gigitan serangga. "T-tidak ada, aku hanya memikirkan arah mana yang akan kita lewati besok," jawab Alan gelagapan. Tidak mungkin dirinya mengaku tengah memikirkan dan mengagumi kecantikan Alice. "Tidurlah kembali! aku akan menjagamu dan membangunkanmu besok," perintahnya agar Alice tidak membuatnya semakin salah tingkah. Alice pun menuruti perintah Alan, lalu mengeratkan selimut tipis di tubuhnya. Sinar matahari mulai mengintip dari celah-celah ranting pohon, lalu Alan segera membangunkan Alice yang masih terlelap. Alice hanya bergumam tidak jelas sambil menggigil kedinginan, lalu Alan mencoba menyentuh kening wanita itu yang ternyata sedang demam tinggi. "Astaga, suhu tubuhmu panas sekali, Nona. Kau tunggu disini dulu, aku akan mencari obat untukmu," ucap Alan yang kemudian berlari mencari tumbuhan obat-obatan untuk meredakan demam Alice.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD