*** Mulut Finka menganga cukup lebar setelah turun dari mobilnya yang terparkir rapi di halaman rumah Jia. Finka menatap seseorang yang sedang berdiri menyambut mereka. Tak bisa Finka percayai bahwa di depan sana seseorang yang telah lama tidak dirinya temui akhirnya kembali menampakan batang hidungnya lagi. “Ji, lo nggak hanya pulang ke sini buat nemuin gue, kan? Ngaku nggak lo?! Lo mau mengakhiri masa lajang lo, kan?” tanya Finka bertubi-tubi kepada sahabat satu-satunya itu tanpa mengalihkan tatapannya sama sekali dari lelaki yang juga sedang menatapnya diujung sana. Lelaki itu tersenyum lebar melihat ketidakpercayaan Finka. “Menurut lo?” Jia memutar bola matanya. “Seingat gue, lo pernah bilang bakalan nyuruh Candra ke rumah dan ketemu orang tua lo kalau lo siap mengakhiri masa

