episode 10

2094 Words
“Kanaya,” Rieka berhenti di depan meja kerja gadis itu, memanggil namanya dengan malas. Kanaya mendongak, memberikan sebuah senyum yang begitu ramah kepada perempuan itu. “Selamat siang, Bu, Rieka,” sapa Kanaya masih dengan senyum di bibirnya. “Kenapa kau tersenyum padaku?” Rieka menatap Kanaya dengan pandangan tidak suka. “Ya? Saya tidak mengerti. Apakah ada yang salah, Bu?” tanya Kanaya heran. “Ya, salah. Salah karena kau duduk di sini, di dalam perusahaan ini. Kau tahu siapa aku?” Kanaya mengangguk, “Ya, saya tahu.” “Bagus. Kau tahu siapa Elang?” Kanaya terdiam, menatap Rieka dengan ragu, ia benar – benar tak mengerti apa yang dimaksud perempuan itu. “Pak Elang adalah atasan saya. Memangnya apa yang ingin anda katakan?” Rieka tersenyum tipis, “Aku Senang kau menyadari itu. Kurasa kau juga perlu tahu batasan – batasan diantara bawahan dan atasannya. Sekalipun kau adalah assistennya, kau tidak berhak untuk masuk lebih jauh ke dalam kehidupan Elang, kau mengerti, kan?” “Maaf, sebenarnya apa yang anda pikirkan tentang saya? Saya di sini untuk bekerja, kenapa anda seakan memikirkan hal lain, Bu, Rieka?” “Oh, ya? Kenapa aku tidak percaya? Kau pasti memiliki motivasi lain di balik wajah polosmu itu, kan?” Kanaya tersenyum lebar, sepertinya ia mulai kehilangan kesabaran atas semua kata – kata perempuan itu, “Bu, saya masih punya banyak pekerjaan. Saya harus segera mengirim laporan kepada Pak Elang. Apakah Bu, Rieka, masih memiliki keperluan dengan saya?” “Kau!” “Bu, Rieka, anda masih di sini?” Elang ke luar dari ruangannya, menatap wajah Rieka yang memerah karena dipenuhi kemarahan itu. “Oh, aku hanya sekedar menyapa pegawai baru kita. Kau mau ke mana, Elang?” “Ehm, bicara dengan Kanaya,” jawab Elang ragu. “Silakan, kalau begitu.” Rieka tersenyum, dan masih berdiri di sana, menunggu. “Tapi aku ingin bicara dengan Kanaya, empat mata.” Elang menegaskan kalimatnya. “Oh, oke, tidak masalah, lagipula aku harus segera kembali ke kantor. Sampai nanti, Kanaya.” Rieka tersenyum, dan pergi dari sana dengan hati kesal. ..... “Kau baik – baik saja?” Elang menatap Kanaya, gadis itu kembali tersenyum lembut. “Ya, saya baik – baik saja.” “Kau jangan memikirkan semua ucapan Rieka tadi, ya? Dia memang begitu, kau bisa bertanya kepada Nadine. Jadi,..” “Saya tidak apa – apa, Pak. Bapak jangan cemas. Saya juga tidak tahu apa yang dia bicarakan.” Elang menatap gadis itu, baru kali ini ia bertemu dengan seseorang yang tidak terlalu larut di dalam perasaannya, Kanaya sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Rieka. Padahal Elang cukup mendengar semua kata – kata yang diucapkan perempuan itu. Terdengar begitu mengintimidasi. Ataukah mungkin karena Kanaya sama sekali tidak peduli dengan Elang, tentang perasaan laki – laki itu padanya? “Syukurlah, aku tidak ingin apa yang dia katakan padamu itu menjadi beban untukmu, Naya. Satu hal saja yang perlu kau ingat, kau bekerja untukku.” Elang tersenyum lembut, seakan ingin memberi semangat kepada gadis itu. “Saya tahu, Pak.” Kanaya membalas senyuman laki – laki itu, dan Elang menatapnya dengan begitu dalam, seolah terbius oleh kecantikan dan sifat Kanaya itu. “Kanaya, apa kau ada waktu malam ini?” “Ehm, apa ada acara lagi, Pak?” “Tidak. Tapi aku...begini, seseorang memberiku tiket untuk menonton sebuah konser. Tapi, rasanya tidak enak kalau pergi seorang diri. Kau adalah temanku, kan? Sejujurnya aku tidak pernah memiliki teman dekat. Aku ingin kau menjadi teman dekat untukku, Naya.” “Apa?” “Kau sudah berjanji padaku, kan?” “Iya, tapi..” “Aku mohon. Sangat disayangkan jika tiket ini terbuang begitu saja. Kau suka musik, Kanaya?” Kanaya mengangguk, “Ya, saya suka.” “Oke, kalau begitu aku akan mengantarmu pulang, kau bersiap – siap dan kita pergi bersama. Aku akan mandi di sini,” kata Elang seraya tersenyum lebar. Lelaki itu melangkah, tanpa mendengar jawaban Kanaya lebih dulu. Kanaya terdiam, gadis itu terlihat bingung sampai tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia tidak pernah mengatakan setuju akan ajakan Elang tersebut. ..... “Kau tinggal di sini?” Elang menatap rumah mungil itu, rumah dengan teras kecil yang dihiasi dengan tanaman di beberapa sisinya. Luna berlari, ketika melihat Kanaya membuka pagar kecil rumah itu. Kucing berbulu cokelat itu menghampiri Luna, dan bermain – main di kaki gadis itu. Kanaya mengangguk, sembari mengambil Luna dan menggendongnya, mengusap lembut tubuh kucing yang mulai terlihat gemuk itu, “Ya, saya menyewa rumah ini, Pak.” “Elang..” “Ya?” “Panggil aku Elang ketika kita tidak berada di kantor lagi, Naya. Bukankah seharusnya tidak ada batasan diantara teman baik?” Elang menatap kucing itu, “Kau memelihara kucing?” “Ya, dia satu – satunya teman yang kumiliki di rumah ini.” Kanaya meletakkan Luna, dan mengisi tempat makannya yang kosong. “Setelah ini, kau tidak akan sendirian lagi, Naya.” Kanaya menoleh, gadis itu menatap Elang dengan alis menyatu. “Ah, jangan menatapku begitu.” Elang melangkah ke dalam, dan duduk di teras rumah itu. “Naya, di mana kau membeli rumah kucing itu?” Elang memperhatikan Luna, yang sedang menikmati makanannya di samping rumah kucing itu. “Apakah terlihat bagus?” tanya Kanaya yang tersenyum setiap kali menatap rumah itu. “Ya, bagus sekali. Aku suka.” “Dave yang membuatnya,” ucap Kanaya lirih. Elang mendongak, “Dave?” “Ya, dia kekasihku.” Perkataan Kanaya seketika membuat senyum di bibir Elang memudar, tapi lelaki itu segera memalingkan wajah, menyembunyikan rasa yang tiba – tiba menyakiti hatinya. “Ada apa denganku?” gumam Elang, menyentuh dadanya yang terasa tidak nyaman itu. Hanya dengan mendengar nama laki – laki tersebut. “Ada apa, Pak...Elang?” Kanaya masih belum terbiasa dengan memanggil nama itu, sebuah sebutan yang terasa aneh baginya. “Tidak apa – apa, kau bisa masuk dan bersiap – siap. Aku akan menunggu di sini.” Elang kembali tersenyum, lelaki itu mengulurkan tangannya dan mengusap Luna yang kini mulai bermain – main di kaki Elang. Kanaya mengangguk, ia bergegas masuk dan tidak ingin membuat Elang lama menunggu. “Hei, kau suka padaku?” Elang mengambil Luna, meletakkan kucing kecil itu di pangkuannya. Luna mengeong, seakan memberi jawaban atas pertanyaan Elang. “Luna, itukah namamu? Kau senang dengan rumahmu, Luna? Dia bahkan membuat papan nama untukmu. Apakah dia begitu istimewa bagimu, Luna? Bagaimana denganku? Kau akan menganggapku apa setelah ini? Apakah menurutmu Kanaya akan menyukaiku, hmm?” Elang terus berbisik kepada kucing itu, sesekali Luna menyelipkan kepalanya di lengan Elang, merasakan kehangatan di dalam sana. “Pak..maksudku..Elang, aku sudah siap,” Kanaya berkata dengan gugup, entah mengapa terasa sulit baginya untuk merubah kebiasaan. Lelaki itu menoleh, seperti biasa Kanaya selalu terlihat cantik dengan apapun yang dipakainya. “Masih ada waktu satu jam, bagaimana kalau kita makan dulu? Kau pasti lapar, kan, Naya?” Kanaya menatap Elang, untuk sesaat tiba – tiba pikiran gadis itu melayang kepada Dave. Dave juga kerap mengatakan hal yang sama. Dave selalu khawatir jika Kanaya melewatkan waktu makannya, itulah mengapa Dave akan meluangkan jam istirahatnya untuk datang ke rumah ini, sekedar mengantar makan siang untuk Kanaya, dan itu selalu ia lakukan semenjak Kanaya memutuskan untuk berhenti dari kantornya dulu. “Naya?” Kanaya terkesiap, ia mencoba untuk mengulaskan sebuah senyuman. “Ya, tentu.” “Oke, kita berangkat? Kau mau makan apa?” “Apa saja,” sahut Kanaya, sembari menutup kembali pintu pagar rumah itu. “Kau selalu mengatakan itu, Naya. Aku harus membeli apa?” Elang tertawa, membuka pintu mobil untuk gadis itu. Kanaya berniat mengambil ponselnya, tapi gadis itu segera mengurungkan niat. Ia tak ingin dianggap mengacuhkan Elang karena ponsel itu. Kanaya menyandarkan punggungnya, berusaha untuk duduk dengan lebih santai lagi, tapi tetap saja rasa gugup masih meliputi dirinya. Kanaya tidak menduga, jika ia akan mendapat teman seperti Elang. Atasannya sendiri. “Kau suka pasta, Kanaya? Atau kau mau yang lain?” tawar Elang kepada gadis itu. “Bagaimana kalau kudapan saja? Sepertinya akan butuh waktu lebih dari satu jam jika makan malam.” “Ah, kau benar. Kalau begitu kita akan makan malam setelah melihat konser itu, bagaimana?” Kanaya menoleh, menatap Elang, “Kita lihat saja dulu, jika terlalu malam maka..” “Ah, aku mengerti. Aku tidak akan membuatmu pulang larut, Kanaya.” Elang turun dari mobilnya, ketika melihat sebuah toko yang menjual cake. Setelah mendapatkan cake itu, ia pun bergegas kembali ke dalam mobilnya, ke tempat di mana Kanaya menunggu di sana. “Ah, ini dia, semoga kau suka dengan pilihanku.” Elang memberikan kotak kecil berisi cake strawberry itu kepada Kanaya, ia juga membeli satu untuk dirinya sendiri. “Terima kasih,” kata Kanaya, mengambil cake itu dengan begitu sopan. Dan Elang sangat menyadarinya, Kanaya belum sepenuhnya menerima pertemanan itu. “Makanlah, aku tidak ingin membuatmu kelaparan.” Elang membuka botol air mineral itu, meletakkannya di depan Kanaya. Kanaya tersenyum, entah kenapa ia merasa jika Elang begitu perhatian padanya, bahkan sampai di hal sekecil itu. “Kanaya, aku harap kau jangan sungkan padaku. Sejujurnya aku sangat senang, karena bertemu denganmu. Kau tahu, ini pertama kalinya aku pergi membawa seorang gadis ke tempat yang berbeda. Biasanya aku hanya pergi dengan Rieka, atau rekan kerja yang lain. Itu pun untuk urusan pekerjaan. Aku benar – benar berharap, kita bisa menjadi teman baik, Kanaya. Kau tidak keberatan, kan?” “Begitu, ya? Saya berterima kasih, menjadi teman baik seseorang seperti Pak Elang adalah keberuntungan untuk saya,” ucap Kanaya. “Naya, lagi – lagi kau bicara formal denganku. Padahal aku sudah senang saat kau memanggil namaku tadi. Kalau kau terus begini, aku sangat sedih, Kanaya.” “Maaf, aku akan mencobanya.” Elang tersenyum, “Kita pergi?” Kanaya mengangguk, dan lelaki itu kembali menjalankan mobilnya. .... “Di sana,” Elang menunjuk kursi di dalam gedung pertunjukkan konser itu, dan Kanaya berjalan dengan hati – hati. Tampaknya mereka sedikit terlambat, pembaca acara sudah mulai kata – katanya. “Hampir saja,” ucap Elang, membenahi duduknya. Kanaya menatap ke depan, sebuah panggung yang begitu megah, dan untuk konser ini ia tahu berapa harga tiket yang dibawa oleh Elang tadi. Terlebih, kursi ini untuk tamu VIP. Dave memang tidak pernah membawa Kanaya ke tempat seperti ini, ini benar – benar pertama kalinya bagi Kanaya. Andai saja, lelaki yang duduk di sisinya saat ini adalah Dave, Kanaya benar – benar merindukan laki – laki itu. Sedang apa dia? Apa yang akan Dave katakan jika mengetahui Kanaya pergi bersama Elang untuk melihat konser? Ah, Kanaya tidak akan pernah memberitahu Dave soal ini. Lagipula ini hanya sebuah konser, Kanaya hanya sekedar menuruti harapan laki – laki itu, tidak lebih. Kanaya memeluk tas itu rapat – rapat, gadis itu hanya berusaha untuk terlihat tenang. Alunan musik mulai terdengar, sebuah permainan piano yang membuat setiap pendengarnya akan berdecak kagum. Elang tersenyum, terlihat jelas jika ia begitu menikmati pertunjukan malam ini. Sesekali lelaki itu menoleh kepada Kanaya, menatap pipi lembut Kanaya serta bibirnya yang terbentuk sempurna. Polesan lipstik warna bibir, yang menambah kesan sensual bibir itu. Entah apa yang Elang pikirkan sekarang, sungguh ia tak bisa melewatkan wajah Kanaya begitu saja. Kanaya menoleh sedikit, sudut matanya menangkap tatapan Elang padanya. Gadis itu tersenyum kecil, dan kembali menatap lurus ke depan. Elang hanya mampu menyusuri wajah Kanaya dengan matanya, sekalipun ia begitu ingin mengulurkan tangan dan menyentuh kulit lembut itu, merasakan hangat sentuhan bibir Kanaya. Elang menggelengkan kepalanya, lelaki itu menarik napas sedalam mungkin dan kembali menatap ke depan, di mana ia telah kehilangan beberapa detik untuk mendengarkan musik itu dengan seksama. .... “Apa kau suka?” tanya Elang, ketika pertunjukkan itu telah berakhir, dan berjalan ke luar dari gedung itu. “Ya, sangat bagus,” sahut Kanaya. Elang menoleh ke sisi kanan, dan melihat ada sebuah cafe di dalam gedung itu, seketika ia meraih tangan Kanaya untuk menghentikan langkah gadis itu. Kanaya yang terkejut, menatap pergelangan tangannya yang berada di genggaman Elang. “Kanaya, di sana ada cafe, bagaimana kalau kita mampir sebentar?” kata Elang dengan senyum mengambang, ia bahkan tidak melepaskan tangan gadis itu. Kanaya menarik tangannya perlahan, saat itulah Elang menyadarinya. “Eh, maaf, aku tadi ingin menghentikan langkahmu.” “Aku tahu, aku hanya terkejut,” sahut Kanaya. “Syukurlah, aku tidak ingin kau berpikir macam – macam tentangku, Naya. Aku tulus ingin berteman denganmu.” Elang menatap Kanaya, dan tersenyum sekali lagi, “Bagaimana? Kau mau? Sepertinya belum terlalu malam untuk makan, kan? Aku tidak ingin kau pulang dengan perut yang hanya terisi cake.” Kanaya tersenyum lebar, lelaki itu kemudian tertawa renyah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD