episode 11

2576 Words
Kanaya melepaskan sepatunya, gadis itu duduk di kursi ruang tamu, menatap ponsel dengan pesan dan panggilan tak terjawab yang begitu banyak. Sejak konser itu dimulai, Kanaya memang mematikan suara dering di ponselnya itu, dan lupa menyalakannya kembali karena Elang seolah tidak memberinya kesempatan untuk melihat benda berbentuk persegi panjang itu. Gadis itu menghela napas panjang, ia bergegas berganti pakaian dan segera menghubungi Dave. Laki – laki itu pasti sangat cemas karena tidak mendengar kabar dari Kanaya. Kanaya menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur, tak sabar untuk melihat wajah kekasihnya itu. “Dave..” Wajah Kanaya berseri, saat melihat Dave di layar ponselnya. Dave diam sesaat, hanya menatap Kanaya yang masih tersenyum itu. “Dave..kau sedang apa?” tanya Kanaya kemudian. “Menunggu kabar darimu. Ke mana saja kau, Naya? Tidak bisakah kau memberi kabar? Kenapa tidak menerima teleponku? Apakah kau sesibuk itu?” Kanaya terdiam, baru kali ini Dave terlihat begitu marah padanya. Lelaki itu bahkan tidak tersenyum sama sekali. “Dave, aku benar – benar minta maaf,” kata Kanaya lirih. “Naya, kau tahu betapa aku sangat cemas di sini? Aku terus berpikir ada apa denganmu? Apakah terjadi sesuatu padamu? Apa kau baik – baik saja? Dan aku tidak bisa melakukan apapun di sini. Aku hanya bisa diam dan menunggu. Kanaya, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah mereka memaksamu untuk bekerja lembur hingga semalam ini?” Dave menautkan alisnya, jelas terlihat jika ia tidak menyukai hal itu. “Dave, aku benar – benar minta maaf. Tapi mereka tidak pernah memaksaku untuk bekerja lembur. Hari ini aku pergi ke sebuah acara, dan tidak menyalakan nada dering ponselku. Semua itu karena aku tidak ingin mengganggu orang – orang yang sedang menikmati acara itu. Aku bersalah, seharusnya aku memberimu kabar.” Kanaya berusaha menjelaskan apa yang terjadi, tapi sepertinya Dave tidak bisa menerimanya begitu saja. “Oh, apakah kau ingin mengatakan kalau telepon dariku itu mengganggumu, Naya? Begitukah? Memangnya acaranya apa, dan kau pergi dengan siapa?” “Dave, bukan begitu. Kau tidak mengganggu, jangan salah paham.” “Kanaya, bagaimana aku tidak salah paham? Memangnya kau pergi dengan siapa sampai tidak sempat menulis pesan untukku?” Suara Dave terdengar mengeras, lelaki itu sudah berusaha menahan dirinya, tapi tetap saja kesabarannya memiliki batas. “Dave, kau curiga padaku?” Kanaya menatap wajah lelaki itu, hatinya terasa begitu sedih, ia tak menduga jika Dave tidak sepenuhnya mempercayai perasaannya itu. Lelaki itu menggaruk keningnya, terdengar suara tarikan napas di sana, “Aku berusaha untuk selalu percaya padamu, Naya. Tapi aku tidak bisa percaya kepada laki – laki itu.” Kanaya mengerutkan keningnya, “Laki – laki itu, Dave? Siapa?” “Kau tidak ingin mengatakannya padaku, Kanaya?” “Aku tidak mengerti.” Dave tersenyum tipis, “Kau pergi dengan laki – laki itu, kan, Kanaya?” Kanaya terkesiap, Dave...dari mana ia tahu soal Elang? Dan, apakah laki – laki yang dimaksud Dave adalah Elang? “Siapa?” tanya Kanaya setelah beberapa saat ia terdiam. “Haruskah aku sebutkan namanya? Kenapa kau tidak mengatakannya saja?” “Oke, apakah yang kau maksud itu Pak Elang, Dave?” “Pak Elang, ya?” Dave terlihat mengangguk – anggukkan kepalanya. “Dia atasanku. Memangnya apa yang sudah dikatakan Nadine padamu?” Nama perempuan itu terlontar begitu saja dari mulut Kanaya. Jika bukan Nadine, siapa lagi? “Nadine? Kenapa dia? Tidak, Kanaya, itu bukan dia.” Wajah Dave terlihat gugup. “Dave, kau juga tidak jujur padaku? Selain Nadine siapa lagi yang kau kenal? Tidak ada, kan? Teman – teman kita yang lain tidak mengenal Elang, mereka tidak tahu di mana aku bekerja. Ada apa denganmu, Dave? Kau tidak percaya padaku?” Dave diam, ia bahkan enggan menatap wajah Kanaya di layar ponselnya. “Dave, biar kujelaskan padamu. Pak Elang itu atasanku, dia yang membantuku selama ini. Aku bisa berada di posisi sekarang semata karena dia. Dan hubunganku dengannya hanya sebatas itu. Tidak lebih, aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuat hubungan kita berakhir, Dave. Orang yang aku sukai hanya kau, Dave seorang. Tidak bisakah kau hanya percaya padaku saja? Aku tidak tahu apa yang dikatakan Nadine padamu, dan aku juga tidak tahu kenapa dia melakukan itu padaku, padahal aku tidak pernah melakukan kesalahan padanya.” “Kanaya, aku yang bertanya padanya. Aku ingin tahu kau dekat dengan siapa di sana. Nadine hanya mengatakan sepertinya kau dekat dengan Elang, itu saja.” Dave berkata dengan lirih, emosinya telah surut karena perkataan Kanaya tadi. “Oh, itu yang dia katakan? Lantas hubungan dekat apa yang kau pikirkan, Dave?” Kanaya tersenyum tipis, matanya terlihat mengerjap beberapa kali. Gadis itu sedang menahan sesuatu di dadanya, sesuatu yang meluap dan kini mulai menggenang di pelupuk matanya itu. “Kanaya, aku dipenuhi rasa cemburu. Apa lagi yang bisa kupikirkan? Aku tidak bisa membawamu, tidak bisa menempatkan kau di sisiku, aku tidak bisa tenang selama kau berada jauh dariku, Naya. Tidakkah kau tahu itu? Hari – hariku terasa sepi tanpamu. Aku tidak bisa memeluk Kanayaku, mencium aroma wangi dari rambutmu. Aku benar – benar merindukanmu, setiap hari, Naya. Jadi, salahkah aku jika aku cemburu?” “Dave, apakah kau pikir aku tidak merasakan hal yang sama? Aku di sini juga merindukanmu, bahkan rindu itu semakin besar. Namun, kenapa kau melukai dirimu dengan rasa curiga padaku? Apakah aku pernah mencurigaimu, Dave?” Dave diam sesaat, Kanaya memang tidak pernah mencurigainya, Kanaya bahkan tidak mencari tahu tentang dirinya di sana, padahal...padahal perempuan itu, bagaimana jika Kanaya tahu tentang apa yang telah dilakukan perempuan itu padanya. Perempuan itu terus menggodanya, Olivia. “Aku minta maaf, Kanaya. Tapi bisakah kau memberi kabar lain kali?” Kanaya mengangguk, “Ya, aku juga minta maaf, Dave. Tapi, kuharap kau bisa mengerti. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman. Dave, apakah kau akan pulang saat libur nanti?” “Tentu saja, Kanaya. Aku tidak sabar bertemu denganmu. Aku sangat menantikan hari itu.” Kanaya tersenyum, saat melihat perubahan wajah Dave. Lelaki itu kembali ceria, seperti yang Kanaya harapkan. “Dave, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” “Ehm, aku hanya akan membaca buku sampai terlelap, Naya. Apakah kau sudah mengantuk? Aku tidak ingin membuatmu begadang semalaman.” Dave tertawa, ia melihat gadis itu mulai menguap. “Ah, sepertinya benar. Kau ingin tidur, Kanaya?” “Sepertinya aku sudah mengantuk, Dave. Apakah tidak apa – apa kalau aku tidur sekarang?” “Tentu, sayang. Tidurlah dan kirimi aku pesan saat kau bangun besok. Selamat malam, Naya.” “Selamat malam, Dave, jaga dirimu di sana.” Dave mengangguk, dan menunggu gadis itu mematikan ponselnya. .... Elang mengeliat, lelaki itu turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela kamar. Ia membuka gorden jendela itu, hari masih sedikit gelap, udara dingin terasa menyentuh kulit, melewati celah di atas jendela kamar. Lelaki itu pun bergegas turun, setelah mengambil jaket larinya. Ia tersenyum, saat matanya beradu dengan wanita paruh baya yang bekerja di rumahnya itu. Wanita itu terlihat sedang menyapu lantai sembari bersenandung kecil. “Mas, Elang, mau olahraga, ya?” sapa wanita yang dipanggil dengan sebutan bibi itu. “Iya, Bi, aku berangkat dulu,” sahut Elang ramah, dan mulai berlari dari sana. Elang terus berlari, lelaki itu memang tidak pernah melewatkan pagi begitu saja. Ketika Elang masih berlari, terdengar suara Rian memanggil dari belakang. Lelaki itu terlihat mengatur napas, saat berusaha menghampiri sepupunya itu. “Oh, kau sudah bangun? Kau tahu aku di sini?” Elang menatap Rian, yang kini berlari kecil di sisi Elang. “Ya, aku melihatmu ke luar dan segera menyusul. Larimu cepat juga, ya?” kata Rian. “Hmm, aku harus menjaga kesehatanku. Kau tahu aku sangat sibuk, kan?” “Bukan hanya kau yang sibuk di dunia ini, Elang. Lalu bagaimana? Apakah saranku berhasil? Kau pergi dengan gadis itu semalam?” tanya Rian penasaran. “Ya, saranmu itu bagus sekali. Kami pergi menonton konser musik lalu makan malam. Tapi, aku merasa jika Kanaya masih tidak nyaman denganku. Padahal aku sudah berusaha untuk bersikap tenang dan menunjukkan persahabatan. Kanaya..bahkan masih gugup ketika menyebut namaku, Rian.” “Kau harus bersabar. Tidak mudah mendapatkan hati seorang gadis yang telah memiliki kekasih. Apakah kau tahu, sebesar apa cinta gadis itu untuk kekasihnya?” Elang berhenti, terlihat menarik napas panjang lalu menatap Rian dengan senyum melengkung di bibirnya, “Haruskah aku tahu?” “Elang, cobalah untuk berpikir secara logika. Kau memiliki pesaing, dan sudah jelas sainganmu itu sangat berat. Dia kekasihnya, seseorang yang lebih dulu hadir di dalam kehidupan Kanaya. Apakah kau yakin kalau kau mampu menggantikan posisi laki – laki itu?” “Rian, laki – laki itu tidak ada di sini. Aku yang sekarang berada di sisi Kanaya, bukan dia. Menurutmu, apakah Kanaya akan bertahan dengan hubungannya itu? Lelaki itu hanya bisa mengirim kabar tanpa bisa melakukan apa – apa, sedangkan aku? Aku bisa membuat Kanaya bahagia, setidaknya begitu.” “Bahagia? Ya, ampun, Elang. Kau sangat percaya diri. Apakah dia mengatakan itu padamu? Dia bahagia? Atau justru tertekan?” “Tertekan? Apa maksudmu?” Elang kembali berlari, dan Rian berusaha mengimbangi kecepatan laki – laki itu. “Bisa saja, kan, kehadiranmu justru menjadi benalu baginya?” “Benalu? Sialan! Tidak ada kata yang lebih buruk dari itu, hah?” Rian tertawa, lelaki itu kemudian terbatuk, “Maaf, seharusnya aku tidak mengatakan itu.” “Astaga, begitu saja tenagamu? Bagaimana kau bisa setenar ini, hah? Aku tidak percaya.” “Sialan! Kau menghinaku?” tukas Rian, yang kini telah kembali berlari di sisi Elang. “Elang, aku hanya tidak ingin melihat sepupuku ini menderita karena wanita. Kenapa, sih, kau tidak mencari yang “aman” saja? Kurasa ada banyak perempuan cantik di negara ini, Elang.” “Rian, kau tidak pernah tahu kepada siapa hatimu akan tertambat. Dan, kali ini aku yakin jika hatiku tidak salah. Kanaya adalah gadis yang tepat untukku,” tukas Elang. Rian menggelengkan kepalanya heran, sembari berdecak tak percaya, “Aku hanya berusaha mengingatkan, Elang. Baiklah, aku sangat berharap kau bisa mendapatkan keinginanmu. Seperti yang aku tahu, Elang adalah orang yang pantang menyerah.” “Apakah kau mendukungku, Rian?” Elang mengulaskan senyum lebar, dan berhenti berlari ketika cahaya matahari mulai terlihat semakin terang. “Apalagi yang bisa kukatakan padamu, Elang. Kita pulang?” “Hmm, aku harus bersiap – siap untuk bekerja hari ini.” “Aku ingin datang ke kantormu, aku penasaran seperti apa gadis yang telah membuatmu hilang akal itu, Elang.” “Apa katamu? Kejam sekali. Tapi, awas saja kalau kau sampai jatuh cinta padanya.” Rian terkekeh, melingkarkan tangannya di bahu Elang, “Tidak akan. Aku juga tidak menetap di sini, kan? Aku tidak ingin menjalani hubungan lintas negara, Elang.” “Astaga...kata – katamu benar – benar...” Elang tertawa lepas, dan mereka pun berjalan pulang. ....... Semua mata menatap kepada Rian. Lelaki itu membungkus dirinya dengan jaket hitam, memakai topi juga kacamata. Sesekali terdengar suara bisikan, yang menanyakan identitas lelaki yang berjalan di samping Elang itu. Elang mendekati Kanaya, yang telah berada di meja kerjanya itu. Dan Rian menatap gadis itu dari balik kacamata hitam miliknya. “Naya, selamat pagi,” sapa Elang, tersenyum dengan begitu manis. “Selamat pagi, Pak.” “Kanaya, bisakah kau mencetak file yang harus kutanda tangani pagi ini, dan membawanya ke ruanganku?” “Tentu, Pak. Saya akan mencetaknya sekarang.” Sahut Kanaya, dan bergegas menemukan file yang diminta atasannya itu. “Ehm, bisa tolong bawakan kopi juga?” ucap Rian kepada gadis itu, seketika Elang menoleh, menatap Rian dengan mata terbelalak. Tapi Rian hanya tertawa renyah dan masuk ke dalam ruangan Elang. “Kau bisa mengatakannya padaku jika ingin kopi, Rian. Itu bukan tugas Kanaya.” Protes Elang dan duduk di sofa itu. “Tidak masalah, kan? Kanaya bisa meminta office boy untuk membuatnya. Aku hanya ingin menyapa gadis itu, Elang.” “Ah, sudahlah. Aku takut dia mendengar semua kata – katamu itu.” Elang terlihat cemas, seakan memberi peringatan kepada Rian. Rian duduk dengan santai, lelaki itu mengambil koran yang masih terlipat rapi di atas meja dan mulai membacanya. Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar, sudah pasti itu adalah Kanaya, gadis yang selalu diharapkan Elang. “Masuklah,” ucap Elang dengan nada gembira, dan terlihat gadis itu masuk sambil membawa berkas di tangannya. “Ini filenya Pak, Elang, dan untuk kopinya akan datang sebentar lagi.” Kanaya berkata dengan sopan. Gadis itu berdiri di sana, menunggu. “Ehm, Naya, duduklah,” pinta Elang, menepuk tempat kosong di sisinya. “Tapi..” Kanaya terlihat ragu. “Oh, tidak apa – apa, duduklah di sini,” ucap Elang, menyakinkan gadis itu. Kanaya menurut, dan duduk di dekat atasannya itu. “Maaf, aku memintamu pagi – pagi sekali. File itu bisa kau tinggalkan, aku akan memberitahumu jika sudah selesai.” “Baik, Pak. Kalau begitu saya akan kembali ke meja saya.” Kanaya berniat berdiri, namun tiba – tiba Elang meraih tangan gadis itu. “Tunggu sebentar, kenapa kau terburu – buru, Naya. Aku ingin memperkenalkan seseorang padamu.” Rian tersenyum, sembari melambaikan tangannya kepada Kanaya, “Hai, Kanaya.” Kanaya mengangguk, dan tersenyum kepada lelaki yang duduk di hadapannya itu. “Dia sepupuku, Rian. Kau pernah melihatnya?” tanya Elang, menatap Kanaya yang kini terlihat mengawasi laki – laki itu. Kanaya menggeleng. “Tidak.” “Oh, mungkin karena topi dan kacamata ini,” ucap Rian sembari melepaskan topi dan kacamatanya itu, “Kau mengenaliku, sekarang?” kata Rian dengan bangga. “Eh?” Kanaya menatap Rian sekali lagi, mencoba untuk mengingat – ingat wajah lelaki itu. “Kau ingat, kan?” desak Rian lagi. “Maaf, aku tidak mengenalmu.” Perkataan Kanaya itu seketika membuat Elang terbahak, dan raut wajah Rian berubah, seolah tidak terima dengan tawa sepupunya itu. “Astaga, Naya, kau benar – benar polos. Kau membuatku bersemangat pagi ini,” Elang masih tertawa ketika mengatakan itu. “Tapi, kenapa anda tertawa, Pak, Elang? Apakah ada yang lucu?” “Tentu saja. Astaga, Rian, kurasa kau tidak setenar itu.” “Apa maksud anda, Pak? Memangnya...siapa dia?” Kanaya terlihat bingung. “Kau benar – benar tidak tahu siapa aku?” Rian masih tidak percaya dengan kata – kata Elang itu. Kanaya menggeleng, “Saya sungguh minta maaf, tidak bisa mengenali anda.” Rian mengeluarkan ponselnya, membuka akun media sosial miliknya itu, dan memperlihatkannya kepada Kanaya, “Lihat baik – baik, kau akan mengerti.” Kanaya menatap semua tampilan di akun itu, gadis itu membaca tulisan yang tertera di sana, “Anda penyanyi?” Kanaya berkata lirih. “Rian, sepertinya kau tidak perlu menyamar saat berada di negara ini, tidak ada yang mengenalimu,” kata Elang menatap Rian dengan senyum lebar. “Eh, bukan begitu. Mungkin hanya aku yang tidak mengenali anda. Aku tidak terlalu senang bermain media sosial, aku hanya sesekali membukanya. Aku benar – benar minta maaf.” “Hei, kenapa kau minta maaf? Apa itu salahmu?” kata Elang kepada Gadis itu. “Oke, tidak masalah. Harga diriku sama sekali tidak terluka. Sekarang kau tahu siapa aku, kan? Kau beruntung karena bisa bertatap muka denganku. Kau ingin berfoto denganku, Nona?” “Ya?” Kanaya terkejut dengan tawaran laki – laki itu. Elang tersenyum tipis, “Dia tidak mau, Rian. Kanaya, kau boleh kembali ke meja kerjamu. Terima kasih, ya?” “Tapi, aku belum berfoto dengannya, Elang.” Rian menatap Kanaya yang kini telah berdiri dari duduknya itu. “Tidak perlu, sudah kubilang dia tidak mau.” “Saya permisi, Pak.” Kanaya pun pergi dari tempat itu dengan senyum di bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD