“Kanaya, kau datang? Kenapa tidak memberi kabar?” Nadine membuka pintu rumah itu, cukup terkejut melihat kedatangan Kanaya sore ini.
“Aku mampir sepulang dari kantor. Kau tidak bekerja hari ini, Nadine? Apa kau sakit?” Kanaya memperhatikan perempuan itu, ia terlihat berantakan.
“Ehm, Naya, bisakah kau kembali lain hari?” Nadine mengusap tengkuknya, perempuan itu bahkan tidak meminta Kanaya untuk masuk ke dalam.
“Oh, kenapa? Apa kau benar – benar sakit? Di mana suamimu? Kau perlu ke dokter?”
“Tidak..tidak, aku baik – baik saja, Naya. Hendy sedang melakukan perjalanan dinas, besok baru kembali. Kurasa aku perlu istirahat hari ini.” Nadine mengulaskan senyuman yang ia paksakan.
“Oh, padahal aku ingin bicara denganmu, Nadine.” Kanaya terlihat menyesal karena perempuan itu tidak memberinya kesempatan.
“Besok, aku akan datang ke kantormu. Kebetulan aku membutuhkan persetujuan dari Pak Elang.” Sahut Nadine.
“Nadine, siapa itu? Kenapa lama sekali?”
Terdengar suara seorang laki – laki dari dalam.
“Nadine, kau sedang ada tamu?” tanya Kanaya yang terkejut dengan suara itu. Kanaya yakin itu bukan suara Hendy.
“Itu..ya, aku sedang memiliki tamu. Bisakah kau pergi sekarang, Kanaya?”
“Sayang, ayolah!” Panggil laki – laki itu, dan sesaat kemudian Kanaya melihat sosok lelaki asing yang muncul dari dalam rumah itu.
“Nadine..kau!” Kanaya terperanjat, terlebih lagi ketika melihat laki – laki itu hanya mengenakan celana panjang jeans tanpa atasan.
Nadine seketika mendorong tubuh Kanaya menjauh dari pintu, dan menutup pintu rumah itu dengan cepat. “Maafkan aku, Naya,” ucap Nadine dari balik pintu.
“Apa? Nadine, apa yang kau lakukan?” gumam Kanaya tak percaya.
....
“James!” Nadine terlihat begitu kesal kepada laki – laki itu, ia melangkah dengan cepat melewati James yang menatapnya dengan heran.
“Nadine, ada apa? Kenapa kau berteriak padaku?” tanya James, sembari mengikuti perempuan itu ke dalam.
Nadine membuka lemari pendingin itu, mengeluarkan sebotol anggur dan menuangnya ke dalam gelas, menyesapnya perlahan. Sementara James berdiri di hadapan perempuan itu, menunggu.
“Kenapa kau harus ke luar dan memperlihatkan dirimu, James? Kau sengaja melakukan itu? Kau tahu siapa dia? Dia temanku, dan dia mengenal suamiku!” Nadine terlihat frustasi, ia kembali meneguk minuman itu dengan cepat.
“Hei, sayang, apa yang kau lakukan?” James menggambil gelas itu dari tangan Nadine, meletakkannya di meja.
“Aku kesal, James. Kau tahu itu?”
“Aku minta maaf, Nadine. Aku tidak berpikir panjang. Lalu apa yang harus kulakukan?” James menatap Nadine dengan rasa bersalah, dan perempuan itu membalas tatapan mata James yang terlihat sendu.
“Tidak ada. Kau hanya perlu diam, James. Aku akan bicara dengan Kanaya nanti.”
“Oke, aku benar – benar menyesal, Nadine. Aku tidak sabar menunggumu.”
“Oke, tidak apa – apa. Kau tahu, kan? Aku sengaja mengambil cuti hari ini untukmu?”
“Ya, aku tahu itu. Aku tidak akan membuatmu kecewa.” James berjalan mendekati perempuan itu, meraih pinggangnya yang ramping.
“Nadine, kau cantik sekali,” gumam James lirih, mengecup bibir perempuan itu.
Nadine membalasnya, sebuah kecupan yang semakin lama semakin dalam. Lelaki itu begitu menikmati Nadine, setiap helaan napas perempuan itu semakin membuat James ingin melakukan lebih.
“Oh, James..”
“Nadine, hanya kau yang bisa membuatku seperti ini.” Ucap James di sela – sela permainan mereka.
“Sungguh? Bagaimana dengan istrimu?”
“Oh, sayang, bisakah kau tidak membahasnya selagi kita sedang berdua? Aku tidak ingin kehilangan mood karena dia.”
“Oke.” Nadine tersenyum, dan mempererat pelukannya di tubuh laki – laki itu.
....
“Nadine, apakah gadis tadi akan mencari masalah denganmu?” James mengusap kepala Nadine, yang kini berbaring di pangkuannya itu.
“Kanaya tidak begitu. Sejak kuliah dia bukan gadis yang senang mencampuri urusan orang lain. Dia terkesan diam dan tak acuh. Kurasa kita tidak perlu mencemaskannya.” Nadine melihat ke atas, menatap wajah James yang begitu tampan di matanya, tentu saja.
“Aku lega mendengarnya, aku hanya tidak ingin membuatmu berada di dalam masalah. Aku seharusnya tidak melakukan itu,” ucap James menyesal.
“Aku tidak bisa menyalahkanmu, hanya saja bagaimana jika itu Hendy? Apa yang harus kulakukan?”
“Nadine, jika itu suamimu, maka kau berpisah saja dan menikah denganku.”
Nadine tersenyum, “Tidak semudah itu, James. Aku memiliki keluarga besar, aku tidak ingin mempermalukan mereka.”
“Tapi ini bukan salahmu, Nadine.” James menunduk, mengecup kening perempuan itu.
“Hmm, seandainya saja Hendy mau mengerti, mungkin aku..” Nadine tidak melanjutkan kata – katanya, perempuan itu bangkit, merapikan kembali pakaian dan rambutnya yang berantakan.
“Kenapa? Apakah kau menyesal?” James menatap lekat ke arah perempuan itu. Perempuan yang sudah cukup lama mengisi hari – harinya.
“Aku tidak tahu, James. Aku merasa kosong. Maaf, sebaiknya cukup untuk malam ini, aku ingin tidur, James.”
“Nadine, aku benar – benar suka padamu, kau bisa mempertimbangkan tawaranku kemarin. Istirahatlah, aku pulang, ya?” James mengecup bahu Nadine. Perempuan itu hanya mengangguk, ia bahkan tidak mengantar James hingga ke muka pintu.
....
“Naya, kau sedang apa?” Dave menatap Kanaya, layar kecil itu menjadi satu – satunya penghubung diantara mereka, setidaknya untuk saat ini.
“Dave, apa yang harus kulakukan?” Kanaya terlihat cemas, apa yang disaksikannya sore tadi sangat mengganggu pikiran gadis itu.
“Ada apa? Apakah terjadi sesuatu yang buruk?” Dave mulai khawatir, ia bisa mengetahui semua itu hanya dari melihat ekspresi wajah Kanaya.
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Pikiranku menjadi tidak tenang, aku bahkan berpikir apakah hubungan kita akan baik – baik saja? Apakah kita bisa melewati waktu ini dengan kesetiaan? Ini sangat menggangguku, Dave.”
“Sayang, apa yang terjadi? Kenapa tiba – tiba kau meragukan hubungan kita?”
“Maaf, kurasa aku terlalu mudah larut dengan keadaan. Apa kau sudah makan, Dave?”
Dave mengangguk, “Bagaimana denganmu? Kau makan dengan baik, kan?”
“Ya, aku tidak akan membuatmu cemas.” Kanaya tersenyum, memperlihatkan keceriaan di wajahnya itu.
“Naya, aku harap kau mau bicara denganku. Aku ingin kita saling terbuka, tentang apapun itu. Kau mengerti, kan?”
“Aku tahu, Dave. Aku selalu menceritakan tentang semua yang kurasakan padamu, kau adalah satu – satunya orang yang kumiliki.”
“Bagaimana dengan Luna?”
“Luna?” Kanaya menaikkan sebelah alisnya.
“Ya, kau juga kerap bicara dengannya, kan? Aku memiliki pesaing sekarang.” Dave tersenyum dan kata – kata itu sanggup membuat Kanaya tertawa kecil.
“Aku memang sering bicara dengannya, karena Luna akan menyimpan semua rahasiaku dengan baik.”
“Wah, aku cemburu.”
Kanaya tertawa, “Kau cemburu, benarkah?”
“Ha..ha, ya, aku sangat cemburu. Luna begitu beruntung bertemu denganmu. Kau manis, sama sepertinya.” Dave menatap Kanaya dengan bahagia, semua itu tersirat matanya.
“Aku senang kau cemburu, Dave, sekalipun itu kepada Luna.”
“Kanaya, apakah kau minum vitamin yang kukirimkan kepadamu?”
Kanaya mengangguk, “Ya, aku minum itu setiap pagi dan tubuhku terasa nyaman sepanjang hari, aku tidak merasa lelah, Dave.”
“Aku senang mendengarnya, tapi kenapa kau terlihat lebih kurus, Kanaya? Apa kau sakit?”
Kanaya menggeleng, “Tidak, aku baik – baik saja, Dave. Kenapa kau cemas berlebihan?” Kanaya kembali tersenyum.
“Ya, aku selalu mencemaskanmu. Apa yang kau butuhkan, Naya? Katakan padaku, aku akan mengirimkan semua yang kau perlukan.”
“Tidak, Dave. Kau harus menghemat uangmu, kan?”
“Tapi itu untukmu, Kanaya. Untuk siapa aku bekerja selama ini? Aku hanya ingin membuatmu bahagia. Kau tenang saja, aku akan menabung untuk melamarmu nanti, memberimu sebuah rumah yang kau inginkan. Aku berjanji, Kanaya.”
“Dave, aku benar – benar rindu padamu. Rasanya sudah sangat lama, bukan?”
“Oh, sayang, apa yang harus kulakukan? Seandainya saja kau mau ikut denganku, aku pasti sangat bahagia.”
“Iya, Dave. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, kan?”
“Naya, apakah kau yakin dengan hatimu?” Dave berkata dengan serak, sesekali ia menjatuhkan pandangannya ke bawah.
“Kenapa, Dave? Apa yang kau pikirkan? Tentu saja aku sangat yakin dengan hatiku. Aku telah memilihmu, Dave. Bagaimana denganmu?”
Lelaki itu tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan perasaannya, “Ya, aku juga yakin denganmu, Naya.”
“Dave, rumah yang kau buat untuk Luna akan menjadi semangat untukku. Setiap kali aku melihat rumah itu, aku melihat ketulusan di dalam hatimu. Jika untuk Luna saja, kau memberikan rumah yang terbaik, maka kau pun pasti memberiku yang terbaik, termasuk hatimu itu, kan, Dave?”
“Iya, sayang, itu pasti. Aku tidak akan pernah melupakan tujuanku. Kau juga tahu, kan, sejak dulu aku hanya mengenal Kanaya seorang. Aku tidak pernah tertarik dengan perempuan manapun. Mataku hanya melihatmu, Naya.”
Kanaya tersenyum lebar, “Dave, kau semakin pintar bicara. Kau ingin menggodaku?”
Lelaki itu tertawa, “Tidak, tapi aku ingin membuatmu semakin jatuh cinta padaku, Kanaya.”
“Dave..” Kanaya tersipu, jika Dave berada di dekatnya saat ini, ia pasti sudah memeluk laki – laki itu dengan sayang yang begitu besar.
“Naya, apa yang akan kau lakukan besok?”
“Tentu saja bekerja, Dave. Hanya itu yang kulakukan di sini. Dave, bagaimana denganmu? Apakah berat bekerja di tempat itu? Apa kau memiliki teman dekat di sana?”
Dave tersenyum, “Pekerjaan itu tidak lebih berat dari rinduku kepadamu, Kanaya. Aku tak sabar untuk melihatmu.”
“Kau menggodaku lagi,” Kanaya kembali tersipu, ia berjalan ke luar dan duduk di teras rumahnya. Luna seketika menghampiri saat melihat Kanaya datang ke teras itu. Kanaya memang tidak pernah membawa Luna masuk ke dalam rumahnya, dan tampaknya kucing kecil itu cukup mengerti.
“Dave, sapalah Luna.” Kanaya mengarahkan ponselnya ke arah Luna, dan kucing itu mengeong begitu melihat wajah Dave di dalam sana.
“Hai, Luna? Kau terlihat lebih gemuk sekarang, Kanaya pasti merawatmu dengan baik.”
“Kau benar, Luna lebih berisi. Aku membeli lagi makanan kucing seperti yang kau berikan dulu, dia sangat menyukainya.”
“Woo, kucing pintar.” Dave tertawa, lelaki itu terlihat menyingkirkan rambutnya yang jatuh di kening. Kanaya menatap laki – laki itu, wajahnya yang tampan selalu membuat jantungnya berdetak lebih kencang, rasa sukanya kepada Dave semakin besar, terlebih lagi bibir yang begitu manis saat ia tersenyum.
“Dave, ada apa?”
“Naya, maaf, aku harus menerima telephone. Nanti aku telephone lagi, ya?”
“Hmm, tidak apa – apa, Dave.”
.....
“Dave, kenapa lama sekali?”
“Maaf, saya sedang menelephone seseorang. Ada apa, Bu, Olivia?”
“Ayolah, Dave, kita sudah di luar jam kerja. Panggil aku Olivia. Apa kau memiliki rencana malam ini?” Tanya perempuan itu.
“Ada apa? Apakah ada pekerjaan yang harus saya kerjakan malam ini?”
“Ya, ada tugas untukmu, Dave.” Olivia tersenyum di seberang sana.
“Tugas? Apa itu?” Dave menyatukan alisnya, tidak biasanya perempuan itu memberinya tugas di luar jam kerja.
“Makan malam denganku. Kau tidak akan menolaknya, bukan?”
“Ya? Tapi..”
“Aku akan menjemputmu satu jam lagi. Aku sudah membuat reservasi, sangat disayangkan jika batal. Oke?”
“Tapi, saya..”
Olivia menutup telephonenya begitu saja, tanpa menunggu jawaban laki – laki itu.
....
“Hai, Dave?” Olivia turun dari mobilnya, tepat di depan rumah laki – laki itu, sementara Dave telah berdiri di sana, menunggu.
“Kau sudah siap?”
“Begini, sebenarnya aku..”
Olivia melingkarkan tangannya di lengan Dave, menarik lelaki itu dan membawanya ke mobil, “Ayolah, jangan menolaknya. Kau tidak akan rugi, Dave.”
Dave terpaksa mengikuti perempuan itu, Olivia begitu memaksa dirinya. Dave hanya ingin menghargai kedatangan atasannya tersebut.
“Ayo, Pak, jalan,” ucap Olivia kepada lelaki yang duduk di bagian kemudi mobilnya. Lelaki itu mengangguk, dan bergegas menjalankan mobilnya.
“Dave, aku senang kau tidak menolak ajakanku. Aku ingin membawamu ke sebuah tempat yang sangat romantis. Makanan di sana sangat enak, kau bisa memesan semua yang kau inginkan.” Olivia tersenyum, perempuan itu bahkan merapatkan tubuhnya ke arah Dave, begitu dekat.
Dave beringsut, tapi sia – sia. Tak ada lagi tempat baginya untuk menghindar di dalam mobil itu. Olivia menyandarkan kepalanya di pundak Dave, tentu saja tindakan perempuan itu membuat Dave sangat terkejut.
“Maaf, saya harus menelephone seseorang,” ucap Dave sembari meraih ponsel dari dalam saku celananya.
Dave terlihat ragu, ia tak mungkin menghubungi Kanaya. Bagaimana jika tiba – tiba Olivia mengatakan sesuatu yang tidak benar saat ia menelephone nanti? Tidak, Dave tidak ingin Kanaya salah paham padanya.
Olivia menatap Dave heran, lelaki itu hanya menatap ponselnya tanpa melakukan sebuah panggilan.
“Ada apa? Kau tidak tahu siapa yang akan kau hubungi?” kata Olivia.
“Bukan begitu. Saya akan menelephone nanti.”
“Oke, tidak masalah. Sekarang bersenang – senang saja denganku, Dave.”