episode 13

1564 Words
Olivia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengusap sudut bibir Dave dengan jemarinya. Dave yang terkejut dengan tindakan Olivia itu memalingkan wajah ke tempat lain. “Oh, Dave, kau menggemaskan. Aku tidak pernah mengalami penolakan seperti ini.” Olivia tertawa, dan kembali menyesap minumannya itu. “Maaf, saya tidak berniat untuk membuat anda tersinggung,” kata Dave, lelaki itu hanya berusaha untuk menunjukkan batasan diantara mereka. “Oke, tidak masalah. Aku sama sekali tidak tersinggung, justru aku menganggap ini tantangan besar untukku.” Olivia tersenyum, sembari menatap Dave yang mulai tidak nyaman dengan setiap perkataan perempuan itu. Di sini, Dave harus bertahan, jangan sampai Olivia membuatnya terpaksa meninggalkan pekerjaan itu. Impiannya tidak boleh hancur karena seorang perempuan. Dave tahu apa yang Olivia inginkan. Perempuan itu hanya sedang berburu mangsa, dan Dave tidak boleh tertangkap begitu saja. Kanaya adalah tujuannya, apa yang ia usahakan sejauh ini semata hanya demi Kanaya. Dave sangat ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuk gadis itu. Dave tidak ingin membuat Kanaya menderita dengan memilihnya. “Dave, kau tahu siapa aku, kan?” Olivia menatap lelaki itu dengan tajam, sembari tangannya memegang gelas kristal berkaki itu erat. Dave mengangguk, apakah kali ini Olivia akan menunjukkan kekuasaannya di perusahaan untuk menekan dirinya? Dave tidak percaya ini. “Kau juga pasti tahu, apa yang bisa kulakukan untukmu di sana. Aku tahu kau memiliki tujuan. Untuk apa kau datang jauh – jauh ke mari jika bukan untuk itu. Semua orang menginginkan jabatan yang lebih tinggi lagi, sebagai bentuk pengakuan atas kerja kerasnya itu. Dan sekarang, tujuanmu itu ada di depan mata, Dave. Tidakkah kau melihatnya?” “Apa maksud anda, Bu?” Olivia tersenyum tipis, “Aku tidak suka dengan sebutan itu, Dave. Walau aku memang lebih tua darimu, tapi kurasa usia kita tidak terpaut jauh.” “Saya hanya sedang menghormati anda dengan panggilan itu,” jelas Dave. “Begitu? Tapi ini bukan di perusahaan, dan aku mengundangmu secara khusus malam ini, apakah kau tidak mengerti juga?” Dave menghela napas, jika Olivia bukan atasannya ia pasti sudah meninggalkan tempat itu sejak tadi. Dave hanya berusaha untuk menghargai undangan yang dipaksakan ini. “Saya sudah memiliki tujuan sendiri, Bu, Olivia. Saya sedang berjuang untuk tujuan itu.” Olivia mengerutkan keningnya, “Kau memiliki tujuan sendiri? Oh, apakah kau sedang mengatakan tentang seseorang?” Dave mengangguk, “Benar.” Olivia kembali tersenyum, “Dave, apakah aku peduli dengan itu?” “Ya?” Olivia mengulurkan tangannya, lalu menggerakkan jemarinya di punggung tangan laki – laki itu, mengusapnya dengan lembut, “Aku tidak peduli, apakah kau telah memiliki kekasih atau tidak, karena aku hanya ingin bersenang – senang. Aku selalu mendapatkan semua yang kuinginkan. Dave, aku tidak membutuhkan sebuah ikatan, itu sangat merepotkan, bukan?” Dave tersenyum tipis, tak menduga jika Olivia seberani itu. “Sebenarnya apa yang anda inginkan?” Dave bertanya, sekalipun ia sudah tahu ke mana arah tujuan pembicaraan perempuan itu. “Dave, kurasa kau telah mendengar rumor tentang aku,” Olivia tertawa renyah, memperlihatkan deretan gigi putih terawat perempuan itu, “Itu tidak benar, aku tidak seperti itu.” “Romor apa? Saya tidak pandai bergaul di sini, saya hanya berusaha untuk bekerja dengan baik.” “Benarkah?” Olivia memicingkan matanya, mengamati wajah datar lelaki itu, “Tidak ada yang mengatakannya padamu?” Dave meraih minumannya, meneguknya sedikit, lalu kembali menatap perempuan yang sengaja memakai pakaian sedikit terbuka untuk memperlihatkan lekukan di dalam sana, tapi bukankah Olivia memang selalu begitu? “Ya,” sahut Dave singkat. Ia memang pernah mendengarnya, ketika seorang rekan mengatakan itu, tapi Dave tidak pernah memikirkannya. Ia tidak ingin terlibat dengan urusan orang lain. Tapi tampaknya, Olivia tidak main – main. “Oh, baguslah.” Olivia kembali tersenyum, matanya menatap Dave dengan rasa kagum yang tak bisa ia jelaskan. Dave sangat tampan, semua yang ada di dalam diri laki – laki itu adalah impian Olivia. Bukan hanya tampan, tapi Dave adalah lelaki cerdas dan penuh kharisma, bahkan setiap desahan napas yang ke luar dari mulut Dave mampu membangkitkan emosi perempuan itu. “Dave, kau benar – benar ingin tahu apa tujuanku terhadapmu?” Dave tidak menjawab, sepertinya ia telah melakukan kesalahan dengan bertanya hal seperti tadi. Bukankah lebih baik ia pura – pura tidak mengetahuinya? Olivia menyibakkan rambut panjangnya ke belakang, rambut yang sempat menutupi tubuhnya yang terbuka itu. Dave menunduk, bagaimanapun ia berusaha, kulit yang begitu lembut itu tetap terlihat dengan jelas di sana. Perempuan itu tersenyum, saat melihat reaksi Dave yang tersipu. Olivia yakin, Dave tidak pernah melakukannya, bahkan mungkin dengan kekasihnya itu. Menarik. Itulah yang sekarang ada di dalam benak Olivia. “Aku menyukaimu, Dave.” Dave hampir tersedak mendengar pengakuan itu, lelaki itu buru – buru meraih air dan meneguknya, “Maaf,” katanya kemudian. “Kau baik – baik saja?” Suara Olivia terdengar panik, ia bahkan berdiri dan menepuk – nepuk punggung Dave pelan, membantu laki – laki itu. “Saya baik – baik saja,” Dave tersenyum kecil, meminta Olivia agar kembali duduk. “Astaga, apakah kau terkejut dengan kata – kataku tadi?” Olivia terkikik, ia lantas menatap Dave dengan serius, “Tapi aku tidak bercanda. Aku sangat suka padamu. Apakah kau mau mencobanya?” “Men..mencoba apa?” Suara Dave terdengar gugup. “Yah, mencoba untuk memiliki hubungan denganku. Sebuah hubungan tanpa ikatan, aku tidak melarangmu untuk bersama perempuan itu, karena yang kuinginkan hanyalah kesenangan. Bukankah itu tidak sulit bagimu, Dave? Aku juga tidak akan mempersulit hubungan kalian. Anggap saja ini hanya sebuah permainan.” “Kenapa anda begitu? Apakah itu menyenangkan untuk anda?” “Hmm, aku mudah bosan. Itulah kenapa aku tidak ingin membuat sebuah ikatan. Apa yang kusukai sekarang, mungkin tidak akan kusukai besok. Dan, apa yang kulakukan ini selalu membuat mereka beruntung. Aku tidak akan meninggalkan orang – orang yang telah membuatku senang begitu saja. Aku memenuhi semua kebutuhan mereka selama bersamaku, termasuk jabatan. Hanya dengan satu syarat, aku yang menentukan kapan waktunya akan berakhir.” “Ini tidak benar,” ucap Dave, sembari tersenyum kecut. “Kenapa? Apa yang kutawarkan padamu ini sangat menguntungkan. Kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan, hanya dengan membuatku senang. Kita bisa melakukannya dengan diam – diam, tanpa seorangpun mengetahuinya. Jadi, tidak masalah, kan?” “Apakah kau bisa menjalani hubungan seperti itu? Tanpa cinta?” Dave berkata lirih, sembari menatap Olivia yang juga menatapnya dengan wajah datar. Tentu saja ucapan Dave begitu tajam di telinganya. Sederhana, namun terasa begitu dalam. “Kau tidak tahu apa – apa soal cinta, Dave.” Olivia meraih minumannya, meneguknya hingga habis. Perempuan itu bahkan telah meneguk lebih dari dua gelas minuman yang memabukkan itu. “Kau yang tidak tahu, Bu, Olivia. Aku mencintai dengan tulus, tanpa paksaan.” “Omong kosong! Kau masih anak – anak, Dave. Terlalu dini bagimu untuk berbicara tentang ketulusan. Aku..jauh lebih mengerti darimu.” Olivia kembali meraih botol minuman itu, tapi Dave menghentikannya. “Jangan minum lagi, anda sudah mabuk.” “Lepaskan tanganmu, Dave. Kau hanya berpura – pura, kan?” Olivia menyingkirkan tangan Dave dari sana, menuang kembali minuman itu ke dalam gelasnya dan meneguknya hingga habis. Dave menatap perempuan itu, Olivia yang selalu terlihat tegas saat berada di perusahaan. Olivia yang tak acuh terhadap perasaan orang lain, menjadi Olivia yang berbeda malam ini. Perempuan itu, bahkan tak segan untuk menunjukkan siapa dirinya. ..... “Anda sebaiknya pulang saja. Saya akan mengantar anda ke dalam mobil.” Dave membantu Olivia berdiri, tapi perempuan itu menolak. “Kau belum menjawabnya, Dave. Tawaranku.” Olivia berusaha membuka matanya, pandangannya mulai kabur. Ia bahkan mampu melihat orang lain di dalam diri Dave, seseorang yang telah membuatnya menjadi seperti ini. Perempuan itu mengusap matanya kasar, bibirnya mengulaskan senyuman. “Dave, jawab aku.” Dave tidak bergeming, ia hanya menatap perempuan itu dengan rasa kasihan. Olivia, pasti telah melalui banyak hal, Dave yakin tidak ada perempuan yang ingin menjadi seperti ini. “Ayo, saya antar anda.” Dave meraih lengan Olivia, sedikit memaksa perempuan itu. Olivia terhuyung, perempuan itu menjatuhkan dirinya di pelukan Dave, sembari menatapnya dengan bibir yang tersenyum. Dave tahu, Olivia sengaja melakukan itu. “Pulanglah,” ucap Dave, setelah Olivia berada di dalam mobilnya. “Masuklah, kau pulang denganku, Dave.” Olivia berniat mengulurkan tangannya untuk meraih Dave, tapi Dave melangkah mundur, menjauh dari Olivia dan menutup pintu mobil itu. “Pak, kau bisa berangkat,” kata Dave kepada sopir perempuan itu. Dave menatap mobil yang membawa Olivia itu telah meninggalkan halaman cafe. Ia benar – benar tak mengira, kehidupan di sini sangat jauh berbeda. Lelaki itu mengambil ponselnya, tidak ada pesan. Bahkan dari Kanaya pun tidak. “Ini sudah larut, Kanaya pasti sudah tidur.” Dave kembali memasukkan ponselnya, setelah memesan sebuah taxi online dari sana. Malam itu, Dave tidak bisa tidur. Apa yang baru saja terjadi ternyata terus saja mengganggu pikirannya, sekalipun ia telah mencoba untuk tidak terlibat terlalu jauh dengan Olivia, tapi..sepertinya itu tidak mudah. Perkataan Olivia terus saja mengganggu laki – laki itu. Mungkinkah ia akan kehilangan pekerjaan yang baru saja ia dapatkan ini? Hanya karena seorang Olivia? Apa yang harus ia katakan kepada Kanaya nanti? Dave tidak ingin itu terjadi. Kenapa Olivia bagaikan mimpi buruk baginya? Lelaki itu meraih bantal, menutup wajahnya dan berusaha untuk terpejam. Kenapa harus dia. Kenapa bukan laki – laki yang lain saja? Ah, perempuan itu benar – benar merepotkan. “Kanaya, aku harus bagaimana?” gumam Dave, yang terus mendengar suara detik jam di dinding kamarnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD