episode 14

2003 Words
 “Kanaya!” Nadine menghampiri Kanaya, tepat saat gadis itu ke luar dari kantor. “Hai, Nadine.” Kanaya menatap Nadine dengan tak nyaman. Perempuan itu bahkan menemuinya di kantor. “Kau ingin bertemu Pak Elang? Tapi Pak Elang tidak ada di ruangannya, ia menghadiri rapat dua jam yang lalu.” “Oh, tidak. Aku tidak mencarinya. Aku ingin bertemu denganmu, Naya.” Kanaya mengerutkan keningnya, entah mengapa bayangan akan sosok laki – laki itu masih terlihat jelas di matanya. “Denganku?” “Ya, bukankah kau datang ke rumahku untuk mengatakan sesuatu, Naya? Apa kau lupa?” Nadine mengingatkan tujuan Kanaya hari itu. “Oh, maaf, aku tidak ingat.” Kanaya tersenyum, “Apa kau datang karena itu, Nadine?” “Eh, itu..” Nadine terlihat panik, terlebih lagi saat melihat tatapan Kanaya yang seolah tidak bersimpati padanya itu. Nadine bisa menduga apa yang sedang dipikirkan oleh Kanaya. “Oke, aku sudah selesai. Bicaralah,” ucap Kanaya. “Di sini?” “Oh, kau ingin minum sesuatu?” “Ya, ikutlah dengan mobilku, Naya.” Nadine tersenyum, meraih lengan Kanaya dan membawa gadis itu pergi. .... Nadine membasahi bibirnya, suasana sore ini terasa begitu kaku. Kanaya bukan orang baru baginya, tapi hari ini, gadis itu terasa begitu asing. “Kanaya, aku ingin mengatakan padamu soal hari itu.” Nadine menggenggam gelas latte dingin itu, suaranya terdengar serak. “Nadine, aku tidak pernah ingin mencampuri urusanmu, tapi aku juga tidak bisa untuk tidak memikirkan itu. Aku tidak pernah tahu tentang bagaimana kehidupan di dalam sebuah pernikahan. Aku hanya melihat jika selama ini hubunganku dan Dave itu baik – baik saja. Aku tidak tahu tentang hal lain.” Kanaya menatap Nadine dengan sedih, ia tak pernah mengira jika Nadine akan melakukan itu kepada suaminya. Selama ini, Kanaya berpikir jika Nadine mungkin tertekan dengan pernikahannya, mungkin Hendy bersikap tidak baik padanya. Tapi nyatanya, justru Nadine lah yang membuat pernikahannya menjadi tidak menyenangkan. “Naya, ini tidak seperti yang kau lihat,” Nadine mencoba untuk membela dirinya sendiri. Kanaya mengangguk, “Kau selingkuh, kan?” “Naya...” “Nadine, kita sudah sama – sama dewasa. Aku bisa tahu apa yang terjadi hari itu, aku memang sangat terkejut, terlebih lagi kau melakukannya di dalam rumahmu sendiri. Rumah yang seharusnya hanya untuk kau dan suamimu.” “Kanaya, dengarkan aku. Kau tidak pernah tahu kenapa aku sampai melakukan ini. Kau ingin mengatakan kalau apa yang kulakukan ini salah, kan? Tapi, bisakah kau bertanya padaku alasannya?” “Alasan?” Kanaya menatap perempuan itu dengan wajah heran, namun ia berusaha untuk menahan diri dan mendengarkan penjelasan Nadine. “Ya, aku punya alasan, Kanaya.” “Oke, apa itu?” “Mungkin bagimu ini tidak masuk akal, tapi aku memang belum siap. Hendy selalu memaksaku untuk memiliki bayi. Bukannya aku tidak suka, tapi tidak untuk saat ini. Aku sedang berkarir dan sangat menikmati pekerjaanku. Aku tidak ingin hidupku berubah karena seorang bayi. Tapi dia tidak pernah mengerti itu. Dia bahkan membahasnya sebelum kami bercinta. Kau tahu apa yang kurasakan? Aku kehilangan mood-ku seketika. Tapi tidak saat aku bersama James. James mampu membuatku nyaman, senang dan melupakan semua masalahku. James selalu mengerti tentang diriku, Kanaya.” Kanaya menghela napas, “Apakah laki – laki itu sudah menikah?” “Ya.” Nadine mengangguk, “James tidak selamanya tinggal di sini, Naya.” “Apa?” “Ya, dia di sini karena pekerjaan. Jika kontraknya habis, dia harus kembali.” “Lalu kau?” “Entahlah,” ucap Nadine putus asa. “Kau mencintainya?” Nadine menatap gadis itu, ia diam sejenak kemudian mengangguk pelan, “Ya, kurasa aku jatuh cinta padanya.” “Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi, sebagai perempuan apakah kau pernah memikirkan perasaan istrinya? Seumpama dia tahu? Perempuan itu pasti sangat mempercayai suaminya, sehingga ia rela berpisah untuk sementara waktu, tapi ternyata...tidak demikian.” Kanaya tiba – tiba terdiam, ucapannya itu seakan juga ia tujukan kepada dirinya sendiri. Bagaimana jika di sana..Dave.. “Aku tahu, aku memang egois, Kanaya. Tapi aku juga ingin bahagia.” “Nadine, apakah kau tidak bisa membicarakan ini secara baik – baik? Haruskah?” Nadine menggeleng, “Dulu Hendy tidak begitu. Dia sangat baik dan pengertian. Tapi sekarang tidak lagi, dia terus memaksakan keinginannya padaku. Aku sudah memberinya alasan, aku butuh waktu tapi kurasa dia tidak ingin mendengarnya. Hal inilah yang membuatku kerap menolak untuk melakukan itu. Aku tidak percaya padanya.” Kanaya menghela panjang, ia meneguk kopinya perlahan, “Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi.” “Kanaya, aku ingin kau merahasiakan ini. Kau bisa, kan?” “Aku tidak ingin ikut campur, Nadine.” Nadine tersenyum, “Aku tahu, itu memang sifatmu. Lalu, kenapa kau datang ke rumahku hari itu? Apa yang ingin kau katakan?” “Oke, kurasa aku langsung saja. Apakah Dave pernah bertanya padamu soal Pak Elang? Tentang aku dekat dengan siapa di kantor?” “Oh, ada apa? Apakah hubungan kalian juga sedang...” “Tidak..tidak, kami baik – baik saja. Dave curiga padaku. Apakah kau mengatakan sesuatu padanya?” Kanaya menatap perempuan itu, ia benar – benar ingin tahu apa yang ada di pikiran Nadine tentang dirinya dan Elang. “Begini, Naya, kurasa kau salah paham padaku. Dave memang menghubungiku, dia bertanya apakah kau dekat dengan seseorang di kantor, dan aku hanya mengatakan mungkin itu Pak Elang. Itu saja. “Apa? Mungkin katamu? Nadine, hubungan dekat seperti apa yang kau maksud itu? Pak Elang itu atasanku, dan posisiku adalah tepat di bawahnya. Aku harus tahu semua yang Pak Elang lakukan di kantor, karena keberadaanku memang untuk membantunya. Aku pergi dengannya semata karena pekerjaan. Jadi, hubungan apa itu, Nadine?” “Kanaya, maafkan aku, kurasa aku salah bicara.” “Nadine, kau juga tahu itu, kan? Posisi kita sama. Kenapa kau bisa memikirkan hal yang lain tentang aku dan Pak Elang? Aku dan Dave berselisih paham karena itu.” “Kanaya, aku benar – benar minta maaf. Aku akan menghubungi Dave dan meralat kata – kataku.” Nadine terlihat menyesal, ia tahu jika Kanaya saat ini begitu marah padanya. “Tidak perlu, aku sudah menjelaskan semuanya kepada Dave. Aku hanya tidak ingin dia berprasangka buruk padaku. Dia sudah cukup menderita, Nadine.” “Oke, aku tidak akan mengatakan apa – apa lagi padanya. Aku berjanji padamu, Naya.” Kanaya mengangguk, gadis itu tersenyum kecil. Ia tak ingin masalah ini menjadikan hubungannya dengan Nadine memburuk, bagaimanapun juga Nadine telah membantunya untuk mendapatkan pekerjaan itu. “Kanaya, aku ingin bertanya padamu.” “Apa itu?” tanya Kanaya, setelah keheningan sesaat diantara mereka. “Apakah kau sanggup menjalani hubungan seperti itu? Apakah dia akan kembali kelak?” Kanaya tersenyum, “Aku hanya berusaha untuk menjalaninya, Nadine. Ini berat bagiku, tapi demi Dave..dia sedang berjuang di sana untukku. Aku percaya, suatu saat nanti dia pasti kembali. Dia sudah berjanji padaku.” “Kau percaya dengan janji itu?” “Ya, aku percaya. Dia adalah Dave, dia tidak pernah melupakan janjinya.” Nadine mengangguk, “Aku bisa apa kalau kau begitu yakin.” “Hmm?” Kanaya mengangkat alisnya, tak mengerti dengan kata – kata perempuan itu. “Ah, bukan apa – apa. Kau mau makan?” “Tidak, aku sudah membeli makanan untuk makan malam nanti.” “Kau bisa bilang padaku, aku akan menjadi teman makan malammu.” “Temani saja Hendy, Nadine. Dia lebih membutuhkanmu.” “Ayolah, jangan mulai lagi, Naya.” Kanaya tersenyum, tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia tidak menyukai apa yang dilakukan perempuan itu. Menjalin hubungan dengan lelaki lain setelah menikah, sama sekali tidak benar. “Tapi,” Nadine kembali membuka suara, “Dave adalah laki – laki yang baik, mungkin dia tidak akan berbuat macam – macam di sana, tapi aku hanya cemas apakah dia akan kembali atau tidak. Kenapa kau tidak ikut saja dengannya, Naya? Menikah dan hidup di sana?” Kanaya mengaduk minumannya, “Aku tidak bisa. Aku tidak bisa pergi terlalu jauh, Nadine.” “Apakah itu karena ibumu?” “Hmm, kau tahu itu. Dia bahkan tidak ingin tinggal denganku di sini, dia begitu mencintai kota kelahirannya. Dia selalu cemas jika aku tidak memberi kabar, aku harus pulang beberapa hari dalam sebulan, jika tidak maka dia akan menelephone tiga kali sehari.” Kanaya tersenyum, “Itulah ibuku.” “Dia sangat sayang padaku, sebagai putri satu – satunya.” “Ya, kau tidak punya saudara. Apakah menyenangkan menjadi anak tunggal, Naya?” Kanaya menggeleng, “Tidak selalu begitu.” Nadine menatap gadis itu lekat, “Pak Elang..” Kanaya mendongak, menatap Nadine ketika perempuan itu tiba – tiba menyebut nama Elang. “Ada apa dengannya?” Nadine tersenyum, “Kau langsung panik saat aku menyebut nama laki – laki itu.” “Apaan, sih? Aku bertanya karena tiba – tiba kau menyebut namanya.” Elak Kanaya. Nadine tertawa, “Dia baik – baik saja, Naya. Aku hanya ingin mengatakan kalau Pak Elang itu juga lelaki yang baik, dia mapan dan kaya. Pak Elang belum pernah membawa perempuan, maksudku..aku tidak pernah melihatnya memiliki kekasih. Tapi, aku bisa melihat dari cara dia menatapmu, Kanaya.” “Nadine, sudah kujelaskan kalau tidak ada apa – apa diantara kami. Dia memang laki – laki yang baik, kurasa wajar dia baik kepada semua bawahannya. Kau jangan pernah memikirkan hal yang lain antara aku dan dia. Aku sudah mempunyai Dave dan dia cukup bagiku.” Kanaya merasa tidak senang dengan ucapan Nadine itu, bukankah dia selalu mendukung hubungannya dengan Dave? Tapi kenapa sekarang Nadine bersikap seolah – olah dia mendukung Elang? “Jangan menatapku begitu, Kanaya. Aku hanya mengatakan apa yang kulihat, bahkan sejak pertama kali aku mempertemukanmu dengan Pak Elang, aku bisa melihatnya. Pak Elang jarang sekali berurusan dengan perekrutan karyawan, terlebih lagi menemuinya langsung. Tapi, saat aku memperlihatkan fotomu padanya, dia langsung ingin bertemu denganmu.” “Apa? Jadi, apakah kau sudah tahu sejak awal?” Nadine menggeleng, “Aku hanya menduga – duga, tapi Pak Elang tidak pernah main – main dengan wanita,” ucap Nadine. “Baiklah, semoga dia mendapatkan wanita yang tepat untuknya, Nadine. Aku sangat bahagia jika lelaki sebaik Pak Elang mendapatkan wanita yang baik pula.” Kanaya tersenyum, gadis itu meraih ponselnya yang berkedip, “Ini Dave, sebentar, ya?” “Oke,” sahut Nadine, dan Kanaya menerima panggilan itu. “Kanaya, kau sudah pulang?” Tanya Dave di seberang sana. “Aku bersama Nadine, Dave. Kami sedang menikmati sore dengan secangkir kopi. Bagaimana denganmu, apa kau lembur malam ini?” Kanaya berkata dengan lembut, sesekali tersenyum sembari menatap Nadine. “Tidak, sebentar lagi aku juga pulang, Naya. Aku akan mampir ke sebuah toko. Aku mendengar toko itu menjual pernak – pernik yang cantik untuk perempuan. Aku ingin membeli sesuatu untukmu.” “Oh, Dave, kau tidak perlu repot – repot.” “Tidak, sayang, aku tidak pernah repot untukmu. Kau tahu aku ingin membuatmu bahagia, kan?” Kanaya mengangguk, “Terima kasih, Dave.” “Baiklah, telephone aku nanti malam, ya? Sampaikan salamku kepada Nadine.” Dave menutup telephonenya, dan gadis itu terlihat begitu gembira. “Wah, kau senang sekali hanya dengan menerima telephone dari Dave, Naya.” “Ya, aku selalu merindukannya. Kami selalu berbicara setiap malam, membagikan cerita hari ini.” “Naya, kau tidak mengatakan kepada Dave soal aku, kan?” Nadine tiba – tiba merasa cemas, ia tidak yakin jika Kanaya menjaga rahasianya kepada Dave. “Tidak. Aku tidak mengatakan apapun padanya. Aku tidak ingin membuat Dave terbeban. Kau tahu Dave, kan? Dia terlalu peduli kepada orang lain, dia bahkan memikirkan masalah orang lain.” Kanaya tertawa, sebuah tawa yang begitu tulus darinya. Nadine mengulaskan senyum tipis, “Ya, kau benar. Aku harap kepedulian Dave itu tidak disalah artikan oleh orang lain.” Kanaya memiringkan kepalanya, sembari menatap Nadine, “Aku mempercayai Dave, Nadine. Seperti dia percaya padaku.” Nadine tersenyum, “Ya, semoga saja, Naya. Kau mau pulang? Kurasa Hendy sudah menungguku.” “Tentu, aku juga harus melihat Luna.” “Luna?” “Dia kucingku, Nadine,” Kanaya kembali tertawa. “Astaga, aku kira siapa.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD