Dave menyandarkan tubuhnya di kursi teras rumah, menatap layar ponsel yang masih terus memanggil gadis itu. Cukup lama Dave menunggu, sesekali lelaki itu melihat ke arah jam tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, waktu di mana seharusnya Kanaya telah berada di dalam rumahnya itu. Dave tidak ingin menaruh curiga kepada Kanaya, walau ini memang sangat jarang terjadi. Kanaya tidak pernah mengabaikan panggilan telephonenya begitu lama. ..... Gadis itu bergerak, membuka matanya yang terasa panas. Suara dering telephone terpaksa membangunkannya. Kanaya meraba – raba sisi tempat tidurnya, berusaha untuk mengambil benda itu. “Ya, Dave,” sahut Kanaya lirih, sembari berusaha menatap ke layar ponselnya itu. “Oh, kau sudah tidur, Naya? Apakah aku membangunkanmu?” Dave menatap K

