episode 7

1933 Words
“Kanaya!” Kanaya menoleh ke belakang, saat seseorang memanggil namanya dengan begitu nyaring. Nadine terlihat berlari ke arahnya, napasnya terdengar tak beraturan. “Nadine? Ada apa? Kau ingin bertemu Pak Elang?” Kanaya menatap Nadine dengan heran, jelas terlihat jika perempuan itu begitu terburu – buru. Nadine menggeleng, “Tidak, aku ingin bicara denganmu.” Nadine menarik lengan Kanaya, membawa gadis itu menepi. “Ada apa?” Tanya Kanaya. “Naya, maukah kau menolongku?” Nadine menatap Kanaya dengan memelas, seraya memegang erat lengan gadis itu. “Menolong apa? Apakah terjadi sesuatu padamu?” “Begini, kemarin aku tidak datang ke gathering karena suatu hal, tapi bisakah kau mengatakan kepada suamiku jika mungkin dia bertanya nanti? Katakan kalau gathering itu memang sampai larut malam, kau melihatku di sana, oke?” Kanaya mengerutkan keningnya, heran, “Tapi kenapa? Memangnya kau pergi ke mana?” “Kau tidak perlu tahu, Naya. Kau cukup melakukan apa yang kuminta, oke?” Kanaya tidak menjawab, tapi kemudian ia mengangguk karena Nadine terus menatapnya seperti itu. “Bagus, anggaplah kau membalas budi padaku karena bertemu Elang. Aku pergi dulu, Naya.” Nadine tersenyum dan melangkah meninggalkan Kanaya yang menatapnya dengan tak mengerti. “Apa yang sedang kau lakukan, Nadine?” gumam Kanaya, sembari masuk ke dalam kantornya itu. .... “Pagi, Naya? Kau baik – baik saja pagi ini?” Elang kembali menyapa Kanaya, lelaki itu bahkan sudah lebih dulu berada di sana. Kanaya melihat jam tangannya, tapi waktu belum menunjuk pukul delapan pagi. “Oh, kau tidak terlambat, aku yang datang lebih awal.” Elang tersenyum, melihat reaksi gadis itu. “Tumben anda datang sepagi ini, Pak, Elang,” kata Kanaya sembari tersenyum lembut. “Ehm, apakah kau sudah sarapan?” “Ya?” “Begini, kebetulan aku memesan makanan, tapi kurasa aku tidak bisa menghabiskan makanan itu seorang diri. Jadi, maukah kau sarapan pagi ini denganku?” “Saya? Tapi...” “Kenapa? Kau belum makan, kan?” Kanaya mengangguk, “Tapi untuk sarapan bersama, Bapak, saya merasa tidak enak hati.” “Tidak apa – apa, Naya. Kau jangan merendah begitu. Kau wakilku di sini, kita sama.” Tiba – tiba Elang mengulurkan tangannya, meraih pergelangan tangan Kanaya membuat gadis itu terkejut. Elang membawanya masuk ke dalam, meminta Kanaya duduk di sofa ruang kerjanya itu. Elang membuka makanan yang memang sengaja ia beli, lelaki itu meletakkannya di atas meja, di hadapan gadis itu. “Aku tidak tahu apa kau suka dengan makanan ini atau tidak.” Elang memberikan sendok kepada Kanaya, dan gadis itu menerimanya dengan canggung. “Pak, saya..” “Makanlah, jangan sampai melewatkan sarapan. Itu tidak baik untuk kesehatanmu,” kata Elang sembari tersenyum lebar dan mulai menyantap makanannya. Kanaya tersenyum, dan mulai memakan sarapan paginya dengan perlahan. Gadis itu membuka ponselnya, seperti biasa setiap pagi Dave mengirim pesan kepada kekasihnya itu, sebuah sapaan lembut yang selalu membuat Kanaya tersenyum setiap kali membacanya. Elang menatap gadis itu, ia bisa menduga sesuatu yang tertulis di layar ponsel itu. Sedikit membuatnya cemburu. “Apakah itu kekasihmu?” Sebuah pertanyaan yang terdengar aneh memang, tapi Elang tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. “Ya,” jawab Kanaya lirih. “Oh,” gumam Elang, yang seakan kecewa dengan jawaban itu. “Naya..” “Ya?” “Maaf, kalau aku bertanya. Aku tidak pernah melihat kekasihmu itu, apakah dia tidak menawarkan tumpangan saat kau bekerja?” “Bukan begitu, hanya saja dia sedang tidak berada di kota ini.” Elang seketika mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk menatap makanan itu, “Dia sedang melakukan perjalanan dinas?” Kanaya menggeleng, “Dia dipindah tugaskan, Pak, Elang. Tepat ketika saya diterima di perusahaan ini.” Elang membuka matanya lebar, “Di mana?” “Medan.” “Oh, jadi kau menjalani hubungan jarak jauh dengannya? Apa kau yakin?” Kanaya tersenyum kecil, “Saya sedang berusaha.” Elang menghela napas panjang, “Jika itu aku, pasti tidak akan bisa.” “Kenapa?” Kanaya bertanya, kali ini ia benar – benar menatap mata laki – laki itu. “Ya, karena sulit untuk mempertahankan sebuah hubungan seperti itu. Bagaimana dengan kepercayaan? Kesetiaan? Kita tidak pernah tahu apa yang ia lakukan di luar sana, apalagi jauh. Terkadang yang dekat saja bisa tidak setia, kan?” Kanaya tersenyum di sudut bibirnya, sesungguhnya itu yang ia pikirkan selama ini. Mungkinkah Dave akan terus berpegang kepada kesetiaannya? Tapi seberapa lama itu akan bertahan? Apakah Dave tidak akan menodai kepercayaan hatinya? Kanaya bahkan tidak mampu mempercayai hal itu sepenuhnya. “Naya..” “Ya?” Kanaya tersentak, ia bahkan menjatuhkan sendok yang berada di tangannya itu, “Maaf, Pak, saya..” “Tidak apa – apa, kau bisa memakai sendok yang baru. Apakah perkataanku membuatmu tidak nyaman? Aku tidak bermaksud untuk membuatmu terbeban, Kanaya. Itu hanya pendapatku, kau yang paling mengenal kekasihmu itu, kan?” “Bapak, benar. Mungkin Dave tidak akan melakukannya.” Dave...jadi itu namanya... “Hmm, kau tidak perlu gelisah. Makanlah.” Kanaya mengangguk, dan mulai menghabiskan makanan itu. ..... Dave, kau sedang apa? Kanaya mengirim pesan, ucapan Elang tadi pagi terasa mengganjal perasaannya, sekalipun ia telah berusaha menyakinkan diri untuk percaya. Aku sedang memikirkanmu, sayang. Dan begitu gembira saat kau mengirim pesan. Aku rindu padamu Kanaya tersenyum membaca pesan itu, hatinya menjadi dingin seketika. Dave, aku juga rindu padamu. Kau tahu, aku mengikuti gathering pertamaku di sini Oh, Naya, aku senang mendengarnya. Apakah kau senang bekerja di kantor barumu? Apakah atasanmu kali ini menyenangkan? Ya, aku senang, Dave. Atasanku sangat baik padaku. Kami bahkan sarapan bersama tadi pagi. Dia mengundangku. Hanya kalian berdua atau yang lain juga? Ada beberapa orang, kau jangan cemas. Kanaya terpaksa berbohong, ia tak ingin Dave berpikir yang tidak benar soal undangan sarapan itu. Baiklah, aku akan mengirim pesan lagi untukmu. Aku harus mengikuti rapat. Naya, aku mencintaimu Kanaya tersenyum, membaca pesan Dave itu. Gadis itu menghela napas, ia yakin jika Dave tidak akan melakukan apa yang dikatakan Elang padanya. Ia harus mempercayai laki – laki itu seperti Dave percaya padanya. Kanaya mengenal Dave bukan satu dua hari, ia lebih tahu tentang Dave dari siapapun. Selama mereka bersama, Kanaya tidak pernah melihat hal – hal yang mencurigakan dari diri Dave. Tidak pernah ada perempuan lain di dalam hubungan mereka. Jadi, apa yang perlu Kanaya cemaskan? Kanaya merapikan rambutnya, dan kembali mengerjakan tugas yang diberikan Elang padanya tadi. Perasaannya tidak boleh membuat pekerjaan yang ia impikan ini berantakan. Kanaya yakin, hubungannya dengan Dave akan baik – baik saja. Dave sudah berjanji akan mengajukan pemindahan tugas kembali, saat ada lowongan di tempat yang lebih dekat. Kanaya tahu, perpisahan ini juga tidak mudah bagi Dave. .... “Dave, apa kau sudah membuat laporan yang kuminta?” Wakil direktur bertubuh sintal itu memasuki ruang kerja Dave, suatu hal yang jarang ia lakukan sebelum kedatangan Dave ke kantor mereka. Wanita itu tersenyum, berdiri tepat di hadapan Dave dengan kemeja putih yang menampilkan lekukan tubuhnya itu. Dave membalas senyuman itu, sambil menyerahkan file yang telah ia simpan ke dalam flashdisk. Benda kecil berwarna merah muda, yang merupakan milik wanita itu. “Anda bisa memeriksanya kembali, Bu, barangkali ada yang kurang.” Dave berkata dengan sopan, dan hanya menatap wajah wanita yang terlihat lebih tua darinya itu. Wanita itu membungkuk, memperlihatkan lekukan di dalam kemejanya, dengan kancing yang sengaja tidak ditutup dengan rapat. Sementara Dave memilih untuk menunduk dan membaca berkas yang ada di depannya. Ia sudah membaca berkas itu, bahkan sudah membubuhkan tanda tangannya di sana. “Dave, kau suka berada di kantor ini?” wanita bernama Olivia itu berkata dengan manja, jemarinya yang lentik terlihat mengusap ujung laptop milik Dave, membuat mata Dave mau tidak mau beralih ke sana. Dave berdiri, dan menjawab dengan sopan, “Saya harus menerima keputusan untuk dipindah tugaskan, senang atau tidak. Tapi, bukankah anda bisa meminta seseorang untuk mengambil flashdisk itu, Bu? Anda tidak perlu repot – repot datang ke ruangan ini. Dan, sebaiknya saya mengajukan flashdisk tersendiri untuk keperluan kantor.” “Oh, memangnya ada apa dengan flashdisk ini?” Olivia memperlihatkan benda itu, menatap Dave dengan senyum yang ia buat semanis mungkin. “Maaf, kalau saya lancang, tapi anda tidak membuat folder terpisah. Saya tidak bermaksud untuk melihatnya.” Jelas Dave. “Oh, Dave, kau lucu sekali. Memang di mana salahnya kalau kau melihatnya? Aku sama sekali tidak keberatan. Kita sudah dewasa, bukan?” Olivia menghampiri Dave, menyentuh tangan Dave yang kekar dengan ujung telunjuknya, “Apakah kau suka, Dave?” Dave berjalan mundur, ia masih ingin memperlakukan atasannya itu dengan sopan, “Maaf, saya memiliki janji dengan seseorang. Laporannya ada di dalam flashdisk itu. Saya juga telah membuat salinannya. Saya permisi, Bu.” “Dave, panggil saja Olivia! Sebutan Ibu tidak nyaman untukku kalau kau yang mengatakannya.” Dave menghentikan langkahnya, ia berbalik dan menatap Olivia dengan mata teduh, “Maaf, saya rasa sebutan itu tepat, mengingat anda adalah atasan saya.” Dave mengangguk sedikit, lalu kembali melangkah meninggalkan ruangannya sendiri. Olivia tersenyum miring, “Aku tahu, kau hanya berpura – pura, Dave. Tidak ada satu lelakipun yang akan menolakku. Sebentar lagi giliranmu, jangan membuatku menunggu.” Gumam Olivia, menatap ruangan itu sejenak lalu pergi. .... Dave meneguk kopinya, lelaki itu memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya di kantin kantor, sambil sesekali mengirim pesan kepada Kanaya. “Dave!” Sebuah tepukan di pundak laki – laki itu membuat Dave terkejut, untung saja ponselnya tidak terjatuh dari genggaman tangan. “Hai!” Sapa Dave, saat laki – laki itu duduk di depannya dan memesan kopi. “Sendirian aja?” ucapnya, mengulaskan senyum yang terkesan aneh di mata Dave. “Ya, aku selalu sendirian, kan?” jawab Dave. “Itu karena kau masih baru. Cobalah untuk bergaul.” Laki – laki itu, bernama Ryan, pemuda tampan dan cukup populer di kalangan gadis – gadis di kantornya. Dave hanya tersenyum, dan kembali membalas pesan Kanaya. “Aku lihat, Ibu Olivia ke luar dari ruanganmu tadi.” Ucapan Ryan membuat Dave mendongak. “Ya, dia mengambil file laporan.” “Wah, dia bahkan datang sendiri ke ruangan kepala marketing. Sepertinya kau akan beruntung, kawan.” “Maksudmu?” “Kau tidak tahu?” Dave menggeleng, dan lelaki itu pun mencondongkan tubuhnya ke depan, seraya berkata dengan lirih, “Jika Ibu Olivia sampai datang sendiri ke ruanganmu, itu artinya dia suka padamu. Kau bisa naik ke posisi yang lebih tinggi lagi. Dia adalah orang kepercayaan direktur, dia memiliki wewenang seperti direktur di sini.” “Oh,” ucap Dave. “Oh? Itu saja?” “Lalu? Apakah aku harus senang karena dia suka padaku?” Ryan tertawa, “Ayolah, kawan. Kau tidak akan melewatkan itu, kan?” Tangan Ryan membuat gerakan pinggul ramping wanita di udara. Dan Dave menyatukan alisnya melihat apa yang dilakukan laki – laki itu. “Aku tidak peduli,” kata Dave kemudian. “Hei, apa kau sudah menikah?” lagi – lagi Ryan tertawa, “Dave..Dave, jangan membuatku tertawa. Kita ini laki – laki. Laki – laki normal.” Ryan menegaskan kalimatnya. “Justru karena aku laki – laki normal, aku tidak peduli. Apakah dia tidak menyukaimu?” Dave berkata tanpa senyum di wajahnya, dan itu membuat Ryan seketika berhenti tertawa. “Kau akan menyesal jika melewatkan wanita seperti dia, Dave.” Kali ini Dave tersenyum miring, “Sepertinya kau mengenal dia dengan sangat baik. Tapi hubunganku hanya sebatas pekerjaan.” “Kau yakin?” “Ya, sangat yakin. Aku tidak akan melakukan kesalahan karena wanita. Aku memiliki seseorang yang sangat berharga.” “Kau benar – benar naif, Dave.” Ryan meneguk kopinya, dan mengambil sepotong pisang goreng yang tersaji di meja kantin itu, “Traktir aku,” pintanya sambil mengunyah makanan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD