Evander hanya bisa meneguk ludah, menyadari dirinya tengah dikepung saat ini. Di depannya ada sekumpulan zombie yang sedang berpesta memakan binatang hasil buruan mereka. Pantas saja sepanjang memasuki hutan, Evander tidak melihat satu pun binatang penghuni hutan yang berkeliaran, rupanya mereka ditangkap dan dijadikan santapan oleh para zombie.
Evander rasanya ingin muntah begitu melihat satu binatang dikerubungi banyak zombie. Mereka mengoyak daging binatang itu hingga tulangnya terlihat, menyantap daging itu hingga hanya menyisakan tulang belulang saja. Jangan lupakan darah yang bersimbah di tanah semakin terlihat mengerikan di mata Evander.
‘Aku harus kembali ke tempat yang tadi. Bisa-bisa aku jadi santapan para zombie itu juga jika aku nekat meneruskan perjalanan,’ gumam Evander, tentu dalam hati karena dia tak cukup punya nyali untuk mengeluarkan suara mengingat betapa tajam indera pendengaran para zombie tersebut.
‘Tapi di belakangku juga banyak sekumpulan zombie, bagaimana jika mereka juga menangkapku? Aku tidak mungkin selamat.’ Evander kembali bergumam, menyadari sepenuhnya maju ataupun mundur hasilnya tetap sama. Dia akan bertemu dengan para zombie.
‘Sial. Kenapa dunia jadi sekacau ini? Kenapa manusia yang awalnya normal jadi monster begini? Sebenarnya apa yang terjadi?’
Pria itu terus bergumam mengutarakan rasa herannya karena kondisi dunia yang sudah berubah drastis. Bumi yang awalnya damai dan tentram di mana manusia hidup saling berdampingan, kini berubah bagai neraka karena monster berada di mana-mana. Kapan pun nyawa bisa melayang, Evander tahu dirinya sangat beruntung karena hingga detik ini masih bisa menghirup oksigen.
Evander mencoba melangkah mundur dengan sangat perlahan karena tak ingin menimbulkan suara sekecil apa pun. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, hanya saja satu hal yang pasti, dia memutuskan untuk pergi sejauh mungkin dari semak-semak tempat para zombie sedang berpesta menyantap daging binatang penghuni hutan.
Srek!
Namun, naasnya walau begitu berhati-hati, tanpa sengaja dia melakukan kecerobohan. Kakinya menginjak ranting pohon kering yang tergeletak di atas tanah, sukses menarik atensi para zombie kini menoleh ke arahnya.
“Sialan,” umpat Evander pelan karena kesialan yang menimpanya ini. Dia ketakutan bukan main ketika melihat para zombie berhenti mengerumuni binatang yang mereka santap, satu demi satu dari mereka berdiri dan kini sedang menatap pria malang itu.
Tanpa pikir panjang, Evander pun berlari secepat yang dia bisa, berusaha menyelamatkan diri dari kawanan zombie yang kini mengejarnya.
“Tidak. Aku harus selamat. Mereka tidak boleh menangkapku. Aku belum boleh mati sebelum menemukan Cagali dan keluargaku.”
Evander sudah yakin dengan tekadnya, tak ingin mati dulu sebelum tujuannya tercapai. Dia terus berlari sekencang yang dia bisa, mengabaikan wajahnya yang tergores ranting pohon yang menjuntai menghalangi jalan. Evander terus berlari, walau kakinya sempat tersandung akar pohon yang mencuat keluar dari tanah, dengan susah payah pria itu mencoba bangkit berdiri, lalu kembali berlari walau dengan terpincang-pincang. Beruntung kakinya tak mengeluarkan darah, tapi akibat terjatuh itu Evander sangat yakin tumit kakinya bergeser karena terasa sakit begitu digerakkan.
Di belakangnya, para zombie masih mengeajar. Laju lari mereka sangat cepat bahkan Evander kewalahan melarikan diri dari mereka, nyaris saja dirinya tersusul. Namun, Evander bukan pria bodoh walau dia memang penakut. Dia tahu akan berakhir tertangkap jika terus berlari seperti itu, akhirnya dia pun melakukan tindakan.
Begitu melihat sebuah pohon besar berdiri kokoh di samping kanannya, Evander berbelok ke sana. Dia lantas memanjat pohon itu, bermaksud untuk bersembunyi dari kejaran para zombie.
“Pergi kalian! Jangan ganggu aku!” teriak Evander begitu dirinya sudah berada di atas pohon sedangkan di bawah, kumpulan zombie sudah berada di sana. Mereka mengelilingi pohon, tangan mereka terangkat ke atas berusaha menangkap Evander yang sedang berpegangan pada batang pohon.
Evander pikir dirinya mengambil keputusan yang tepat, dia sudah aman karena yakin para zombie itu tidak mungkin bisa menangkapnya. Mereka pasti tidak bisa memanjat pohon yang dia jadikan tempat persembunyian. Namun, rupanya prediksi Evander salah besar ketika satu demi satu zombie itu mulai merangkak naik, hendak memanjat pohon untuk menangkap dirinya.
“Huh, ternyata mereka bisa memanjat pohon.” Evander memukul keningnya sendiri karena baru manyadari kebodohan yang sudah dia lakukan. “Benar juga. Bukankah zombie yang mati ditembak supir truk itu juga bisa memanjat dan bergelantungan di truk? Kenapa bisa aku melupakan hal ini?”
Evander terus memukuli kepalanya sendiri karena merutuki kebodohannya, dia melupakan hal sepenting itu.
“Sekarang aku harus bagaimana?”
Evander semakin ketakutan, jika dia hanya diam di sana maka sebentar lagi akan tertangkap mengingat para zombie yang sedang memanjat pohon semakin mendekati dirinya.
“Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Aku belum mau mati.”
Tatapan Evander kini tertuju ke bawah pohon di mana di sana sudah dipenuhi banyak zombie yang seolah sudah tidak sabar ingin menangkapnya dan menyantap dagingnya. Lalu menjadikan Evander bagian dari mereka.
Evander meneguk saliva berulang kali, dirinya berada dalam kondisi terjepit dan jika ingin selamat, dia harus bertindak nekat.
Para zombie sedang mengerumuni pohon tempat Evander berada, mereka berlomba-lomba ingin memanjat ke atas dan bagi Evander ini kesempatannya untuk melarikan diri dari mereka.
Evander mengambil ancang-ancang untuk melompat ke bawah, tak peduli walau dia berada di batang pohon yang sangat tinggi sehingga mungkin dia akan mati jika memaksakan diri untuk melompat ke bawah.
“Aku memang belum mau mati, tapi jika takdirku harus mati hari ini, lebih baik aku mati karena jatuh dari pohon ini dibandingkan menjadi santapan mereka atau menjadi bagian dari mereka.”
Evander sudah sangat yakin dengan keputusannya sehiingga dia pun benar-benar melompat ke bawah pohon, melompat ke bagian tidak ada zombie yang berdiri di sana.
“Arrgh!”
Evander meringis kesakitan ketika merasakan punggungnya yang pertama kali membentur tanah terasa berdenyut nyeri. Namun, sekali lagi Dewi Fortuna sedang bersamanya karena dia selamat meski punggungnya membentur tanah.
Evander mencoba bangkit berdiri, dengan susah payah tentu saja karena rasa sakit yang luar biasa pada punggungnya. Pria itu lantas berusaha berlari, meski dengan tergopoh-gopoh karena para zombie yang menyadari keberadaannya kini kembali mengejarnya.
“Apa benar ini hari kematianku?”
Evander mulai putus asa karena jaraknya dengan para zombie yang mengejar, semakin dekat. Mereka sedikit lagi akan berhasil menyusul dan menangkapnya.
Dalam situasi menegangkan di mana Evander mulai kehilangan tekadnya untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba saja terlintas wajah Cagali dalam kepala Evander. Wajah istrinya yang cantik, satu-satunya wanita yang pria itu cintai.
“Cagali pasti sedang menungguku di suatu tempat. Aku yakin dia masih hidup,” gumam Evander, tiba-tiba keyakinan sang istri selamat dan masih hidup sepertinya kini menggebu-gebu dalam dirinya, sukses mengembalikan semangatnya yang sempat redup.
Evander terus berlari walau harus menyeret kaki kirinya yang nyaris tak kuasa lagi untuk berlari karena tulang tumitnya yang bergeser. Terlalu fokus berlari, Evander sekali lagi melakukan kecerobohan. Dia terus menatap ke belakang untuk memastikan masih ada jarak antara dirinya dan para zombie yang masih mengejar, dia sampai tidak sadar ada rawa hidup tepat di depannya.
Pria malang itu terus berlari ke depan tanpa sadar ada rawa hidup di depannya dan kemalangan kembali menimpanya ketika dia akhirnya terjatuh ke dalam rawa itu.
“Tidak! Toloooong!” teriaknya histeris karena tubuhnya mulai terhisap rawa hidup tersebut.
Sedangkan para zombie yang mengejar Evander seketika menghentikan langkah begitu melihat mangsa mereka terjebak di rawa yang akan terus menghisap apa pun yang masuk ke dalamnya. Mereka berhenti berlari, tak lagi mengejar Evander dan justru berkerumun di pinggir rawa untuk melihat mangsa mereka sedikit demi sedikit mulai terhisap.
Evander tertegun melihat pemandangan itu, para zombie tak lagi mengejarnya seolah tahu mereka akan ikut terhisap rawa jika nekat masih mengejar mangsanya.
“Aku pikir setelah menjadi zombie, mereka berubah menjadi monster yang bodoh yang hanya mementingkan mendapatkan mangsa mereka. Ternyata aku salah,” gumam Evander sambil meneguk ludah. “Ternyata mereka masih secerdas dulu sebelum mereka berubah menjadi zombie.”
Ya, itu satu fakta yang baru disadari Evander. Namun, menyadari kebenaran itu sudah terlambat baginya karena kini tubuh Evander semakin terhisap. Sedikit demi sedikit mulai masuk ke dalam tanah hingga akhirnya sosok pria malang itu hilang sepenuhnya karena terhisap rawa.
Mungkin hari ini memang hari terakhir Evander bisa menghirup oksigen dan melihat dunia, dia tewas dengan mengenaskan.
***
Sang supir truk terus berlari berusaha menyelamatkan diri walau dia merasakan sakit yang amat sangat di bagian pinggangnya. Satu tangannya memegangi pinggang itu, menyadari ada darah yang mengalir di sana. Ya, pinggangnya terluka, terdapat luka robekan akibat terkena batu runcing saat dia mendarat setelah melompat dari truk yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Namun, sang supir tidak ingin menyerah begitu saja. Dia akan terus berlari karena tak ingin mati di tangan para zombie yang mungkin sedang mengejarnya karena mencium aroma darahnya yang terus menetes.
“Ck, seharusnya aku tidak menolong anak muda itu,” gerutu sang supir yang menyesal karena sudah menyelamatkan Evander.
“Ketika aku menemukannya berada di dalam truk, seharusnya aku tidak memberikan tumpangan. Aku juga seharusnya membiarkan dia tertangkap zombie tadi dan tidak melakukan kesalahan fatal dengan menembak zombie itu.” Sang supir mendengus. “Lihat sekarang aku sendiri dalam bahaya. Ini semua karena anak muda itu. Dia pembawa sial karena menyebabkan aku harus mengalami ini semua. Aku harap di tempat lain dia tidak akan selamat. Jika aku mati di tangan para zombie, anak muda itu juga harus mati sepertiku. Dia harus bernasib sama sepertiku.”
Sang supir terus menggerutu, mengharapkan kematian Evander yang sudah berpisah dengannya. Dia tidak rela jika harus tewas seorang diri.
“Hah … hah … hah.”
Deru napas sang supir mulai berat, kakinya semakin lemah seolah tak sanggup lagi untuk berlari. Tubuhnya mulai lemas karena darahnya yang terlalu banyak keluar.
“Aku bisa mati jika terus berlari begini. Aku harus menutupi lukaku dulu agar darahnya tidak terus keluar. Aku bisa mati karena kehabisan darah.”
Setelah tahu apa yang harus dia lakukan sekarang yaitu menutupi lukanya agar tak mengeluarkan darah lagi, supir itu pun menghentikan larinya sejenak. Tatapannya mengedar ke sekeliling dan seulas senyum terbit di wajahnya tatkala dia melihat ada sebuah rumah yang berdiri kokoh tak jauh darinya.
“Ada rumah di sana. Semoga ada orang yang bisa aku mintai tolong.”
Dengan wajah berseri-seri, sang supir kembali berlari menuju rumah yang dia lihat, berharap dalam hati ada penghuni rumah itu yang berbaik hati mau menolongnya. Namun, harapan sang supir sirna begitu dia tiba di rumah tersebut.
“Permisi!” teriaknya, berharap ada orang yang membukakan pintu untuknya. Akan tetapi, yang dia temukan adalah rumah itu dalam kondisi kosong, tak berpenghuni. “Ck, apa rumah ini kosong? Mana tidak ada rumah lain di daerah ini.”
Kedua mata sang supir kembali mengedar ke sekeliling, berharap menemukan rumah lain tapi yang dia temukan adalah rumah itu merupakan satu-satunya rumah yang ada di sana.
Sang supir awalnya berniat melanjutkan larinya, tapi karena suara tiba-tiba terdengar, detik itu juga dia mengurungkan niat.
“S-suara apa itu?”
Sang supir meneguk ludah, meyakini yang dia dengar itu merupakan suara langkah kaki. Kondisi sepi dan hening di tempat itu membuat suara sekecil apa pun terdengar dengan jelas. Sang supir mulai panik dan ketakutan ketika suara langkah kaki semakin terdengar jelas, semakin mendekatinya. Itu jelas bukan suara langkah kaki satu orang, melainkan langkah beberapa orang yang sedang berlari.
“Sial, itu pasti mereka. Mereka menemukanku.”
Tak ingin tertangkap para zombie yang dia yakini merupakan pemilik suara langkah kaki itu, dia pun akhirnya nekat menggerakan kenop pintu, tersenyum lega ketika mendapati pintu dalam kondisi tidak terkunci. Pria paruh baya itu pun tanpa ragu melangkah masuk ke dalam.
“Uh, bau sekali.”
Dia membekap hidungnya karena aroma busuk yang menyengat begitu memasuki rumah tersebut. Ketika dia menelisik kondisi rumah, akhirnya dia menemukan sumber dari bau tersebut, tidak lain merupakan potongan tangan yang sudah membusuk yang tergeletak di lantai, serta darah yang berceceran di lantai maupun di dinding serta mengenai barang-barang yang berada di ruangan itu. Sang supir menyimpulkan pemilik rumah itu menjadi salah satu korban zombie yang menjadikannya santapan.
“Huh, mungkin pemilik rumah ini juga sudah menjadi bagian dari mereka.”
Supir itu mengedikan bahu, merinding membayangkan pemilik rumah yang dia jadikan tempat persembunyian itu mungkin sudah menjadi bagian dari para zombie.
Tap … Tap … Tap …
Suara langkah kaki kembali terdengar, bukan langkah kaki banyak orang melainkan langkah kaki satu orang. Jantung sang supir berdetak cepat, sangat takut itu langkah milik salah satu zombie yang menemukan rumah itu.
“Sial, mereka sudah datang. Aku harus bersembunyi.”
Dengan panik, supir itu pun mengedarkan pandangan untuk mencari tempat persembunyian, hingga tatapannya jatuh pada sebuah lemari yang diletakan di kamar. Tak pikir panjang lagi, dia pun masuk ke dalam lemari yang dipenuhi pakaian yang tergantung dengan rapi, dia bersembunyi di antara pakaian-pakaian yang menggantung itu.
“Aku pasti selamat. Ya, mereka tidak akan menemukanku jika aku bersembunyi di sini.”
Sang supir yakin dengan pemikirannya, tapi kepanikan kembali melandanya ketika indera pendengarannya mendengar suara derit pintu yang terbuka.
Kriet!
Seseorang baru saja membuka pintu kamar di mana lemari yang sang supir jadikan tempat persembunyian diletakan di sana. Entah siapa pun orang yang membuka pintu itu, yang pasti sang supir truk malang itu kini ketakutan bukan main.