Evander meneguk ludah berulang kali, dia takut tentu saja karena harus melompat dari dalam truk yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Namun, dia jauh lebih takut jika harus menjadi santapan para zombie, terlebih dia tidak mau jika sampai dirinya menjadi bagian dari mereka.
“Kau ingat dalam hitungan ketiga kita harus melompat. Paham?” Sang supir truk kembali mengingatkan.
“Ya, aku mengerti.”
“Bagus. Kalau begitu aku akan menghitung dari sekarang.”
Evander menguatkan tekad, dia harus berani melakukan ini dan harus yakin dirinya bisa dan akan selamat.
“Satu.”
Hitungan sang supir pun dimulai, Evander mulai bersiap-siap.
“Dua.”
Melihat sang supir mulai membuka pintu di sampingnya, Evander pun melakukan tindakan yang sama.
“Tiga.”
Setelah itu sang supir benar-benar melompat keluar, Evander takut bukan main, tapi toh akhirnya dia ikuti juga tindakan pria paruh baya tersebut.
Begitu melompat keluar, tubuh Evander mendarat di rerumputan hijau yang memenuhi tanah di sekitar jalan yang dilewati truk yang ditumpanginya tadi. Tubuh Evander berguling-guling, tapi dengan cepat dia mencoba menahan diri agar tak semakin jauh terguling.
“Hah, aku selamat.”
Evander lega bukan main, rerumputan itu telah menyelamatkan dirinya. Tak terbayang jika dia jatuh di atas bebatuan, mungkin dia tidak akan selamat mengingat dia melompat dari truk yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Evander melihat ke seberang, berharap akan melihat keberadan sang supir yang melompat lebih dulu darinya, ternyata dia menemukan pria itu baru saja bangkit berdiri. Sama seperti Evander, pria itu pun mendarat di atas rerumputan. Mereka berdua pun selamat. Tanpa sadar Evander mengulas senyum, lega melihat sang supir tampak baik-baik saja sama seperti dirinya.
Awalnya, Evander berniat menyeberang untuk menghampiri supir truk itu, tapi urung dia lakukan begitu melihat sang supir memberinya isyarat dengan melambai-lambaikan tangan seolah melarangnya untuk mendekat.
“Pergi dari sana. Cepat lari sebelum mereka sampai di sini!”
Hal itulah yang diteriakan sang supir, menyuruh Evander untuk berlari secepat yang dia bisa untuk menyelamatkan diri dari kejaran para zombie yang sebentar lagi akan tiba di tempat mereka berada.
“Tunggu apa lagi? Cepat pergi!”
“Bagaimana denganmu?” tanya Evander, ingin tahu rencana apa yang sedang disusun sang supir.
“Tentu saja aku akan melarikan diri juga. Kita berpencar, kebersamaan kita berakhir sampai di sini. Selamat tinggal, semoga kau beruntung.”
Tanpa menunggu respons dari Evander, supir truk itu berlari melewati jalan setapak yang ada di dekatnya. Evander meneguk ludah karena begitu dia menoleh ke arah belakangnya, hutan belantara yang dia temukan.
“Sial, apa aku harus masuk ke hutan ini? Bagaimana jika di dalam hutan itu banyak zombie? Apa aku ikuti saja jalan yang diambil supir itu?”
Evander mulai kebingungan mengambil keputusan. Ketika dia berpikir untuk mengikuti jalan yang diambil sang supir truk, langkahnya yang akan menyeberang seketika terhenti karena mendengar suara bergemuruh. Itu suara langkah kaki banyak orang yang sedang berlari.
“Sial. Itu pasti mereka. Para zombie itu sudah tiba di sini.”
Evander gelagapan, hingga pada akhirnya dia memilih masuk ke dalam hutan di belakangnya, dia takut jika memaksakan diri untuk menyeberang dan mengikuti jalan yang diambil supir tadi maka dia akan terlanjur bertemu dengan para zombie yang masih berusaha mengejar truk yang masih melaju tanpa pengemudi tersebut karena itu jalan lurus sehingga truk masih tetap melaju.
Evander tak ingin membuang waktu lagi, dia bergegas berlari memasuki hutan belantara yang banyak tumbuh pepohonan yang menjulang tinggi dan berdaun lebat.
Napas Evander memburu seiring dengan langkahnya semakin memasuki hutan yang semakin gelap gulita seiring semakin dalamnya Evander memasuki hutan tersebut.
“Apa keputusanku benar sudah masuk ke dalam hutan ini?”
Evander bergumam sendiri, mulai meragukan keputusannya ini karena di dalam hutan itu sangat sepi dan menyeramkan.
“Sudahlah, aku coba saja karena sudah terlanjur masuk ke sini.”
Evander kembali mencoba memantapkan hatinya, dia berjalan semakin masuk ke dalam hutan yang semakin gelap. Kedua matanya terus mengedar ke sekeliling, mengantisipasi semisal ada binatang buas penghuni hutan itu yang muncul tiba-tiba. Dia juga memasang indera pendengarannya setajam mungkin karena takut mendengar suara langkah binatang buas, mendengar langkah zombie paling dia takutkan saat ini.
“Rasanya tidak mungkin monster-monster itu berada di hutan ini. Ya, mereka tidak mungkin masuk ke sini, yang ada binatang buas penghuni hutan ini yang harus aku waspadai.”
Evander sangat yakin para zombie tidak mungkin memasuki hutan yang gelap itu, berpikir para monster itu mungkin berada di tempat-tempat yang dilalui manusia karena mereka memburu manusia. Sedangkan di dalam hutan? Mana mungkin ada manusia yang berkeliaran di sana. Begitu pikir pria itu.
Evander yang ketakutan, mulai merasa tenang setelah yakin tak menemukan keanehan apa pun di dalam hutan tersebut. Dia tak menemukan satu pun binatang di sana, apalagi zombie. Semakin yakin para monster pemakan daging manusia itu tidak memasuki hutan tempatnya berada.
Namun, langkah Evander seketika terhenti ketika dia mendengar suara aneh dari arah semak-semak yang berada tak jauh darinya. Semak-semak itu tinggi dan lebat sehingga Evander tak bisa melihat ada apa gerangan di baliknya. Hanya saja dia yakin mendengar suara aneh, dia juga melihat semak-semak bergoyang seolah ada sesuatu yang besar sedang bersembunyi di balik semak tersebut.
“Apa ada beruang atau harimau di semak-semak itu?”
Evander meneguk ludah, membayangkan mungkin hewan buas yang menjadi pemilik suara aneh itu.
“Apa yang harus aku lakukan? Ck, mana aku harus melewati semak-semak itu jika ingin terus masuk ke dalam.”
Yang digumamkan Evander itu memang benar, tidak ada jalan lain yang bisa dia lewati selain semak-semak itu jika ingin meneruskan perjalanannya. Tatapan Evander tertuju pada semak-semak yang masih bergoyang, dia semakin yakin memang ada sesuatu yang besar di sana sedang bersembunyi.
“Apa yang harus aku lakukan? Apa aku kembali saja ke tempat yang tadi?”
Evander dilema bukan main, jika dia terus maju artinya harus melewati semak-semak yang mungkin sangat berbahaya karena ada kemungkinan binatang buas seperti harimau dan beruang bersembunyi di sana. Namun, jika dia kembali ke tempat tadi, ada kemungkinan dia akan bertemu dengan sekumpulan zombie yang sedang mengejar truk. Zombie-zombie itu pasti sudah tiba di tempatnya berada tadi.
“Aku benci sekali jika harus terjepit dalam kondisi membingungkan begini.”
Evander terus menggerutu, bingung sendiri mengambil keputusan karena dia takut melakukan kesalahan.
Akan tetapi, melihat semak-semak di depannya terus bergoyang hebat, akhirnya Evander mengambil sebuah keputusan.
“Aku akan kembali ke tempat tadi, akan aku tunggu sampai zombie-zombie itu pergi setelah itu aku akan mengikuti jalan yang diambil supir truk. Sudah kuduga memang tidak seharusnya aku masuk ke hutan ini.”
Evander melakukan seperti yang dia pikirkan, dia berbalik badan dan berjalan kembali menuju tempat dia mendarat tadi setelah melompat dari atas truk.
Evander terus berjalan hingga satu-satunya alasan dia menghentikan langkah karena melihat begitu banyak zombie yang sedang berjalan di jalan raya yang tadi dilewati truk yang dia tumpangi.
Evander melebarkan mata, jaraknya dengan keberadaan para zombie cukup jauh, tapi melihat dari kejauhan saja sudah membuat Evander ketakutan setengah mati.
“K-kenapa mereka diam di sana? Kenapa mereka tidak berlari mengejar truk tadi?”
Itulah yang membuat Evander kebingungan karena seharusnya para zombie terus berlari mengejar truk yang masih melaju, walau mungkin truk itu sekarang sudah berhenti melaju karena menabrak pagar pembatas atau pohon yang tumbuh di pinggir jalan.
Evander tak langsung pergi, dia ingin memastikan apa yang membuat para zombie itu berhenti berlari dan malah berjalan-jalan di tempat dirinya dan supir truk tadi mendarat setelah melompat dari truk.
Evander terus memperhatikan mereka hingga dia kembali melebarkan mata tatkala menyadari sesuatu.
“Jadi, itu penyebabnya. Mereka mencium baru darah karena itu diam di sana.”
Ya, bukan tanpa alasan Evander menyimpulkan seperti itu, melainkan karena dia melihat beberapa zombie sedang berkerumun di rerumputan tempat sang supir truk mendarat. Ada cairan berwarna merah di rerumputan itu sedang diendusi oleh para zombie. Itu jelas darah segar yang sepertinya masih baru menempel di rerumputan.
“Itu pasti darah supir itu, dia terluka setelah melompat dari truk.”
Supir truk yang baru dikenal Evander hari ini memang orang menyebalkan dan bermulut pedas karena terus melontarkan kata-kata kasar, tapi Evander tetap mengkhawatirkan kondisinya. Itu karena di balik ucapannya yang kasar, sang supir memiliki hati yang baik. Buktinya dia bersedia memberikan tumpangan untuk Evander. Pria itu juga rela menembakan pistolnya walau tahu suaranya akan didengar para zombie dan mengundang mereka keluar dari tempat persembunyiannya hanya demi menyelamatkan Evander yang nyaris berhasil ditarik oleh zombie yang menangkap tangannya dan bergelantungan di truk mereka. Evander bukanlah orang yang tidak tahu cara berterima kasih, dia merasa berhutang budi pada sang supir dan berharap kondisi supir itu baik-baik saja.
Namun, kekhawatirannya semakin menjadi ketika melihat para zombie yang selesai mengendusi darah sang supir, kini berjalan menuju jalan setapak yang tadi dilalui supir truk itu.
“Bagaimana ini? Sepertinya mereka akan mengejar supir itu. Mereka mengejar dari aroma darahnya. Apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya?”
Evander kebingungan, dia ingin menolong supir truk yang berada dalam bahaya, tapi di sisi lain dia juga takut. Mana mungkin dia bisa selamat jika harus berhadapan dengan zombie sebanyak itu. Satu zombie saja sangat sulit dia hadapi bahkan dia saja nyaris tertangkap dan mati jika saja tidak ditolong oleh sang supir truk.
Evander masih berdiri di tempat, belum berani mengambil keputusan ketika tiba-tiba dia menyadari ada satu zombie yang menatap ke arahnya. Jarak mereka memang jauh, tapi Evander yakin zombie itu sedang menatap ke arahnya. Detik itu juga jantung Evander berdetak sangat cepat.
“Dia pasti melihatku. Sial, aku juga dalam bahaya.”
Evander tak ambil pusing lagi, mengabaikan rasa khawatirnya pada supir truk, dia pun mengambil langkah seribu untuk melarikan diri dari tempat itu. Dia memilih masuk kembali ke dalam hutan.
Evander terus berlari hingga dia pun tiba di depan semak-semak tadi.
“Sepertinya binatang buas itu sudah pergi,” gumam Evander karena melihat semak-semak yang semula bergoyang hebat, kini hanya diam tak bergerak seolah memang sudah tak ada makhluk apa pun yang bersembunyi di baliknya.
Ketika telinganya menangkap suara seperti suara langkah kaki dari arah belakang, jantung Evander serasa akan melompat keluar dari rongga d**a. Dia pun tak berpikir panjang lagi, berjalan cepat menuju semak-semak. Lantas dia menyibakan semak-semak yang menjuntai menghalangi jalannya bermaksud untuk melewatinya. Saat itulah dia hanya bisa mematung di tempat dengan kedua mata melebar sempurna karena menemukan sesuatu mengerikan kini terpampang nyata di depannya.
Bukan binatang buas yang dia lihat, melainkan sekumpulan zombie yang sedang berpesta karena tengah menyantap banyak binatang penghuni hutan yang berhasil mereka tangkap.