Bohong jika Evander tidak ketakutan saat ini. Dia begitu takut karena harus menghadapi monster dengan wajah mengerikan. Air liur yang terus menetes dari mulut makhluk tampak menjijikkan, bercampur darah dengan air liurnya yang berwarna hijau lumut. Jangan lupakan giginya yang runcing seolah siap mengoyak daging manusia di depannya. Kedua matanya yang merah menyala sukses membuat tangan Evander gemetaran. Dia meneguk ludah, masih ragu untuk memukul sang zombie agar terjatuh dari truk yang mereka naiki.
“Hei, tunggu apa lagi? Cepat jatuhkan zombie itu selagi jalanan ini masih sepi!” Sang supir semakin kesal karena hingga detik ini Evander masih ketakutan dan belum melakukan tindakan apa pun padahal kaca sudah terbuka.
“Cepat, bodoh! Kau mau kita yang mati di tangannya!”
“Jangan cerewet, aku sedang mengumpulkan keberanian.”
Supir truk itu berdecak. “Dasar pengecut, kita akan mati jika kau terus diam begini. Jangan membuang-buang waktu. Lihat, zombie itu berniat menyerang kita.”
Yang dikatakan supir itu bukanlah kebohongan, zombie yang bergelantungan di truk mereka mulai melakukan pergerakan seolah siap melompat masuk ke dalam truk melalui kaca yang terbuka. Evander menggeram dalam hati, tahu persis yang dikatakan pria di sampingnya itu memang benar. Dia harus cepat bertindak jika ingin selamat.
Akhirnya pria yang dijuluki pengecut oleh sang supir truk pun melakukan tindakan. Dia mengayunkan tongkat besi di tangannya tatkala si zombie meliukkan kepalanya hendak masuk ke dalam truk.
Bugh!
Suara pukulan itu sangat keras, tongkat besi yang diayunkan Evander tepat mengenai kepala zombie menyeramkan itu. Namun, ternyata sama sekali tak berpengaruh apa pun. Alih-alih terjatuh dari truk, zombie itu justru semakin bergerak agresif. Kepalanya terus meliuk-liuk mendekati tangan Evander yang beruntung tak akan terluka meski terkena gigitan karena terbuat dari android.
“Dia sangat kuat. Pukulanku sama sekali tidak mempan.”
“Ck, jangan menyerah. Terus pukul dia sampai jatuh. Kerahkan seluruh tenagamu.” Sang supir mengingatkan, masih melajukan truk dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali dia mengerem mendadak hanya agar si zombie terjatuh dari truknya, tapi semua usahanya sia-sia, zombie itu begitu kuat berpegangan hingga kini masih bergelantungan dan terus melancarkan serangan agar bisa masuk ke dalam truk dan menyantap daging Evander dan sang supir.
“Pukul dia terus! Jangan berhenti!”
Walau tubuhnya terasa terombang-ambing karena ulah si supir yang terus mengerem mendadak dan melajukan truk bagai orang kesetanan, Evander mencoba menurut. Dia mengerahkan seluruh tenang yang dia miliki dan secara bertubi-tubi memukul zombie itu. Entah sudah berapa pukulan yang diayukan Evander pada tubuh si zombie, terutama pada kepalanya, tapi zombie itu masih tidak jatuh. Meskipun kepalanya mengeluarkan begitu banyak darah karena terus dipukul oleh tongkat besi, tetap saja dia mampu bergerak seolah tak bisa mati.
“Dia kuat sekali. Aku sudah memukulnya berkali-kali tapi dia tetap bertahan.” Evander semakin panik, merasa usahanya sia-sia, dia sempat berpikir buruk bahwa hari ini mungkin akan menjadi hari terakhirnya menghirup oksigen di bumi.
“Terus pukul kepalanya sampai hancur.”
Evender terbelalak. “Apa kau bilang?”
“Kelemahan monster itu kepalanya, mereka akan mati jika kepalanya hancur karena itu terus pukul dia sampai kepalanya hancur.”
Evander meneguk ludah, dia tahu zombie yang sedang dia hadapi itu awalnya manusia sama sepertinya, terlihat dari pakaian yang dikenakannya. Penampilannya pun masih menyerupai manusia hanya saja wajahnya begitu seram dan prilakunya berubah liar dan buas, melihat Evander dan sang supir seolah santapan yang lezat baginya.
Evander bukan seorang pembunuh, tapi jika dia terus memukul kepala zombie itu hingga hancur artinya dia telah menjadi seorang pembunuh.
“Cepat hancurkan kepalanya. Apa yang kau lakukan, bodoh?!”
Evander menggelengkan kepala untuk menepis keraguan yang sempat menghinggapi hatinya. Tekadnya untuk berjuang mempertahankan nyawa kini menggebu dalam dirinya sehingga dia pun membuang rasa belas kasihannya. Dia memukul kepala sang zombie bertubi-tubi dan lebih keras dibandingkan sebelumnya.
Evander pikir akan mudah menghancurkan kepala zombie itu, tapi nyatanya tidak demikian. Walau kepalanya nyaris hancur, zombie masih bertahan bergelantungan di truk.
“Sial, dia kuat sekali. Aku tidak bisa menghancurkan kepalanya.” Evander mulai putus asa.
“Jangan menyerah. Terus pukul dia. Kau pasti bisa menyingkirkannya.”
Evander mendengus dalam hati, begitu mudah sang supir berkata demikian seolah dia sudah pernah membunuh seorang zombie sebelumnya. Evander ingin menanyakan hal itu, tapi belum sempat suaranya keluar, kejadian menegangkan terjadi ketika sang zombie berhasil menangkap salah satu tangannya.
Evander panik bukan main. “Akhh, tanganku!” teriaknya.
Sang supir yang melihat hal itu mencoba membantu, tak membiarkan zombie itu menggigit tangan Evander, tapi semuanya terlambat karena gigi tajam monster itu kini menancap di tangan Evander, bukan tangannya yang normal melainkan tangannya yang terbuat dari android.
Katakan Evander beruntung karena tangannya tak merasakan sakit sedikit pun meski tengah digigit, tapi keberuntungan itu seolah mulai meninggalkan Evander ketika dia merasakan zombie itu menarik tangannya, berniat menjatuhkan Evander dari truk itu.
“Tolong aku. Tolooong!” Evander berteriak histeris, tarikan zombie itu begitu kuat, dia nyaris tak kuasa menahannya. Jika terus seperti itu maka Evander akan kalah dan dia sudah dipastikan akan terjatuh, lalu akan dijadikan santapan empuk oleh zombie tersebut.
“Tolooong! Aku belum mau mati!” Evander berteriak lebih kencang dibandingkan sebelumnya.
Ketika zombie itu terus menariknya hingga Evander nyaris tak kuasa menahan sehingga akan terjatuh, pria itu berpikir inilah akhir hidupnya. Dia sudah pasrah karena tahu persis kekuatannya tak bisa dibandingkan dengan zombie itu. Kini dia sadar lawannya bukan lagi manusia, melainkan monster yang tak bisa mati dan tak bisa dia kalahkan dengan cara apa pun. Evander sudah pasrah menerima apa pun takdir hidupnya, termasuk jika dia harus menjadi santapan sang zombie.
Dorr!
Hingga tiba-tiba suara tembakan terdengar. Suara itu berasal dari pistol yang dipegang oleh supir truk, ternyata diam-diam dia menyembunyikan senjata berbahaya itu. Peluru yang dilepaskan moncong pistol itu meluncur cepat dan menancap tepat di kening sang zombie.
Dorr … Dorr … Dorr
Tiga tembakan kembali dilepaskan dan kali ini sukses membuat kepala zombie itu hancur. Tarikan pada tangan Evander pun terlepas karena tubuh tak bernyawa sang zombie kini jatuh ke bawah.
“Kau punya pistol?” tanya Evander syok melihat supir truk yang sejak tadi duduk di sampingnya itu ternyata memiliki senjata yang bisa dengan mudah membunuh zombie yang tadi susah payah coba Evander lawan.
“Ya, aku menyimpannya sebagai senjata pamungkas.”
Evander berdecak, tangannya yang lain mengusap-usap tangannya yang ditarik zombie tadi walau tentunya tak terasa sakit karena tangan itu terbuat dari mesin.
“Kalau kau memiliki pistol, kenapa tidak dikeluarkan sejak tadi? Malah menyuruhmu menjatuhkan zombie itu dengan menggunakan tongkat besi. Kenapa? Kau sengaja melakukan itu agar aku terbunuh?”
Evander tersulut emosi, kesal bukan main karena tindakan sang supir yang tidak sejak awal memberinya pistol itu.
Sang supir mendengus keras. “Huh, kalau aku berniat membuatmu terbunuh oleh zombie, barusan aku tidak akan menolongmu. Aku akan membiarkanmu menjadi santapan zombie tadi dan pada akhirnya menjadi salah satu dari mereka.”
“Kalau kau memang tidak berniat membuatku terbunuh oleh zombie, lalu kenapa tidak kau keluarkan sejak tadi pistol itu?”
“Tentu saja ada alasannya aku tidak mengeluarkan pistol ini kecuali dalam kondisi terdesak seperti barusan.
Satu alis Evander terangkat naik. “Memangnya apa alasannya?”
Evander sama sekali tak mengerti kenapa sang supir tiba-tiba memasang seringaian lebar. Tiba-tiba sebuah firasat buruk kini muncl di benak Evander.
“Alasannya karena itu.”
Evander mengikuti arah yang ditunjuk supir truk dengan dagunya. Di detik berikutnya kedua mata Evander membulat sempurna, pasalnya jalanan yang semula sepi tanpa ada satu kendaraan pun yang melintas, kini berubah sepenuhnya. Satu demi satu zombie keluar dari berbagai arah dan yang paling mengejutkan mereka kini sedang berlari menuju satu arah yaitu mengejar truk yang dinaiki kedua pria itu. Ya, para zombie dalam jumlah banyak itu tengah mengejar truk yang masih melaju dengan kecepatan tinggi. Naasnya para zombie itu pun berlari dengan sangat cepat sehingga hampir bisa menyusul laju truk.
“A-apa-apaan ini?” Evander meneguk ludah, melihat zombie sebanyak itu lagi dan lagi membuatnya kembali teringat pada kejadian mengerikan di hari resepsi pernikahannya.
“Inilah alasannya, pendengaran mereka sangat sensitif, suara letusan pistol tadi yang membuat mereka bermunculan dan kini mengejar kita.” Supir itu menjeda ucapannya, dia menoleh pada Evander yang seolah membeku di tempatnya duduk. “Kau dari tadi mengatakan belum mau mati, bukan?”
Evander mengangguk. “Ya, aku harus memastikan kondisi istri dan keluargaku. Aku tidak boleh mati sebelum mengetahui kondisi mereka.”
“Kalau begitu kau harus menuruti kata-kataku mulai sekarang dan berhenti menjadi pengecut.”
“M-memangnya apa yang kau rencanakan sekarang?” tanya Evander penasaran karena dari ucapannya sepertinya sang supir sudah merencanakan sesuatu untuk mereka melarikan diri.
“Para zombie itu mengejar truk ini karena tahu di dalamnya ada manusia yaitu kita. Seperti yang kukatakan tadi, indera pendengaran mereka sangat tajam, mereka mendengar suara letusan pistol karena itu mereka semua keluar dan mengejar kita. Sekarang kau mengerti, bukan? Ini alasanku tidak mengeluatkan pistol ini sejak tadi.”
Evander tak berkata-kata, dia yang awalnya menyalahkan sang supir dan sangat kesal padanya seketika semua kekesalan itu sirna dari hati dan pikirannya.
“Kalau begitu sekarang kita harus bagaimana?” Evander sekali lagi bertanya karena supir itu tak kunjung memberikan jabawan, menjelaskan rencana yang sudah dia susun.
“Seperti yang kukatakan tadi yang mereka kejar itu sumber suara letusan pistol yaitu truk ini, jadi kita harus keluar dari truk ini.”
Kedua mata Evander terbelalak. “Maksudnya kau akan menghentikan truk ini walau tahu para zombie sedang mengejar kita? Itu sama saja mencari mati. Mereka akan berhasil mengejar dan menangkap kita.”
“Bodoh, mana mungkin aku menghentikan truk ini, seperti yang kau katakan tadi, itu sama saja bunuh diri.”
“Lalu? Kita harus bagaimana agar selamat dari mereka?”
“Kita melompat keluar dari truk ini selagi masih melaju.”
“Kau akan memelankan lajunya, kan?”
Sang supir menggelengkan kepala. “Tidak. Kalau laju truk ini dipelankan, mereka akan mengejar kita dengan mudah.”
Detik itu juga kedua mata Evander membulat sempurna, paham betul apa yang sedang direncanakan supir itu. “J-jadi kita akan melompat keluar dari truk selagi truk ini melaju cepat?”
“Ya, hanya itu satu-satunya cara agar kita selamat.”
“Tapi kita bisa mati kalau menjatuhkan diri dari truk yang melaju secepat ini.”
Sang supir berdecak, kembali merasa kesal pada Evander yang begitu penakut. “Berada di dalam truk ini juga sama saja mencari mati. Jadi kau tinggal pilih mau mati karena menjadi santapan para zombie dan kau akan menjadi bagian dari mereka atau mati karena jatuh dari truk? Perlu kau ingat kalau kau sampai tertangkap oleh mereka, kau tidak mungkin selamat. Sudah pasti dagingmu akan disantap oleh mereka dan tidak lama lagi kau pun akan menjadi monster seperti mereka. Tapi jika kau menjatuhkan diri dari truk ini, masih ada kesempatan untuk kita hidup. Hanya ini satu-satunya cara yang bisa kita ambil untuk menyelamatkan diri.”
“Kenapa kita tidak terus melajukan truk ini saja? Kita pasti bisa meloloskan diri jika truk ini terus melaju cepat seperti ini.”
Sang supir memutar bola mata mendengar penuturan Evander yang begitu keras kepala dan penakut. “Jika kita terus memaksakan melajukan truk ini, jumlah mereka akan semakin meningkat. Seiring dengan melajunya truk ini di jalan raya, maka zombie-zombie yang ada di sana akan mengejar kita juga. Mereka akan mengikuti apa yang dilakukan zombie yang lain. Bisa kau bayangkan apa yang akan terjadi pada kita berdua jika dikepung zombie sebanyak itu? Kita tidak akan selamat, kita pasti mati.”
Evander meneguk ludah, mendengar ucapan sang supir truk, kini dia paham memang hanya ini satu-satunya cara agar mereka bisa bertahan hidup.
“Kalau kau masih ragu mengikuti caraku, terserah kau. Silakan tetap berada di dalam truk ini dan kau akan mati di tangan mereka. Aku masih ingin hidup jadi aku akan melompat sebelum semuanya terlambat.”
Evander menghela napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan. Dia baru saja menimbang-nimbang keputusan apa yang harus diambilnya dan kini dia sudah yakin akan sesuatu.
Sambil menatap wajah sang supir dengan serius, dia pun berkata, “Baik. Aku akan mengikuti caramu. Aku akan melompat dari truk ini.”
“Nah, bagus. Kau memang harus berani jika ingin hidup lebih lama lagi. Kalau begitu bersiaplah, aku akan memberikan aba-aba. Dalam hitungan ketiga kita melompat dari truk ini. Apa kau mengerti?”
Evander meneguk ludah sebelum akhirnya mengangguk setuju, dia akan mencoba melakukan tindakan nekat itu dan hanya bisa berharap semoga rencana mereka ini berhasil. Mereka bisa lolos dari sekumpulan zombie yang mengejar mereka dan begitu bernafsu menjadikan mereka sebagai santapan.