“Waaaaa!!”
Suara teriakan Evander mengalun begitu kencang, dia sangat ketakutan melihat wajah zombie yang mengerikan itu berada tepat di depan matanya.
“Sssttt, jangan berteriak. Nanti zombie yang lain mendengar dan mengikuti kita.” Sang supir truk memberi peringatan seraya meletakan jari telunjuk di depan bibir.
“Tapi bagaimana ini? Ternyata ada yang naik ke truk ini.”
“Huh, mau bagaimana lagi, kita harus menyingkirkannya.”
Evander terbelalak. “Menyingkirkannya? Maksudnya kita harus melawan zombie itu?”
“Ya,” sahut sang supir yang sukses membuat Evander meneguk ludah tanpa sadar. Dia jadi teringat ketika terjadi penyerangan sekawanan zombie saat resepsi pernikahannya. Dia tak ingin mengalami lagi momen di saat dia dikepung para zombie, dia yang merasakan sakit luar biasa karena tubuhnya digigit hingga dia harus kehilangan satu tangan akibat insiden itu.
“Bagaimana cara kita menyingkirkannya? Apa kau berniat turun dari truk ini?”
Sang supir mendengus mendengar pertanyaan Evander. “Kita sama saja bunuh diri jika nekat keluar dari truk ini. Penciuman mereka sangat tajam, mereka akan menangkap kita jika sampai mencium aroma tubuh kita, terutama aroma darah.”
“L-lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” Evander benar-benar tak memahami rencana apa yang sedang dipikirkan supir itu, hanya bisa berharap mereka bisa menyingkirkan satu zombie yang masih bergelantungan di atas truk. Jangan sampai zombie yang lain ikut mengejar mereka.
“Hai, Pak. Apa rencanamu sekarang?” tanya Evander semakin panik karena supir truk itu tak kunjung memberikan jawaban.
“Jangan banyak bertanya, lebih baik sekarang kau berpegangan saja.”
“Berpegangan pada apa? Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan? Beritahu aku.”
Namun, Evander tak pernah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Dia menyaksikan sendiri rencana yang sedang dipikirkan sang supir ketika merasakan truk yang mereka tumpangi melaju semakin cepat, rupanya sang supir melakukan itu dengan sengaja.
“Hei, hati-hati. Aku belum mau mati. Aku harus memastikan dulu istri dan keluargaku selamat. Aku belum boleh mati sekarang,” racau Evander begitu merasakan truk yang ditumpanginya melaju bak mobil F1 untuk balapan.
Sang supir tak mengatakan apa pun, tetap melajukan truknya dengan kecepatan tinggi, dia abaikan sepenuhnya Evander yang sedang ketakutan setengah mati. Evander pun akhirnya menyerah, karena bertanya pun percuma, supir itu tidak mempedulikan pertanyaannya, Evander kini memilih menurut. Dia berpegangan pada pegangan pintu seraya memejamkan mata karena tak sanggup menatap ke depan. Supir itu sangat nekat menjalankan truk dengan kecepatan mengerikan seperti itu.
“Huh, sial. Kenapa dia tidak jatuh juga?”
Mendengar umpatan sang supir, refleks Evander membuka mata, sekarang dia memahami alasan truk melaju dengan cepat.
“Jadi kau berencana menjatuhkan zombie itu dengan cara seperti ini?”
“Memangnya kau ada rencana lain untuk membuat zombie itu menyingkir dari truk ini?”
Evander terdiam. Benar, memang tak ada cara lain selain ini. Namun, naasnya zombie itu begitu kuat berpegangan sehingga tak jatuh walau sang supir melajukan truk seolah tengah mengikuti balapan.
“Dia berpegangan kuat pada truk, rasanya sulit untuk membuatnya jatuh,” ucap Evander yang melihat dari kaca spion bagaimana zombie itu masih bergelantungan karena berpegangan dengan erat pada truk.
“Huh, sepertinya kita tidak memiliki pilihan lain. Kalau kau ingin kita selamat, kau harus berani bertindak.”
Kening Evander mengernyit dalam, tak paham maksud perkataan sang supir. “Hah? Apa maksudnya kau menyuruhku bertindak? Kau tidak menyuruhku turun dari truk ini dan menghadapi zombie itu, kan?”
Sang supir mendengus. “Aku tidak akan menyuruhmu turun, aku tidak sekejam itu. Tapi kau memang harus bertindak untuk menyingkirkannya.”
Evander meneguk ludah, rasa takut dan trauma itu mulai memenuhi hatinya. “Memangnya apa yang harus aku lakukan?” tanyanya disertai detak jantungnya yang berdentum dengan cepat bak roller coaster.
“Pakai ini.” Supir itu mengulurkan tangan ke bawah seolah sedang mencari sesuatu, sedetik kemudian saat dia mengangkat tangannya, tangan itu sama sekali tidak kosong, ada tongkat terbuat dari besi yang kini dia pegang dan diulurkan pada Evander.
“Buka kaca di sampingmu itu dan gunakan ini untuk memukul zombie itu sampai jatuh.”
Sekali lagi Evander terbelalak. “Apa? Aku harus membuka kaca ini, bagaimana jika dia menangkap tanganku dan menggigitku lagi? Aku sudah kehilangan satu tangan, aku tidak ingin kehilangan tangan yang lain.”
“Ck, kau ini cerewet dan pengecut sekali, ya.”
Evander memelotot, tersinggung tentu saja mendengar ucapan sang supir yang mengejeknya. “Jangan bicara sembarangan. Kau baru akan memahami alasanku setakut ini jika kau mengalami seperti yang aku alami. Aku pernah dikepung dan digigit para zombie itu.”
“Selain penakut, kau juga sangat bodoh.”
Sejak menaiki truk itu, Evander tahu supir truk itu sangat menyebalkan, mulutnya selalu mengatakan kata-kata pedas yang menyinggung perasaannya.
“Jaga bicaramu, kau ini sangat menyebalkan.”
“Terserah kau mau terima atau tidak aku mengatakan ini, tapi itulah kenyataannya. Kau memang bodoh dan pengecut.”
“Aku sudah bilang trauma karena …”
“Satu tanganmu itu terbuat dari besi, kan?”
Evander tak melanjutkan ucapannya lagi mendengar perkataan sang supir.
“Orang-orang dari AEGIS itu mengubah satu tanganmu yang digigit zombie menjadi android, bukan? Gunakan tangan itu untuk memukul zombie itu agar walaupun kau digigit, kau tidak akan terluka.”
Detik itu juga Evander tertegun dalam diam, tak terpikirkan olehnya bahwa yang dikatakan supir itu memang benar. Satu tangannya terbuat dari besi, tidak akan menjadi masalah jika tangan itu terkena gigitan sang zombie.
“Hei, jangan melamun. Cepat singkirkan zombie itu dari mobil ini. Itu pun jika kau tidak ingin rekan-rekannya melihat dan ikut mengejar kita. Tamat sudah riwayat kita kalau sampai kita dikepung zombie-zombie itu.”
“Tapi apa kau yakin zombie itu tidak akan masuk ke dalam jika aku membuka kacanya?”
Sang supir berdecak, kesal bukan main dengan kelambatan Evander. “Jangan banyak berpikir, lakukan saja dulu. Lagi pula untuk apa aku memberimu tongkat besi itu jika tidak kau gunakan untuk mendorong dan memukul zombie itu agar jatuh?”
Evander masih terdiam, dia masih ragu sanggup melakukannya.
“Ck, tunggu apa lagi? Cepat singkirkan zombie itu! Di depan sana mungkin kita akan bertemu dengan banyak zombie lagi. Kita harus bertindak cepat jika ingin selamat.”
Karena kesal dengan sikap Evander yang pengecut bukan main, sang supir pun melakukan tindakan nekat dengan menekan sebuah tombol sehingga kaca di samping Evander terbuka dengan perlahan.
“Hei, apa yang kau lakukan? Jangan buka kacanya.” Evander panik bukan main sekarang.
“Cepat jatuhkan zombie itu. Lakukan sekarang juga jika kau ingin kita selamat dan bertahan hidup sampai rumah sakit.”
Untuk kesekian kalinya Evander meneguk ludah, dia ragu bisa melakukannya. Melihat wajah sang zombie yang begitu menyeramkan itu saja sudah membuat tubuhnya gemetaran. Namun, dia teringat pada istri dan keluarganya, harus dia pastikan kondisi mereka baik-baik saja. Pelariannya dari markas Aegis ini tidak boleh sia-sia, dia harus tiba di rumah sakit dengan selamat.
Keraguan di wajah Evander pun mulai lenyap, digantikan tekad untuk bisa menjatuhkan zombie itu. “Baiklah, aku akan mencoba menyingkirkannya,” ucap Evander, akhirnya memilih untuk berani.
Yang menjadi pertanyaannya … apakah dia akan berhasil menjatuhkan zombie itu dari truk atau justru Evander dan sang supir tidak akan selamat? Hanya waktu yang akan menjawabnya.