Zombie, 09

1718 Words
Evander semakin panik saat melihat truk yang dia tumpangi kini dikerubungi orang-orang aneh itu. Walau seandainya dia turun dari truk pun, tak aka nada celah baginya untuk melarikan diri. Suaranya kini memang sudah tak keluar lagi karena mulutnya masih setia dibekap oleh sang supir, tapi tidak dengan tubuhnya karena kini sedang gemetarakan hebat. Evander menggulirkan mata ke sekeliling dan melihat orang-orang aneh itu kini sedang menoleh ke kiri dan kanan seolah sedang mencari sesuatu. Pria itu tercekat saat merasakan pinggangnya dicubit seseorang dari samping, yang refleks membuatnya menoleh pada si pelaku, siapa lagi jika bukan supir truk.  Sang supir kini sedang memelototinya dan Evander tahu itu adalah isyarat. Dia harus diam bagaikan patung, tidak bersuara dan tidak bergerak … Evander ingat betul itulah yang dikatakan supir tersebut sebelum mobil mereka melintasi jalan ini.  Evander meneguk ludah, tapi dia mencoba menurut. Perlahan dia mulai menenangkan diri sehingga tubuhnya tak lagi gemetaran. Namun, suasana yang mulai tenang itu kembali terasa menegangkan saat ekor mata Evander melirik ke arah kaca di sebelahnya dan dia melihat salah satu dari orang aneh itu sedang menempelkan wajah di sana. Evander melotot, melihat wajah orang itu dari dekat, sungguh sangat mengerikan. Evander tahu orang itu sedang menatap dirinya dan sekali lagi Evander takut bukan main.  Satu-satunya hal yang membuat Evander sadar dia harus kembali menenangkan diri karena mulutnya semakin dibekap erat oleh sang supir.  “Aku harus tenang. Semuanya pasti baik-baik saja karena aku tidak sendirian. Ada supir truk ini di sampingku,” gumam Evander dalam hati.  Karena dia tahu sumber perasaan takut ini muncul akibat dia yang terus menatap ke arah orang-orang berpenampilkan menyeramkan itu, Evander pun mencoba menghindari mereka. Dia memejamkan mata sehingga tak akan lagi melihat sosok mereka, dengan begitu perlahan tapi pasti dia berhasil membuat dirinya tenang.  Suara geraman dari luar truk masih terdengar karena orang-orang aneh itu masih setia mengelilingi truk. Begitupun dengan Evander yang masih memejamkan mata.  Keadaan itu berlangsung hampir 30 menit lamanya sebelum akhirnya Evander merasakan mulutnya tak lagi dibekap oleh sang supir karena pria itu menjauhkan tangannya dari mulut Evander.  “Hei, kau sudah bisa membuka matamu sekarang.”  Mendengar suara itu, Evander yakin kondisi sudah aman. Dia pun membuka mata dengan sangat perlahan, dan memang benar kondisi sudah mulai aman. Orang-orang aneh itu sudah tak lagi mengelilingi mobil karena mereka mulai kembali ke dalam hutan. Hingga sosok mereka pun menghilang dari pandangan, sang supir mulai kembali melajukan truknya. Sama seperti tadi menjalankan mobil dengan sangat perlahan sampai mereka berhasil meninggalkan area hutan tersebut barulah dia melajukan truk dengan kecepatan normal kembali.  Evander menyandarkan punggungnya dengan deru napas yang terlihat sedang berusaha normal karena masih terengah-engah. Kejadian menegangkan yang dialaminya barusan membuatnya tak pernah merasakan takut seperti itu sebelumnya.  “Orang-orang aneh barusan itu … aku yakin mereka sama persis seperti orang-orang gila yang mengacaukan pesta pernikahanku,” ucap Evander memulai pembicaraan. “Mereka memang malapetaka untuk dunia, terutama untuk Atlanta City. Mereka ada di mana-mana karena itu aku bilang kota ini sudah tidak aman lagi.”  Evander menatap lekat wajah sang supir yang tengah fokus menatap ke depan karena tengah menyetir. “Sebenarnya mereka itu siapa? Dan kenapa mereka jadi seperti itu? Penampilan mereka tidak seperti manusia normal?”  Supir truk itu mendengus sambil mengulas senyum penuh cibiran. “Mereka dulunya manusia seperti kita. Tapi sekarang bukan lagi.” “Hah? Maksudnya?” Evander masih tak paham dan dia membutuhkan penjelasan yang lebih terperinci karena sungguh dia tak tahu menahu tentang keadaan kota kelahirannya sekarang.  “Mereka itu berubah menjadi monster yang akan memakan apa pun yang ada di depan mereka. Zombie … kau tahu kan zombie?” “Zombie? Maksudnya mayat hidup?” Sang supir mengangkat kedua bahu. “Belum diketahui mereka itu sebenarnya sudah mati atau masih hidup, yang jelas mereka bukan lagi manusia. Mereka sudah berubah menjadi monster yang jika tadi kita sampai tertangkap oleh mereka maka habislah riwayat kita. Mereka akan memakan kita hidup-hidup. Zombie … mereka tidak ada bedanya dengan zombie.”  Evander tertegun dengan mata terbelalak. Atlanta City di mana dia dilahirkan dan tumbuh dewasa, kota yang dulu begitu aman, damai dan tentram … kenapa sekarang jadi kacau balau seperti ini? Evander tak memahami kenapa bisa kota itu berubah seratus delapan puluh derajat hanya dalam waktu singkat.  “Apa kau tahu alasan mereka bisa berubah menjadi seperti itu? Lalu dari mana asal mereka?” “Mereka itu pasti dulunya warga kota ini. Tapi karena mereka digigit oleh zombie sebelumnya karena itu berubah menjadi zombie juga.” “Apa kalau digigit maka akan berubah menjadi bagian dari mereka?” tanya Evander syok, apalagi melihat sang supir menganggukkan kepala sebagai jawaban.  Evander tercengang, dia ingat betul istri dan keluarganya digigit oleh zombie-zombie yang menyerang mereka. Dia jadi berpikir mungkinkah orang-orang yang dia sayangi telah berubah menjadi zombie juga? Ini pula kah alasan tangan dan kakinya sampai dipotong dan diganti dengan mesin android? Rupanya memang benar orang-orang dari markas Aegis telah menyelamatkan nyawanya karena jika tangan dan kakinya tidak dipotong maka dia mungkin sudah berubah menjadi zombie karena Evander juga sempat digigit oleh mereka.  Evander yang sedang melamun itu kembali mendapatkan kesadaran tatkala bahunya ditepuk cukup keras oleh sang supir. “Kau beruntung karena masih hidup walau sudah diserang oleh para zombie.”  “Tapi aku jadi kehilangan tangan dan kakiku,” sahut Evander yang membuat si supir truk menatap ke arah tangan kiri dan kaki kanannya. “Apa tangan dan kakimu digigit oleh mereka?”  Evander mengangguk. “Ya.” “Ini mengerikan. Jangan sampai kau tiba-tiba berubah menjadi mereka. Setelah sampai di rumah sakit, kau jangan pernah muncul lagi di depanku. Mengerti, kan?”  Evander tahu sang supir serius berkata demikian, pria itu yang sejak tadi tenang mulai terlihat panik dan sering melirik kea rah Evander karena khawatir Evander tiba-tiba berubah menjadi zombie setelah mendengar cerita tangan dan kakinya pernah digigit para zombie.  Evander mendengus, tak marah karena berpikir mungkin dia akan bersikap seperti itu juga jika ada di posisi sang supir. Wajar dia ketakutan karena orang yang duduk di sampingnya pernah digigit zombie.  “Aku juga memang berencana hanya menumpang sampai rumah sakit. Setelah itu aku tidak akan merepotkanmu lagi. Jangan khawatir.”  Sang supir mendengus. “Baguslah kalau begitu. Oh, iya. Apa istri dan keluargamu juga digigit oleh para zombie?”  Evander tertegun, tengah menimbang-nimbang haruskah dia menceritakan yang sebenarnya pada sang supir bahwa memang benar mereka pun telah digigit.  “Hei, kenapa diam? Mereka digigit juga tidak?” Evander akhirnya memilih berkata jujur. Dia mengangguk-anggukan kepala. Sang supir berdecak keras. “Kalau begitu artinya mereka tidak mungkin selamat. Apa lagi kau bilang pasukan militer Aegis menyelamatkanmu, kan?”  “Memangnya kenapa jika militer Aegis menyelamatkanku?” tanya Evander penasaran. “Kau ini benar-benar tidak tahu apa-apa, ya? Mereka itu militer yang khusus membasmi para zombie, tugas mereka memang memburu para zombie. Jika mereka datang ke pesta pernikahanmu artinya mereka sudah membasmi zombie-zombie yang ada di sana.”  Sang supir tiba-tiba terdiam dan menundukkan kepala. Lantas dia menatap wajah Evander dengan raut sendu yang tersirat rasa iba di dalamnya. “Aku turut berduka untukmu. Tapi menurutku istri dan keluargamu sudah tewas. Mereka mungkin dibunuh setelah berubah menjadi zombie atau mereka memang dibunuh sebelum berubah menjadi zombie.”  Kening Evander mengernyit dalam, dia  masih tak paham maksud ucapan sang supir. “Dibunuh sebelum menjadi zombie? Apa maksudnya itu?” “Tadi aku sudah bilang, kan, manusia yang digigit zombie maka akan berubah menjadi zombie juga. Militer Aegis biasanya akan menghabisi orang yang sudah digigit zombie dan tak bisa diselamatkan lagi karena kondisinya yang sudah parah akibat gigitan zombie itu. Mereka akan dibunuh walau masih hidup. Itu yang biasanya dilakukan militer Aegis karena aku pernah melihatnya sendiri dengan mata kepalaku.”  Evander mengepalkan tangan, membayangkan istri dan keluarganya mati di tangan militer Aegis, dia benar-benar marah dan tak bisa menerimanya.  “Tapi percayalah, itu yang terbaik. Daripada istri dan keluargamu berkeliaran di luar sana sebagai zombie, bukankah lebih baik mereka mati dan bisa beristirahat dengan tenang? Walau aku tahu ini menyakitkan tapi kau harus berterima kasih pada militer Aegis. Apalagi mereka sudah menyelamatkan nyawamu.”  Evander mendengus keras, tampak tak setuju dengan ucapan sang supir. “Apa artinya aku hidup jika sendirian di dunia ini? Apa artinya aku selamat jika istri dan keluargaku mati? Lebih baik aku mati seperti mereka.” “Dasar bodoh,” gertak sang supir. “Kau pikir hanya kau yang kehilangan orang-orang yang disayangi? Semua orang di kota ini mengalaminya. Jadi, daripada terus mengeluh dan menyesali takdirmu, lebih baik kau berpikir bagaimana caranya menjadi orang yang bisa berguna untuk menyelamatkan manusia lain yang mungkin keadaannya jauh lebih menyedihkan dibandingkan dirimu. Ingat baik-baik, di kota ini bukan hanya kau yang diteror para zombie setiap hari, tapi semua orang juga mengalami kejadian seperti kita tadi. Ketakutan sampai tubuh gemetaran hebat karena takut dimakan zombie.”  Ucapan sang supir tampaknya menyentuh hati dan menyadarkan pikiran Evander karena kini dia terdiam dengan tatapan yang amat serius tertuju pada pria yang masih menyetir truk.  “Aku akan tetap mencari istri dan keluargaku di rumah sakit. Aku yakin mereka selamat sepertiku,” gumam Evander tapi sang supir masih bisa mendengarnya dengan jelas. “Ya, itu lebih baik dibandingkan kau berpikir bodoh untuk mati menyusul mereka. Tapi aku memberimu saran, jangan terlalu berharap banyak agar kau tidak terlalu kecewa nantinya. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit, lakukan apa pun yang kau inginkan. Aku tidak akan melarangmu dan setelah itu ingat janjimu tadi, jangan muncul lagi di depanku.”  Evander mengangguk setuju, dia juga tak berminat bertemu lagi dengan pria yang memiliki mulut pedas seperti supir itu.  Suasana di dalam truk kini berubah hening karena baik Evander maupun sang supir tak lagi bersuara. Namun, suasana hening itu tak bertahan lama saat Evander mendengar suara kaca yang dipukul dari sampingnya. Begitu dia menoleh ke samping, Evander terbelalak sempurna … terkejut bukan main pasalnya zombie yang tadi menempelkan wajahnya pada kaca mobil, kini masih ada di sana. Ceroboh karena Evander dan sang supir tidak menyadari zombie itu bergelantungan di truk dan kini ikut bersama mereka.  “Waaaaaaaaa!!”  Evander refleks berteriak saat melihat zombie itu menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang runcing dan terus meneteskan air liur bercampur darah yang menjijikkan. Seketika suasana di dalam truk pun menjadi panik saat sang supir menyadari alasan Evander berteriak keras. Entah akan jadi bagaimana nasib mereka berdua setelah ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD