Zombies, 08

1198 Words
Awalnya, perjalanan Evander dan sang supir truk tampak normal-normal saja. Evander menikmati perjalanan itu dan berpikir sudah tidak sabar ingin segera tiba di rumah sakit, berharap kabar baiklah yang akan dia dapat. Namun, semuanya berubah drastis saat truk yang mereka tumpangi mulai memasuki jalan raya besar. Di sana banyak kendaraan yang bagaikan mobil-mobil rongsokan tak lagi terpakai. Mobil-mobil itu terparkir tak beraturan dengan kondisi yang mengenaskan. Kacanya pecah, badan mobil banyak yang hancur dan penyok. Sungguh terlihat seperti mobil-mobil itu telah diserang secara membabi buta hingga hancur.  Selama truk melintas di jalan raya besar, selama itu pula hanya pemandangan kendaraan ruusak dan hancur yang dilihat Evander.  “Kenapa dengan mobil-mobil itu? Kenapa ditinggalkan di jalan raya?” tanya Evander pada sang supir karena dia yakin pria itu mengetahui tragedi apa yang sudah terjadi sampai banyak kendaraan terbengkalai seperti itu.  “Tadi aku sudah katakan padamu, Atlanta City tidak sama lagi seperti dulu. Ini salah satu alasan aku berkata seperti itu padamu.” “Memangnya apa yang terjadi? Apa terjadi peperangan di sini?”  Supir truk itu mengembuskan napas pelan. “Aku heran denganmu, kawan. Kau sudah mengalami tragedi mengerikan di hari pernikahanmu, kenapa bisa kau masih tidak memahami apa pun?”  Evander mengangkat kedua bahu karena memang dia tak tahu menahu dan tak memahami apa yang sudah terjadi pada kota yang sangat dia cintai itu.  “Aku memang tidak tahu apa pun makanya bertanya padamu.” “Memangnya saat terjadi penyerangan di hari pernikahanmu, kau pikir apa yang terjadi saat itu?” “Hm, entahlah … tapi aku rasa ada sekumpulan orang gila dan mungkin sedang mengkonsumsi obat-obat memabukan yang melakukan keonaran.”  Sang supir terkekeh sambil menggelengkan kepala. “Aku tidak menyangka ternyata masih ada orang sepolos kau ini. Tapi ya sudahlah, aku jelaskan pun kau tidak akan percaya. Jadi, biar kau lihat sendiri dengan mata kepalamu sendiri. Sebentar lagi kita akan melintasi tempat mereka biasanya muncul dan satu pesanku ….” Sang supir menoleh pada Evander dan melayangkan tatapan tajam pertanda dia sedang begitu serius. “… jangan pernah mengeluarkan suara sekecil apa pun. Dan jangan melakukan pergerakan apa pun juga karena kalau sampai mereka mendengar suaramu atau melihatmu bergerak maka tamat sudah riwayat kita berdua. Mereka tidak akan melepaskan kita.” “Mereka?” Kening Evander mengernyit dalam. “Siapa mereka yang kau maksud?” “Kau akan segera mengetahuinya sebentar lagi. Bersiaplah.”  Evander meneguk ludah karena sungguh dia mulai merasakan firasat buruk. Firasat buruknya terbukti benar saat mereka melewati area dekat hutan. Sang supir menjalankan mobil dengan sangat perlahan bahkan mesinnya pun dimatikan sehingga tak terdengar suara mesin sedikit pun. Roda truk itu masih melaju karena memang sengaja tak direm dan karena kondisi jalan yang menurun. Kedua mata supir itu awas menelisik sekitar, terus bergulir ke sekeliling seolah sedang mengawasi sesuatu. Tentu saja hal itu membuat Evander terheran-heran pasalnya tadi truk melaju dengan kecepatan sedang tapi mendadak menjadi sangat pelan bahkan mesinnya sengaja dimatikan. Selain itu, sikap sang supir yang seperti sedang sangat waspada itu juga terlihat janggal di benak Evander.  “Kau ini kenapa? Kenapa truknya jalan pelan sekali?” “Sssttttt.” Sang supir bergegas meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya seraya mendesis, memberi isyarat agar Evander tak lagi mengeluarkan suara.  “Aku sudah bilang tadi jangan mengeluarkan suara sedikit pun. Apa kau tidak mengerti bahasaku?” bisik sang supir sambil memelotot, tampak kesal pada Evander yang tidak menuruti perkataannya.  “Tapi aku heran kenapa kau mematikan mesin mobilnya, kapan kita akan sampai di rumah sakit kalau truk jalan sepelan ini?”  “Diam. Aku bilang jangan bicara.” Wajah sang supir kini memerah sempurna, terlihat dia benar-benar marah pada Evander.  Keanehan yang dirasakan Evander semakin menjadi saat sang supir tersentak kaget seolah baru melihat sesuatu dan tiba-tiba saja dia mengerem mobil sehingga truk itu pun berhenti melaju. Truk itu kini diam bagaikan patung.  “Kenapa truknya sekarang direm?” “Sssstttt. Itu …” Sang supir menunjuk ke arah samping kiri, tepatnya ke kaca samping Evander.  Evander tahu sang supir sedang menunjukkan sesuatu padanya karena itu dia pun menoleh, mengikuti arah yang ditatap supir itu. Seketika kedua mata Evander melebar sempurna, dia melihat beberapa orang dengan penampilan mengerikan mulai bermunculan dari dalam hutan. Mereka berjalan mendekati truk yang dinaiki Evander sedang terdiam.  Kondisi orang-orang itu memang mengerikan dan mengenaskan. Wajah mereka penuh luka, kulit wajah mereka keriput seolah benar-benar kering karena warnanya pun menghitam. Bola mata yang sepenuhnya putih dan banyak darah yang bercucuran dari luka di wajahnya itu. Air liur bercampur darah menetes tiada henti dari mulut mereka. Terus menetes dari mulut sampai air liur itu membanjiri pakaian lusuh dan kotor yang mereka kenakan. Rambut mereka acak-acakan seolah tak pernah disisir seumur hidup mereka. Tubuh mereka pun sangat kotor dengan pakaian yang compang-camping. Cara jalan mereka juga sangat aneh, berjalan dengan kedua kaki mengangkang dan kepala tertunduk dalam. Suara geraman meluncur keluar dari mulut mereka secara bersahut-sahutan.  Evander panik bukan main, kondisi orang-orang yang bermunculan dari hutan itu, dia yakin sama persis seperti orang-orang yang mengacaukan pesta pernikahannya dengan Cagali.  “M-mereka … siapa mereka? Kenapa penampilan mereka sangat mengerikan?” Terlalu panik Evander refleks bertanya demikian dengan suara yang cukup keras. Sang supir meringis, berbicara tanpa suara dan hanya menggerakkan bibir. Namun, Evander paham apa yang sedang dikatakan pria di sampingnya itu. ‘Dasar bodoh’ kira-kira itulah yang dikatakan sang supir padanya.  Kini Evander baru menyadari alasan supir itu mengumpati dirinya karena memang benar dia sangat bodoh. Akibat berbicara terlalu kencang, orang-orang aneh dan mengerikan itu kini mengangkat kepala. Mereka menengok ke kiri dan kanan seolah sedang mencari sumber suara.  Evander mulai ketakutan karena seiring berjalannya waktu, semakin banyak jumlah mereka yang terus keluar dari dalam hutan. Terlalu takut, deru napas Evander pun memburu. Dadanya naik turun dengan cepat disertai detak jantung yang tak karuan, berdetak dengan sangat cepat.  “Hah … hah … hah …”  Suara itu spontan keluar dari mulutnya tanpa Evander sadari dan itulah kesalahan fatal yang dia lakukan. Makhluk-makhluk itu rupanya memiliki indera pendengaran yang sangat tajam karena walau kaca mobil dalam kondisi tertutup rapat, mereka masih bisa mendengar suara dari dalam truk yang berasal dari mulut Evander lebih tepatnya.  Makhluk-makhluk itu kini sedang berjalan semakin mendekati truk, membuat Evander semakin panik dan ketakutan.  Evander membuka mulut, hendak meminta sang supir menjalankan mobil tapi dengan cepat mulutnya dibungkam oleh sang supir. Supir truk yang merupakan pria paruh baya itu kini menggelengkan kepala, lagi dan lagi memberi Evander isyarat untuk diam dan tak lagi bersuara sekecil apa pun.  Sayangnya rasa takut yang dirasakan Evander kini sudah mencapai puncaknya, bukan tanpa alasan dia begitu ketakutan sampai tubuhnya gemetaran, tidak lain karena semua makhluk itu kini sudah berada di dekat truk yang Evander tumpangi. Mereka mengelilingi truk itu, membuat Evander dan sang supir tak memiliki celah sedikit pun untuk melarikan diri dari mereka. Jika sampai mereka melakukan serangan seperti menghancurkan kaca mobil maka sudah dipastikan Evander dan sang supir tak akan selamat. Mereka akan menjadi mangsa yang dimakan hidup-hidup oleh para monster tersebut.  “Tolong. Siapa pun tolong kami.”  Tentu saja permohonan itu hanya bisa diucapkan Evander dalam hati karena mulutnya masih dibungkam oleh tangan sang supir sehingga dia tak bisa bersuara barang sedikit pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD