05. Kelam kisah silam

2100 Words
"Sengaja kupesan dua kopi pahit biar kamu tahu. Kalau aku sedang berusaha mencicipi pahitnya hidupmu." - Abimanyu *U T A R I* Tak pernah ada hari tenang dalam hidupku. Setiap waktu yang berlalu terasa panjang, hanya untuk memikirkan bagaimana caranya meninggalkan dunia yang sesak ini secepat yang kubisa. Bagaimana caranya mengakhiri hidup yang serasa di neraka ini. Tanpa melibatkan orang-orang di sekitarku, dan pada akhirnya menyeret mereka untuk terluka bersama. Aku tak ingin hal itu terjadi. Sebab luka ini, hanya aku yang boleh memiliki. Tak akan pernah aku menginginkan orang lain menjalani kehidupan busuk seperti jalanku. Malam selalu terasa amat panjang. Sebab diisi dengan rasa sakit dan luka-luka. Begitu mentari datang, secepat mungkin aku harus menjadi seseorang yang baik-baik saja. Tidak adil, bukan? Rasanya, aku tak memiliki waktu untuk beristirahat bak sedetik pun. Dari segala pedih yang merajam lewat fisik maupun batin. Aku selalu saja hampir menyerah dan kalah. Menyerahkan semua waktu berharga yang pernah ada antara aku dan segelintir orang lain dalam hidupku. Anjani, Suri, atau bahkan Abimanyu ... waktu singkat bersama mereka sangat berharga, sampai kerap kali membuat rasa ingin tinggal lebih lama itu semakin kuat. Meski aku tau semuanya tak mungkin. Kebahagiaan hanya sesuatu yang terlalu kelabu untuk kumiliki. Mereka mengizinkanku untuk keluar melihat dunia luar, tetapi membunuh jiwaku pelan-pelan. Karena itu sepanjang umurku, sejak awal ditinggalkan aku telah memilih untuk menanti kematian. Lain dengan lelaki yang duduk di depanku sibuk menyeruput kopinya. Berulang kali ia datang dengan tawa. Menyuguhkan puluhan puisi yang telah k****a, namun tak pernah sekalipun kubalas tulisannya. Kadang, terbesit bahwa aku ingin lari dengannya. Lelaki kaya yang akan membawaku pergi menghindari luka-luka baru. "Sejauh apa pun, pelarianmu. Yang akan kamu temui hanyalah rasa sakit yang baru." Aku menggela napas pendek memejamkan mata untuk mengusir suara yang berbisik begitu jelas menelisik di telinga. Jemariku menyisir rambut ke belakang. Kulemparkan pandangan ke luar jendela. Namun, sentuhan lembut di tangan membuatku kembali menoleh pada Abi yang senantiasa menyuguhkan senyum. "Nggak usah banyak mikir, kamu tinggal jawab, ya, oke, atau aku mau. Itu aja udah cukup." Abi menaikkan alisnya untuk meyakinkanku. Kutatap dirinya dengan penuh tanya. Apa benar nama kami bukan satu kebetulan? Aku tak tahu banyak tentang kisah pewayangan, namun kutahu bahwa Abimanyu pernah berdusta pada Utari, nyatanya lelaki putra dari Arjuna itu telah menikah dengan Dewi Sundari. Lantas ia gugur di medan perang karena ucapannya sendiri. Bahwa ia rela mati dihunus ribuan senjata di tengah palagan. Apabila ia telah mempersunting wanita lain sebelum Utari. Ironisnya dalam peperangan bharatayuddha, Abimanyu gugur setelah senjata busur dihancurkan oleh Karna. "Ck, mikir apa sih?" ucapnya. Ia menyentil dahiku pelan membuatku kembali menguncinya dalam fokus pandangan. Kini Abi menjadi satu-satunya objek dalam pandanganku. Cukup lama terdiam menatapnya, aku melirik jemari Abi yang masih menggenggam tanganku erat. "Kamu pernah tanya antara satu sampai sepuluh, berapa nilai kamu di mataku?" Ia mengangguk antusias. Kuhela napas pendek dan menatapnya dalam-dalam. "Berapa Tar?" "Lima," jawabku pendek. Abi tertawa kecil menatapku tak percaya. Kuangkat alis menentangnya seperti biasa. Mungkin ia tak terima dengan pendapatku, sedangkan wanita lain dengan mudah memberikan nilai seratus tanpa cacat kepadanya. "Lima?" Ia membanting punggung pada sandaran kursi. "Sadis kamu." Kini giliran aku yang terkekeh kecil melihat ekspresi tak terima darinya. "Makannya jadi manusia jangan terlalu ngayal ketinggian." Aku mengangkat cangkir. Menyesap isinya yang masih setengah membiarkan rasa pahit mendominasi seluruh indra perasaku. "Setelah banyaknya puisi yang kutulis buat kamu, cuma lima?" ia masih tak terima. "Cewek lain baru disenyumin aja udah meleleh, Tar." "Kamu selalu lupa. Aku nggak sama kayak mereka." "Buat dapetin yang istimewa emang butuh perjuangan keras, 'kan? Oke kalau itu mau kamu Utari." Ia mengangguk di atas kursinya. Pandangannya mengelilingi seantero kafe sebelum kemudian kembali melihatku. Ia meraih kopi pahit dan bibirnya bertemu dengan pinggiran cangkir. Abi meneguk isinya hingga tandas. Setelah sedetik kemudian lelaki itu berdiri menyandang tas pada sebelah pundak. Ia berjalan dan berhenti tepat di sampingku. Tangannya menyentuh pundak, dan kini ia bahkan berjongkok di sebelahku. Pandangan kami lagi-lagi bertemu dalam satu garis lurus yang transparan. Matanya selalu teduh, dan senyum lelaki itu seperti madu yang menjadi candu untukku. "Cuma butuh lima angka lagi, 'kan? Asal kamu tau, stok puisiku masih banyak buat kamu." ia tersenyum miring sebelum kemudian beranjak pergi. Tepat setelah ia mengusap puncak kepalaku dengan tangannya. Saat lelaki itu menjauh dari pandangan mata, tak ayal aku ikut memutar tubuh menatap punggungnya yang menjauh. Abimanyu, kedatanganmu membuatku sesekali ingin melarikan diri dari dunia yang gelap ini. *U T A R I* Darah segar masih berwarna merah menyala. Menggenang pada putihnya lantai keramik yang usang. Seonggok raga kurus itu terbujur lemas. Matanya basah karena menangis, sedangkan bibirnya yang nengeluarkan darah segar masih berusaha sekuat tenaga untuk mengucapkan sepatah kata. Tangannya berusaha menggapaiku yang duduk memeluk lutut di sudut ruangan gelap. Keadaan saat itu kacau, ruangan berantakan karena sebuah pertengkaran yang mereka lakukan di depanku. Serapahan pun tak luput mengisi telinga polosku waktu itu. Tak jauh dari wanita yang sudah sekarat, yang tak lain adalah Ibuku. Lelaki k*****t yang selalu memukul kami berdua, tergeletak dengan kepala bersimbah darah. Tepat setelah ia memukul ibu hingga tumbang, dan ibu menariknya dengan spontan sehingga kepala ayah membentur sebuah rak kaca hingga berserakan. Aku berdoa dalam hati agar lelaki itu tidak pernah bangun sampai kapanpun. Tidak ada tangisan waktu itu, aku menatap kedua orang tuaku yang sama-sama terkapar tak berdaya. Waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari, aku bisa apa? Bahkan menangis pun sulit kulakukan saat itu. Usiaku baru lima tahun, tapi tubuhku sudah banyak menerima pukulan sampai babak belur. Bahkan sejak dalam kandungan ibu, lelaki yang ditakdirkan menjadi Ayahku itu memang tak pernah mengharapkan kehadiranku. Lelaki sialan itu selalu pulang dalam keadaan mabuk. Pergi untuk judi, pulang untuk merusuh dan meminta uang dari Ibuku. Kurang berengsek bagaimana lagi? "U-ut-tari," suara itu seperti tercekat di antara kerongkongan. Namun, karena suasana yang memang tengah sangat sunyi bisa kudengar meski samar. Perlahan tangannya yang berusaha menggapaiku lemas turun menyentuh lantai. Bibirnya terkatup bersamaan dengan mata yang terpejam. Aku masih tak bereaksi. Dadaku sakit, seperti dihimpit, tenggorokanku seperti tercekik, tubuhku bahkan mendadak kaku di pojokan. Menatap dua orang yang ada di hadapanku tak lagi bergerak sedikitpun. Hari itu adalah awal di mana aku menghadapi kegelapan ini sendirian. Awak di mana kehidupanku tak pernah lagi buat berharga. Saat ibu dengan tega meninggalkan aku untuk berjuang melawan lelaki sialan itu sendirian. "Kenapa dia tak membawaku pergi bersamanya saat itu juga?" Pertanyaan tersebut masih mengganggu benakku saat teringat tentang masa lalu. Hari ini aku paham, bahwa sepotong nama itu sengaja diberikan padaku diujung waktunya. Hari ini juga, jantungku mendadak seperti di remas. Mengingat kejadian enam belas tahun silam, aku seperti dilemparkan kembali ke dalam situasi yang serupa. Kutepuk d**a perlahan untuk mengurangi rasa sakit yang semakin mencengkeram. Hingga seseorang menyadarkanku dengan minuman kaleng dingin yang menempel di pipi. Aku menoleh dengan keterkejutan dan mendapati Anjani yang datang dengan asap rokok beraroma tembakau. Tangannya masih menggantung di udara memegang minuman yang tak kunjung kuterima. Lantas ia menjatuhkan diri di sebelahku, setelah melemparkan rokok ke aspal dan melumatnya dengan sepatu boot yang sangat identik dengan Anjani. "Yang udah lewat nggak usah dipikirin lagi," ucap Anjani meletakkan kaleng soda di depanku. Ia merogoh tas, mengambil kaleng minuman yang serupa dengan milikku. Masih kutatap Anjani, kemudian beralih pada minuman kaleng dan mengikuti jejak Anjani untuk meneguknya. "Ada banyak hal yang lebih penting, biarpun masa lalumu itu genting banget. Pikirin omonganku, atau tawaran Abi. Asal bukan orang asing yang masuk ke kamarmu." Matanya menatap jalanan yang ramai. Kami berdua sedang duduk di sebuah halte, bukan untuk menunggu bus datang. Hanya untuk sekedar mencari kesunyian di tengah kebisingan. Hari makin sore, langit biru mulai abu-abu, jam kerjaku telah habis sejak satu jam yang lalu. Aku mendengus mendengar ucapan Anjani, lalu kuteguk minuman menjalarkan dingin sampai ke tenggorokan. Sedetik kemudian kutatap Anjani yang masih mengamati jalanan yang padat. Aku bahkan tak pernah menceritakan apa pun tentang Abi, atau lelaki misterius itu. "Lagi mikir aku tau dari mana?" Seolah ia bisa membaca pikiran. Aku memicingkan mata menatapnya serius. Anjani tersenyum menampakkan jejeran gigi putihnya yang rapi. Ia masih sempat meneguk minumannya. Kemudian menghela napas panjang. Gadis itu menyadarkan punggungnya dengan tenang, ia membiarkan rambut panjang hitamnya diterpa angin dengan indah. "Kamu percaya kalau ada kehidupan lain, selain kita di dunia ini? Ada, tapi nggak kelihatan. Kelihatan, tapi nggak bener-bener nyata. Percaya?" tanyanya. Alisku menyatu heran. Jangan bilang? Mungkin Anjani bisa melihat Suri dan gengnya? "Kamu bisa lihat hantu?" tanyaku dengan ragu kemudian. Ia masih menatapku santai. Alisnya naik turun dengan senyum yang menghiasi bibir. "Sama kayak kamu." Anjani mengangguk padaku. "Apa kabar teman sekamarmu?" tanyanya kemudian. Masih setengah tak percaya. Aku menatapnya dengan speechless. Bahkan Anjani mengenal Suri? Tapi, Suri tak bercerita sedikitpun padaku soal Anjani. "Wah, gila!" kataku, "kenapa nggak pernah bilang kalau kamu bisa lihat hal-hal kayak gitu?" ucapku padanya. Ia mendengus pendek. Diteguk lagi minuman dalam kalengnya, "Kamu pernah tanya?" "Nggak usah ditanya, bisa kan langsung cerita?" ucapku. Kulihat ia meneguk minumannya, lantas tertawa kecil tanpa menatapku. "Tar, duniamu udah gelap. Mana mungkin aku tega bikin semuanya makin parah sama hal sepele kayak gini." Aku terdiam. Menatapnya dengan kagum juga sedikit kekecewaan. Anjani, gadis ini hampir sepenuhnya mengetahui seperti apa kehidupanku sedangkan aku, tak sedikitpun kutau sesuatu tentang Anjani selain kebiasaan merokoknya yang luar biasa. Selalu seperti ini pula, kepedulian Anjani tak pernah berubah. Ia menaikan sebelah alisnya, untuk meyakinkanku bahwa apa yang baru saja kuketahui. Bukan hal besar. "Si kampret Suri itu. Sayang cuma dia yang bisa kamu lihat, 'kan?" Aku mengangguk, mengalihkan pandangan ke jalanan yang riuh. "Nggak apa, seenggaknya di kamar yang pengap itu. Aku nggak sendirian," ucapku jujur. "Berarti kalian sering ketemu selama ini?" tanyaku. "Sering, walau nggak tiap hari." Aku masih speechless. Kuteguk minuman kaleng di tangan dengan rakus. Keheningan menerpa kami berdua cukup lama. Aku tenggelam dalam pikiran di mana luka masa silam itu masih terasa nyata, juga tawaran soal Abi. "Soal Abi, tau dari mana kamu?" Kaleng yang masih berisi setengah itu kuletakkan pada kursi kosong di sebelahku. Masih menunggu jawaban Anjani, ia sedang sibuk menyulut sebatang rokok yang baru. Lalu menawarkannya padaku. Kutarik sebatang membiarkan Anjani membakar ujung tembakau yang terapit oleh kedua jariku. Bersamaan kami mengepulkan asap berracun tersebut sampai membumbung terbang menjauh. Ia tertawa, kemudian merembet padaku yang ikut tertawa kecil. Aku tak tau sekelam apa kisah Anjani sampai ia menjadi seorang perokok berat. Tapi, satu hal yang membuat kami terlihat sama. Kami, sama-sama berusaha menikmati hidup yang penuh luka. Lewat tembakau ini, kami sedang berusaha meredakan rasa sakit yang merajam tanpa jeda. "Abimanyun itu, emang udah dari dulu 'kan, suka sama kamu? Kamu, aja Tar yang nggak sadar." ia menjawab pertanyaanku setelah sekian lama diam. "Kamu tau?" "Oh, Come on Tari. Semua orang juga pasti tau, kalau itu bocah punya perasaan ke kamu. Buat apa dia gangguin kamu terus kalau nggak ada alasan lain? Nggak guna. Yang ada buang-buang waktu, buang-buang energi." Aku menatap Anjani tak percaya. Jadi, selama ini memang aku yang kurang peka dengan perasaan Abi? Tapi, menurutku dia memang seperti itu kan, pada semua wanita? Maksudku, dia selalu baik pada semua gadis di kampus. Bisa saja Abi hanya menganggap aku salah satu dari mereka. Aku tak ingin terlalu berlebihan menanggapi hal itu. Meski perasaanku juga tak bisa ditipu. "Ya, emang dia palyer, sih, aku tau. Cewek mana yang belum dia godain. Tapi, sebrengsek apapun. Cowok itu tetep butuh satu orang buat ngisi hatinya, Tar." Anjani menatapku lagi. "Sesekali kamu harus menerima uluran tangan dia. Kita nggak pernah tau peluang mana yang akan bawa kita keluar dari labirin ini." Aku menatap Anjani cukup lama. Sebenarnya tak ada yang salah dari ucapan gadis ini. Ia yang terdiam setelah mengucapkan kalimat panjang lebar itu memalingkan wajah dariku. Kemudian Anjani tertawa kencang. "Bangsatt, ih! Ngomomg apaan aku barusan, jijik anjir!" umpatnya masih diselingi tawa. Sehingga tak pelak sukses membuatku ikut terkekeh kencang. Aku pun sama, membahas hal-hal semacam ini membuat hati kami tergelitik. Bahasan cinta terlalu menggelitik, sedangkan luka sudah khatam kupelajari. "Aku juga ngeri dengernya, njir!" sambungku menimpali. Sedetik kemudian tawa Anjani mereda. Ia menatapku secara intens. Berhenti pada lengan yang tertutup kemeja panjang. "Aku mungkin salah, di depan sana ada kegelapan yang lebih menakutkan dari semua ini. Tapi, sebelum itu datang, masih ada cahaya yang akan mendatangkan kerub buat melindungi sang bidadari. Lewat sayapnya yang besar, meski rapuh. Kamu pasti dilindungi, Tar. Ambil kesempatan itu," ucap Anjani menatapku langsung pada manik mata. "Jangan mengharapkan kematian yang belum dipertemukan oleh takdirnya." ~ u t a r i ~ Seperti sebuah kejutan, mataku terbuka lebar. Napas tersengal dengan penuh tanya atas semua yang kulihat barusan. "Mimpi lagi?" bisikku pelan. *B E R S A M B U N G
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD