"Sebanyak apa aku berlari, sebanyak itu pula aku sering kembali. Di tempat yang sama. Di waktu yang sama. Dinamai dengan, petilasan rasa sakit yang sesungguhnya."
*A B I M A N Y U*
Bekas pukulan semalam masih membiru. Keringat dingin membasahi tubuh. Dalam ruangan kecil yang gelap dan pengap tangisku pecah sejadi-jadinya. Namun, terlalu lemah untuk sekedar bersuara. Jemari mungilku bahkan sudah tak kuasa untuk mengetuk pintu kayu jati yang dikunci dari luar. Seluruh tubuhku penuh luka lebam, namun tak satu pun orang datang untuk menyelamatkan. Seseorang, siapapun itu, aku harap kalian datang untuk menyelamatkanku.
Tapi, lagi-lagi suara sebilah bambu yang diseret di lantai membuatku gemetar ketakutan. Seseorang datang, namun bukan untuk menyelamatkan. Melainkan kembali merajam tubuh ringkih ini dengan sekuat tenaganya. Aku dikeluarkan secara paksa dari lemari kayu jati berukuran kecil. Kaos biru bergambar robot itu sudah banyak terkena tetesan darah. Tapi, ajaibnya aku masih juga belum kalah.
Di atas lantai keramik putih yang dingin aku meringkuk. Mencoba melindungi tubuh dengan tangan kosong dari hantaman bambu yang terasa perih di atas kulit. Aku menjerit, tapi tak satu pun orang datang menolong. Ceceran darahku membuat lantai putih itu menjadi merah, tak sepolos pada mulanya.
"Di mana buku tabungannya?"
"Abi nggak tau, Om," ucapku lirih, hampir tak bersuara.
"Bocah sialan!" umpatnya.
Ia kembali menyerang. Sedangkan aku hanya bisa mengeliat menahan sakit yang sudah semakin menjadi. Tangisanku semakin pelan, tak bersuara yang ramai hanya memenuhi telingaku sendiri. Wajah lelaki sialan itu juga semakin nyata tertawa di depanku. Waktu serasa melambat, semuanya gelap, tubuhku sudah sedingin lantai keramik.
Rasa sakit sudah hilang digantikan gigil kedinginan. Lalu semuanya lenyap digantikan gelap gulita.
*A B I M A N Y U*
"Jancok!"
Kuremas rambut yang acak-acakan karena bangun tidur. Buru-buru kutandaskan segelas air yang ada di atas nakas. Aku duduk di pinggiran kasur, menatap hari yang masih gelap, bahkan bulan masih tampak menggantung di atas langit. Kulirik jam di atas nakas masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Aku menghela napas kasar lalu beranjak dari kasur sambil menenteng gelas kosong di tangan. Setelah sekian lama, kenapa mimpi sialan itu harus datang lagi hari ini?
Padahal siang tadi, aku cukup senang bertemu dan bercengkrama cukup lama bersama Tari. Harusnya, gadis itu yang mengisi mimpi malam gelapku.
Sialan memang!
Begitu sampai di dapur kubuka kulkas untuk mengambil segelas air. Namun, betapa terkejutnya aku saat pintu kulkas tertutup rapat. Seseorang berdiri di sana tersenyum menyebalkan bersandar pada dinding. Ia menggigiti apel dengan santai di pagi buta seperti ini denga tatapan yang tak kusukai.
"Abis mimpi hot ya, Bi? Sampai keringetan begitu," ucapnya mendekatiku yang sudah duduk di salah satu kursi makan.
Aku masih sibuk meneguk air. Kemudian ia duduk di sampingku. "Mau cerita nggak?"
Kuhela napas pendek kemudian kutatap balik lelaki paruh baya yang amat sangat kuhormati ini.
"Papan ngapain, sih jam segini makan apel? Tidur sana, loh," ucapku malas.
"Mamamu ngorok parah, Papan nggak bisa tidur. Terus ke bawah buat nonton bola." Digigit lagi apel merah yang masih separuh itu.
Aku menggeleng. Kedua orang tuaku memang luar biasa anehnya. Jika kebanyakan lelaki yang berisik saat tidur, ini justru Mamam yang paling berisik.
"Papan tidur di kamarmu ya, Bi? Ayo naik lagi, bobo bareng Papan, Nak."
Tangan Papan menggenggam tanganku yang berada di atas meja. Sebelah tanganku yang masih bebas menggaruk kepala dengan gemas. Kutatap Papan dengan pandangan tak percaya.
"Nggak mau!" balasku kesal.
Sungguh, biasanya kuladeni sikap Papan yang ajaib ini. Tapi, gara-gara mimpi barusan aku benar-benar sedang malas untuk berurusan dengan Papan. Ya, nilai saja aku sebagai anak durhaka untuk saat ini.
"Ck, terus Papan tidur sendiri di bawah? Tega kamu sama Papan?"
"Ya, biasanya juga gitu, 'kan?" aku beranjak dari kursi. "Udah sana, Papan nonton bola aja. Aku mau tidur lagi."
Papan ikut berdiri mengekoriku sambil mengunyah apel. "Abi yang dulu nggak mati, tapi udah tumbuh jadi anak kuat yang kurang ajar sama Papan. Nggak ada lagi rasa takut, Bi."
Langkahku berhenti pada anak tangga ke tiga. Aku menoleh sebentar lalu menatap Papan dengan tanya yang membengkak. Kenapa orang tua ini selalu tau apa yang sedang menggagguku? Sepertinya aku memang terlalu mudah dibaca. Papan sendiri memang orang tua paling ajaib. Kadang tingkahnya jauh lebih menjengkelkan dari pada aku. Dan hal itu yang membuat Mamam selalu mengadakan konser setiap hari sehingga rumah ini tak pernah sepi. But, i love it!
Di samping itu, Papan juga orang paling pengertian saat aku sedang membutuhkan. Papan merangkul bahuku akrab sambil menepuk-nepuknya dengan hangat. Tak lagi seperti rival sebelumnya.
"Sama-sama, Bi. Sebagai gantinya, Papan tidur di kamarmu, ya."
"Thanks for everything, But Nope, Pa."
Lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan sepertiku itu kemudian menggigit apel di tangannya dengan kuat. Lantas mengapit leherku dengan tangannya sambil menyeret kembali menuruni anak tangga.
"Nggak ada pilihan lain, temenin Papan nonton bola!"
*A B I M A N Y U*
Hatiku Selembar Daun
Hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput;
Nanti dulu,
biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput;
Sesaat adalah abadi
sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
Sapardi.
Aku menutup buku antologi puisi milik Sapardi yang kurang ajar. Kurang ajar sekali karena semua puisi beliau sukses membuat aku ingin terus membacanya. Namun, kuhentikan sejenak mengingat tujuanku kemari bukanlah untuk membaca buku semata.
Setiap manusia adalah pemeran utama dalam lakon kehidupannya masing-masing. Bahkan, mereka yang merasa hidupnya tak penting sekali pun. Sejatinya mereka adalah orang-orang yang berperan paling penting dalam kisah yang sudah digariskan oleh sang kuasa. Seperti kisah fenomenal di tanah jawa. Tentang cinta segitiga antara prabu Ramayana, Dewi Sinta, dan raksasa bernama Rahwana.
Semuanya sudah tertata apik, sudah dituliskan secara rapi ketik ruh telah dimasukkan pada segumpal darah dalam perut mama. Kisah heroik Hanoman yang terkenal mampu mengalahkan Rahwana. Membuat Rahwana selalu mendapat cap sebagai penjahat. Karena telah berani menculik Dewi Sinta, permaisuri Ramayana. Padahal lewat sudut pandangku, justru Rama lah lelaki b******k yang kemudian mencampakan Sinta.
Akan kulanjutkan kisah mereka dicerita selanjutnya. Karena saat ini aku sedang sibuk mengamati seseorang yang mengantarkan kopi pada pelanggan. Rambut sepundaknya dibiarkan tergerai menutupi sebagian wajah seperti biasa. Menutupi memar di leher. Kemeja panjang yang kebesaran selalu ia kenakan untuk menutupi luka-luka di tubuhnya. Gadis itu terlalu cantik di mataku, terlalu antik untuk berada di keramaian sehingga aku terlalu takut jika sewaktu-waktu Tari tergores oleh tangan orang biadab.
Utari, entah kenapa aku merasa kami telah ditakdirkan untuk bertemu. Bahkan menjadi sepasang suami istri. Sama seperti dalam kisah pewayangan yang sering k****a. Ia bagai magnet yang membuatku selalu fokus kepadanya di setiap saat. Gadis itu masih saja sibuk dengan pelanggan lain meski tau aku duduk di sini untuk menantinya datang menghampiri. Ia tak pernah mempercayaiku, bahkan perasaan yang terlanjur dalam menyelami keindahannya. Benar saja kalau jatuh cinta memang sanggup membuat manusia menjadi goblokk dalam sesaat.
Aku contohnya.
Tengah hari masih mendung, kini kulihat ia menghampiri meja sambil membawa nampan berisi pesananku. Akhirnya dia datang. Meski wajahnya tak seramah pada pelanggan lain, yang justru membuatku tertarik untuk menggodanya.
"Senyum kek. Aku juga pelanggan di sini."
Ia meletakkan dua cangkir espresso lalu berbalik tanpa sepatah kata lagi.
"Tar, duduk dulu," ucapku menarik lengannya. Lebih tepatnya, lengan kemeja. Karena aku paham gadis ini tak menyukai kontak fisik, dan lagi ada terlalu banyak luka yang dapat membuatnya kembali merasa perih saat tersentuh tanpa sengaja.
Ia menoleh memelototiku dengan kejam. "Apa sih? Bisa mampus kalau ketahuan bosku, Bi. Lepasin nggak?" bibirnya berkomat-kamit. Ia bahkan sudah menghempaskan lenganku dari genggamannya.
"Duduk dulu makannya," bujukku lembut. Kini kutarik pelan ujung kemeja flanel kotak-kotak hitam yang ia kenakan.
Namun, bukan Utari namanya jika tak keras kepala. Ia masih berusaha pergi meski aku menahannya. "Justru kalau kamu pergi, gajimu bakalan dipotong sama bos. Aku udah booking kamu buat minum kopi di sini."
Akhirnya dia mengalah juga. Sepasang mata cantiknya berputar kesal. Ia memalingkan pandangan keluar jendela malas menatapku yang duduk di depannya.
"Kurang kerjaan banget, ya hidup kamu?" ucap Utari. "Tadi, kamu bilang apa? Booking? Kamu pikir aku ini apa, kampret!"
Kusesap perlahan kopi hitam yang masih mengepulkan asap di atas meja sambil menyembunyikan senyum geli. Kemudian kusuguhkan senyum padanya, untuk mengimbangi pahitnya kopi yang kupesan. Umpatan dari Utari sudah seperti nyanyian merdu buatku. Sedangkan wajahnya saat marah ibarat madu. Jadi sehari tanpa ocehan darinya, hidupku terasa hambar.
"Diminum gih."
"Oke, setelah ini kamu pergi dari sini," ucapnya.
Aku menopang dagu dengan kedua tangan. Sambil mendengarkan sebuah lagu dari band indie yang mengalun se-antero kafe, Utari menyesap kopinya perlahan. Lagu bergenre keroncong pop itu seolah membuat suasana melambat, membuatku ingin menghentikan waktu detik itu juga. Sebab ada sesosok bidadari yang patah sayap sedang ngopi bersamaku.
"Tau kenapa kupesan dua espresso?"
Ia melirikku sejenak. Lantas meletakkan mug putih yang sedari tadi ia pegang.
"Nggak tau dan nggak mau tau." kepalanya menggeleng pelan.
"Nggak bisa, ya, Tar. Sekali aja kasih kesempatan buat aku deket sama kamu? Aku nggak main-main sama ucapanku."
Gadis itu diam, kutarik tangannya dalam genggamanku. Kusibak sedikit lengan kemejanya, hingga nampak sedikit luka-luka yang masih belum mengering itu. Sebagian sengaja ditutup dengan plester luka. Dan hal itu, sukses membuat ia berontak, mencoba menarik paksa lengannya dariku.
"Karena ini, nggak bisa kamu sembuhin sendirian."
"Kamu itu emang b******k, ya? Lepasin nggak?"
"Nggak akan pernah!" jawabku cepat.
Matanya memang senantiasa menentangku. Namun, kali ini pandangannya semakin tajam menantang.
"Selayaknya kesatria yang ingin memenangkan peperangan
Namaku dan namamu bukan satu kebetulan
Takdir itu nyata, pertemuan kita memang sudah digariskan
Untuk saling mengenal, untuk saling menjaga
Utari, jadilah kekasihku
Pada kisah Mahabarata
Juga dalam kehidupan yang sesungguhnya"
Ia terkekeh pelan. Mengalah untuk melepaskan kontak mata dariku. Kutatapi dia dengan alis terangkat ke atas. Namun, masih mempertahankan lengannya dalam genggamanku.
Sudah kubilang bahwa tak akan pernah kulepaskan gadis ini begitu saja. Sebab dari matanya, aku melihat masa laluku ada pada dirinya. Kehidupanku yang menyedihkan dalam diri Tari yang berada di depanku saat ini. Dan aku, tak akan pernah membiarkan gadis ini menderita terlalu lama lagi.
"Bullshit!"
"Kok?" Kedua alisku menyatu tak mengerti.
"Jangan ketawa. Aku percaya nama kita ini bukan kebetulan. Kisah Abimanyu dan Utari dalam pewayangan. Kisah nyata kita di dunia ini. Makannya, kupesan dua kopi pahit biar kamu tahu. Kalau aku sedang berusaha mencicipi pahitnya hidupmu, Utari," ucapku membuatnya diam tak berkutik.
-B e r s a m b u n g!
Terima kasih sudah membaca kisah Abi dan Utari ❤️
Btw, Papan & Mamam ini emang sengaja buat sebutan orang tuanya Abi, yak.
Woiya, Btw lagi ... cerita ini pakai sudut pandang 2 orang ya. Selang-seling antara Abi sama Tari, cara bedainnya udah saya kasih tanda pas pergantian scan, ada nama mereka.
Semoga nggak membagongkan T_T