03. Lelaki Misterius

2241 Words
Happy reading! *U T A R I* "Takdir tak pernah salah berkisah Hanya manusia yang kerap berkilah Nasib tak pernah keliru saat bercerita Hanya namamu yang terus kusebut dalam sajak cinta Sepenggal rindu tak lagi bermutu Kini yang terbayang selalu tentang rona wajah ayumu Bidadari, kusaksikan rembulan muncul pada sepasang mata sendumu Terlahir rasa yang membuatku mendadak bisu Luka-luka masih biru Tak seperti aku, ibarat bayangan semu Rasa sakit masih muncul Tak seperti kasihku yang senantiasa timbul Kau, dan segala yang ada dalam tubuhmu Jadilah milikku untuk selamanya" Aku terkekeh pelan membaca setiap baris tulisan dalam selembar kertas. Anganku melayang pada sosok menyebalkan yang kerap hadir mengganggu. Namun, tak kupungkiri, meski Abimanyu kelewat b******k. Ia benar-benar handal saat menciptakan puisi. Sajak-sajaknya terasa hidup, saat k****a seolah ada nyawa yang diselipkan di antara renteten kata. Kuembuskan napas dari bibir bersamaan dengan keluarnya asap beraroma stroberi yang membumbung mengikuti arah perginya angin. Mataku masih menatap lurus ke depan, di mana jalanan begitu ramai padat oleh kendaraan. Di bawah sana begitu berisik, aku yang sendirian di atas sini menciptakan sunyi yang sepi. Di sebuah atap gedung yang belum terselesaikan pembangunannya. Menatap matahari sore yang kian meredup. Harusnya aku sudah berada di kamar sore ini sepulang kuliah, tapi entah kenapa kakiku malah melangkah kemari tanpa tujuan pasti. Atau ... aku memang ingin menyembunyikan diri. Untuk sesaat? Sekali lagi asap beraroma manis itu melayang seperti anganku yang terbang pada percakapan singkat bersama Abimanyu dalam perpustakaan siang tadi. Saat ia dengan paksa menyandera tas milikku untuk memancingku menghampirinya. "Kalau satu sampai sepuluh, kamu mau kasih aku nilai berapa, Tar?" Abi menopang dagunya tepat di depanku. Kini hanya wajahnya yang menjadi satu-satunya objek pandanganku. Mengaburkan semua rak-rak buku berwarna cokelat tua yang sinkron dengan seluruh isi ruangan ini sehingga terasa nyaman. Kini, justru Abi yang menyita semua fokusku kepadanya. "Dalam hal apa?" tanyaku tak mengerti. Ia tersenyum seperti biasa. Manis, dan aku tak mau terlena seperti para gadis lainnya. "Perasaanku ke kamu." Ucapan Abi terdengar serius kali ini. Mendengar ocehannya it aku terdiam sejenak. Bukan Abimanyu, jika tidak melontarkan gombalan pada setiap perempuan yang ditemuinya. Hampir semua para junior pernah menjadi korban gombalannya yang kelewat basi. Lantas, bagaimana caranya aku bisa memercayai ucapan itu dengan sungguhan? Ada begitu banyak sosok Shinta bagi Abimanyu. Mataku berputar malas, kutonyor jidatnya pelan dengan pena dalam genggaman. "Ngayal, ya? Kamu pikir aku ini bego? Sampai kapan pun, aku nggak akan kemakan sama omongan kamu, Bi." "Kamu pikir aku lagi main-main?" tanyanya kemudian. Ia menurunkan tangannya menjadi bertumpu di atas meja. Tubuhnya sedikit condong ke depan melihat aku yang menanggapi ucapannya barusan dengan mengendikkan bahu acuh. "Kamu mau bukti yang kayak gimana, Tar? Bilang, gimana caranya supaya kamu percaya kalau aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Atau perlu kita langsung nikah aja?" ia memiringkan kepalanya. Matanya berkedip beberapa kali membuatku melemparinya dengan pandangan jijik. "Kalau kita nikah, besok aku yang mati," balasku tertawa pendek. "Sebelum kamu mati, aku yang akan matiin orang itu buat kamu, Tar," ujar Abi cepat. Kulihat keseriusan di wajah Abi. Pada sepasang mata sehitam arang jelaga itu kutemukan kesungguhan yang tak pernah kulihat sebelumnya di mana pun. "Siapa orangnya?" Kembali lelaki itu mencecarku dengan tanya. Tak bisa kupungkiri, si b******k satu ini mampu membuatku terlena dalam sedetik yang terasa panjang. Setiap kata dan ucapannya membuatku tergiur untuk melemparkan diri pada sosok Abi. Bersembunyi dari duniaku yang gelap, dan berlari bersamanya. Pernah pikiran sekuat itu melintas dalam benak. Namun, realita memukul telak pada dasar luka-luka. Hidupku sudah terlanjur fana untuk dilindungi. Semuanya sudah terlalu hancur untuk ditata dengan rapi. Aku ibarat puing-puing reruntuhan yang tak terselamatkan dari kobaran api. Sedangkan ia adalah air yang begitu bening nan suci, sangat tak pantas bagiku untuk bersama dengan Abi. Lagipula, para lelaki bajingggan itu juga telah merenggut semua yang kupunya. "Mungkin kamu selalu ragu sama aku, Tar. Tapi, semua keraguan yang kamu simpan itu nggak akan bikin aku mundur gitu aja," kata Abi, "aku akan memperjuangkan kamu sampai akhir, sekalipun aku harus mati nanti." Dadaku berdesir nyeri. Batinku menolak untuk pergi dari lelaki ini, tapi ... aku tak pantas bersanding dengan Abi. Hidupku terlalu kotor untuk dimasuki orang lain, dan aku tak ingin membiarkan jalan yang menjijikkan ini dipijak oleh mereka. "Sejauh apa pun kamu pergi. Kamu nggak akan pernah bisa lari dariku, Utari." Suara berat itu berputar jelas dan nyata dalam telinga. Sehingga bayangan tentang kebersamaanku dengan Abi lenyap seketika digantikan asap putih dari rokok elektrik yang barusan kuisap kuat-kuat. Orang-orang b******k itu, yang kuyakin tidak akan diam melihatku pergi untuk melepaskan diri. Sekuat apapun aku mencoba, rasanya hanya asa yang kudapat. Bahkan lelaki yang meng-klaim dirinya sebagai ayahku, ia dengan senang hati memberikan tubuhku pada orang asing untuk sejumlah uang. Aku mengulum bibir, tertunduk mengaburkan semua kejadian menjijikkan tersebut. Sekali lagi kuisap e-cigarette untuk menenangkan diri. Bahkan bersama Abi, bagaimana caranya aku melepaskan diri tanpa melukai lelaki itu? Mungkin Anjani benar bahwa aku harus lari saat memiliki kesempatan nanti. Tapi, bagaimana caranya? "Berengsek!" desahkuu pelan saat ingatan itu tak juga enyah dari pikiran. Kumatikan rokok elektrik dalam apitan jari kemudian bangkit untuk pergi. Hari semakin sore, senja sudah hampir menyapa. Satu jam sudah aku membuang waktu di sini untuk mendapat hukuman saat kembali ke apartemen busuk itu. Atau lebih tepat disebut sebagai neraka. Di mana dunia gelapku dimulai saat aku masuk ke sana. Karena seseorang yang membuatku ada di dunia ini, namun tak sepenuhnya menginginkan keberadaanku. Kulangkahkan kaki menuruni satu persatu anak tangga yang tadinya telah mengantarkanku naik ke atap gedung ini. Dan kini, anak-anak tangga itu pula yang mengantarkanku untuk turun. Pulang menemui malam dan dunia yang sebentar lagi mengelam. Namun, di sana pula seseorang berpakaian serba hitam telah berdiri menghadang di tengah anak tangga. Wajahnya tertutup sebagian topi, sehingga tak dapat kulihat siapa dia. "Are you lost baby girl?" Bangsaaat, siapa pula lelaki beraroma mint yang berani menghalangi jalannya ini? *U t a r i* Riuh suara tawa itu selalu mengganggu. Aroma alkohol yang bercampur dengan tembakau yang dibakar membuatku muak untuk berada di sini. Namun, pergi dari sini pun sama saja mengumpankan diri untuk dihabisi. Lebih baik jika rasa sakit segera mengantarkanku pada kematian, namun kadang aku pun jengah dengan luka-luka yang tak sempat untuk mengering. Kusingkap tirai putih sehingga menampilkan dinding kaca yang membuatku dapat melihat kerlip lampu kota. Di luar sana riuh, mungkin penuh kebahagiaan. Sedangkan di dalam sini, aku ibarat burung yang sudah sekarat, tetapi dipaksa untuk hidup menghirup asap mematikan. Bayangan putih melesat tepat di belakang, aku menoleh sekilas lalu tersenyum samar. Suri melayang di sana, tempat paling gelap di pojok kamar. Tampang seramnya digantikan dengan wajah pucat yang dihiasi senyum manis. Aku merasa ia menatap punggungku seperti biasa. Dia adalah salah satu alasanku bertahan untuk tidak bunuh diri. Sudah cukup aku menderita dalam hidupku, setelah kematian nanti aku hanya ingin tenang tanpa melayang-layang seperti Suri yang masih merindukan raganya yang telah mati. Kuberi nama Suri, sebab ia lupa siapa namanya semasa hidup. Kujadikan Suri sebagai pengganti Ibuku yang telah mati. Karena itu kunamai ia Suri. "Sepertinya, orang yang menginginkan kamu ada di bawah sana." Spontan aku menoleh menatapnya. Tanpa sadar bagian kakiku melangkah semakin dekat, menghampiri Suri yang masih menyuguhkan senyumnya untukku. Orang yang menginginkanku untuk menderita ada di sini? "Yakin?" tanyaku antusias. "He'em. Nggak mungkin 'kan, tukang mabuk itu berpakaian jas mahal? Lagian kulihat tadi ada mobil bagus di bawah sana, pasti nggak salah lagi kalau itu mobil orang yang menginginkan kamu." Ia bercerita panjang. Tubuhnya melayang lagi, hinggap di atas lemari kayu berwarna cokelat. Sedangkan aku duduk di lantai bersandar pada dinding kaca tempatku melihat kerlip kota barusan. Kamar ini tak pernah memiliki lampu, dan tak pernah memiliki tempat pergantian udara selain pintu utama. Berada di lantai dua belas apartemen bobrok yang kutinggali. Untuk kabur dari sini selain melewati para pemabuk di bawah sana sudah pasti gagal. Dan aku akan berakhir dengan puluhan luka baru dari lelaki tua sialan itu. Satu-satunya jalan adalah melompat keluar lewat jendela kaca. Sesampainya di bawah, aku pun akan menjadi arwah gentayangan seperti Suri. Kugelengkan kepala untuk mengusir hal mengerikan tersebut. "Jangan di pikirin terus, Tar. Kurasa nggak lama lagi kamu pasti bisa bebas. Lagian ada orang yang sangat menginginkan kamu di bawah sana. Udah pasti, ayahmu nggak akan menghukummu lagi." Suri berbisik tepat di telingaku. "Ayah?" tanyaku tertawa kecil. "Dari pada harus mengakui dia Ayahku. Mendingan aku mati sekarang juga, Sur." "Sebenci dan sebejat apa pun dia tetap Ayahmu. Perantara dari Tuhan, untuk kamu datang ke dunia ini," balas Suri "Lagi pula, sebenernya kamu itu masih takut untuk bener-bener mati. Jadi, jangan sok berani. Kamu masih muda, siapa yang tau hidupmu besok lebih baik lagi? Rahasia Tuhan nggak pernah terbaca, Tar. Sayang, aku baru sadar setelah jadi arwah gentayangan." Hawa dingin darinya tak pernah membuatku merasa sedingin kulitnya. Ia tersenyum lebar, hampir kutampar saat aku menoleh wajahnya sudah kembali seram. Wajah putih pucat dengan lelehan darah dari ujung kepala sampai bawah dagu, bibirnya benar-benar melebar hampir menyentuh telinga. "Sialan!" umpatku diikuti tawanya yang menyeramkan. Hanya itu satu-satunya cara Suri menghiburku di saat seperti ini. Menampakkan wujud aslinya yang cukup menyeramkan saat pertama kali kulihat. "Dari pada muncul dengan wajah begitu di depanku, mending kamu muncul di bawah sana. Biar mereka semua lari terus aku bisa pergi." Suri melayang lagi seperti bulu angsa yang di tiup angin. Membuat mataku selalu mengekor ke mana pun ia terbang. Kemudian ia duduk kembali di atas lemari sambil menopang dagu. Kakinya yang ringan berayun pelan membuat gaun putih polos yang ia kenakan ikut bergoyang. "Kalau bisa udah dari dulu. Sayangnya, cuma kamu yang bisa ngelihat aku. Mungkin karena aku mati di kamar ini," ucapnya seolah sedang berpikir. Aku menghela napas pendek, kutekan kepala yang pening. Lalu kupandangi luka yang ada di lenganku. Kemarin lelaki tua itu memukulku dengan ikat pinggangnya karena hampir saja aku kabur saat seorang pria menginginkan tubuhku. b******k satu itu ingin menjualku untuk membayar hutang. Aku tak keberatan asalkan terbebas darinya. Dan lelaki sialan yang tak bisa kulihat wajahnya sore tadi, entah kenapa ia memaksaku masuk kembali ke apartemen padahal tanpa diminta aku juga akan pulang. Kalian tau, aku paling benci diperintah. Mendadak pintu kamar terbuka dengan kasar. Sosok tinggi berpakaian hitam berdiri di sana bersamaan dengan hilangnya Suri seperti kabut asap. Kusipitkan mata berusaha melihat siapa yang datang. Masih nihil, yang kulihat hanya seperti bayang-bayang. Kudengar derap sepatu yang melangkah mendekat. Spontan aku berdiri dengan tubuh yang menempel pada jendela kaca. Hanya dalam hitungan satu detik, aku meringis merasakan ia menarik tanganku dengan kasar. Lantas menutup tirai kamar hingga cahaya bulan pun lenyap dari kamar ini. Satu-satunya cahaya itu benar-benar hilang dan tentu saja membuatku tak bisa melihat siapa lelaki yang lanang masuk ke dalam kurunganku ini? Dadaku bergemuruh kencang, antara takut juga penasaran. Lelaki yang kali ini masuk, akankah dia menyelamatkanku dari neraka ini. Atau justru ia yang akan membuat dunia gelap ini semakin kelam? Akan tetapi, aroma mint menyerukan hidungku saat tiba-tiba ia menarik lenganku dengan sentakan keras. Sehingga dapat kurasakan tubuhku berada di pelukannya saat ini. Benar-benar tak bisa kulihat siapa yang kini sedang berdiri di hadapanku, tapi bisa kupastikan bahwa aroma ini sangat mirip dengan lelaki di tangga sore tadi. Dengan jarak sedekat ini yang kurasakan hanya deru napasnya begitu dekat dengan telingaku. Aku bahkan dapat mendengar suara degup jantungnya dengan tenang. "Bertahanlah di sini. Aku jamin, tua bangka itu, nggak akan berani menyentuhmu lagi." Benar! Suara ini, aku mengenalnya, suara berat itu kembali terdengar memperingati. "Satu lagi, jangan pernah mencoba kabur atau kamu tak akan pernah melihat dunia lagi." Ia selalu datang dalam kegelapan. Tak pernah kulihat rupanya seperti apa, namun rasa penasaranku terlalu tinggi sehingga aku mencoba bergerak untuk melepaskan diri dan menyibai tirai secepat mungkin. Sialnya, lelaki itu semakin mendekapku dengan erat, sehingga beberapa luka yang masih memburu di sekitar tubuh terasa begitu ngilu. "Siapa kamu?" "Kamu nggak perlu tahu, Tari. Yang terpenting sekarang, akan kubuat hidupmu lebih baik dari sebelumnya." "Berengsek! Lepasin aku," ucapku hampir saja berteriak. Mulanya kurasakan tangannya yang dingin menyentuh pipiku dengan lembut. Sebelum kemudian ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya erat. Napasnya semakin memburu, bisa kudengar dengan jelas hal itu, dan jantungku semakin tak terkendali. Sesak sampai membuatku kesulitan untuk bernapas. "Jangan kurang ajar!" tegasnya dengan nada yang tajam meski suaranya pelan. "Kamu nggak punya hak untuk bertanya apalagi membentakku. Karena hidupmu, sepenuhnya milikku, Utari." Dadaku berdegup kencang, sampai sesak itu sepenuhnya membuatku tak bisa bernapas lagi. Tubuhku gemetar ketakutan, dan lelaki itu melepaskan diriku setelah menyelesaikan kalimatnya barusan. Kudengar pintu tertutup lagi. Lelaki itu sudah pasti pergi hanya dalam hitungan detik. Dan detik berikutnya dapat kudengar pintu kembali tertutup, bersamaan dengan tubuhku yang gemetar meluruh ke lantai dengan napas yang masih tersengal-sengal. Hal seperti ini biasa terjadi saat aku merasa terancam dan ketakutan total, seperti masa lalu itu ingin membunuhku pelan-pelan dengan cara paling menyakitkan. "Mungkin, ini adalah akhirnya." Batinku masih menatap ruangan gelap, atau memang mataku yang telah terpejam. Suasana gelap ruangan ini, mendadak terang saat sebuah angin sukses menyibak tirai jendela membuat cahaya bulan kembali menyambut pandanganku yang samar. Saat itu juga kurasakan tangan yang dingin menepuki kedua pipiku dengan pelan. "Tari, bangun. Dengarkan suaraku, kamu harus bernapas, Tari." Suara Suri. Aku mengenalinya, karena hanya dia satu-satunya yang akan membangunkanku dari tidur dan keadaan yang tak sepenuhnya terlelap. Tapi, entah kenapa ... hari ini terasa begitu melelahkan. Pandanganku semakin gelap sampai kemudian aku tak tau lagi apa yang terjadi di kamar ini. "Maaf Suri, malam ini aku nggak bisa mengikuti suaramu." B e r s a m b u n g
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD