Luke sudah bersiap dengan baju tidak resminya. Ia dan Henry memang berniat untuk menyamar selama perjalanan mereka ini. Awalnya Luke kesulitan untuk memulai akan kemana dulu ia, lalu Ibunya mengirimkan pesan untuk menemui mantan ajudan Ayahnya dulu yang juga ajudan Kakeknya sebelum diganti oleh Wellington. Dan setelahnya ia menemukan catatan Ayahnya mengenai mantan ajudannya juga tangan kanan Kakeknya.
“Yang Mulia, kuda sudah siap di sisi barat” ucap Henry yang baru saja masuk untuk menjemput Luke
“Baiklah, mari pergi” ucap Luke melangkah keluar
Melihat suasana sekitar yang memang masih sepi dan matahari belum terbit. Hawa dingin juga masih terasa menusuk kulit
“Pastikan tidak ada yang mengikuti kita” ujar Luke sebelum melangkah keluar dari kamarnya
“Baik Yang Mulia”
Mereka berjalan menuju pintu sebelah barat. Beberapa penjaga terlihat tengah berjaga, namun percayalah bahwa sebenarnya mereka tengah tertidur sambil berdiri.
Bukan rahasia lagi jika penjaga yang mendapatkan tugas malam akan tertidur sambil berdiri. Namun, tak sedikit yang tetap berjaga seperti biasanya
Suasana sekitar masih sunyi senyap hanya gemerisik dedaunan yang terdengar diikuti hembusan angina lembut
“Henry, kita jalan terpisah” bisik Luke ketika mendekati sebuah pohon besar, dibalas anggukan dan gerakan kaki Henry yang melangkah ke arah berlawanan
Setelah melewati penjaga yang tidak sadar karena memang masih tidur, Luke berjalan mengendap dan pelan. Langkahnya tidak terasa sudah sampai melewati gerbang dan berjalan cepat menuju kuda yang diikat Henry di dekat sungai dekat jembatan
Dari arah kanan, Luke melihat Henry yang tengah berjalan menuju dirinya. Sepertinya ia bergegas.
“Yang Mulia, saran saya mari kita segera menuju sungai dan menaiki kuda. Saya tadi melihat pengawal mantan Raja tengah berkeliling” ujar Henry begitu di dekat Luke
“Baiklah, mari bergegas”
Luke dan Henry segera berlari menuju tepi sungai dan segera melepaskan tali yang ada di pohon. Menaiki punggung kuda dan segera memacu kuda mereka menuju arah utara.
Suara tapak kuda membuat pengawal dan penjaga tersentak dan langsung terjaga. Mereka melihat sekitar namun tidak ada seorangpun yang terlihat. Otomatis mereka merinding
--
Matahari dari ufuk timur mulai menampakkan sinarnya, ia bersiap untuk membuka hari di sebagian belahan bumi.
Ara baru selesai menjemur pakainnya dengan sang nenek. Ia sengaja bangun pagi untuk bersiap lebih awal. Karena beberapa hari belakangan ia sering telat. Dan juga ia jarang bisa tidur kembali setelah mengetahui kisah hidup Ibunya dulu, meskipun ia hanya tahu dari gambaran sang nenek juga lukisan saat ibunya muda, namun Ara yakin ibu dan Ayahnya orang baik.
“Ara, ayo segera sarapan. Nanti telat lagi kamu” ucap nenek yang melihat cucunya seperti melamun selesai menjemur baju mereka
“Iya, Nek sebentar Ara simpan kerangjangnya” jawab Ara segera menuju area belakang tempat biasa mencuci pakaian di sana
Hawa dingin masih terasa menusuk, sebenarnya Ara selalu merasa kedinginan namun ia sedikit demi sedikit mulai terbiasa. Karena ia tumbuh di lingkungan yang suhunya rendah
“Ayo cepat duduk, nenek sudah buatkan teh hangat dan ada roti lapis kesukaanmu” ucap Nenek begitu Ara masuk dari pintu belakang
“Wah, enak Nek” pekik Ara senang
Setelah berdoa mereka segera menyantap sarapan masing-masing dan sesekali Nenek akan bertanya soal kerja Ara sebelum-sebelumnya
“Nek, aku hampir telat. Ara pamit ya Nek” ucap Ara begitu melihat jam dinding yang hampir menunjuk ke angka duabelas
“Hati-hati, baru makan nanti perutmu sakit” peringat Nenek ketika melihat Ara yang teruru dan berlari keluar
“Iya Nek, tenang aja”
Ara segera berlari keluar rumah dan segera bergegas menuju tempatnya kerja. Meski jam buka masih setengah jam lagi namun, ia sebagai pekerja harus segera sampai lebih dulu dan mempersiapkan tempatnya.
Kedai tempat ia kerja seringkali ramai pengunjung dan pelancong yang sering mampir untuk mengisi perut atau sekadar beristirahat sejenak
“Bel, tunggu!!” seru suara dari belakang Ara
Ara yang mendengarnya langsung berhenti dan menoleh. Mendapati Franz juga Stefan yang berjalan bersamaan.
“Tumbenan mereka bersama” gumam Ara merasa aneh
“Yuk jalan!! Malah benong disini” ucap Stefan yang langsung melewati Ara begitu juga Franz
“Eh bentar!!” pekik Ara menyusul keduanya
“Bentar lagi waktu buka kedai, lari aja yuk!!” ajak Ara begitu ia berhasil mensejajari kedua lelaki itu
“Tinggal belokan depan udah sampai kita Bel, tenang aja” ucap Stefan menenangkan
Dan diangguki oleh Franz yang berjalan bersisihan dengan mereka.
“Tapi, itu lihat banyak kapal yang udah bersandar dan kelihatan antrean tuh!!” tunjuk Ara pada beberapa orang yang kelihatan berkerumun yang ia sudah hafal jika itu di depan kedai mereka kerja
“Emang belum jam buka Bell, udah tenang aja. kita lewat pintu belakang aja kalua gitu” usul Franz yang langsung disetujui Ara juga Stefan
Segera mereka tidak jadi berbelok namun, memotong jalan menuju belakang kedai alias rumah bos mereka.
Dan benar saja di sana mereka tengah membongkar belanjaan dan barang lainnya.
“Wah, kebetulan kalian sudah sampai. Segera bersiap dua orang ke depan dan satu orang kemari bantu angkat sayur dan lainnya ini” ucap Mrs. Lui ketika melihat ketiga karyawannya
“Baik Bu Bos” jawab mereka serentak dan segera ke tempat masing-masing
Hari semakin siang namun, suasana kedai baik luar ataupun dalam sama-sama ramai oleh pengunjung yang ingin makan atau sekadar beristirahat sejenak. Karena kedai yang berada di sekitar pelabuhan dan terkenal akan masakannya yang enak, terasa makanan rumah dan pelayanannya yang ramah.
Kebanyakan pelacong atau warga sekitar kedai yang memang sudah menjadi pelanggan tetap kedai.
Ara atau jika bekerja ia dipanggil Bell terus wara wiri menghidangkan makanan dalam piring kepada pelanggan yang memesan. Juga menuangkan air putih ke dalam gelas atau menyajikan minuma lain. Franz yang membantu di dapur juga tidak kalah sibuk. Kedua tangannya mengaduk tiap masakan dan segera meletakkanya ke atas piring. Mrs. Lui juga sama sibuknya, sedangkan Stefan yang mengarahkann pelanggan juga menanyakan menu sekalian membereskan meja agar pelanggan yang datang segera bisa duduk.
Bagian kasir tidak kalah sibuk, semua bekerja dan tangan juga kaki mereka tidak berhenti.
Jam sudah meunjukkan pukul dua lebih dan berangsur pelangga mulai berkurang dan sudah pergi dengan perut kenyang dan wajah senang.
“Tinggal beberapa meja lagi” ucap Stefan sambil menata serbet yang baru saja ia angkat dari mesin pengering
“Iya benar, aku juga mulai lapar jika pengunjung sudah surut seperti ini” timpal Ara yang membantu melipat serbet dengan Stefan dekat meja kasir
“Sana bergantian makan aku yang akan menjaga di sini” ucap Pak Bos yang tidak sengaja mencuri dengar
“Duluan sana Bell, setelah itu aku eh panggilkan Franz suruh menggantikanku di depan” ucap Stefan yang diangguki oleh Ara
“Baiklah”
--
Suara derap sepatu kuda terdengar sayup dari kejauhan bersamaan dengan hembusan angina yang menggoyangkan dahan pohon yang tumbuh lebat di hutan antar desa.
“Yang Mulia, mari kita beristirahat sebentar. Di depan saya ngat ada pondok kayu pemburu” ucap Henry yang menyeimbangkan laju kudanya dengan Luke
“Baiklah, sudah mulai siang kita istirahat sebentar sebelum melanjutkan lagi”
Segera mereka melajukan kuda menuju pondok yang dimaksud Henry. Pondok kayu yang biasa pemburu tempati ketika musm berburu tiba. Didekatnya da sungai yang mengalir dari pegunungan.
“Benar ini kan Henry?” tanya Luke ketika ia memberhentikan laju kudanya di depan sebuah pondok kayu di bawah pohon ginko
“Benar Yang Mulia” jawab Henry yang langsung turun dari kudanya dan menariknya ke dekat pagar untuk ia ikat
“Henry, sebaiknya kau memanggilku Luke saja. Kita tidak sedang di kerajaan dan juga membantu kita dalam misi ini” pinta Luke yang mengikuti Henry mengikatkan kudanya mulanya Henry akan membantunya namun segera didahului Luke
“Baik saya mengerti Ya… oh maksud saya Luke” ucap Henry cepat
“Baiklah, mari kita masuk dan melihat ke dalam” ajak Luke yang sudah lebih dulu masuk
“Saya akan berjalan lewat samping dan melihat bagian belakang, Anda tolong berhati-hati”
“Aku tahu” jawab Luke malas
Mereka berpencar, Luke masuk lewat pintu depan dan Henry berjalan dari samping pondok kayu. Melihat pintu kayu di depannya, Luke melihat sekitar guna mencari kunci pintu
Sepengetahuannya, biasanya pemburu akan menyembunyikan kuncinya di dekat pot atau di delam pot bunga terdekat. Namun ia tidak melihat satu buah pot pun di depan rumah.
Baru saja ia berpaling, ada sebuah lubang dinding yang sedikit terbuka penutupnya.
“Ah!! Ternyata mereka cukup cerdik juga” gumam Luke dan segera membuka penutupnya dan menemukan sebuah kunci di sana
Luke tersenyum kecil dan segera memasukkan kunci tersebut ke lubangnya
Namun, baru saja akan memutar kunci tersebut Henry tiba-tiba datang dan menghentikannya
“Luke tunggu sebentar!!” pekik Henry
Refleks Luke berhenti dan menoleh pada Henry dengan wajah bertanya
“Sebaiknya kita lewat pintu belakang saja, dan kita bawa kuda itu ke belakang sekalian” ucap Henry kepada Luke
“Baiklah”
“Nanti akan saya jelaskan lebih jelasnya” tambah Henry yang segera mencabut kunci dari lubangnya dan mengembalikannya seperti semula
Luke sendiri berjalan menuju kudanya dan berniat menariknya menuju bagian belakang rumah
Henry melakukan hal sama dengan Luke dan berjalan di belakang Luke
Sampai di bagian belakang pondok Luke menemukan pondok lainnya dengan ukuran yang lebih kecil.
“Yang Mulia, di sana ada kandangg kudanya bisa diletakkan disana” ucap Henry yang langsung mengambil tali kekang yang dipegang Luke
“Oh biar aku sendiri saja” cegah Luke yang langsung mengambil kembali tali kekang kudanya dan berlalu menuju kandang terbuka di dekat sungai yang mengalir
Malam datang dan Luke memutuskan untuk bermalam sekalian saja karena medan di depan sana cukup curam dengan tebing batu terjal.
Setelah menceritakan sebuah pesan yang Henry temukan di pot bunga dekat pintu belakang pondok, ia sadar bahwa pondok yang terlihat ini jebankan untuk pemburu lainnya karena mereka seringkali merusak.
Sehingga untuk yang beruntung dianjurkan untuk menginap di pondok yang lebih kecil tersebut. Si pemilik pondok ternyata kenalan lama Ayah Henry yang kebetulan Henry pernah main kemari. Awalnya ia lupa akan jebakan itu dan ketika menemukan catatan itu ia baru sadar dan segera berlari menuju Luke.
“Besok kita harus berangkat sebelum matahari muncul dan sampai dengan cepat karena dari catatan yang Ayah tinggalkan pencarian ini tidak bisa dalam sekejap hasilnya” ucap Luke yang kini duduk dekat perapian dengan semangkuk sup yang baru di masak oleh Henry
“Saya mengerti Ya- eh Luke” ucap Henry yang hampir saja ia kembali memanggil Luke dengan ‘Yang Mulia’
“Baiklah, mari kita istirahat perjalanan ini masih panjang” ucap Luke yang berdiri dari duduknya menuju sebuah kamar kecil
Henry menganggukkan kepalanya paham
“Kau juga segerlah istirahat Henry, aku yakin kau juga sama capeknya seharian berkuda”
“Baiklah” jawab Henry yang sedang membereskan sisa makan malam mereka