Lima-2 (hampir) BERTEMU

1485 Words
Matahari mulai menampakkan sinarnya, Ara dengan semangat bahkan sudah dalam perjalanan menuju tempat kerjanya. Entah kenapa beberapa hari kebelakang ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi, entah apa. Ia berharap semoga bukan hal yang buruk Ara berjalan sambil menikmati suasana pagi sekitar, hawa dingin dan hembusan angin yang menerpa dirinya. Deadunan yang gugur dan ranting yang bergesekkan pelan. Kicauan burung yang bersahutan menambah kenyamanan suasana pagi hari yang menyenangkan ini. “Bell!!” Ara yang sedang menikmati suasana sekitar tersentak dan langsung menoleh “Oh Stefan!? Tumben udah berangkat?!” ucap Ara begitu Stefan berjalan di sisi kanannya “Gak kebalik Bell?!!” sindir Stefan Ara hanya bisa terkikik malu dengan sindiran yang tepat darii Stefan. “Iya sih ya” gumam Ara sedikit malu Stefan yang melihat tingkah lucu Ara hanya tersenyum. “Udara pagi menyenangkan” ucap Stefan yang langsung diangguki oleh Ara “Dingin tapi rasanya” “Dasar!!” “Eh itu Franz bukan ya?!” ucap Ara ketika melihat seorang lelaki dari sebuah jalan di depan “Iya, tuh dia juga ngelihat kemari dan kan melambaikan tangannya” ujar Stefan menyetujui Ara dan Stefan berjalan mendekati Franz yang berdiri di persimpangan jalan. “Tumben nih udah keluar rumah jam segini?!” sindir Stefan begitu Ara berjalan mendekatinya “Sindir teruss!!” dumel Ara yang berjalan melewati begitu saja, Stefan dan Franz yang melihat tingkah Ara hanya tersenyum gemas “Eh Bell, jadinya gimana kamu mau nerusin sekolah ke kota atau gimana?” tanya Stefan teringat percakapan mereka saat pulang kala itu “Entahlah, belum tau juga” jawab asal Ara Ia pernah memikirkan kemungkinan itu, tapi nantinya siapa yang akan menjaga Neneknya jika ia jadi ke kota besar tepatnya pusat kota alias dimana tempat pusat kerajaan berada. Dan kemudian, Neneknya memberikan rahasia yang selama ini dirahasiakan mengenai Ibunya dan keadaannya dulu meski ia tahunya dari catatan pribadai sang ibu jelas hal tersebut membuat jiwa Ara bimbang Meraba lehernya dan menemukan kalung yang selama ini diberikan Neneknya yang katanya benda kesayangan dan peninggalan dari Ibunya. Namun, tanpa Ara tahu kalungnya menyimpang sesuatu yang berharga. “Sudahlah, bahas nanti aja. itu kedai udah deket dann aku mau ke bagian belakang duluan yaa” ucap Franz yang setengah berlari kecil Stefan dan Ara yang melihat itu segera menyusul dan mengarah pada bagian depan kedai yang sudah ada satu dua orang. “Bell, ini belum buka ya? Aku ingin membungkus bekal untuk ke kota” ucap salah satu orang yang berdiri begitu melihat Ara dan Stefan datang “Sabar ya Tuan, kami akan segera mempersiapkan tempat dan juga bahan makanannya. Tolong ditunggu” jawab Ara tersenyum dan segera ikut masuk setelah Stefan sudah masuk duluan -- “Yang Mu- oh maksud saya Luke kita hampir sampai di dekat ruah mantan tangan kanan raja terdahulu” ucap Henryy yang melihat dari kejauhan rumah kayu dan beberapa rumah lainnya “Benar, dan biasanya memanggilku tanpa kata ‘Yang Mulia’” ucap Luke segera memmacu lebih cepat kudanya Henry hanya meringis dan segera menyusul Luke Tak berapa lama mereka sampai di depan sebuah rumah kayu yang terlihat sepi dan seperti tidak lagi dihuni manusia “Benar di sini rumahnya?” tanya Luke yang merasa janggal dengan rumah di depannya “Benar, Luke. Saya masih ingat dulu kesini dengan Ayah saya” jawab Henry yakin “Baiklah ayo kita cari tahu” ucap Luke melangkah masuk ke pekarangan rumah setelah menalikan tali kudanya pada pohon terdekat Luke melangkah masuk diikuti Henry di belakangnya “Tuan-tuan ini cari siapa ya?” ucap seseorang yang berdiri di ambang gerabng rumah Luke dan Henry langsung menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya di sana. Henry yang mengenali sebagai adik dari mantan tangan kanan Raja terdahulu segera berjalan mendekat Luke pun melakukan hal yang sama “Saya Henry, Bibi Margareth” “Oh kau putranya Tuan Wellington?! Astaga sudah besar ternyata” ucapnya heboh sambil menepuk bahu Henry pelan Henry hanya bisa tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya “Lalu dia siapa, Nak?” tanya Bibi Margareth melihat pemuda dengan paras tampan dan beraura tidak biasa “Oh dia… dia teman saya Bi, namanya Luke” ucap Henry cepat “Begitu, lalu ada pa akau kemari? Mencari Paman Barth ya?” tebak Bibi Margareth “Benar Bi, apakah Paman ada di rumah? Tapi kok sepi ya?” Raut muka Bibi Margareth langsung berubah sendu namun, kemudian ia tetap tersenyum kecil. Menatap kedua pemuda di depannya “Kita ke rumahku dulu bagaimana?” tawar Bibi Margareth Henry melirik Luke sebentar dan setelah mendapat anggukan, mereka akhirnya berjalan menuju rumah di sebelah rumah Barth Hiller Mereka sampai di sebuah rumah sederhana namun nampak asri dan nyaman. Ada beberapa jenis bungan dan tumbuhan perdu yang ditanam apik juga diatur dalam taman-taman mini. “Silakan duduk di sini, maaf ya rumahnya kecil” ucap Bibi Margareth mempersilakan Luke dan Henry untuk duduk di sofa coklat yang warnanya mulai lusuh termakan usia “Bibi tidak usah repot” ucap Henry yang melihat Bibi Margareth akan masuk ke dapurnya “Tidak apa, cuman air” jawabnya dari dapur “Silakan di minum, aku yakin kalian sudah menempuh beberapa hari di perjalanan kemari” ucap Margareth lagi yang sekarang duduk di sebrang meja “Oh ya Bibi, soal Paman Barth tadi ada apa?” tanya Henry mewakili Luke yang baru meminum minuman yang disediakan Margareth menarik napasnya pelan dan kemudian menatap keduanya bergantian “Kakakku Barth meninggal beberapa bulan lalu” ucapnya mengawali cerita Henry dan Luke sedikit terkejut namun, bisa mereka duga “Dia meninggal karena sakitnya mulai kambuh sejak ia pension dan kami merawatnya di sini karena kakak tidak mau di bawa ke rumah sakit” cerita Bibi dengan wajah menerawang “Dia selalu menceritakan kisahnya dulu saat menjadi ajudan dan tangan kanan Raja sebelumnya, hingga di akhir hayatnya ia pernah bercerita mengenai pusaka kerajaan yang lama hilang” Luke dan Henry yang mendengar itu langsung bereaksi kecil “Dan mengatakn bahwa pusaka akan ditemukan oleh dia yang pantas menduduki tahta” “Apakah Paman Barth meninggalkan catatan atau surat mungkin, Bi?” tanya Henry “Oh aku ingat, dia menitipkan sebuah kotak kayu ukuran sedang padaku katanya nantinya akan ada yang datang kemari mencarinya. Sebentar” ucap Bibi Margareth mengingat sesuatu “Semoga ada petunjuk lainnya” gumam Luke Tidak lama Bibi Margareth datang dengan sebuah kotak kayu ukuran sedang dan sedikit berdebu “Ini kotaknya, sebelum wafat ia mengatakn padaku untuk menyimpannya di rumahku karena banyak orang yang tidak berhak akan datang dan mencurinya. Aku tidak paham maksudnya kala itu namun, setelah sebulan kemudian ada orang aneh yang selalu mondar mandir di rumah kakakku bahkan pernah suatu malam ada bunyi benda jatuh” “Lalu kenapa Bibi tadi tidak waspada bertemu kami?” tanya Luke penasaran “Kalian membawa kuda kemari, dulu kakakku pernah berpesan jika ada orang yang kemari menggunakan kuda katanya orang kerajaan dan kemungkinan Raja atau Putra Mahkota” jawab Bibi membuat Luke mesem tipis “Dan aku yakin kalian bukan orang jahat” tambahnya -- “Silakan istirahat terlebih dahulu, sudah saya rapikan dan segera saya siapkan makan malam” “Baiklah, aku juga ingin mandi” Mereka saat ini tengah berada di salah satu rumah peristirahatan milik keluarga Wellington untuk mencegah pelacakan dari pamannya. Selesai mandi Luke memandangi kotak yang ia peroleh dari adik dari Barth Hiller. Membuka penutupnya dan terlihat sebuah buku kecil bersampul coklat juga beberapa surat entah apa isinya Luke mengambil buku yang ia perkirakan sebuah catatan. Membukanya secara acak dan terbuka bagian bagian tengah Membukanya pelan dan membaca tulisan di sana. Pagi ini Yang Mulia memintaku mengawasi seseorang yang katanya mengetahui sejarah berdirinya kerajaan ini Pikirku mungkin dia tengah menipu Raja. Tapi, setelah aku mengikutinya beberapa hari dan mencoba mencari tahu dari orang sekitarnya. Dia keturuan dari salah satu ksatria sebelum kerajaan ini ada Tapi, ada yang aneh Catatan pada lembar ini selesai. Luke mengkerutkan keningnya. Luke membalik halamnnya dan berganti dengan tulisan lainnya “Tidak ada sambungannya” gumam Luke Membalik lagi halamn hingga sampai di akhir buku catatan. Ada sebuah catatan dan sebuah gambar Aku mendapatkan berita jika Ratu terakhir kerajaan sebelumnya masih ada dan membawa sebuah benda yang menjadi kunci menemukan pusaka itu Tapi, banyak orang yang mulai mencurigaiku. Aku harus menyembunyikan informasi yang ku dapat Dan Luke membalik halaman dan menemukan sisa sobekan. Decakan terdengar dari mulutnya “Sial!” Melihat gambar sebuah kalung dan seorang perempuan mengenakan pakaian mewah khas kerajaan. Namun ada sedikit perbedaan. “Kerajaan mana ini?” gumam Luke Dan dari beberapa catatan Barth mengatakan bahwa ada kerajaan lain sebelumnya. Kerajaan apa Bukannya kerajaan Alore sudah lama berdiri dan didirikan oleh leluhurnya saat melarikan diri dari kejaran perompak. Luke bahkan hafal sejarah berdirinya kerajaannya karena guru yang didatangkan Ibunya begitu kejam. “Ada yang janggal di sini” Suara ketukan pintu membuat Luke segera menutup buku catatan itu “Ini saya Henry, apakah saya boleh masuk?” “Masuklah"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD