“Yang Mulia-..”
Decakan terdengar dari Luke dan menatap Henry dari sudut matanya,
“Oh maksud saya Luke” ucap Henry cepat setelah melihat raut wajah kurang menyenangkan dari Luke
“Ingat itu Henry dan aku lebih suka kau panggil nama daripada embel-embel itu. Lanjutkan apa yang mau kau katakan” ujar Luke lagi dengan nada tegas
“Baik, jadi begini tadi sebelum kita berpamitan dengan Bibi Margareth beliau menyelipkan sebuah kertas padaku dan saya tidak menyadarinya” ucap Henry sambil menyerahkan sepucuk surat yang ia temukan di saku jasnya kala ia menerima kembali jasnya yang ia lepas saat masuk ke rumah Bibi Margareth
“Apa ini?” tanya Luke dengan suara pelan
“Tadi saya sudah membacanya dan sepertinya sebuah alamat” jawab Henry langsung
Luke membaca sederet tulisan tua di sana kemudian menemukan sebuah kode dan teringat sesuatu
Mengambil gambar yang tadi ia temukan di dalam buku catatan Barth dan membalik gambar tersebut.
“Kode ini sama dengan yang ada di gambar ini. Lihatlah” ucap Luke menunjukkannya pada Henry
“Benar, apakah ada hubungannya?” tanya Henry kepada Luke
“Sepertinya kita harus ke alamat ini dan paling tidak mencari wanita di dalam gambar ini. Aku yakin kita akan menemukan petunjuk lainnya” ucap Luke setelah mengamati sekilas
“Baik, besok saya akan persiapkan”
“Sekarang kau pergi tidur besok perjalanan kita masih jauh” ucap Luke meletakkan kembai kedua petunjuk yang merea dapatkan
“Baik saya permisi”
Sepeninggal Henry, Luke menatap kembali kedua petunjuk yang ia rasa ada hubungannya. Gerakan halus di jendelanya membuat Luke menoleh dan melihat bayangan jubah hitam
“Tuan, ada pergerakan dari mantan Raja”
“Awasi mereka dan tetap tenang seperti biasa”
“Baik, saya mengerti”
“Dan katakana pada B untuk ikut denganku besok, dengan jarak” ucap Luke lagi
“Baik Tuan”
Semilir angin terasa dan dia menghilang. Luke menatap lagi keluar jendela ada bulan separuh yang ada di langit gelap bersama kerlipan bintang yang bertabur di langit malam
Suara gemerisik ranting yang saling bergesekkan juga dedaunan yang berguguran terbawa angin. Sayup suara burung hantu juga menambah suasana malam
“Ayah, aku tidak bertemu ajudan favoritmu” gumam Luke dengan senyum kecil di bibirnya
“Semoga bisa segera menemukan apa yang dulu Ayah sudah mulai” harap Luke dalam hati
Saat berbalik tidak sengaja Luke menyenggol buku catatan dari si mantan ajudan Kakek juga Ayahnya sebelum diganti dengan Tuan Wellington. Secarik kertas keluar dari buku tersebut
Carilah dia yang memakai kalung ruby dan tanda mahkota di bahu kanannya
Mencocokkan dengan gambar perempuan dengan bandul ruby seketika Luke mengangguk kecil
“Sepertinya ini petunjuk yang lebih penting” gumamnya
--
Bunyi tapak kuda saling bersahutan melewati perbukitan dann jalan setapak kecil. Meski satu dua kendaraan besar terkadang lewat untuk mengangkut bahan makanan namun, ada juga yang masih menggunakan kereta kuda. Karena jalanan yang masih beraspal semuanya membuat mereka masih mempertahankan kebiasaan orang dulu dan sebagai menambah daya tarik untuk turis datang.
“Luke, kita akan sampai di desa pesisir pertama” ucap Henry ketika berhasil mensesejajari kuda Luke
“Aku tahu, kita sebaiknya menuntun kuda kita dan mencarii penginapan terlebih dahulu” ucap Luke yang segera melajukan kudanya diikuti Henry
Mereka memacu kuda maisng-masing hingga sampi di batas desa yang terlihat dari kejauhan. Tidak jauh terlihat rumah-rumah dari kayu yang berjajar namun berjarak. Ada juga yang berada di atas perbukitan dengan lading yang ditata apik untuk mengurangi longsor. Pepohonan juga tertanam berjajar mengikuti jalan setapak, menambah suasana rindang
Luke memperlambat laju kudanya, Henry mengikuti Luke dan mensejajarinya
“Di depan ada penginapan, bagaimana jika kita langsung kesana?” ajak Henry
“Boleh, ayo kita kesana”
Mereka segera turun dari punggung kuda masing-masing dan menuntuntnya. Beberapa orang berlalu lalang memandang mereka seperti turis.
Begitu sampai di depan gerabang kayu penginapan yang dimaksud Henry tadi, mereka di sambut seorang laki-laki tua.
“Selamat datang di penginapan, ada yang bisa kami bantu Tuan?” sapa lelak tua tersebut yang terlihat ramah menawarkan penginapannya
“Kami pesan dua kamar, dan juga apakah ada kandang kuda juga?” ucap Henry langsung
“Ada Tuan, silakan masuk dan berikan kedua kuda Tuan pada saya nanti akan segera saya masukkan ke kandang dan beri makan” ucapnya dengan senyum
Henry menatap Luke sebentar, terlihat anggukan dari Luke dan segera mereka masuk dengan sebelumnya menyerahkan tali kekang kedua kuda mereka pada si penjaga
Begitu masuk sudah terlihat satu dua orang turis yang sedangg duduk di sekitar lobi. Seorang penjaga lainnya segera meminta mereka untuk mencatatkan nama dan membayar biasa sewa muka untuk kamar yang akan mereka tempati.
“Baik, silakan ikut saya dan akan segera saya antar ke kamar tuan-tuan” ucap penjaga tersebut yang melayani dibagian pencatatan
Hari mulai beranjak siang dan Luke setelah berganti baju bersiap untuk keluar kamar. Ia ingin segera mencari tahu keadaan sekitar.
Begitu keluar ia melihat Henry yang juga baru saja keluar dari kamarnya
“Kebetulan Anda sudah keluar, saya berniat mengajak Anda untuk keluar” ucap Henry yang segera berjalan menuju Luke
“Ayo keluar, aku ingin segera mencari tahu” ucap Luke
Mereka berdua berjalan bersama menuju lantai bawah tempat mereka menginap. Begitu sampai bawah, mereka di sapa seorang tukang bersih-bersih
“Permisi Pak disini apakah ada tempat makan yang bisa kami cicipi?” tanya Henry
Luke tadi sebenarnya sudah mendengar sebuah kedai yang selalu ramai di dekat pelabuhan. Dan di tempat itu Luke rasa pencariannya bisa dimulai
Luke tidak mendengarkan jawabannya dan malah menatap sekitar lobi penginapan mereka. Banyak yang bisa lebih dikembangkan dan Luke dengar pelabuhan di sini sangat ramai oleh pengunjung dan terkenal diantara pelancong yang datang.
Keindahan sekitar dan keramahan penduduk yang menjadi daya tariknya.
“Luke, saya sudah tahu dimana tempatnya” ucap Henry yang mengampiri Luke setelah mengobrol singkat dengan tukang bersih-bersih yang seorang wanita paruhbaya yang ramah
Luke menganggukkan kepalanya dan melangkah keluar diikuti Henry yang berjalan bersama.
--
“Benar di sini tempatnya?” tanya Luke kepada Henry yang juga melihat keadaan sekitar yang ramai dengan pengunjung
Berllau lalang melewati pintu dan harum masakan tercium hingga ke luar. Beberapa orang datang dan pergi dengan raut puas.
“Benar Tuan, di sini kedia yang dimaksud dan kita bisa memulai dengan masuk terlebih dahulu” ucap Henry yang diangguki oleh Luke
Namun, baru saja mereka akan masuk seorang laki-laki menghadang mereka
“Selamat datang di kedai kami, ada yang bisa saya bantu?” tanya pria tersebut dengan ramah
“Kami mau makan di sini, masih ada meja?” tanya Henry yang sudah mendengar jika ingin makan di kedai tersebut mereka harus menganter karena memang kedai tersebut sangat laris dan sudah terkenal diantara pedagang dan orangg sekitar juga pendatang seperti turis dan pengusaha kapal
“Tunggu sebentar ya tuan, di dalam meja tengah penuh dan yang ada di dekat kasir kami” jawab si pria yang Henry rasa pelayan di kedai ini
Henry menengok ke sebelah dan melihat Luke menganggukkan kepalanya
“Boleh tidak apa” jawab Henry kemudian
“Baik, silakan ikut saya” ujar si pemuda yang langsung diikuti Henry serat Luke masuk ke dalam kedai
Suasana hiruk pikuk pengunjung kedai dan harum masakan menyambut mereka. Banyak yang sedang menikmati makanan mereka sambil bersendau gurau. Luke mengamati sekitar dan tidak sengaja melihat seorang pelayan perempuan yang lari kesana kemari dengan teko air dan serbet juga mencatat pesanan.
“Silakan tuan”
Henry segera duduk dan diikuti Luke. Mereka dekat dengan meja kasir dan di sebelah mereka ada satu dua orang yang sedang menikmati makanannya.
“Selamat datang, mau pesan apa?” tanya seorang laki-laki yang tadi berdiri di belakang mesin kasir menghampiri mereka di balik meja panjang
“Kami pesan dua porsi makan siang dan minumnya yang khas di sini” ucap Henry yang tadi sekilas membaca daftar menu di depan mereka
“Oh kalian bukan orang sini ya? Atau turis yang baru ke sini?” tanya pria bertubuh gempal tersebut
“Benar, kami sedang perjalanan bisnis dan singgah kemari katanya tempat yang harus kami kunjungi untuk makan” jawab Henry
“Oh begitu, baiklah ditunggu untuk pesanan Anda” ucapnya lagi dan segera memberikan catatan kecil ke bagian dapur
Luke masih melihat sekitar. Ia melihat perempuan peayan tadi yang berjalan menghampiri mereka dengan dua gelas dan teko air
“Silakan minum airnya dan tunggu pesanan Anda, tuan” ucapnya dengan senyum cerah
Untuk sesaat Luke terdiam dan merasa pernah melihat senyum itu. baru saja perempuan itu akan berbalik salah satu pengunjung yang baru saja akan berjalan ke kasir
“Astaga!!” pekik si perempuan dan dengan sigap Luke meraih tubuh kecil perempuan itu
“Oh maaf Bell, aku tidak tahu kau lewat” ucap pengunjung pria yang meminta maaf dan menundukkan kepalanya
Sedangkan Luke sekilas melihat kalung yang tidak sengaja terlihat dengan bandul warna ruby yang mirip dengan gambar itu.
“Oh maaf tuan, saya tidak snegaja dna terima kasih sudha membantu saya” ucap Bell yang langsung berdiri dan menutupi kalungnya yang terlihat
Luke dan Henry saling lirik
“Anda tidak apa tuan?” tanya lelak gempal yang tadi berdiri di belakang kasir langsung menghampiri Luke dan Henry
“Tidak ada” jawab Luke yang masih menatap kepergian perempuan pelayan tadi
“Apa ada sesuatu tuan?” tanya pria itu yang memperkenalkan diri dengan nama Andy yang melihat tatapan Luke terhadap Bell tidak biasa
Henry yang mengetahui situasnya langsung mengambil alih, “Tidak apa tuan, kami akan segera makan. terima kasih atas kekhawatirannya” ucap Henry menyela
Luke segera menatap Andy dan mengangguk sekali. Menghadap ke meja kembali dan bersiap untuk makan.