Langit mulai berwarna oranye dan kepak sayap burung terdengar di sekitar pepohonan yang tertiup angin dari pantai.
Beberapa kapal mulai berlabuh kembali dan suasana demaga sudah lebih sepi namun beberapa pedangan malam muai menggelar dagangan mereka. Karena setiap malam dermaga tida pernah sepi.
“Bell, segera pulang. Tadi franz dan Stefan sudah pulang lebih dulu karena ada urusan mendadak. Kau segera pulang juga sebelum hari bertambah gelap” ucap Andy yang melihat Bell baru selesai membantu istrinya mencuci piring dan membereskan lainnya
“Baik Bos, sebentar lagi juga pulang mau mengambil tas di belakang dan pulang ini” ujar Bell atau Ara yang mengelap kedua tangannya yang basah
“Hati-hati Bell, dan jangan lewat jalan sepi itu lewat alan besar saja” ucap Andy yang mengantar Ara sampai depan kedai sekalian mengunci pintu depan kedainya
“Iya, laksanakan Bos”
Ara berlalu pergi dan Andy masih melihat sosok Bell yang berjalan menuju jalan besar kota mereka. Masih banyak lalu-lalang kereta kuda atau sepeda yang silih berganti melewati Bell. Andy sedikit khawatir dengan gadis muda itu.
“Semoga selamat sampai di rumah” gumam Andy sambil menutup pintu kedainya
Ara melihat keadaan sekitar yang mulai gelap, langit sore oranye mulai gelap tertelan gelapnya malam dan mulai terlihatt bulan yang hampir bulat sepenuhnya.
Dari jauh seseorang mengawasi Ara yang berbelok menuju sebuah gang. Karena dirasa sudah hampir malam dan Ara pikir akan semakin larut jika ia lewat jalan besar, akhirnya ia berbelok untuk mengambil jalan tercepat menuju rumahnya.
Hawa dingin pegunungan mulai terasa. Ara sedikit merasa kedinginan dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sambil mempercepat laju kakinya.
Namun, saat Ara berbelok di sebuah gang sempit tiga orang lelaki tengah berdiri sambil menatap Ara yang baru saja berbelok.
“Wah!! Pas nih malem belum larut udah ketemu cewek cantik” ucap salah satu dari mereka yang berbadan sedikit kurus
Disambut tawa mereka yang membahana.
Ara yang melihat akan ada bahaya segera mundur pelan dan tidak di sangka ketiga orang lelaki itu berjalan menuju Ara.
“Kucing kecil ini akan lari sepertinya” sahut lainnya
Namun begitu sampai di ujug gang yang tadi beru sedikit dilewati Ara muncul dua orang yang berdiri persis di belakang Ara. Tanpa di duga ketiga lelaki itu langsung berbalik pergi
Ara yang melihat gelagat aneh mereka langsung melihat ke bawah dan ada baying besar dan tinggi berdiri di belakangnya. Refleks Ara berbalik dan menemukan dua pria yang tadi makan di kedai tempat ia bekerja
“Tuan yang tadi makan di kedai ujung jalan sana kan?” ucapan yang Ara lontarkan membuat salah satu dari mereka menaikkan satu alisnya
“Benar kami dan Anda tidak apa? Apakah ada lecet atau hal lainnya?” tanya seorang pria dengan wajah ramah namun dengan wajah datar
Ara menatap keduanya bergantian. “Oh tidak apa, terima kasih” ucap Ara kemudian
“Sudah malam, kenapa lewat jalan sepi?” tanya seorang lagi dengan wajah datar juga dengan suaranya
“Ini jalan tercepat menuju rumah saya, sekali lagi terima kasih dan permisi” pamit Ara yang berjalan menuju jalan besar
“Tunggu!!”
Ara berbalik “Ya, ada apa?”
“Izinkan kami mengantar Anda, sepertinya ketiga orang tadi masih mengintai Anda” ucap seorang yang berwajah ramah
Ara menatap keduanya kembali, sebenarnya ia merasa was-was dengan pencegatan lelaki tadi tapi sepertinya mereka orang baik.
“Baik, terima kasih. Mari” ucap Ara
Akhirnya Ara pulang diantar dengan kedua pemuda tersebut.
--
Luke dan Henry memutuskan untuk menunggu selesai kedai untuk menghampiri perempuan yang Luke duga sebagai bagian dari petunjuk mereka.
Mereka duduk di alun-alun tengah desa yang banyak penjual yang berjualan di sekitar. Semakin senja, keadaan alun-alun sekamin ramai banyak orang berlalu lalang. Ada juga yang menawarkan jasa angkut atau becak dorong kepada mereka yang membutuhkan.
Henry sesekali bertanya dengan orang sekitar mengenai pekerja di kedai yang katanya terkenal di desa tersebut. Sedangkan Luke mencermati kembali surat atau catatan di buku Ayahnya maupun mantan ajudan. Juga gambar yang terselip di sana.
“Luke, berdasrkan keterangan warga sekitar memang daerah ini kedai di sana itu paling terkenal dan mereka cukup akrab dengan pemilik juga pekerjanya yang memang masih warga sekitar sini”
Luke menganggukkan kepalanya mendengar informasi yang di dapatkan Henry
“Dan di sana ada tiga pekerja, dua laki-laki dan satu perempuan. Dua laki-laki tersebut rumahnya berada di pinggir sebelah timur dan berjauhan. Sedangkan perempuan berada di pegunungan ujung jalan sana” tambah Henry ketika tidak sengaja mendengar seseorang yang membicarakan mengenai pekerja perempuan yang memang terkenal akan parasnya dan ramah
“Baik, bagus Henry dan nama mereka kau sudah tahu?” tanya Luke
“Sudah, kedua laki-laki bernama Franz ia pemuda yang menghadang kita di depan pintu kedai dan Stefan yang berada di dapur, kita melihatnya saat ia membantu membereskann meja dan Bell perempuan satu-satunya yang bekerja di sana”
Luke dan Henry terus mengobrol sesekali mereka juga saling mempertanyakan petunjuk yang mereka dapatkan.
“Ada yang belum saya mengerti” ucap Henry ketika mendengar ucapan Luke barusan
“Katakan”
“Di sini jelas di tulis bahwa kedua harta benda Kerajaan berada di kerajaan lalu, petunjuk soal perempuan dengan kalung ruby dan nama kerajaan ini yang membuat saya merasa aneh”
Luke paham apa yang dikatakan Henry. Awalnya ia juga merasa janggal dan aneh namun, ketika membaca kembali sejarah berdirinya kerajaan Alore ia akhirnya paham. Sejarahnya sedikit aneh dan ditambah-tambahkan.
“Kau nanti akan tau Henry, yang penting kita cari kunci menuju harta kerajaan ini dulu. Karena ku rasa ada hal besar yang tertutupi di sini” ucap Luke menatap ke ujung jalan sana
Pandangannya melihat melihat pelayan kedai yang berjalan tergesa. Melihat suasana sekitar yang mulai gelap dan hawa dingin yang terasa.
“Luke, itu Bell berada di sana. Sepertinya baru pulang dan larut sekali sedangkan harusnya kedai sudah tutup menjelang sore tadi” ucap Henry melihat Bell yang berjalan cepat tidak lama berbelok
“Ayo ke sana, aku tadi melihat ada berandal di gang itu” ucap Luke sambil beranjak berdiri diikuti Henry yang menyusul
Benar saja, Bell mundur dan memegangi tas yang ia bawa dengan erat. Takut mereka mendekatinya.
Luke dan Henry yang berdiri di ujung gang dan menatap mereka bertiga. Tak lama mereka bertiga berbalik dan pergi. Beberapa detik tadi Luke mengeluarkan pistol kecil di sakunya dan jangan lupakan pengawal bayangan Luke turut berdiri di belakang Luke dan Henry dengan sebilah pedang panjang khas kerajaan Alore.
Luke menatap gadis yang langsung berbalik dan mengamatinya juga Henry dengan wajah aneh menurutnya.
“Oh Anda yang tadi di kedai kan?” ucapnya pertama kali setelah lama terdiam yang mengamati Luke serta Henry
“Benar Nona, dan apakah ada yang luka?” tanya Henry mewakili Luke yang diam
“Oh tidak ada, terima kasih atas bantuannya” ucapnya
“Ini sudah gelap dan kau lewat jalan sepi ini” ucap Luke dengan wajah datar sedatar jalan
“Yah ini jalan tercepat menuju rumah saya. Sekali lagi terima kasih dan saya permisi Tuan” ucapnya lagi dan berjalan menuju jalan besar dengan tergesa.
“Tunggu Nona” ucap Henry mencegat Bell
Berhasil, Bell berhenti dan berbalik
“Ya? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Bell
Luke da Henry berjalan mendekati Bell “Izikan kami mengantar Anda sampai rumah, tadi kami melihat ketiga lelaki tadi sepertinya akan mencegatmu lagi di depan jalan sana” ucap Henry dengan ramah meski terlihat kaku
Gadis itu menatap keduanya lama. Luke melirik Henry yang hanya diam menunggu jawaban gadis di depannya
“Baiklah, terima kasih sekali lagi” ucapnya “Mari Tuan”
Akhirnya Luke dan Henry berjalan di samping kanan dan kiri Bell namun sedikit ke belakang. Mereka tidak mau ada berita kurang enak tersebar karena mereka dann mencoreng nama baik gadis ini.
“Oh ya kami lupa memperkenalkan diri, saya Henry dan ini sahabat saya Luke” ucap Henry ramah membuka perbincangan di perjalanan mereka
“Saya Arabelle orang di sini biasanya memanggilku Bell”
“Baik, dan dimana rumahmu Bell?” tanya Henry lagi
“Sedikit jauh, setelah berbelok di depan kita akan naik sedikit menuju perbukitan dekat pegunungan di barat” jawab Bell sambil menunjuk jalan di depan mereka
“Jauh juga, setiap hari kau jalan kaki?” tanya Luke yang sejak tadi memperhatikan dan menyimak obrolan Henry dan Bell
“Benar, yah meski jauh tidak apa” jawab Bell dengan senyumnya
Seketika Luke terdiam. Senyum itu mirip dengan wanita dalam gambar yang ada di buku catatan mantan ajudan Ayah dan Kakeknya
“Jika kalian lelah boleh antar sampai di jalan menanjak di sana. Ku rasa sudah cukup aman bagiku” ucap Bell yang merasa tidak enak
“Taka pa, kami akan mengantarmu sampai rumah” jawab Luke langsung
“Baiklah, terserah kalian. Oh ya dari logat kalian bukan dari daerah sekitar desa ini ya?” tanya Bell penasaran
“Benar, kami dari kota” jawab Henry kali ini karena melihat Luke yang sedang mengawasi sekitar
“Oh Pusat kota maksudmu? Wah luar biasa” pekik Bell takjub
“Seperti apa pusat kota? Aku belum pernah ke sana” gumam Bell yang di dengar Luke
“Kau mau ke sana?” tanya Luke tanpa di duga
“Eh? Oh tidak Tuan terima kasih”
Setelahnya mereka masing-masing terdiam karena udara semakin dingin dan mereka mulai berjalan menuju jalan yang sedikit naik dan bergelombang.
“Di depan sana rumahku, lampu di kejauhan itu” ucap Bell menunjuk sebuah rumah di dekat pohon besar
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan pintu kayu dengan seorang wanita tua yang berdiri dnegan wajah cemas
“Astaga!! Ara kamu membuat Nenek cemas” ucapnya begitu melihat cucunya datang tanpa melihat sekitar
“Nenek, Ara gak apa tadi sedikit ramai dan banyak yang harus dibereskan” ucap Ara memberikan penjelasan pada Neneknya
“Syukur, kalau begitu. Ayo masuk di sini dingin” ucap sang Nenek tanpa melihat kehadiran dua pemuda di belakang Ara memperhatikan interaksi hangat nenek dan cucunya
“Eh mereka siapa Ra?” tanya sang Nenek begitu melihat dua wajah asing
Ara membalik tubuhnya dan meringis.
“Nanti Ara jelaskan Nek, sekarang lebih baik kita masuk dulu. Mari Tuan, jika tidak keberatan silakan masuk”
Nenek menatap keduanya dan mengangguk kecil. Wajah tidak biasa pada salah satunya.
“Permisi”