#9-TERGODA

1955 Words
              Pagi-pagi benar sekitar jam 6 Nicky sudah keluar rumah diantar oleh pak Amir kerumah Andre. Nicky, Andre dan Fitria sudah janjian melalui handphone untuk bertemu di tempat biasanya Andre menunggu Nicky.             Tidak begitu lama sudah sampai di tempat janjian. Andre dan Fitria sudah kelihatan dari kejauhan oleh Nicky. Mobil berhenti sebentar kemudian melaju lagi menuju suatu tempat yang direncanakan. Semuanya itu menurut gambaran visual yang diterima oleh Nicky saat menduduki kursi bekas duduknya Amelia.             Begitu sampai di jalan layang Pondok Indah Nicky minta pak Amir ke tempat parkir yang tidak jauh dari Nicky dan temannya tadi turun. Tidak lama kemudian sekitar jam 7 an mereka didatangi oleh sebuah kendaraan van. Lalu turunlah seorang laki-laki tegap diikuti dua orang lainnya.             “Selamat pagi oom.” Andre menghampiri orang itu dan menyalaminya. “Ini teman Andre. Nicky namanya.” Andre memperkenalkan Nicky. “Ini oom Kamil. Adik papa saya.” Kata Andre kepada Nicky.             Agak lama Nicky menjabat tangannya Kamil. Saat itu juga Nicky tau siapa Kamil sebenarnya. Nicky mengangguk dan mengucapkan salam. “Selamat pagi pak Komisaris.” Kata Nicky melepaskan tangannya. Kamil terlihat agak kaget. Tapi dia berpikir mungkin Andre yang cerita lebih dulu.             “Saya Fitria oom.” Fitria menyodorkan tangannya untuk menjabat tangannya Kamil.             “Selamat pagi semuanya. Kenalkan juga ini Sukamto dan ini Frans.” Mereka semuanya pada bersalaman.             Kamil adalah adik ayahnya Andre yang berdinas di Interpol yang mempunyai jabatan sebagai koordinator lapangan untuk unit tim anti bandit. Kebetulan hari itu dia diijinkan oleh atasannya untuk membantu mereka.             “Oke sekarang kami harus apa.” Katanya kepada Andre.             “Sebenarnya yang mempunyai masalah sekarang ini adalah teman Andre oom. Kakaknya Nicky diculik dan hari ini mereka akan memberikan alamat untuk mengantarkan uang tebusannya.” Andre membuka permintaannya kepada oomnya.             “Baik. Tapi kita cari tempat yang agak sepi dulu ya. Kita kesana saja.” Kamil menunjuk sebuah gerobak penjual bubur ayam. “Sekalian sarapan yah.” Kamil tertawa.             “Iya oom mari.” Nicky yang menyahut ajakan Kamil.             Mereka berjalan kearah gerobak bubur ayam itu dan memesan beberapa mangkok bubur.             “Saya akan menelpon ayah saya dulu oom.” Kata Nicky kepada Kamil.             “Iya mas silakan. Tapi agak sebelah sanaan. Biar tidak kedengeran orang.”             “Baik oom.” Nicky mengiyakan. Nicky keluar dari situ dan menjauh sedikit.             “Hallo Pa.” Kata Nicky setelah handphonenya tersambung.             “Hallo Nick. Gimana?”             “Kami sudah siap Pa disini. Nanti antar saja uangnya ketempat sesuai mereka mau. Kalau sudah diantar segera telepon Nicky ya Pa.”             “Oke Nick.” Sambungan pun terputus.             Nicky kembali ke tempat jualan bubur ayam. Nicky melahap bubur ayam dulu sebelum dia bercerita dan menyampaikan rencananya.             “Oom rasa semuanya sudah pada sarapan. Sekarang kita bicarakan rencananya.” Kamil memulai percakapannya.             “Baik oom.” Kata Nicky. “Saya punya rencana begini.” Lalu mulailah Nicky menceritakan rencananya kepada Kamil sesuai dengan apa yang dilihat dan didapat dari gambarannya waktu itu.             Setelah selesai berembuk merekapun bergerak ke tempat yang sudah diperkirakan oleh Nicky.             Jam 9 Nicky menerima telepon dari ayahnya kalau uang sudah dibawa pak Amir ketempat yang diminta oleh penculik Amelia.             “Nick. Uangnya sudah Papa kirim ke mereka. Uang diantar oleh pak Amir ke sebuah kafe di Kemang Selatan. Pak Amir akan menemui orang yang bernama Pardi memakai baju kuning strip putih dipinggir kanan.” Kata pak Abiyasa. “Semuanya sesuai dengan apa yang kamu ceritakan ke Papa.”             “Baik Pa. Kami segera kesana.” Nicky menutup percakapan dengan ayahnya.             Kemudian Nicky menelpon Kamil yang memang sudah standby di Kemang Selatan. Bahkan Kamil sudah ada didalam kafe yang dimaksud ayahnya Nicky.             “Hallo oom. Pak Amir suruhan Papa sudah kesana. Orang yang akan menerima uangnya bernama Pardi memakai baju kuning strip putih dipinggir kanan.”             “Oke mas. Kami sudah melihat orangnya. Apa langsung di sergap saja?”             “Tidak usah oom. Biarkan saja. Alamat oom selanjutnya adalah pergi hotel di Gatot Subroto. Oom hanya boleh mengikutinya saja.” Kata Nicky.             “Baik mas. Saya ikuti keinginan mas Nicky.” Kamil menutup handphonenya.             Pak Amir yang baru datang di kafe itu terlihat celingukan.             Nicky, Andre dan Fitria yang sudah datang sebelum pak Amir tiba di kafe.             Mereka memperhatikan agak jauhan dari kafe itu.             Tidak lama kemudian dari dalam kafe keluar orang yang memakai baju kuning dengan tanda strip putih.             Pak Amir mendatanginya.             “Maaf. Bapak yang bernama pak Pardi?”             “Betul. Ini pak Amir?”             “Iya pak. Saya membawa pesenan dari ayahnya non  Amelia. Katanya harus diserahkan ke bapak.” Kata pak Amir.             “Menggunakan apa pesanannya pak?” Tanya Pardi.             “Koper warna hitam.”             “Ya betul. Baik saya terima.” Pardi berjalan bersama pak Amir ke bagasi belakang mobil pak Amir.             Sementara itu Kamil dan 2 rekannya keluar dari dalam kafe menuju keparkiran.             “Sebentar pak Amir.” Kata Pardi menahan pak Amir membuka bagasinya.             Tak lama kelihatan mobil Kamil keluar dari kafe dan menuju hotel di Gatot Subroto.             “Oke aman pak. Silakan bawa koper itu dan masukan kedalam mobil saya yang putih itu.” Katanya kepada pak Amir.             Pak Amir mengikuti suruhannya Pardi. Dia membawa koper hitam itu dan memasukannya kedalam mobil sedan putih ditengah kursi belakangnya.             “Sudah pak Pardi. Ada lagi?”Tanya pak Amir.             “Oke cukup pak Amir. Terimakasih. Bilang sama pak Abiyasa titipannya sudah diterima. Non Amelia akan pulang jam 9 malam ini.” Kata pak Pardi.             “Baik pak. Saya permisi.” Amir melangkah menuju ke mobilnya dan segera melaju meninggalkan kafe di kawasan Kemang itu.             Kamil dan rekannya sudah sampai di hotel Gatot Subroto.             Belum lama Kamil duduk di lobby,  Pardi yang menenteng sebuah koper hitam masuk melewati mereka. Pardi tidak memperhatikan sekelilingnya karena terlalu senang dengan telah mendapatkan uang 1 milyarnya.             Pardi menekan bel kamar yang diisi oleh Rafli, Amelia dan satu lagi temannya Rafli.             Pintu terbuka. Mereka semua tertawa. Pardi masuk sambil mendorong sebuah koper yang berisi uang 1 milyar.             Rafli dan Amelia berpelukan. Rencana mereka berhasil pikirnya.             Kamil menelpon Nicky.             “Mas. Mereka sudah sampai. Suruhannya sudah masuk kamar sekarang. Bagaimana sekarang mas?” Tanya Kamil.             “Oom Kamil,  Nicky minta tolong. Tempatkan teman oom yang 2 orang itu di telepon umum sebelah kiri hotel dekat kantor travel. Apabila melihat orang ini menenteng koper hitam dan memesan tiket ke Surabaya. Itulah dalang penculiknya. Saya akan kirim fotonya ke oom Kamil.” Nicky mengirim foto Rafli kepada Kamil. “Sebentar lagi saya sampai di hotel oom.”             “Baik mas.” Kamil terlihat bingung sendiri. Entah bagaimana caranya Nicky tau akan kemana larinya dan yang akan dilakukan para penculik ini. “Ahh. Terserah dah.” Kamil bicara sendiri.             Handphone Kamil berbunyi. Tampak di handphone seraut muka yang dimakud Nicky dalang penculikan. Kemudian Kamil mengirimkan kembali foto itu ke handphone temannya.             “Itu foto yang mas Nicky bilang dalang penculiknya. Kalian sekarang tunggu di telepon umum dekat kantor travel. Orang itu akan memesan tiket ke Surabaya. Kalian sergap saja. Namanya Rafli.” Kata Kamil.             “Baik pak.” Lalu kedua orang itu ketempat yang disebutkan oleh Kamil.             Sementara itu Rafli, Amelia, Pardi dan satu temannya lagi sedang merasa senang atas keberhasilan mereka. Amelia lalu membuka koper yang dibawa Pardi. Tampak gepokan uang seratur ribuan tersusun rapih. Amelia mengambil dan mencium uang itu.             “Kita berhasil sayang. Kamu bisa membeli apa yang kamu mau sekarang.” Kata Amelia sambil memeluk Rafli.             “Iya sayang.” Rafli menghampiri koper yang dibuka Amelia. Tampak olehnya tumpukan uang itu.             “Gila banyak banget ya 1 milyar ini.” Katanya dalam hati Rafli. “Nyesel kenapa nggak minta 2 milyar saja ya. Sayang kalau gua bagi-bagi uang ini. Gua harus menyusun rencana baru lagi.” Otak dan hati Rafli sudah dirasuki oleh bisikan setan untuk serakah.             “Mel sayang. Sini sebentar.” Kata Rafli menyuruh Amelia mendekat.             Amelia tanpa curiga sedikitpun menghampiri Rafli. Rafli melihat kepada temannya dan mengangguk.             “Duduk dikursi ini sayang.” Kata Rafli menunjuk kursi yang ada disebelahnya.             Amelia menurutinya. Lalu dia duduk dikursi itu. Tiba-tiba teman Rafli menangkap badan Amelia dari belakang. Sedangkan yang satu lagi menyumpal mulut Amelia dengan kaos kaki yang ada disitu.             Amelia kaget dan berusaha berontak untuk membebaskan dirinya. Namun terlambat dia sudah terikat dengan keras dikursi.             Rafli membereskan koper hitamnya dan menrestling kembali setelah mengeluarkan 2 gepok uang dan memberikannya kepada temannya.             “Kalian tunggu disini. Gua akan keluar menitipkan koper ini dulu di penitipan kantor pos. Kalau gua nggak datang dalam 2 jam tinggalin gadis ini dan pergilah ke Bandung dulu nanti gua hubungi secepatnya.” Kata Rafli.             “Oke bos.”             Rafli keluar dari kamar hotel sambil membawa koper hitamnya. Rafli berjalan lewat samping hotel menuju ke kantor travel yang ada dipinggir hotel itu.             Sementara itu 2 orang temannya Kamil sudah menunggu di telepon umum. Mereka melihat orang yang datang sama seperti yang ada di handphone.             Rafli masuk ke kantor travel itu menghampiri penjualan tiket pesawat.             “Mbak masih ada yang ke Surabaya untuk jam 5 sore ini?” Tanya Rafli kepada petugas travel.             “Sebentar pak. Saya check dulu.”             “Baik mbak.”             “Masih ada pak. Tapi tinggal kelas bisnis.”             “Nggak apa-apa mbak.”             “Boleh lihat identitasnya pak?” Petugas itu minta ktpnya Rafli.             Rafli mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan ktpnya.             “Ini mbak.” Menyerahkannya kepada petugas travel.             “Baik pak Rafli. Bapak sudah terdaftar di kursi B4 pinggir jendela. Tunai apa kartu kredit pak Rafli?” Tanya petugas travel.             Tiba-tiba seseorang sudah berdiri disamping Rafli.             “Pak Rafli?” Katanya kepada Rafli.             “Iya pak. Bapak siapa?” Tanya Rafli.             “Kami dari kepolisian. Saudara kami tangkap karena penculikan.” Kata orangnya Kamil.             Rafli kaget dan berusaha untuk melakukan perlawanan. Namun sepucuk pistol sudah menempel dikepalanya.             “Silakan kalau mau lari!” Bentak anak buah Kamil.             “Nggak pak. Ampun pak bukan saya penculiknya. Tapi temen saya 2 orang masih ada dikamar hotel sekarang.” Rafli memelas.             “Oh jangan takut mereka lari. Mereka sudah kami tangkap kok.”             Lemaslah seluruh badan Rafli dan pasrah ketika dia diborgol oleh 2 orang anak buah Kamil itu. Kemudian Rafli dan koper hitamnya dibawa ke mobil mereka.             Petugas travel hanya bengong melihat kejadian ini.             Nicky dan temannya sudah tiba di hotel itu. Mereka menuju ke lobby dimana Kamil menunggunya.             “Mas Nick. Orang saya sudah menangkap Rafli itu.  Sekarang mereka di mobil berikut kopernya. Sekarang gimana mas?”             “Kita ke kamarnya sekarang oom.” Kata Nicky.             Mereka berjalan kekamar tempat Amelia disekap. Begitu sampai dikamar nereka mengetuk pintu kamar.             “Room service.” Fitria mengaku room service. Lalu Fitria agak mundur dari depan pintu kamar.             Pintu kamar terdengar dibuka. Secepat kilat itu juga Kamil menerobos masuk kamar dan berteriak.             “Angkat tangan!”             Anak buah Rafli kaget. Salah seorang  berusaha menerobos Kamil untuk melarikan diri. Namun sebuah pukulan telak menghajar badannya hingga terpental jatuh kelantai.  Andre menghampirinya dan kembali memukul muka orang itu hingga pingsan.             Nicky masuk kedalam kamar. Tampak Amelia terikat disebuah kursi sedang menangis. Nicky menghampiri Amelia.              “Nggak apa-apa Mel?” Tanya Nicky melepaskan ikatan dan sumpalan kain dimulutnya.             Amelia menggelengkan kepalanya.             Nicky kemudian menelpon ayahnya.             “Hallo Pa. Semuanya sudah selesai. Amelia selamat.”             “Syukurlah Nick.” Pak Abiyasa tersenyum gembira.             Rafli dan 2 orang temannya dibawa oleh Kamil ke kepolisian untuk diproses hukum karena kejahatannya yang direncanakan.             Andre dan Fitria pulang kerumahnya diantar oleh mobil milik orangtua Nicky masing-masing satu mobil.             Sedangkan Nicky dan Amelia menggunakan mobil lain pulang kerumahnya di Simpruk.             Begitu sampai dirumah Amelia disambut dengan tangis ibunya. Mereka berangkulan. Sedangkan Nicky tidak lama diruangan keluarga tapi langsung menuju kamarnya untuk istirahat.             Didalam kamar Nicky merasa bersyukur mempunyai kelebihan sehingga dia bisa menyelamatkan kakaknya atau juga mungkin orang lain suatu saat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD