Sudah seminggu sejak kejadian kecelakaan Nicky sudah mulai masuk kampusnya lagi.
Nicky kembali aktif dengan urusan kepanitiaan pamerannya.
Jeane yang tidak tau tentang kecelakaan Nicky pagi itu dia datang ketempat duduk Nicky di ruang kuliah.
“Hai Nick. Apa kabar? Sudah sehat kamu Nick?” Katanya sambil duduk disebelah Nicky.
Andre dan Fitria yang sedang ngobrol dengan Nicky hanya saling pandang saja.
“Hai Jean. Baik kok. Aku nggak apa-apa.”
“Syukurlah.” Ujar Jeane seperti akan memegang tangannya Nicky. Nicky mencoba menghindar agar tidak dipegang tangannya oleh Jeane.
“Ehh Dre.” Kata Nicky membalikan badanya menghadap Andre. “Katanya mau ke cafetaria. Sekarang aja yuk. Mumpung masih ada waktu.” Andre kaget tapi dia cepat mengerti dengan maksud Nicky.
“Ya sudah hayo. Tadi nggak mau. Hihh.” Andre pura-pura kesal.
“Sebentar ya Jean saya ke belakang dulu.” Nicky buru-buru berdiri dan berjalan menyusul Andre yang sudah berjalan duluan.
Setelah diluar barulah Nicky merasa lega. Andre yang terlanjur berjalan kearah cafetaria berhenti berjalan.
“Katanya mau ke cafetaria. Malah berhenti disitu. Ketauan dong ah.” Ujar Andre.
“Iya. Iya Sebentar.” Sahut Nicy berlari kearah Andre.
Di cafetaria mereka duduk berdua dan pesan minum dan makanan kecil.
Waktu berdua sedang duduk dan ngobrol berdua dari kejauhan kedengaran suara sayup suara yang meledek Nicky lagi.
Desmond dan kawan-kawanya menyanyikan lagu si jago mogok.
Nicky tersenyum kepada Andre.
“Ni orang nggak ada kapoknya ya.” Sungut Andre.
“Sudahlah Dre. Biarin saja. Lagian nggak ada efek apa-apa buat gua.”
“Iya ya. Ngapain juga gua layanin.”
Bel masuk terdengar berbunyi. Nicky dan Andre buru-buru berjalan menuju ke ruang kuliahnya.
Untungnya dosen belum masuk ruangan.
Mereka mengikuti mata kuliah sampai jam 11 siang.
Ditempat lain Amalia dan Fadli sedang berjalan berdua di sebuah mall mewah.
Mereka bergandengan tangan dan terlihat mesra.
Kemudian tampak berdua masuk kedalam sebuah toko baju mahal. Rupanya Amelia berencana membelikan sebuah baju untuk Rafli.
Setelah memilih dan mencoba beberapa baju Amelia membawa pilihannya itu ke kasir.
“Ini mbak.” Kata Amelia sambil menyerahkan palstik tumpukan baju yang dipilihnya.
“Baik bu.” Kasir itu memilah-milah baju dan mendekatkan gantungan barcode harga kearah barcode reader kasirnya.
“Semuanya menjadi 4 juta delapan ratus ribu bu.” Kata kasir. “Cash atau kartu kredit bu?” Tanya kasir.
“Kartu saja mbak.” Amelia menyerahkan kartu kredit tanpa limitnya.
Petugas kasir menerima kartunya. Kemudian menggesekannya kepada alat untuk membayar dengan kartu kredit dan memasukan jumlah kreditnya.
“Maaf bu. Kartunya ditolak. Ada kartu lainnya bu?”
“Apa? Masa ditolak mbak. Coba diulang sekali lagi.”
Kasir itu mencoba sekali lagi. Hasilnya tetap ditolak.
“Masih ditolak bu.”
“Masa sih mbak? Itu kartu kredit tanpa limit loh.” Ujar Amelia kesal.
Rafli yang dari tadi berdiri agak jauh mulai panik. Rafli mendekati Amelia dan berdiri disebelah Amelia.
“Kenapa sayang?”
“Ini Raf. Kartu kreditku ditolak terus. Heran aku.”
“Ya sudahlah. Jangan jadi masalah. Malu.” Kata Rafli yang terus menghadap kasir. “Mbak. Boleh simpan dulu baju-baju itu sebentar? Kami mau cek dulu banknya.”
“Baik pak. Kami simpan dulu disini. Nomornya 212 kalau jadi diambil.” Kata kasir kepada Rafli dan menerukan menghitung pembeli lainnya.
Rafli dan Amelia beranjak dari situ dengan perasaan malu.
“Ini pasti Papa yang ngelakuin.” Gerutu Amelia. Kemudian Amelia mengambil handphonenya untuk menelpon ayahnya.
“Hallo Pa.” Setelah mendengar handphonenya menyambung.
“Bukan Mel. Ini Mama. Kenapa Mel?”
“Mama. Papa bikin malu Amel deh. Masa kartu kreditku ditolak sih Ma?”
“Bukan Papa yang melakukannya Mel. Tapi Mama yang minta bank untuk memblokir kartu tambahan kamu.”
“Kok diblokir sih Ma? Apa sih kok bisa jadi begini?”
“Nanti dirumah kita bicaranya yah. Nggak enak ditelepon.” Ibunya Amelia memutuskan hubungan teleponnya.
“Ihhhh!” Amelia kesal. Kemudian membanting handphonenya sampai berantakan.
Rafli yang melihat Amelia kaget bukan kepalang sekaligus merasa sayang dengan hancurnya handphone mahal Amelia.
“Apa-apaan sih Mel. Itukan handphone mahal. Malah dibanting. Aneh.”
“Sudah! Jangan banyak omong. Aku mau pulang saja.” Amelia langsung berjalan menuju ke parkiran mobilnya.
Rafli hanya geleng-geleng kepalanya saja. Dan beranjak pergi dari situ sendirian.
Amelia yang sedang kesal meninggalkan Rafli di mall. Amelia memacu mobilnya menuju rumah.
Begitu sampai dirumah Amelia langsung mencari ibunya. Setelah bertemu ibunya.
“Kenapa sih Ma? Apa salah Amel?”
“Mama hanya melakukan apa yang disuruh oleh Papa Mel.”
“Iya kenapa Ma?” Amelia menangis. “Amel kan malu Ma.”
“Kamu belum sadar juga dengan sifat dan kelakuan kamu yang amburadul Mel?” Bu Vina mulai kelihatan marahnya. “Selama ini Mama diam saja kepada kamu. Kamu mau hura-hura. Kamu mau kemana saja. Kamu menggunakan uang sembarangan bahkan memberi kesembarangan orang. Semuanya Mama diam.” Bu Vina terlihat emosi. “Tapi sekarang tidak lagi. Amel harus mulai mengikuti aturan di rumah ini. Titik.” Nada keras bu Vina malah bertambah. “Sekarang Amel masuk kamar. Simpan kunci mobil.”
Amelia terbelalak matanya mendengar semua perkataan ibunya yang sangat keras dan baru sekarang kejadian seperti itu.
Nicky yang pulang kuliah baru sampai dirumah.
Nicky melihat Amelia sedang menunduk dan menangis didepan ibunya mereka.
“Kenapa Amel Ma?” Tanya Nicky menghampiri Mamanya dan memegang pundaknya.
Ada kilas gambaran yang masuk kedalam benak Nicky dengan jelas adalah saat ibunya marah kepada Amelia dengan seluruh percakapan dan alasannya.
Nicky tersenyum dan berjalan menuju kamarnya.
Amelia akhirnya berjalan juga menuju kamarnya sambil menangis dan kesal atas kejadian tadi.
Bu Vina menarik nafas berat. Sebenarnya dalam hatinya dia tidak tega memperlakukan anaknya seperti itu. Tapi kalau tidak bu Vina berpikir Amelia tidak akan berubah.
Pak Abiyasa yang dari tadi memperhatikan semuanya dari lantai atas tersenyum puas. Ternyata istrinya bisa bertindak tegas dan keras kepada anaknya.
Besoknya jam 8 Amelia sudah minta ijin untuk keluar rumah. Alasannya ada acara dikampusnya.
“Amel bawa mobil ya Ma.” Setelah duduk dikursi makan. Tangannya sibuk membuat roti sendiri.
“Tidak usah Mel. Amel diantar pak Amir saja.”
“Kok diantar sih Ma. Pa! Gimana ini? Masa Amel diantar sih.”
Pak Abiyasa tidak menjawab malah menmbah sarapan paginya.
“Jangan diam saja dong Pa. Answer me!” Amel hampir teriak.
Pak Abiyasa hanya melihat Amel kemudian mengelap tangannya dan beranjak dari meja makan.
Amelia hanya bisa melihat dan diapun bangkit juga dari kursi makannya.
Amelia berjalan keluar dan menutup pintu kembali.
Bu Vina menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Pak Amir!” Teriak Amelia.
Pak Amir yang sedang mengelap mobilpun berlari menghampiri Amelia.
“Ya non. Ada apa?”
“Kata Mama pak Amir yang akan mengantar saya ke kampus hari ini?”
“Betul non. Sudah mau jalan sekarang non?”
“Ya iyalah pak. Cepetan yah. Takut terlambat.”
“Baik non.” Jawab pak Amir berlari lagi ke mobil dan membereskan segalanya.
Setelah selesai pak Amir membawa mobilnya dan berhenti tepat didepan Amelia.
Amelia masuk kedalam mobil dan menutup pintunya.
“Jalan pak.”
Pak Amir tidak menjawab tapi langsung melaju dengan mobilnya keluar dari halaman rumah.
Dikampus Amelia minta diturunkan tepat didepan lobby kampus.
“Saya pulang jam 5 sore ya pak Amir.” Kata Amelia sebelum turun dari mobil.
“Baik non.” Jawab pak Amir.
Setelah mobilnya tidak tampak lagi Amelia berputar dari jalan belakang kampusnya.
Lalu di naik taxi yang sering mangkal di belakang kampus menuju ketempat sudah dijanjikan berdua dengan Rafli.
Sesudah sampai ditempat itu Amelia langsung masuk ke sebuah ruangan didalam kafe.
Rafli yang sudah ada didalamnya langsung membuka pintu setelah Amelia mengetuknya.
Amelia menangis begitu melihat Rafli.
Rafli kaget melihat Amelia menangis.
“Kenapa Mel sayang? Kok tiba-tiba nangis.” Rafli memegang pundak Amelia dan mengajaknya untuk duduk.
Setelah duduk kemudian Amel menceritakan seluruh kejadian dengan ibunya.
“Yah kacau dong kalau begini.” Rafli terdengar kecewa.
“Kacau apanya sayang?”
“Kamu masih ingat janji mau beliin moge buat aku kan Mel?”
“Iya. Terus kenapa?”
“Ya jadi batal dong Mel. Coba kamu pikir. Sekarang kan kamu jadi serba dibatasi oleh papa dan mama kamu. Tentunya jumlah uang saku kamu juga Mel!” Rafli semakin menunjukan kekecewaannya.
“Jadi yang kamu pikirin haanya moge? Bukan aku?” Tanya Amelia ketus.
“Bukan gitu Mel sayang. Aku hanya kecewa saja. Ya mending mikirin kamu lah daripada moge.” Rafli memeluk Amel menenangkan situasi.
Cukup lama Amelia menangis.
“Raf sayang. Apa ide lain untuk mendapatkan uang buat beli moge kamu?” Amelia tiba-tiba bertanya kepada Rafli sambil mengusap airmatanya.
“Maksud kamu Mel?” Rafli tidak mengerti maksud Amelia.
“Ya mencari uang untuk membeli moge kamu.”
“Mel. Meskipun aku sekarang sudah sarjana. Aku belum bekerja. Jadi bagaimana bisa dapat uang. Lagian misalnya saja sudah bekerja, berapa lama aku ngumpulin uang untuk beli moge yang ratusan juta gitu sayang.”
“Kerja diperusahaan papaku gimana?”
“Sama saja Mel sayang. Lama juga.”
“Ya paling tidak kamu ada penghasilan dan bisa nyicil gitu.” Saran Amelia.
“Nggaklah sayang. Keburu tua kitanya sayang.”
Rafli dan Ameliapun pada diam.
Tiba-tiba Rafli bangkit dan bertepuk tangan. Amelia sampai terkejut dibuatnya.
“Apaan sih Raf. Gila kali ya. Aku kaget nih.” Amelia mengusap-usap dadanya.
“Aku ada ide brilian. Tapi beresiko Mel.” Ujar Rafli duduk disebelah Amelia.
“Ide apa itu?”
“Bagaimana kalau kita pura-pur saja.”
“Pura-pura apa Raf?”
“Begini. Kamu Mel pura-puranya diculik. Minta tebusan 1 milyar misalnya. Gimana its good idea rights?”
“Caranya?”
“Nanti misalnya jam 7 malam kamu telepon keluargamu dengan nomor lain. Kamu bicara kalau kamu saaat itu sedang disekap penculik. Nanti teman gua bicara seolah-olah penculiknya dan minta tebusan 1 milyar. Gimana kalau begitu Mel?”
Amelia terlihat berpikir dengan rencana Rafli ini.
“Okelah kita coba. Tapi saat mendesak dan terpojok kita harus menggagalkannya ya Raf.”
“Setuju.” Kata Rafli dan mencium pipi Amelia.
Setelah menghubungi temannya Rafli dan Amelia menuju kesebuah hotel di jalan Gatot Subroto dan check-in disana.
Tepat jam 7 malam Rafli dan Amelia mulai menjalankan rolnya.
Pak Abiyasa dan bu Vina waktu itu baru selesai makan malam dan hanya Nicky yang menemani mereka.
“Kemana Amel Ma.” Nicky bertanya kepada ibunya.
“Mama nggak tau Nick. Tapi tadi pagi bilangnya ke kampus. Ada rapat panitia apa gitu.”
“Bawa mobil sendiri Ma?”
“Nggak tuh Nick. Memangnya kenapa?”
“Nggak apa-apa. Pak Amir barusan datang dari kampusnya Amel. Katanya Amel tidak ada di kampus. Teman sekelasnya bilang Amel tidak masuk kuliah sejak pagi. Gitu Ma makanya Nicky nanya.”
Pak Abiyasa berkerut keningnya saat mendengar Nicky bicara.
“Nggak ada di kampus? Maksudnya apa Nick? Pak Abiyasa mulai ikut bicara.
“Nggak ngerti Pa?”
Sedang bicara begitu tiba-tiba handphone bu Vina berdering. Bu Vina mengangkat handphonenya.
“Hallo. Selamat malam.”
“Hallo Ma. Ini Amel.” Kedengaran suara Amel seperti ketakutan.
“Kenapa Mel. Ada apa? Kok suara kamu ketakutan gitu.”
“Iya Ma. Aku sekarang diikat dan dipaksa menelpon.”
“Dimana kamu Mel?” bu Vina mulai khawatir. Pak Abiyasa yang dari tadi diam saja sekarang bangkit dan minta handphonenya bu Vina.
“Hallo Mel. Ini Papa. Kenapa kamu Mel?”
“Pa. Aku disekap orang-orang ini Pa.” Isak Amelia.
Tiba-tiba suara Amel berobah menjadi suara seorang laki-laki.
“Pak Abiyasa?”
“Ya. Siapa ini?” Kata pak Abiyasa tenang.
“Pak Abiyasa. Saya sudah menculik anak bapak. Ingat jangan memberitau siapapun. Apalagi polisi kalau ingin anak bapak selamat.” Kata suara laki-laki ditelepon. “Termasuk teman laki-lakinya. Perintah saya selanjutnya menyusul.” Sambungan handphone pun terputus.
“Hallo! Hallo.” Pak Abiyasa berteriak.
Pak Abiyasa duduk dengan lemas.
“Kenapa Pa?” Bu Vina memegang suaminya.
“Amel diculik Ma. Kita disuruh menunggu perintah selanjutnya.”
“Ya ampun! Hubungi polisi saja Pa.” Pinta bu Vina.
“Jangan Ma. Mereka bilang jangan menghubungi orang-orang termasuk polisi.”
“Nicky dengar suaranya laki-laki Pa.” Kata Nicky.
“Iya Nick.”
5 menit kemudian handphone bu Vina kembali berbunyi.
“Hallo.” Pak Abiyasa yang sekarang menerimanya.
“Sediakan uang 1 milyar kalau dua orang ini mau selamat! Ujar orang diujung telepon. “Bawa uangnya ke alamat yang besok saya kirimkan ke handphone ini.”
Sambungan kembali terputus.
“Mereka minta uang 1 milyar Ma.” Kata pak Abiyasa. “Harus ada besok hari.”
“Ya ampun! Ada apa lagi kamu Mel?” Bu Vina kembali menangis sejadi-jadinya.
Nicky bukannya panik malah tersenyum. Dari tadi Nicky duduk dikursi yang Amelia duduki tadi pagi saat dimarahi ibunya. Jadi semua kejadian dan apa yang dilakukan oleh Amelia sekarang Nicky tau bahkan sampai tempatnya.
Pak Abiyasa melihat Nicky tersenyum menjadi sedikit lega. Pak Abiyasa tau Nicky pasti sudah mendapat gambaran kejadian sebenarnya.
“Pa. Ikutin saja apa maunya penculik. Papa minta bank sediakan uang 1 milyar besok. Nicky dan teman-teman mau menghubungi seseorang yang ahli dalam pembebasan sandera.” Nicky menjelaskan rencananya kepada ayahnya. “Mama nggak usah panik. Tidak akan ada apa-apa Ma. Ini ulah Amel dan Rafli saja.”