#7-KAKAK BORJUIS

1974 Words
            Hari ke 5 Nicky di rumah sakit dalam perawatan para dokter yang terbaik di negeri ini. Bahkan ayahnya mendatangkan dokter ahli dari luar negeri. Hal itu membuat Nicky cepat sembuh dari luka dan pulih kondisi fisiknya.             Hari ke 6 Nicky sudah diperbolehkan pulang tapi masih harus istirahat total dari kegiatannya sementara. Andre dan Fitria mengantar Nicky pulang ke rumahnya.             Hari masih pagi. Pak Abiyasa dan bu Vina sudah datang ke ruang perawatan Nicky. Tidak lama kemudian temannya Andre dan Fitria juga datang. Mereka sudah janji akan mengantarkan Nicky kerumahnya.             “Selamat pagi oom, tante.” Andre dan Fitria menyalami orangtuanya Nicky.             “Selamat pagi Dre! Fit! Eh apa itu Dre?” Bu Vina yang menyapa mereka. Sementara pak Abiyasa tersenyum dan mengangguk. Pak Abiyasa kagum atas kesetiakawanan mereka.             “Ini lupis tante. Nicky suka makan ini tiap hari dikampus.” Membawa lupis itu dan memberikannya kepada Nicky.             “Terimakasih bro.” Nicky tersenyum bahagia. Tapi hanya sebentar karena tiba-tiba keningnya berkerut lantas tertawa.             Dalam mata Nicky terbayang saat Andre dan Fitria membeli lupis. Andre meminjam uang dulu ke Fitria karena sedang tidak punya uang. Percakapan maupun saat membelinya diketahui Nicky setelah menerima lupis yang diberikan Andre.             “Sebenarnya jangan repot-repot bro. Apalagi kalau kantongmu kosong hahaha.” Tawa Nicky. “Tapi saya menghargai itu. Thanks ya bro, Fit.”             Pak Abiyasa dan bu Vina tersenyum melihat tingkah Andre yang kelihatannya kikuk dihadapan mereka.             “Nicky! Bercandanya kelebihan ih.” Bu Vina menjaga perasaan Andre.             “Tidak apa-apa tante. Memang Nicky suka jeblokin saya kok.” Andre tertawa.             “Ya sudah. Hayo kita turun saja kalau sudah siap.” Ajak bu Vina.             “Iya Ma.”             Keluarga pak Abiyasa diantar teman setianya Andre turun dengan lift menuju lobby rumah sakit. Mobil mewah milik pak Abiyasa sudah menunggu.             Paling hanya 10 menit mereka sudah sampai di rumah.             Andre dan Fitria terkagum-kagum melihat rumahnya Nicky.             “Nick. Ini rumah apa benteng pertahanan sih?” Giliran Fitria yang nyerocos.             Andre dan Fitria memegang Nicky masuk kerumahnya.             “Ah kamu ini Fit. Biasa aja lagi. Jangan berlebihan deh. Saya jadi malu.”             “Nggak berlebihan Nick. Ini kenyataan.” Fitria sambil mencubit tangannya sendiri.             Mereka masuk kedalam rumah Nicky sudah disambut oleh 3 orang pelayan yang sudah mempersiapkan segala keperluan yang punya rumah.             Tambah melotot mata Andre dan Fitria melihat tiang rumah dan isinya.             “Ini tiang rumah apa fondasi jalan layang ya?” Andre menepuk-nepuk tiang rumah Nicky.             Pak Abiyasa dan Bu Vina tertawa melihat kelakuan Andre.             “Sudah Dre ah! Ayo langsung ke meja makan saja ya. Kita sarapan. Ayo Fit.” Ajak pak Abiyasa yang sudah berjalan duluan ke meja makan.             “Iya oom, tante.” Sahut Andre dan Fitria. Kemudian mengikuti pak Abiyasa ke meja makan.             Andre dan Fitria duduk dimeja makan bersebelahan dengan Nicky. Sedangkan ayah dan ibunya Nicky ada dimasing-masing kursi dipinggir-pinggir meja makan saling berhadapan.             “Ayo Fit, Dre. Dimakan yah.” Ajak Nicky.             “Iya Nick.” Fitria yang menjawab. Sedang Andre sudah melahap makanan sebelum Nicky mengajaknya. Nicky tersenyum.             Tidak terdengar satu dentingan sendok ataupun garpu yang berbunyi dengan piring saking hati-hatinya dan sopannya saat mereka makan.             Karena mereka bersentuhan dengan Nicky maka seluruh kegiatan mereka semuanya tergambar jelas dalam pikiran dan benak Nicky.             “Dre. Tambah ayamnya. Mbak tolong bawain ayam taliwang itu ke mas Andre.” Nicky minta pelayan makannya membawa ayam taliwang yang ada di meja troli sebelah. “Sekalian jus jeruknya buat mbak Fitria yah mbak.”             “Baik mas.” Jawab pelayan dan mendorong troli mendekati Andre dan Fitria.             Andre dan Fitria saling pandang. Mereka heran Nicky tau apa yang mereka pikirkan.             Saat mereka sedang makan terdengar deruman mobil sport Mercy yang dipakai kakaknya Nicky masuk halaman rumah.             Pintu rumah terbuka dan masuklah seorang gadis dengan pakaian yang mewah dan terkesan glamor.             “Selamat pagi semua!” Teriaknya menuju meja makan.             “Hey Nick. Sudah pulang kamu?” Menghampiri Nicky dan memegang tangannya Nicky. Pak Abiyasa melihatnya.             Nicky mengangguk. “Iya Mel. Baru saja sampai. Nih temanku yang setia nungguin aku di rumah sakit. Ini Andre dan ini Fitria.” Kata Nicky menunjuk Andre dan Fitria. “Kamu kemana saja kok nggak nengokin gua sih? Pacaran yah? Di puncak? Ngapain?”             Pak Abiyasa dan bu Vina mengerti kenapa Nicky terlihat kesal. “Amel. Papa dan Mama mau bicara. Sekarang!” Pak Abiyasa berdiri dan berjalan keruangan keluarga didalam. Diikuti oleh bu Vina. Amelia kaget dan sempat bengong. Soalnya ayah dan ibunya tidak seperti ini sebelumnya. Tanpa dikomando lagi Amelia mengikuti mereka dibelakangnya. Belum selesai Amelia berjalan ke dalam pintu rumah sudah terbuka lagi. Masuklah seorang laki-laki yang berpakaian rapi berkaos dan bertato. “Selamat pagi semua.” Katanya didepan meja makan. Tampaknya laki-laki ini mau langsung duduk di kursi meja makan. “Pak Imron!” Nicky berteriak keras sampai Andre dan Fitria kaget. Pak Imron security di dalam rumah berlari dan menghampiri Nicky. “Ada apa mas?” “Tolong bapak suruh keluar orang ini. Saya tidak mau diganggu.” “Baik mas.” Jawab pak Imron. Laki-laki ini kaget mendengar teriakan dan perkataan Nicky. “Ini gua Nick. Rafli pacar kakak lu.” “Masa bodo. Sekarang lu keluar dan jangan panggil lu gua lagi. Oke.” Nicky tegas bicaranya. Pak Imron mengantar Rafli keluar dari dalam rumah. Nicky tertunduk kepalanya setelah pak Imron dan Rafli diluar. “Kenapa Nick? Kamu merasa keganggu kami juga?” Tanya Fitria sambil memegang tangannya Nicky. “Nggak Fit, Dre. Gua nyaman dengan kalian. Kalian adalah teman gua yang baik dan setia tanpa membeda-bedakan orang. Bukan kalian.” Jawab Nicky mengangkat kepalanya dan melihat kepada mereka berdua. “One day kalian akan tau masalahnya.” “Kalau begitu kami pulang aja dulu ya Nick?” Andre menyahut. “Jangan dulu bro. Aku masih perlu kalian oke.” Nicky meminta mereka untuk tidak pulang dulu. “Iya Nick. Sorry tadi gua sempat nggak enak ama lu.” Andre terus terang. “Bukan ama lu ember. Tapi ama orang tadi.” Nicky berusaha bercanda. Mendengar Nicky tadi berteriak pak Abiyasa dan bu Vina keluar tergesa-gesa dari dalam. “Ada apa Nick?” Tanya pak Abiyasa. “Nggak ada apa-apa Pa. Nicky hanya menyuruh Rafli keluar rumah.” “Apa?! Jadi kamu mengusir Rafli pacar Amel Nick?” Amelia menghampiri Nicky emosi kelihatannya. “Kenapa memangnya?” Nicky berdiri. Nicky mengangkat kursi yang didudukinya. Dengan sekali gerakan tangannya mematahkan kursi yang terbuat dari kayu jati itu menjadi belah dua. “Apa ingin aku matahin kaki lu juga Mel? Bikin malu tau?” teriak Nicky berapi-api. Pak Abiyasa mengerti kenapa Nicky menjadi marah besar kepada Amelia kakaknya. “Nicky! Duduk Nick. Tenang. Malu ada teman kamu.” Pak Abiyasa mengingatkan Nicky. Fitria kemudian membimbing tangan Nicky untuk duduk dikursi satunya. Nicky terdiam tapi raut mukanya masih marah. Dia merasa nyaman dibujuk Fitria. Amelia pucat pasi mukanya. Dia heran kenapa Nicky sampai marah besar kepadanya. Sepengetahuan Amelia sosok Nicky lemah lembut, sabar dan tidak pernah sekasar ini. “Dre, Fit kita kekamarku saja yuk.” Ajak Nicky. “Pa, Ma. Boleh Nicky ajak Andre dan Fitria ke kamar Nick?” Nicky minta ijin orangtuanya. “Boleh Nick.” Bu Vina mengijinkan Nicky untuk kekamarnya. Lalu tiga orang bersahabat itu berjalan beriringan ke kamar Nicky. Pak Abiyasa melihat perubahan besar pada diri Nicky setelah kecelakaan. “Amel. Papa dan Mama belum tuntas bicara dengan kamu.” Kata pak Abiyasa dan bu Vina meninggalkan Amelia sendirian di ruang makan. Amelia bingung sendiri. Lalu dia duduk di kursi makan.Sementara itu pelayan rumah dan pelayan pribadi masing-masing sedang membereskan patahan kursi. Yang dengan mudahnya dipatahkan Nicky. Hanya dengan tangan. Tiba-tiba Amelia teringat akan kekasihnya Rafli. Buru-buru dia bangkit dan setengah berlari keluar rumah. Rafli yang diusir Nicky sedang duduk dikursi tamu di beranda rumah. Rafli ditemani oleh pak Imron. “Raf. Kamu nggak apa-apa sayang?” Amelia mengelus pipinya Rafli. “Nggak apa-apa Mel. Cuma kaget saja kok Nicky tiba-tiba kayak begitu sih.” “Sama saya juga honey. Malahan selama hidup baru lihat Nicky seperti kalap. Ada apa ya? Apa karena aku nggak nengokin dia rumah sakit?” “Nggak tau aku Mel. Tapi mungkin aja sih.” Rafli minum minum air dingin yang dibawa pelayan pribadinya Amelia. “Non Amel. Saya permisi kedalam dulu ya.” Pak Imron merasa jengah tinggal disitu bareng mereka. “Oh iya pak Imron. Makasih ya sudah nemenin Rafli.” “Nggak masalah Non. Permisi.” Nicky dan temannya Andre dan Fitria sedang bercengkrama ngobrol dan bercanda seolah tidak ada masalah. Padahal kalau diingat sungguh sangat besar bedanya Nicky sekarang. “Nick. Gila lu. Itu kursi kok bisa patah begitu. Memangnya sekuat itu tenaga lu.” Andre penasaran tentang kursi yang dipatahin Nicky. “Kayak matahin krupuk.” “Iya gua aja heran Dre. Tenaga gua segitu kuatnya.” Sahut Nicky. “Kalau kayu di kursi kampuskan patah berantakan karena aku pukul. Tapi ini aku patahin.” “Memang aku belajar Taekwondo dan sekarang sabuk hitam Dan II. Tapi cara matahin kursi tadi aku juga heran bro.” Kata Nicky. “Tapi sudahlah. Lupain aja semuanya. Gua harap cerita ini tidak menyebar di kampus ya Dre, Fit.” “Iya bro tenang saja.”. “Iya aku janji akan menutup mulut Nick.” Kata Fitria juga. Hari sudah semakin sore. Andre dan Fitria minta ijin pulang kepada Nicky. Waktu keluar dari kamar Nicky mereka melewati ayah dan ibunya Nicky yang sedang minum teh diruang keluarga. “Oom, tante. Saya dan Fitria permisi pulang dulu.” Kata Andre menghampiri mereka. “Kok buru-buru amat sih Dre, Fit. Nggak tidur disini saja.” Balas Ibunya Nicky. “Iya tante lain waktu. Besok ada rapat panitia pameran. Saya belum siapin materinya.” “Oh iya Dre. Nih.” pak Abiyasa menyerahkan amplop putih. “Kamu terima saja dan bagi dua dengan Fitria yah.” “Apa ini oom?” Andre membuka amplop putih. Sekilas dia melihat segepok uang warna merah masih baru didalamnya. “Maaf oom. Saya tidak minta ini kok.” Andre menyodorkan kembali amplop itu ke pak Abiyasa. Sebelum sampai ke tangan pa Abiyasa tangan Nicky lebih dulu menahan tangannya Andre. “Gua yang minta bro. Bukan upah ya.” Kata Nicky. “Apa perlu saya bongkar disini apa yang kalian lakuin tadi pagi?” Andre melihat Fitria. Fitria menggelengkan kepalanya. “Sudah Dre. Ambil saja. Kami memberi ikhlas. Kalian sudah berbaik hati kepada Nicky tanpa pamrih.” Ujar ibunya Nicky berdiri. “Ambil ya Dre, Fit.” Memegang tangan kedua temannya Nicky. “Baik oom, tante. Terimakasih.” Sahut Andre mengangguk dan menyerahkan amplopnya kepada Fitria. “Nah gitu dong ember.” Nicky menepuk-nepuk pundak Andre. “Yuk.” Mereka berjalan beriringan kedepan rumah dan menunggu di halaman. Tidak lama keluar mobil BMW merah berhenti didepan mereka. Sopirnya turun dan menghampiri Nicky. “Sudah siap mas?” “Sudah pak Amir. Pak Amir tolong antar teman saya Andre dulu baru non Fitria yah. Urutannya harus begitu. Turutin apa yang mereka mau. Kemana saja mereka mau.” “Baik mas Nicky.” “Dre, Fit. Kalian pulang diantar pak Amir yah. Kalau ada keperluan apapun bilang saja ke pak Amir. Sorry gua gak bisa mengantar kalian.” Nicky menjelaskan. “Bener-bener gila lu Nick. Hadeuuhh. Thanks ya bro.” Andre menepuk pundak Nicky. “Makasih ya Nick.” Fitria menatap mata Nicky. “Sama-sama Fit.” Balas Nicky dan memegang tangan Fitria untuk masuk ke mobil. “Ciehh!” Andre meledek Nicky. “Ck!Ck!Ck bersemi nih pohon.” Sambungnya. “Diem lu ember!” Nicky mendorong badannya Andre buat masuk di kursi depan. “Sudah pak Amir, jalan!” Nicky menepuk mobilnya. Mobilpun mulai berjalan meninggalkan halaman rumah Nicky. Sebelum masuk kedalam Nicky masih sempat melirik kearah Rafli dan Amelia yang sedang melihat kearahnya. Nicky acuh saja berjalan dan masuk rumah lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD