Jam 9 pagi semua perlengkapan medis yang menempel di tubuh Nicky semuanya berhasil dilepas.
Nicky masih harus di infus untuk mengembalikan ion tubuhnya agar cepat sehat seperti sediakala lagi.
“Berapa lama Nicky koma Ma?” Nicky bertanya kepada ibunya yang sedang menyuapinya.
“2 hari Nick. Kenapa memangnya?”
“Nggak apa-apa Ma. Perasaan Nicky sepertinya 2 minggu.”
Nicky kembali heran dengan keadaan yang dia alami saat ini. Dia ingat sekali siapa yang membawanya ketempat-tempat yang harus dia ikut. Seingatnya itu sudah 2 minggu bukan 2 hari.
“Ahh. Sudahlah pusing aku.” Tanpa sadar Nicky bicara sendiri.
Ibunya Nicky kaget bukan kepalang.
“Kenapa Nick? Kamu pusing?” Tanya ibunya.
“Nggak Ma. Siapa yang pusing?” Malah balik bertanya.
“Barusan kamu bilang pusing. Mama dengar sendiri kok.” Bantah ibunya.
“Masa sih! Aku nggak bilang apa-apa kok Ma.” Nicky menyanggah kata ibunya.
Bu Vina bengong. Hatinya mulai merasa aneh dengan sikap Nicky yang agak berubah dengan mendadak. Padahal hanya tidak ingat apa yang dia katakan saja.
“Mama panggil dokter ya Nick?”
“Loh buat apa Ma. Nicky kan sudah makan. Makan obat. Bicara sudah lancar dan mengenali yang Nicky tau.”
“Oh ya sudah kalau kamu nggak perlu dokter.”
Ibunya beranjak dari pinggir ranjang Nicky setelah menyuapinya sarapan dan makan obat.
“Ma. Mana Papa?”
“Tadi ada disini. Sebentar mungkin lagi kebawah. Paling beli sarapan.” Kata ibunya merasa ada jalan untuk memanggil suaminya. “Pa. Dimana? “
“Saya di cafetaria Ma. Ada apa?” tanya pak Abiyasa.
“Naik dulu deh sebentar yah.”
“Ya...Ya. Papa naik sekarang.”
Begitu sampai dikamar Nicky tampak istrinya memberi isyarat dengan matanya agar mendekati Nicky.
Pak Abiyasa mengerti.
“Kenapa Nick?” Tanya ayahnya Nicky yang duduk disebelahnya Nicky.
“Eh Pa. Papa masih ingat nggak dengan nama Sasranegara?”
Berkerut kening pak Abiyasa.
“Kenapa memangnya dengan nama Sasranegara Nick?”
“Apa betul itu keturunan kita Pa?”
Sekarang pak Abiyasa bertambah bingung lagi karena nama itu belum pernah diceritakan atau diberitahukan kepada siapapun. Apalagi kepada Nicky.
“Tau darimana Nicky tentang itu.” Pak Abiyasa tambah mendekati Nicky setelah menoleh kepada istrinya. Istrinya mengerti lalu mendekat pula ke ranjangnya Nicky.
“Dari eyang Sasranegara sendiri Pa. Dari siapa lagi Nicky tau.”
“Memangnya kamu bertemu dengan eyang Sasranegaranya? Kapan ketemunya? Papa jadi ingin dengar Nick. Tolong ceritakan pada Papa.”
“Oke.” Kata Nicky menyenderkan badannya.
Kemudian Nicky mulai bercerita siapa nama kakeknya, orangtua kakeknya, tinggal dimana, apa pekerjaannya sampai kepada kehidupan ayahnya.
“Coba ada yang salah nggak omongan Nicky Pa?”
Pak Abiyasa tidak menjawab. Hanya airmatanya yang menjawab kalau itu semuanya adalah benar adanya.
“Kenapa Papa nangis? Salah cerita Nicky Pa?” Nicky menoleh kepada ibunya yang ikut menangis melihat suaminya menangis.
“Benar Nick. Semuanya benar. Hanya Papa heran saja padahal itu adalah cerita turun temurun yang belum Papa ceritakan sama Nicky. Bahkan Mama sekalipun.”
“Ya itu Pa. Nicky dibawa sama eyang ke mana-mana. Makanya Nicky tanya tadi sama Mama berapa hari Nicky koma.”
“Ya sudahlah. Nicky pendam saja itu cerita. Jangan cerita sama orang-orang. Cukup Papa dan Mama saja yang tau yah.” Pinta Pak Abiyasa memegang kepalanya Nicky.
“Iya Pa.” Kata Nicky memegang tangan pak Abiyasa. Tiba-tiba Nicky melepaskan tangannya disertai teriakan kaget.
“Ahhh.”
“Ehh Nick. Kenapa kamu?” Pak Abiyasa cemas melihat keadaan Nicky yang menyentakan tangannya.
Nicky diam. Kepalanya menunduk melihat tangannya.
“Kenapa Nick?” Pak Abiyasa mengguncang-guncangkan badannya Nicky.
“Papa tadi di cafetaria makan pastel 2 buah. Segelas kopi pahit. Tapi tidak mencuci tangan. Betul nggak Pa?” Tanya Nicky mengangkat mukanya dan melihat ayahnya. “Uang yang Papa kasih lima puluh ribu rupiah. Kembaliannya Papa kasih kepada anak yang menangis dipojokan cafetaria. Anaknya memakai baju biru celana pendek putih. Betul Pa?” Pak Abiyasa tidak menjawab malah bengong melihat Nicky.
Bu Vina istrinya giliran dia yang menyadarkan pak Abiyasa.
Pak Abiyasa menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
“Bagaimana kamu tau Nick. Eyang lagi yang cerita?”
“Bukan Pa. Tapi Nicky tau dari visual yang Nicky lihat saat memegang tangan Papa tadi.”
Kebingungan pak Abiyasa semakin bertambah. Dia berdiri dan duduk dikursi sofa yang ada diruang perawatan Nicky.
Bu Vina menghampiri suaminya yang kelihatannya lemas.
“Pa. Kamu nggak apa-apa kan?”
“Nggak apa-apa Ma. Hanya tambah kaget saja akan kemampuan Nicky sekarang.”
“Tapi apa yang Nicky bilang .itu semuanya benar Pa?” Bu Vina penasaran.
“Iya Ma. Semuanya benar bahkan yang detilpun dia tau. Hebat anak kita sekarang Ma. Tapi sekaligus menakutkan.”
“Pa. Ma. Nicky baik-baik saja kok. Mungkin ini semacam GIFT yang dibangkitkan pada diri Nick akibat koma. Mungkin.” Kata Nicky melihat kekhawatiran orangtuanya.
“Ya Nick. Hati-hati membawa diri. Jangan sampai orang tau kemampuan kamu.” Pak Abiyasa mengingatkan kembali Nicky.
“Iya Pa.”
Telepon ruang perawatan Nicky berdering. Bu Vina bangkit dan mengangkatnya.
“Hallo.”
“Hallo Bu. Saya dari resepsionis. Ada tamu buat pak Nicky. Bisa diterima?”
“Siapa ya tamunya.”
“Katanya teman kampusnya. Andre dan Fitria.”
“Suruh naik aja Ma. Andre dan Fitria yang datang kan?”
Bu Vina menoleh kearah Nicky. “Tau dari mana kamu Nick?”
Nicky tidak menjawab hanya tersenyum kepada ibunya yang masih menggeleng-gelengkan kepalanya. “Iya suruh naik saja. Kasih tau nomor kamarnya sekalian ya sus.” Jawab bu Vina menutup teleponnya dan kembali duduk di sofa.
“Papa dan Mama diruang sebelah saja.”kata Nicky.
Giliran pak Abiyasa yang senyum sekarang. Dia berdiri dan memegang tangan istrinya.
“Yuk Ma. Nggak usah ngomong juga Nicky tau. Hahaha.” Pak Abiyasa tertawa.
Pak Abiyasa dan Bu Vina berdiri dan berjalan menuju kamar sebelah sambil saling pandang kagak karuan.
Sementara itu Andre dan Fitria sudah sampai dilantai ruang perawatan Nicky.
“Ruang Rajawali. Mana ya?” Andre celingukan mencari papan nama Rajawali.
“Dre! Dre. Kita salah kali. Ruangannya hanya satu kok tuh.” Fitria menunjuk papan nama yang tergantung di pintu sebuah ruang yang besar.
“Iya kali ya. Apa bener Nicky ini temen kita yang kecelakaan atau Nicky yang lain ya.” Andre mulai waswas.
Dari arah depan kamar Rajawali seorang perawat menghampiri mereka.
“Maaf. Mau nyari siapa ya?”
“Emh. Kami nyari teman kami yang 3 hari lalu kecelakaan. Namanya Nicky. Katanya dirawat di ruang Rajawali. Dimana ya ruangnya?” Tanya Andre.
“Ya disini ma, mbak. Satu lantai ini namanya ruang Rajawali.”
“Tapi betul nama pasiennya Nicky mbak?” Sela Fitria.
“Betul mbak. Mari ikut saya. Tadi orangtuanya Nicky melihat mas dan mbak dari balik kamar itu.” Balas perawat itu menunjuk sebuah kamar yang terlihat luas.
Andre dan Fitria tidak bisa ngomong lagi selain mengikuti perawat yang berjalan menuju kamar perawatannya Nicky.
Pintu kamar perawatan Ncky diketuk kemudian dibuka.
“Mari masuk mas, mbak.” Perawat mempersilakan mereka masuk.
“Hey bro. Hey Fit. Masuk!.” Nicky memanggil mereka.
Andre dan Fitria saling pandang dan terlihat bingung melihat ruang perawatan Nicky yang besar dan mewah. Semuanya serba mewah dan lux. Kamar VIP Hotel bintang 5 pun kalah set.
“Hey Nick.” Balas Andre yang masih pungak pinguk melihat kemewahan kamar rumah sakit yang dipakai Nicky. “Bener kan kamu Nicky temen kampus gua?”
“Ya benerlah Dre. Duduk Fit.” Nicky mencoba menghilangkan kekakuan teman-temannya.
“Iya Nick.” Fitria duduk disofa yang ada diruangan itu.
Andre menghampiri Nicky.
“Jangan pegang Dre. Sorry.” Kata Nicky saat Andre mau memegang tangannya Nicky.
“Oh sorry Nick. Gua gak tau. Belum boleh tersentuh yah?” Tanya Andre.
Nicky mengangguk mengiyakan.
Andre mundar-mandir diruangan itu. Sesekali membuka atau memegang barang-barang yang ada disitu.
Nicky tersenyum melihat kelakuan sahabatnya yang satu ini.
“Nick. Boleh gak gua tanya sesuatu?”
“Apa tuh Dre?”
“Kamu ini sebenarnya anak siapa sih Nick?”
“Kenapa memangnya Dre? Gua ya anak bapak gua dong Dre?”
“Iya gua tau. Tapi siapa bapak lu itu?” Andre duduk sebelah Fitria dan mengambil sebuah apel yang ada dimeja.
“Boleh gua makan?” Tanya Andre mengangkat buah apel.
“Makan aja yang lu bisa makan Dre. Fit! Sambil ya. Ambil saja dikulkas Fit.”
“Iya Nick.” Jawab Fitria angkit menuju kulkas dan mengambil 2 kaleng minuman.
“Anak siapa lu Nick?” Andre masih penasaran.
“Oke Dre. Gua anak bungsu dari pak Abiyasa.”
“Hmm. Pak Abiyasa yah.” Andre menirukan orang yang sedang berpikir.
Tiba-tiba dia meloncat berdiri dari sofa. Fitriapun sampai menyingkir ke pinggir karena kaget.
“Maksud lu pak Abiyasa konglomerat itu Nick?” Mata Andre melotot.
Nicky tertawa geli melihat betapa kagetnya sahabatnya ini.
“Ya iyalah Dre. Memangnya gak boleh gua anak bungsunya konglomerat?”
Tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar.
“Iya mas. Nicky anak bungsu saya. Saya Abiyasa dan ini ibunya Nicky.” Pak Abiyasa dan Bu Vina masuk sambil tersenyum dan menyalami Andre dan Fitria yang sama-sama matanya melotot kaget.
“Iiiyaa oom. Tante! Saya Andre.” Andre dan Fitria menyalami dan mencium tangan kedua orangtua Nicky.
“Silakan duduk mas, mbak. Jangan sungkan-sungkan ya.” kata pak Abiyasa menghampiri Nicky. “Papa dan Mama pulang dulu kerumah yah Nick. Kamu sama teman kamu disini dulu. Nanti Papa kesini lagi.”
“Iya Pa. Nicky jadi sehat sekarang. Apalagi ada ember disini.”
“Apa tuh ember Nick?” Bu Vina nyeletuk.
“Itu Ma. Andre sering Nicky panggil ember. Habis mulutnya suka nyerocos sih.” Jawab Nicky sambil tertawa. Andre hanya tersenyum malu.
“Ih kamu itu Nick. Nggak boleh gitu ah. Meskipun bercanda tapi nggak baik loh.”
“Iya Ma. Nick janji nggak panggil Andre ember lagi.”
“Nah gitu dong.” Sahut Bu Vina tersenyum.
“Iya nanti Nicky panggil si Galon. Hahahaha.” Nicky tertawa lepas.
“Ya sudah ah. Bercanda melulu kalian ini. Mama dan Papa pulang dulu ya Nick.” Kata bu Vina mencium keningnya Nicky.
Pak Abiyasa dan Bu Vina tersenyum ke arah temannya Nicky.
“Oom dan tante pulang dulu ya Andre, Fitria. Kalian disini saja dulu sama Nicky. Kalau mau apa-apa tinggal ambil saja.”
“Baik oom, tante. Hati-hati dijalan.” Andre dan Fitria mengangguk hormat.
Setelah kedua orang tuanya Nicky keluar dari kamar perawatan Nicky mereka menjadi bebas melakukan apa saja. Ada-ada saja memang Andre dia bercerita keadaan dikampus sambil tiduran di sofa tamu yang empuk. Sementara mulutnya tak hentinya mengunyah makanan yang ada disitu.
Lain halnya dengan Fitria. Dia duduk disebelah Nicky dan tangannya tak henti mengurut-urut kaki Nicky. Tanpa disadari oleh Fitria semua kejadian baik yang lalu maupun yang baru terjadi semuanya dapat tergambar dengan jelas dibenak Nicky.
“Eh Fit. Kamu tadi pagi kena tegor paak Lukman ya. Kenapa sih?” Tanya Nicky kepada Fitria.
“Biasa Nick. Lupa bawa kuas no 14 padahal tadi pelajaran membuat poster yang menggunakan kuas itu.” Andre nyeletuk begitu saja.
“Apaan sih Dre. Gua yang ditanya malah lu yang jawab. Dasar ember!” Sergah Fitria dan melemparkan bantal ke muka Andre yang tiduran di sofa. “Nggak gitu kok ceritanya Nick. Aku sudah menyiapkan kuas itu semalam tapi pas pagi jalan aku salah ngambil tas kuliah.” Jawab Fitria. “Itu karena si ember ini yang tumben ngejemput aku. Katanya khawatir sudah sehari tidak lihat Nicky.” Lanjut Fitria.
“Nah kan ngaku.” Teriak Andre berdiri dan berjalan ke kulkas. Andre mengambil sebotol minuman isotonik yang ada disitu. “Ini boleh gua minum bro?”
“Boleh Dre. Boleh lu ambil sesuka hati lu yah.” Jawab Nicky tersenyum melihat ulah sahabatnya yang satu ini. “Trus gimana jadinya pak Lukman?” Tanya Nicky.
“Sebentar Nick. Darimana lu tau kalau gua dimarahin pak Lukman? Gua kan nggak cerita ama lu Nick.” Kata Fitria penuh selidik. “Nih pasti si ember yang cerita. Ngaku nggak ember?” Kata Fitria sambil menghampiri Andre.
“Sumpah Fit gua nggak cerita sama Nicky.” Andre mengkerutkan badannya dan mengangkat tangannya.
“Jadi siapa dong? Eh Nick lu tau darimana sih?” Tanya Fitria lagi.
Nicky kaget sendiri. Dia merasa ceroboh dan keceplosan bertanya dengan apa yang terbayang dalam benaknya.
“Nggak gua tau dari ciri-ciri tas lu aja Fit. Biasanya bukan yang ini kan yang biasa dibawa kekampus. Lu kan biasanya bawa yang coklat. Tasnya doraemon. Betul nggak?” Kata Nicky menyanggah tuduhan Fitria.
Fitria tersenyum sendiri.
“Perhatian juga lu ama gua Nick.” Kata Fitria. “Bener itu.”
Andre yang belum mengerti maksudnya Fitria dan Nicky jadi tambah bingung. “Memang kalian ini ya. Orang aneh. Freak!” Kata Andre menggaruk-garuk kepalanya padahal tidak gatal.
Fitria dan Nicky tertawa sampai terbahak-bahak melihat kelakuan Andre.
“Andre sayang, begini ember.” Kata Fitria duduk mendekati Andre. “Aku kan biasa pake tas kuliah coklat yang Nicky bilang tas doraemon. Nah sekarang lu lihat. Gua kan pake tas warna biru, jadi dia menebak pasti ada barang yang ketinggalan. Kalau dia tau gua dimarahin pak Lukman karena hari ini kan seharian yang ngajarin cuma pak Lukman. Ngerti nggak lu?” Ujar Fitria sambil mencubit tangannya Andre.
Andre menjerit sakit sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Iya, iya Fit gua ngerti.” Kata Andre meringis.
Nicky gembira karena alasannya yang di karang-karang bisa diterima oleh sahabatnya tanpa diketahui alasan sebenarnya.
Hari sudah semakin sore tapi ketiga sahabat itu masih bercanda dan bersenda gurau tidak ada hentinya. Bahkan saat malam tibapun mereka masih di ruang perawatan Nicky sampai-sampai kedatangan pak Abiyasa dan bu Vina untuk menunggui Nickypun tidak mereka sadari.
“Selamat malam anak-anak.” Sapa pak Abiyasa dan bu Vina.
Kontan mereka pada berhenti dan menoleh kearah pintu kamar.
“Selamat malam oom, tante.” Balas Andre dan Fitria bersama-sama.
“Gimana Andre, Fitria kerasan tinggal disini?” Tanya bu Vina sambil tersenyum dan duduk di kursi sofa yang sudah berantakan.
“Ehh, ehh sebentar tante. Andre beresin dulu sofanya. Tadi Andre tiduran disitu.” Sahut Andre mendekati bu Vina dan segera membereskan sofanya yang bantalnya dimana-mana.
Bu Vina tertawa melihat Andre gelagapan. “Sudah! Tidak apa-apa Dre. Biar tante saja.” balas bu Vina membereskan sofanya.
“Iya Dre. Biarin saja kamu terusin saja ngobrolnya sama Nicky yah.” Pak Abiyasa memotong pecakapan Andre dan bu Vina.
“Iya oom, tapi kamipun harus pulang sekarang. Besok kami kesini lagi.” Ujar Andre membereskan tas kuliahnya. Fitriapun akhirnya ikut membereskan tasnya juga.
“Ohh gitu ya. Jadi kalian tidak kerasan yah dikamar ini?” Kata bu Vina tersenyum.
“Ya nggak tante. Maksudnya kalau di rumah sakit. Meskipun mewah seperti begini.” Kata Fitria sambil tertawa.
Pak Abiyasa, bu Vina dan Nicky tertawa mendengar jawaban Fitria.
“Ya iyalah Fit. Siapa mau lagi tinggal di rumah sakit.” Balas bu Vina. “Jadi pulang nih? Padahal oom dan tante bisa tidur disebelah loh.”
“Iya tante. Kami harus pulang.” Sahut Fitria. “Besok ada mata kuliah killer soalnya.”
“Iya nggak masalah kok.” Kata pak Abiyasa. “Dibawah pak Amir sudah menunggu untuk mengantar pulang kalian. Sebelumnya kalian mampir dulu ke mall yah. Beli sesuatu untuk dibawa ke rumah kalian.” Kata pak Abiyasa mengeluarkam amplop dan memberikannya ke Andre dan Fitria. “Nanti tinggal bilang saja ke pak Amir ya Dre, Fit.”
Mereka berdua bengong saja melihat ditangannya masing-masing sudah ada amplop yang berisi uang untuk belanja.
“Iii..ni apa maksudnya oom?” Kata Andre terbata-bata.
“Itu duit ember!” Celetuk Nicky tertawa.
“Sudah! Sudah ahh bercanda terus. Itu uang untuk belanja beli oleh-oleh untuk keluarga kalian dirumah. Bukan apa-apa yah. Terima saja oke!” Kata bu Vina tegas.
“Oke!” Tanpa sadar Andre mengikuti kata-kata bu Vina.
Semua tertawa merasa lucu melihat tingkah Andre.
Setelah Andre dan Fitria pulang, Nicky tersenyum puas dan bahagia telah dikunjungi oleh kedua sahabatnya.
Pak Abiyasa dan bu Vina pun melihat Nicky dan bersyukur yang tak terhingga dibalik sejuta tanya dalam benaknya masing-masing.