33. Bolehkah?

1133 Words

Rhea tidak tahu apa yang membawanya pada keberanian itu, mungkin kelembutan yang selalu Tama berikan di balik sikap skeptis, jahil, dan menyebalkannya, mungkin tatapan mata yang seakan menelanjangi seluruh resahnya, atau mungkin hanya karena dia terlalu lelah menolak sesuatu yang sudah lama ditakdirkan untuk tumbuh. Bibir mereka kembali bertemu, lebih panas, lebih dalam, dan kali ini bukan lagi sekadar pencarian, melainkan sebuah pengakuan. Tama sempat terkejut, tapi kemudian menyerah pada arus yang tak lagi bisa ditahan. Dia membalas sentuhan itu dengan seluruh dirinya. Jemarinya bergerak hati-hati, menyelusup ke rambut Rhea, membelai setiap helai seakan ingin mengingat teksturnya selamanya. Waktu seakan mencair. Dapur kecil itu berubah menjadi panggung yang hanya mengenal dua pemeran.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD