Makan malam selesai dengan perut kenyang dan hati hangat. Mereka merapikan piring kotor. Tama membantu. Di dapur, Rhea mulai berdiri, menerima sisa piring kotor dari Tama. “Biar aku bantu,” kata Tama. “Aku saja cuci piringnya. Kau cukup duduk santai saja, Tama.” Namun, bukannya duduk, Tama justru menggulung lengan kemejanya lebih tinggi. “Tidak bisa. Aku juga ikut makan, berarti aku ikut cuci. Harusnya kau yang duduk saja karena sudah masak, dan kau pun tamu. Kenapa cuci piring?” “Tidak usah, dan tidak apa-apa. Kau pasti cuci piring sama lap kaca kotor pun belum pernah.” Rhea mengangkat alis, menantang. Tama tersenyum miring, lalu mengambil piring dari tangannya. “Kalau begitu, ini kesempatan emas untuk membuktikan kalau CEO juga bisa menggosok piring. Lagipula, aku butuh alasan

