Bab 69. Melvern Murka

1007 Words
Griffin murka sekali. Heidi benar-benar tidak menoleh ketika ia bicara. Lalu sekarang ia menganggap Griffin seolah-olah tidak ada disana. “KEMARI KAU BERENGSEK!” Tangan Griffin sudah hampir menyentuh pakaian Heidi. Tapi sekejap kemudian pergerakan Griffin terhenti lagi. Tubuhnya mendadak kaku dan dengan jentikan jari saja ia langsung terlempar. DUAARR! Tubuhnya sukses menghantam tembok kastil sampai tembus ke dalam. Six dan Seven juga dibuat takjub dengan kekuatan Heidi yang tidak terkalahkan itu. “Heidi kuat sekali!” Six memekik senang. Heidi yang tadinya melangkah maju tiba-tiba terhenti tepat di depan anak tangga pertama. Kepalanya mendongak ke atas untuk melihat siapa gerangan yang turun dari sana. Six dan Seven ikut terpaku melihat wanita yang turun dengan anggunnya dari tangga atas. Tatapan penuh kekuasaannya itu sangat tegas dan kedutan di dahinya itu jelas memperlihatkan suasana hatinya yang sedang tidak baik. “Satu anak tangga, sebelah kakimu akan hilang. Dua anak tangga, kedua tanganmu hilang. Tiga anak tangga, kepalamu yang akan aku buat menghilang.” Melvern berkata dengan sungguh-sungguh. Tidak ada vampir asing yang boleh menginjakkan kaki di kastil Heddwyn yang terhormat. Siapapun itu, karena ia masih kesal akibat ulah sang anak pagi tadi. “Dia pasti Melvern.” Six bergumam dan didengar sangat jelas oleh Melvern. Bagus jika mereka mengenalinya. Ia tidak perlu repot-repot memperkenalkan diri. Di masa sebelum ia menikah dengan Iefan. Ia dikenal sebagai Melvern Terraclya. Gadis pemarah dari bangsawan Terraclya yang telah lama punah sejak lama. Satu-satunya wanita dari garis keturunan yang bisa menggunakan mantra langit. “Kita benar-benar bukan lawan tandingnya.” Seven memperingatkan sang adik agar tidak bertingkah macam-macam dulu. Tapi justru Heidi yang memulai mencari gara-gara lebih dulu. Ia dengan berani melangkahkan kaki untuk menginjak anak tangga pertama. Mengindahkan ancaman Melvern. Lalu- ZRASSHH! Dugh! Kaki kanan Heidi sungguh tercabik sampai terlepas. Kakinya tergeletak di atas lantai sedangkan Heidi hanya memandangnya biasa saja. Seven tidak bisa bergerak lagi dengan kecepatan serangan Melvern tadi. Entah apakah wanita itu tadi sudah menyerang atau belum. Karena Melvern masih berdiri di tempatnya. Tapi melihat kaki kanan Heidi yang terputus membuat Six percaya bahwa Melvern tadi sudah menyerang Heidi. Melvern tersenyum, tapi sayangnya senyuman itu persis seringai jahat bagi Seven. “Aku punya hadiah untuk kalian.” Tiba-tiba- DESSS! SRAAA! Heidi beserta Six dan Seven langsung terhempas mundur dengan serangan kejut dari Melvern. Tapi setelah dipukul mundur, tiba-tiba Heidi sudah dihujami puluhan jarum merah yang jatuh dari langit. Melvern sudah langsung menggunakan darahnya dengan kekuatan penuh. Seluruh perhatian musuh juga langsung tertuju pada serangan besar tadi. Sehingga mental mereka sedikit tergoyahkan. “He… i… di.” Melvern mendengus kasar. Rupanya serangan tadi masih bisa membuat Heidi berdiri. Tapi Seven dan Six tidak bisa bertahan dan tubuh mereka langsung menjadi abu. Dua jarum besar tertancap di kepala mereka dan tembus sampai ke bawah. Sedangkan Heidi hanya terkena di bagian lengan dan juga kedua pundak. “Terraclya… Sepertinya aku terlalu meremehkanmu.” Heidi untuk pertama kalinya mulai bersuara. Melvern awalnya cukup bangga setelah berhasil memusnahkan dua vampir tidak berguna tadi. Tapi rasa bangga itu dipaksa pergi oleh Heidi yang dengan santainya memasang kakinya yang telah putus tadi. Persis seperti mainan anak kecil. Kaki yang lepas bisa dipasang kembali. Bahkan jarum besar itu juga mudah sekali dicabut dari tubuhnya. Tidak ada rintihan sakit yang keluar dari mulutnya. Dan itu membuat Melvern sedikit resah. “Aku punya satu pertanyaan untukmu, Terraclya….” Mata Heidi langsung berkilat tajam “Kenapa kau melindungi wanita itu? Apa alasanmu melakukan ini?” Melvern tidak langsung menjawabnya. Ia justru harus melindungi Tiffa karena akan ada calon raja Heddwyn berikutnya yang ada di dalam perut Tiffa. Lagipula tidak mungkin ia membiarkan calon mantu dan calon cucunya mati konyol di tangan para birokrat dari organisasi yang sama konyolnya. “Pihak luar sepertimu tidak perlu tahu apa urusan Heddwyn dengannya.” Heidi terdiam. Melvern memutuskan untuk melawan Heidi kali ini dan ia tidak akan membuat cucu kesayangannya nanti hidup tanpa ada sosok nenek disisinya. Walaupun Heidi sangat kuat melebihi dirinya. “Kalau begitu, aku tidak akan bertanya lagi.” Ujar Heidi kembali melangkah. Lagi-lagi dia berjalan tanpa peduli Melvern akan menyerangnya lagi. Persis seperti Griffin tadi. Sedangkan Melvern tampak mengatur emosinya lagi. Griffin dan Iefan entah kemana saat ini. Ia sendirian mengurus vampir asing yang seharusnya bukan tugasnya. Perlahan tapi pasti, Melvern ragu apakah ia sanggup melawan pria itu sendirian. Saat Melvern bersiap untuk menyerang lagi, ia mengangkat kepalanya dan langsung berwajah kesal saat merasakan siapa yang datang. Mulutnya terasa pahit ketika Rivaille kembali. Sraat! "Aku tidak akan membiarkanmu lewat!" Heidi tiba-tiba terangkat dan melayang di udara. Sekuat tenaga Rivaille menggunakan telekinesisnya agar Heidi berhenti melangkah. "Rivaille! Pergi! Biar Ibu yang melawannya!" Teriakan Melvern sengaja tidak Rivaille dengarkan. Mana ada anak yang membiarkan ibunya melawan pria berengsek ini seorang diri. Rivaille masih punya harga diri tentunya sebagai pria. Heidi melirik ke arah Rivaille. Semakin banyak vampir Heddwyn yang menghalanginya untuk masuk. Membuatnya semakin yakin bahwa wanita itu sungguh ada di dalam. "Aku tidak ada waktu untuk berurusan dengan kalian." BRAAAK! "RIVAILLE!" Melvern melotot dan kaget sekali. Ia lihat jelas sekali Heidi hanya mengayunkan tangan kanannya saja. Tapi Rivaille langsung terhempas kuat dan menghantam tangga. "Ugh!" Rivaille merasa tubuhnya terluka semakin parah saja. Pertarungan sebelumnya sudah membuat titik jiwanya semakin terluka. Dan apa-apaan serangan tadi? Tiffa saja tidak pernah sampai seperti itu. 'Tidak mungkin pria ini lebih kuat dari Tiffa.' Batinnya ngeri. Kaki Heidi yang telah memijak lantai kembali berjalan. Tapi lagi-lagi ia ditendang mundur oleh Melvern yang turun dari tangga. Matanya yang merah itu perlahan mengeluarkan darah. Heidi sekarang bisa menyaksikan bagaimana kekuatan Melvern yang sebenarnya. "Berani sekali kau memukul anakku…." Rivaille memegangi dadanya ketika mendengar suara rendah ibunya. Ia terbatuk beberapa kali. Ibunya tidak melawan pria itu. Kalau memang situasinya kacau, mereka berdua harus mendiskusikan rencana sebentar dan menyerang bersama. Tapi karena ibunya sudah dalam mode serang, Rivaille harus berusaha keras untuk membantu sebisanya. SRAAAAA! Heidi sudah memperhitungkan jarak teraman untuk menerima serangan dari Melvern. Tapi karena serangan Melvern serangan dengan jarak luas, Heidi tidak bisa mundur terlalu jauh. Melihat betapa murkanya Melvern saat ini semakin terlihat membahayakan. "Beraninya… GALILEA!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD