Teriakan Melvern langsung memanggil petir besar dari langit. Sambaran petir itu benar-benar menyilaukan mata Rivaille karena petir yang menghantam tanah tepat di depan matanya.
Baik Rivaille dan Heidi, mereka berdua benar-benar terpukau dengan kejadian tadi. Apalagi ketika Rivaille kini melihat ibunya yang mencabut pedang dari tanah.
“Galilea, pedang dari langit.”
Heidi memperhatikan pedang bersinar yang dialiri tekanan listrik itu. Melihat bagaimana hebatnya Melvern memanggil pedang itu, Heidi tersenyum kecil.
“Mari kita bertarung, Terraclya!”
Melvern berjengit jijik melihat bagaimana vampir culun itu merobek bajunya dan melepaskan kacamata itu. Ketika Melvern hendak melepaskan tebasan pedangnya, tiba-tiba Heidi bergerak lebih cepat dari dugaannya.
DUARR!
Rivaille berusaha berdiri walaupun sekujur tubuhnya terasa sakit.
“Griffin!” Teriaknya panik.
Pukulan dan tebasan terus saja terdengar mengerikan. Aula depan kastil telah rata dengan tanah akibat pertempuran sengit mereka. Sedangkan bertubi-tubi serangan Melvern berhasil ditepis oleh Heidi dengan mudahnya.
Rivaille tahu ibunya tidak akan mampu melawannya seorang diri. Ia ingin menolong, tapi sulit masuk ke dalam pertempuran karena takut akan mengganggu konsentrasi ibunya saja.
“KAKAK!” Rivaille menoleh dan mendapati Elunial datang menghampirinya.
“Dimana Griffin dan ayah?” Elunial tampak mandi keringat dan wajahnya pucat tidak karuan.
“Bibi Veronica sedang merawat paman! Dan ayah sedang bertarung di kastil barat!”
Rivaille mengepalkan tangannya dengan erat. Jika seperti ini terus, Heddwyn akan kalah. Ia juga hampir kehabisan tenaga sekarang. Terlebih lagi ia tidak bisa meninggalkan ibunya bertarung sendirian.
“Kau ke kastil barat dan bantu ayah! Aku akan coba membantu jika masalah disini sudah selesai.”
Elunial awalnya tidak bisa menangkap perkataan kakaknya karena terlalu takjub dengan pertarungan ibunya dengan vampir tidak dikenal itu.
Ia meringis ngeri karena serangan bertubi-tubi dari ibunya itu tidak membuat satu goresan di tubuh pria itu.
“Aku akan mencari kakek!”
BRAAKK!
Elunial dan Rivaille kompak melotot selebar-lebarnya. Benturan kuat yang menghantam tanah tepat di belakang Rivaille adalah ibunya.
Melvern langsung tidak berdaya ketika menerima satu serangan Heidi di perutnya. Pedang suci itu terlepas dari tangannya sedangkan pandangannya juga perlahan kabur.
“IBU!” Elunial langsung menghampiri dan mengangkat kepala sang ibu. Sedangkan Rivaille berdiri menghalangi Heidi untuk melukai ibunya lagi.
“Rivaille… bawa adikmu pergi dari sini… Dia terlalu kuat untuk kalian hadapi.”
Suara serak Melvern membuat Elunial menangis. Tidak pernah ia melihat ibunya seperti sedang sekarat seperti ini. Rivaille menggeram marah.
“Heidi….” Desisnya murka.
Banyak anggota keluarganya terluka akibat peperangan ini. Dan semuanya berkat para birokrat yang semena-mena dan main hakim sendiri.
Mementingkan kekuasaan mereka yang seakan-akan di atas segalanya. Rivaille muak dengan semua aturan itu. Mata Heidi berkilat tajam.
“Ini semua karena kalian berusaha melindungi wanita itu… Aku akan segera pergi dari sini jika kalian menyerahkannya sekarang.” Rivaille bersumpah Heidi akan mati di tangannya.
Rivaille menatap ke bawah dan mengambil pedang suci milik ibunya di dekat kakinya. Mata hitam dan amarah yang membara membuat aura hitam berkumpul menyelimuti tubuh Rivaille.
“Oh tidak….”
Melvern berusaha untuk bangun ketika putra sulungnya berdiri menantang Heidi. Tangan Rivaille menggenggam bilah pedang itu dan menyayat tangannya dengan sekali tarikan.
Elunial bahkan tidak berani berkedip karena takut melewatkan hal kecil dari kakaknya.
“Aku takut Kakak jadi tidak terkendali seperti kemarin.” Gumamnya yang sama khawatirnya dengan Melvern.
Pedang suci dari langit, Galilea kini telah ternodai dengan darah Rivaille. Heidi awalnya tampak biasa saja dengan gertakan Rivaille karena level yang jauh di bawahnya.
Tapi justru tekanan aura Rivaille yang perlahan membesar dan sedikit menekannya itu cukup membuatnya tidak senang. Terutama dengan perubahan pada pedang Galilea.
“Aku tidak tahu apa yang kau lakukan dengan pedang suci itu. Tapi jika sangat ingin mati di tanganku, kemarilah.” Heidi memancing Rivaille untuk mendekat ke arahnya.
Rivaille masih berdiri di tempatnya. Matanya yang tajam itu tepat menatap ke arah Heidi dengan tatapan benci setengah mati.
Pedang bercahaya itu sudah berlumuran darahnya. Ketika tangannya mengacungkan pedang itu pada Heidi, tiba-tiba ujung pedangnya mengeluarkan cahaya hitam mengerikan.
Dan-
DEZZZ!
Heidi membelalak kaget. Matanya melirik ke samping dan menyaksikan lengan kanannya hilang akibat serangan tadi. Elunial menganga lebar saking kagetnya dengan serangan kuat tadi.
Melvern juga sama terkejutnya sampai tanpa sadar ia meremas lengan baju anaknya dengan kuat.
“Mantra darah….” Gumamnya takjub.
Mantra darah bukan sembarang mantra. Mantra itu bisa sangat kuat walaupun penggunanya berada di level terendah sekalipun. Mantra itu menyerap inti jiwa dan menjadikannya sekuat vampir dengan level tinggi.
“RIVAILLE! HENTIKAN SEKARANG!” Melvern menggaruk tanah tanah dengan kuat. Menyeret tubuhnya untuk mendekat pada sang anak.
Tidak. Rivaille tidak boleh menggunakan mantra itu. Inti jiwanya akan hancur dan putranya itu bisa mati.
“Ibu! Ayo menjauh dari sini!” Teriak Elunial dengan kesadaran yang semakin menipis. Kedua lengannya sudah lemas seperti kapas yang rapuh akibat tekanan aura kakaknya.
Pedang suci di tangan Rivaille kembali terangkat ketika Heidi sudah memulihkan lengan kanannya. Tapi karena Heidi sudah mengantisipasi serangan Rivaille yang selanjutnya, ia segera berlari mendekat.
Sekejap mata kemudian ia sudah berdiri tepat di depan Rivaille dan-
BUGHH!
DUARR!
Ekspresi Heidi menatap Rivaille dengan tatapan tidak percaya. Ia melihat pria itu masih berdiri walaupun ia sudah menghantam perutnya dengan kuat.
“Mustahil.” Ucapnya sungguh takjub sekali.
CRIINNG!
Heidi mematung di tempat dengan Rivaille yang kembali mengangkat pedangnya. Lalu-
ZRASHH!
BOOOMM!
Ledakan besar terdengar sampai tanah berguncang sedikit kuat. Awalnya Melvern mengira Heidi akan mati dengan serangan kuat tadi.
Tapi dadanya seperti ditikam ratusan pedang dan kepalanya langsung kosong ketika melihat Heidi yang menusuk perut Rivaille dengan tangannya.
“RIVAILLE! TIDAAAAKK!” Teriaknya histeris.
Elunial sampai tidak bisa berkata apa-apa dan ia pun sukses jatuh terduduk di samping ibunya. Walaupun debu masih berterbangan di sekitar mereka, tapi ia bisa melihat jelas bagaimana sang kakak yang melotot dengan mulut sedikit terbuka.
“RIVAILLE! ANAKKU!”
Bahkan teriakan ibunya yang meraung di sampingnya mulai samar terdengar di telinganya. Heidi dengan ekspresi dinginnya itu langsung mencabut tangannya dari perut Rivaille dengan sekali tarikan saja.
“Memang hanya bangsawan yang punya darah seperti ini… Menjijikkan.”
Rivaille pun oleng dan kedua lututnya lemas hingga menyentuh tanah.
Traang!
Pedang suci itu terjatuh dari tangannya ketika ia menyentuh perutnya yang berlubang besar. Mulutnya juga mengeluarkan rintihan kecil yang justru terlihat menyedihkan di mata Heidi.