Bab 71. Benda Asing

1002 Words
Suasana mendadak hening dan yang terdengar di telinga Melvern hanya rintihan putranya yang kesakitan. Hujan yang mengguyur malam itu seperti ikut menemani kepedihannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menolong anaknya karena kedua kakinya telah hancur. Sedangkan tidak ada yang bisa diandalkan selain dirinya. “RIVAILLE!” Heidi juga tidak kenal ampun. Kakinya terangkat dan menendang Rivaille dengan kuat. Tapi sekelebat bayangan dengan cepat menangkap tubuh Rivaille dan menaruhnya tepat di samping Melvern. “Kakek sudah katakan padamu, anak nakal. Bocah culun ini biar Kakek saja yang hadapi.” Mata Rivaille menyipit ketika pandangannya yang samar itu masih bisa melihat wajah kakeknya yang menyebalkan. “Rivaille!” Melvern masih saja histeris sambil membantu menutupi lubang di perut sang anak. “Legardo!” Legardo yang dipanggil pun menoleh dan mengangguk ketika melihat Veronica sudah tiba di lokasi. Bersamaan dengan kedatangan Iefan dan Asura. Juga Griffin yang tampak sudah sedikit sembuh. “Melvern, baringkan Rivaille sekarang.” Melvern segera membaringkan sang anak lagi di atas tanah. “Dasar sialaN. Kenapa kau sampai menggunakan mantra darah sih? Pamanmu sampai panik tadi.” Asura langsung mengomel sedangkan Griffin melotot tidak terima. Veronica jadi tidak bisa berkonsentrasi membacakan berbagai macam mantra untuk menutup lubang di perut Rivaille. Karena ia juga melihat Griffin melompat-lompat panik seperti wanita demam panggung tadi. “Hey! Aku tidak panik tadi! Jangan mengada-ngada!” Teriaknya dengan wajah merah malu karena baru saja kepergok oleh Asura. Ia tadi berlari panik karena merasakan getaran di tanah tadi. Iefan yang baru saja tiba langsung menghampiri Elunial dan memeriksa kondisinya lebih dulu. “Kau tidak apa-apa?” Elunial mengangguk. Legardo kini berbalik dan tersenyum melihat pria culun tadi tampak seperti karakter utama di film werewolf yang berotot besar dan maskulin. Tapi matanya tertuju pada tengah-tengah d**a pria itu lalu tertawa melihatnya. “Aku kira kenapa sampai pria culun dengan level di bawahku ini bisa menghalau serangan mantra darah putraku. Ternyata? Benda apa yang kau pakai itu?” Legardo menunjuk ke arah d**a Heidi. Heidi mendengus kasar. Sengaja ia menghindari Legardo, tapi kakek tua itu ternyata sudah menandainya. Dan sekarang ia sudah dikepung oleh anggota keluarga Heddwyn yang berhasil bertahan. “Dan sekarang kalian akan menyerangku beramai-ramai? Apakah harga diri kalian sudah tumpul setelah diserang habis-habisan?” Iefan menoleh karena terlalu terbawa suasana. Apakah pria ini sudah buta? Jelas-jelas semua vampir yang dibawanya itu telah berubah menjadi abu. Hanya dia saja yang tersisa tapi tingkahnya seakan-akan sudah berhasil memojokkan Heddwyn. Legardo pun sampai ikut tertawa karena mengira Heidi tengah melawak di tengah-tengah pertempuran. “Oh sayang sekali, hanya kau saja yang tersisa sekarang. Aku jadi tidak bisa mempermalukanmu di hadapan mereka semua.” Ucap Legardo tidak tahan sampai memegangi kepalanya karena terlalu receh menanggapi Heidi. Heidi menggeram marah dan menatap sekelilingnya. Benar apa yang Legardo katakan tadi. Ia tidak bisa merasakan satupun aura dari pasukan birokrat yang datang bersamanya. Ia sungguh salah telah meremehkan Heddwyn. Karena Heddwyn yang tinggal di lembah dan jauh dari pemukiman manusia membuat bangsawan ini menjadi kerajaan misterius di Rjukan. “Kalian semua harus mati! HYAAAAAAHH!” Heidi berteriak keras. Tanah Heddwyn kembali bergetar dan angin menerbangkan hujan ke segala arah. Legardo masih bersikap biasa saja karena tahu pria itu bukan apa-apa tanpa benda yang menempel di dadanya. Dan seketika pertarungan antara Heidi dan Legardo pun dimulai. Heidi sekuat tenaga menyerang tubuh Legardo yang sama sekali tidak ditepis oleh Legardo sendiri. Tapi Heidi terkecoh karena selalu berhasil memberikan pukulan demi pukulan pada Legardo. Saat ia lengah sedikit, Legardo tertawa senang dan melayangkan langsung tinju kuat ke arah perut. “Aku kembalikan semua pukulanmu.” BUAAGHH! “ARRGGHH!” Heidi berteriak kesakitan. Elunial sekarang tahu darimana kekuatan kakak keduanya berasal. Rupanya itu kekuatan turunan dari kakeknya. “Hebat sekali….” Gumamnya yang membuat Iefan mendengus kasar. “Ayah bisa lebih hebat dari kakekmu.” Dan Griffin memutar matanya malas mendengar bualan Iefan. Heidi yang tidak ingin kalah itu lantas kembali menyerang Legardo. Kali ini secara membabi-buta dan kecepatan yang jauh lebih cepat dari yang tadi. Rivaille hampir tidak mempercayai matanya sendiri karena melihat pertarungan gila antara kakeknya dengan Heidi. Kecepatan apa itu? Melvern bahkan tidak melepaskan pandangannya dari pertempuran itu. “Berbaringlah, Melvern. Aliran titik jiwamu berantakan.” Melvern pun mengikuti perkataan Veronica. Di tengah sibuknya ia menyembuhkan Rivaille, ia masih bisa memperhatikan dirinya yang jelas tidak apa-apa. Pertempuran sengit itu memakan banyak tenaga bagi Heidi. Sampai tanpa sadar emosi menguasai dirinya. Ia tidak ingin kalah dari kakek tua yang terus menerus mengejeknya. Ia sebagai birokrat terkuat di The Condescendent tidak akan melukai martabatnya dengan kalah dari Heddwyn. “AKU… TIDAK AKAN KALAH DARI KALIAN!” Teriaknya murka. Tapi sayangnya murka itu tidak berguna sama sekali. Justru ia tiba-tiba terjatuh ke lantai dan merasakan dadanya terasa seperti terbakar. “AARRGGHH! PANAS! PANAS!” Legardo sampai dibuat heran dengan Heidi yang meraung dan mencakar tanah sambil memegangi dadanya. Sudah diduga bahwa benda itu bukan benda alami yang mudah digunakan. Elunial yang melihat Heidi seperti tengah melihat dejavu. Ia seperti pernah melihat kejadian yang sama seperti itu sebelumnya. “Sekarang apalagi? Pura-pura gila atau sedang akting?” Griffin bertanya seenak hati. Seluruh mata memandang ke arah Heidi saat ini. Tiba-tiba saja ia seperti sedang kesakitan. Padahal tadi ia bangga sekali setelah membuat Rivaille hampir terbunuh. Hanya Elunial dan Rivaille yang tampak tegang sekali dengan respon Heidi. “Kak… Jangan katakan kalau dia….” Elunial menoleh pada sang kakak. Rivaille tidak yakin. Tapi seharusnya jika dia menggunakan sisik naga emas seperti dirinya waktu itu, dia sudah menggila sejak tadi. Griffin yang mendengar percakapan Elunial dan Rivaille tiba-tiba merasakan perasaan tidak enak. Ia menatap Heidi lekat-lekat sebelum ia bisa melihat samar ada benda bercahaya di dadanya. “Sejak tadi aku merasa kau satu-satunya vampir teraneh. Auramu tidak seperti vampir pada umumnya… Seharusnya dari awal kau tidak memakai benda asing itu.” Rivaille tiba-tiba langsung terbangun. Mendengar perkataan kakeknya, ia jadi semakin yakin bahwa Heidi menggunakan sisik emas. “Seharusnya sisik emas yang diberikan Tiffa ada pada Eredith! Kenapa bisa- Ugghh!” “Rivaille! Tenanglah! Jangan banyak bergerak!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD