Bab 72. Dalam Masalah Besar

1041 Words
Legardo menoleh. Walaupun ia masih waspada dengan Heidi yang sudah terlihat semakin menggila. Dia berguling-guling di atas tanah dan menggaruk dadanya sampai dagingnya tercabik-cabik. “Nak, apa kalian tahu benda apa itu?” Griffin juga ingin menanyakan itu sejak tadi. “Apa itu sisik naga emas?” Iefan bertanya langsung. Ia berjongkok di samping Rivaille sambil menahan tubuhnya agar tetap dalam posisi duduk. Kedua tangan Elunial bergetar takut. Tubuhnya seketika merinding karena ia telah menyaksikan bagaimana kakaknya menggila. Bahkan Tiffa dan Vian harus bekerja sama untuk menarik sisik itu lepas dari tubuhnya. “Sebaiknya bawa dia pergi menjauh dari sini! Biarkan dia menggila diluar sana!” Demi apapun juga Veronica sempat dibuat takut karena ekspresi Elunial dan Rivaille yang seperti sedang melihat hantu. Bahkan Melvern juga ikut bangun dan menyentuh pundak kedua anaknya. “Apa yang terjadi jika dia memakai benda itu?” Tanyanya jadi ikut takut. Elunial menggeleng cepat seraya mencengkram tangan ibunya. “Dia akan menggila seperti Kakak kemarin! Tidak peduli kawan dan lawan, siapapun yang ada di dekatnya, pasti langsung diserang! Tiffa dan Vian sampai bekerja sama untuk mencabut benda itu dari tubuh kakak!” Legardo jadi penasaran dengan benda itu. Sekuat apa pengaruhnya sampai membuat pemakainya menggila seperti itu. “Iefan, kita harus segera menjauhkan dia dari kastil.” Iefan juga setuju dengan Melvern. “Hey! Kakek tua! Bawa dia menjauh dari kastil!” Iefan berteriak keras. Griffin dan Asura juga langsung bergerak untuk membantu Legardo. BUAGH! BOOMM! “TI… FFA….” Tapi sayangnya teriakan itu justru memancing Heidi yang telah sepenuhnya dikuasai oleh sisik naga emas. Asura yang bergerak mendekati Legardo tiba-tiba dipukul kuat dan tertanam ke dalam tanah seperti kentang siap panen. Sedangkan Griffin lagi-lagi harus ikut terkena sepak kaki Heidi dan terpental sampai keluar area kastil. Rivaille jelas merasakan tubuhnya merespon ketika Heidi memanggil nama Tiffa. Suara yang sama pernah menggema di dalam kepalanya ketika ia menggila kemarin. “Suara ini….” Elunial merinding sampai instingnya menyuruhnya untuk segera kabur saja secepat mungkin untuk menyelamatkan diri. “Ugghh… Berengsek! Aku belum siap!” Asura berteriak ganas. Tidak terima diserang tiba-tiba oleh Heidi. Legardo segera melayangkan pukulan ke arah pipi Heidi dan kena telak sampai ia mendengar suara tulang rahang yang patah. Tapi alih-alih terpental, Heidi tetap berdiri di tempat. “Hehehe menarik juga.” DUAGH! Bogeman keras diberikan kembali oleh Heidi pada Legardo. Tidak sampai disitu, gerakan kilat Heidi benar-benar tidak bisa diprediksi lagi oleh Legardo. “Gerakannya sungguh tidak masuk akal. Biasanya setiap serangan manusia atau vampir sekalipun selalu punya pola. Tapi dia tidak.” Veronica baru kali ini melihat vampir menyerang dengan gerakan tidak beraturan seperti itu. “K-kemarin Kakak juga seperti itu. Sebenarnya sisik itu tidak akan bertahan lama karena menyerap titik jiwa.” Ujar Elunial. Rivaille tidak tahu jika kemarin dia juga seperti itu. “Kalau begitu, kita biarkan saja dia menggila. Dia akan mati sendiri setelah titik jiwanya hancur dimakan sisik itu.” Sayangnya Veronica dan Melvern tidak setuju dengan pendapat Iefan. “Kastil Heddwyn akan rata dengan tanah jika dia dibiarkan seperti itu. Kau harus ingat! Di bawah tanah, Tiffa sedang hibernasi.” Kata Veronica mengingatkan Iefan. Rivaille berpikir, satu-satunya cara adalah memancing Heidi menjauh dari kastil. Sayangnya yang bisa bertarung dari jarak jauh hanya dirinya dan ibunya. Tapi ia bahkan sedang terluka. Satu-satunya yang bisa memancingnya saat ini adalah Legardo saja. “Kakek-” BUAGH! BOMM! Melvern langsung menutup mulutnya sedangkan Veronica berdiri perlahan dengan kedua kaki gemetar. Legardo, kakek tua yang punya kekuatan lebih besar dari semua anggota keluarga Heddwyn itu langsung jatuh dengan sekali pukul saja. Asura pun merinding ketika tatapan Heidi tertuju padanya. Ia memang berdiri dekat dengannya dan itu sama sekali tidak menguntungkan Asura untuk menyerang. “Oh s**t….” Tapi Rivaille berdiri dan bersiap untuk melawan juga. Lubang di perutnya masih menganga lebar, melangkahkan kakinya saja rasa sakitnya terasa seperti isi perutnya berjatuhan ke tanah. “Semuanya pergi dari sini!” Rivaille berteriak menyuruh mereka semua untuk pergi saja. Melvern memberontak hebat ketika Veronica menyeretnya pergi menjauh. Elunial yang ketakutan sampai tidak sanggup menggerakkan kakinya. “Bangun Nak.” Iefan langsung membawa Elunial pergi. Pertempuran kembali berlangsung. Kali ini Rivaille yang terluka parah, Asura yang sudah kelelahan, dan Legardo yang sudah pingsan atau masih sadar. Heidi lantas berlari menerjang Asura yang menjadi targetnya kali ini. Ditendangnya kepala Asura seperti bola dan terhempas kuat membentur tembok kastil. Saat ia hendak menyerang Asura lagi, Rivaille mencegahnya dengan telekinesisnya dan berusaha meremas Heidi di udara. Tapi kemampuannya jadi sia-sia karena Heidi masih leluasa bergerak di udara. Dan sekejap mata Heidi sudah mencekik Rivaille dengan kuat. “Errrgh! Bu...ka matamu. Hei...di.” Tapi Heidi telah sepenuhnya dikuasai oleh sisik itu. Roh naga emas yang mempengaruhi pikiran Heidi menatap Rivaille seakan siap mematahkan lehernya. Sampai tiba-tiba ia mencium aroma lain di tubuh Rivaille. Heidi pun langsung mengendus tubuh Rivaille beberapa kali. “TIFFA….” Rivaille merasakan lehernya sakit sekali. Nyawanya berada diujung tanduk dan remasan tangan Heidi sudah hampir meremukkan tulang lehernya. BUGH! “Ck! Aku tinggal berpikir sebentar kau sudah bertingkah ya.” Heidi terpental setelah terkena bogeman dari Legardo. Tapi dia tetap berdiri walaupun terserat beberapa meter menjauh dari Rivaille. “Ugghh!” “Kau tidak apa-apa Nak?” Rivaille memegangi perutnya seperti sang kakek belum mengerti bahwa ia sekarang sedang terluka parah. “Kita harus mencabut sisik itu dari tubuhnya.” Legardo tampak tidak yakin. “Kau lihat apakah pukulan Kakek membuat tubuhnya terluka? Mustahil mencabutnya jika pukulan Kakek saja seperti gigitan nyamuk baginya.” Rivaille juga tahu itu. Tapi tidak ada salahnya terus mencoba. Saat ini saja mereka semua tidak tahu apa kelemahan Heidi. “Tidak dibiarkan saja dia mati sampai titik jiwanya hancur? Lebih efisien memancingnya terus berkelahi daripada harus bersusah payah mencabut sisiknya.” Asura juga berpikiran yang sama seperti Iefan. Legardo juga setuju dengan Asura. “Bagaimana jika sisik itu menyatu dengan tubuhnya?” Asura terdiam. Ia tidak tahu seperti apa sisik itu bekerja. “Sisik itu sudah menempel di tubuh Tiffa sejak ratusan ribu tahun. Bayangkan sudah berapa banyak tenaga yang diserap oleh sisik itu.” Kening Legardo tiba-tiba berkeringat saat tahu ternyata sisik itu dari Tiffa. Dan yang benar saja! Ratusan ribu tahun itu waktu yang gila sekali. “Kalau begitu… kita semua benar-benar dalam masalah, Nak….”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD