Asura tertawa hambar. Rasanya seperti mendengar cerita horor dan hantunya tengah berdiri di seberang sana. Pantas saja kekuatannya tidak masuk akal.
“Apa yang Tiffa pikirkan ketika ia memberikan sisik itu padanya? Tiba-tiba hilang ingatan? Dihipnotis?” Legardo jadi tersenyum pahit mendengarnya.
“Mungkin keduanya.” Sahutnya mulai pasrah.
“Tiffa memberikan satu sisiknya pada Eredith ketika berusaha menyembuhkan Elunial. Mungkin saja birokrat mencuri sisik itu dari Eredith dan menggunakannya tanpa tahu resiko.”
Ya. Rivaille berpikir seperti itu. Jika tidak, Eredith pasti masih memiliki sisik itu. Sedangkan jika Eredith bisa menggunakan sisik itu, para birokrat tidak akan mungkin bisa mencurinya sembarangan.
“Lalu apa rencana kita sekarang?” Asura memijat keningnya walaupun yakin saat ini mereka tengah menghadapi jalan buntu.
Tapi ketika mereka bertiga sibuk mencari jalan keluar, Heidi sejak tadi mengendus-endus tanah. Persis seperti seekor anjinG yang sedang mencari lubang untuk buang air besar.
Dan tentu saja pemandangan itu tidak lepas dari tatapan Asura. Entah, ia pikir roh naga emas gila itu mulai terganggu.
“Sedang apa dia?” Rivaille dan Legardo langsung menoleh.
“Entahlah… mungkin sedang ingin buang air?”
Heidi terus menggali dengan tangan kosong dan tidak mempedulikan dirinya yang berjalan mendekat.
Awalnya tidak ada yang sadar dengan apa yang dilakukan Heidi. Sampai Rivaille melotot ngeri ketika Heidi memukul-mukul tanah dengan kuat.
“SiaL! Dia tahu Tiffa ada di bawah!” Asura memekik keras.
Rivaille juga langsung melompat turun ke dalam lubang dan menarik kepala Heidi dengan kuat. Legardo dan Asura juga ikut membantu menahan kedua lengannya.
Tapi mereka bertiga tidak ada yang bisa meraih sisik itu karena ketiganya sudah sibuk menghentikan pergerakan Heidi.
“Rivaille! Cabut sisiknya!” Rivaille pun mengiyakan dan turun dari pundak Heidi.
Ia berdiri di hadapannya dengan d**a yang bergemuruh hebat. Jika ia menyentuh sisik ini, maka tubuhnya akan merespon. Tapi tidak akan berpangaruh besar jika ia tidak berniat untuk menggunakannya.
“Aku akan mencabutnya.” Legardo mengangguk. Sekuat tenaga ia menahan tangan kanan Heidi. Begitu juga dengan Asura.
Tapi ketika Rivaille baru menyentuhnya, naga emas langsung bereaksi. Ia sudah akan memberontak dan melayangkan tendangan pada Rivaille tapi.
SREETT!
“Tidak semudah itu! Berengsek!”
Rivaille jadi sedikit lega karena Griffin langsung menyusul setelah terhempas jauh. Ia menahan kepala Heidi untuk terus mendongak sampai Iefan juga ikut menyusul.
“Sepertinya belum lengkap jika tidak ada aku.” Griffin mendengus kasar.
Iefan yang juga baru saja tiba langsung menggunakan kekuatannya untuk menghipnotis Heidi. Seketika tubuh Heidi yang tadinya memberontak kuat langsung terhenti.
Rivaille juga segera memanfaatkan kesempatan itu untuk mencabut sisik naga itu dari d**a Heidi.
Seperti dirinya, sisik itu tertanam di dadanya. Ia menancapkan kelima jarinya ke dalam d**a Heidi dan mencengkram sisik itu seperti yang dilakukan Tiffa.
“AAARRGGHHHH!” Heidi menggeram kesakitan.
Rivaille bersumpah ingin sekali menarik tangannya dari d**a Heidi saat rasa panas terbakar langsung menjalar. Tapi tangannya tertempel kuat pada sisik itu.
“Cepat… tarik!” Iefan sampai berteriak. Urat di kepalanya tercetak jelas karena berusaha tetap menghipnotis Heidi dengan kekuatannya.
“Rivaille! Eaarrghh!” Asura juga ikut menggeram karena hampir tidak kuat menahan lengan kiri Heidi.
Tapi setelah beberapa detik mencoba, Rivaille tidak sanggup mencabut sisik itu. Tangannya sampai mati rasa karena panasnya sisik itu tidak main-main.
Karena tidak tahan lagi, Rivaille mengangkat satu kakinya di perut Heidi. Ia menarik sisik itu sekuat tenaga. Asura dan Legardo ikut terseret perlahan karena tarikan kuat Rivaille.
“HYAAAAAAAHH!”
BZZZZTT!
Semua langsung terlempar dan menghantam tanah.
“Rivaille!” Asura segera menghampiri. Griffin terengah-engah dengan punggung yang ia sandarkan pada tanah.
“Aku harap bocah itu berhasil mencabut sisiknya.”
Tapi sayangnya Asura menoleh perlahan ke belakang setelah dengan mata kepalanya sendiri ia melihat kondisi Rivaille.
“Dimana Veronica?!” Teriaknya kalap.
Debu-debu tanah yang berterbangan di dalam lubang itu mengaburkan pandangan mereka semua. Iefan segera berdiri saat tahu ternyata situasinya belum berubah.
“Aku menyuruhnya untuk ke aula barat.”
Asura segera melompat dan membawa Rivaille keluar dari lubang. Ia pikir tadi Rivaille bisa mencabut sisik itu. Tapi yang terjadi malah tangannya yang tercabut.
Besar kemungkinan tangannya masih menancap di d**a Heidi. Demi tuhan kondisinya parah sekali sampai ia tidak yakin Rivaille bisa bertahan.
Legardo, Grifin dan Iefan yang masih ada di dalam lubang pun akhirnya bisa melihat sendiri bagaimana Heidi yang berlutut di tanah. Matanya terbuka sempurna dan menatap tangan Rivaille yang tertinggal di dadanya.
“Mustahil….” Griffin bergidik ngeri.
Padahal ia yang memegangi kepala Heidi sangat yakin Rivaille behasil menarik sisik itu. Tubuh Heidi sempat ikut tertarik karena tarikan kuat Rivaille.
“Bagaimana bisa….” Iefan bahkan tidak bisa berkata-kata lagi.
Heidi lantas menarik lengan Rivaille lalu membuang tangan itu begitu saja ke tanah. Legardo berusaha untuk tetap berdiri walaupun sebenarnya sejak tadi ia merasa nyawanya benar-benar terancam saat ini.
“TIFFA….” Ia terus menerus memanggil nama Tiffa.
Saat mereka bertiga yang ada di dalam lubang akan dihabisi oleh Heidi, ternyata ia malah melanjutkan menggali tanah. Mengabaikan mereka yang sempat terdiam beberapa detik.
Dan setelah galian terakhir, tiba-tiba tanah yang mereka pijak pun akhirnya amblas ke bawah. Tapi sebelum mereka terperosok ke dalam, tiba-tiba saja tanah di dalam lubang itu malah melebur ke atas.
Heidi dan yang lainnya pun terlempar keluar dari lubang.
“Apa yang terjadi?” Legardo segera menatap sekelilingnya yang dimana tanah berjatuhan dari atas setelah ledakan dari dalam tadi.
“Aku pikir kenapa sejak tadi kalian berisik sekali di atas. Ternyata ada tikus mondok yang menggali tanah.”
Heidi menggeram marah. Air liur di mulutnya berjatuhan setelah kemunculan Vian di hadapannya. Rupanya ledakan dari dalam tadi karena Vian yang mendorong tanah keluar.
Legardo sampai heran karena ulah Vian.
“Jika dia tahu ada keributan di atas sini, kenapa dia tidak keluar dan membantu? Menyusahkan saja mereka ini.” Gumamnya dan Griffin mengangguk beberapa kali ikut kesal.
“VIAN.”
Iefan melihat Heidi sepertinya hanya mengenali Tiffa dan Vian saja. Dan indra penciumannya benar-benar sangat tajam. Ruang bawah tanah sedalam itu saja ia bisa mengendus aroma Tiffa dan Vian.
Vian berjalan santai dan tampak terhibur melihat keadaan di atas yang benar-benar hancur berantakan. Legardo yang ia kira kakek tua dengan kekuatan over power juga tampak kelelahan.
‘Ck! Naga siaL ini selalu saja mengganggu.’