Batinnya ingin sekali menarik roh naga itu dan membakarnya di neraka.
“Rupanya kau masih menyimpan dendam pada kami ya, Dragon Flame. Padahal kau sudah lama sekali mati.” Geraman Heidi semakin membuat senyuman Vian semakin lebar.
Vian ingat sekali sebelum Tiffa membunuh Dragon Flame dulu. Karena naga di zaman dulu adalah makhluk mighty yang memiliki kekuatan yang kuat.
Tapi sayang sekali Tiffa di zaman dahulu malah mengajak naga itu berduel. Jangan tanya Vian kenapa hal itu terjadi. Ia saja malas mengingat betapa bosannya Tiffa kala itu akibat perang usai.
Setiap selesai perang, terkadang Tiffa tidak puas dengan perlawanan musuh. Ia sering melampiaskannya pada makhluk yang tidak sengaja di temuinya.
Dan sialnya saja Dragon Flame yang bertemu dengan Tiffa. Maka terjadilah pergelutan diantara mereka yang menyebabkan mighty creature seperti Dragon Flame mati sia-sia.
Kematiannya sama sekalit idak berkesan dan menyedihkan. Kasihan sekali tidak ada yang menangisinya. Para prajurit Yovanka saksinya. Tiffa mencabuti sisik emas Dragon Flame untuk dijadikan baju zirah.
“KAU MEMBUNUHKU TANPA SEBAB! AKU TIDAK PERNAH BERURUSAN DENGAN URUSAN BANGSA VAMPIR SEPERTI KALIAN!”
Vian tadinya berusaha untuk tidak tertawa karena kasihan juga dengan naga itu. Tapi jika dipikir-pikir konyol juga waktu itu. Vian ingat Tiffa bertanya padanya apakah daging naga enak dimakan atau tidak.
Sayangnya ketika mereka mencoba, dagingnya sealot bola karet dan rasanya pahit sekali seperti cairan dari ribuan daun sirih yang ditumbuk dan dicampur jutaan bunga pepaya.
Jangan ditanya lagi bagaimana rasanya.
“Dengarkan aku, Dragon Flame. Waktu itu… Haahh… Kakakku tidak sengaja bertemu denganmu dan kebetulan saja dia sedang bosan. Kau hanya sedang siaL saja waktu itu.”
Demi tuhan Iefan seperti sedang mendengar Vian sedang menjelaskan satu kesalahpahaman. Seperti mereka sedang jalan-jalan di tengah hutan dan tak sengaja bertemu dengan naga lugu.
Lalu karena bosan, mereka berdua membunuhnya. Entah belahan bumi sebelah mana yang mereka tinggali dulu. Iefan tidak ingin tahu.
“Pantas saja roh naga ini bergentayangan seperti ini. Dia mati konyol di masa lalu.” Griffin tiba-tiba menyahut. Tidak sadar jika Heidi bisa mendengarnya.
“AKU TIDAK PEDULI! KALIAN HARUS MATI!” Heidi berteriak masih murka.
Vian berkacak pinggang sambil sesekali menggelengkan kepalanya. Ini akibat ulah kakaknya sendiri. Dan sekarang mereka berdua menanggung kutukan menyebalkan dari naga ini.
Tapi cukup lama juga Dragon Flame bersemayam di dalam baju zirah Tiffa. Dan tidak menyangka ternyata rohnya masih hidup. Vian juga lupa bahwa Dragon Flame adalah makhluk mighty.
“Ck! Ini benar-benar merepotkan.” Gumam Vian ketika melihat Heidi sudah siap menyerang ke arahnya.
Kekuatan naga tidak bisa dianggap remeh. Itu hanya satu sisik saja dan selama ini juga Tiffa memberinya makan selama ratusan ribu tahun. Mungkin tujuannya mencari Tiffa karena ingin mendapatkan zirah emas itu.
‘Jika dia berhasil mendapatkan zirah itu, kemungkinan besar naga sialaN ini akan bangkit dan hidup kembali.’ Batin Vian lagi.
Di zaman sekarang akan sulit membunuh seekor naga. Terlebih Tiffa sekarang sedang hibernasi. Kepalanya terasa pusing membayangkan naga itu berhasil mendapatkan zirah emas itu.
Sudah pasti dia akan menjadi makhluk paling kuat di muka bumi.
Vian lalu memperlihatkan satu keping emas sisik dari Dragon Flame yang telah ia cabut dari tubuh Rivaille. Gerakan Heidi pun langsung terhenti.
“... KEMBALIKAN SISIK ITU PADAKU!”
“Tidak, tidak. Tidak semudah itu.” Ujar Vian memainkan sisik itu di tangannya. Sebaiknya ia melakukan negosiasi saja. Selagi makhluk itu bisa diajak komunikasi.
“GRRRRR!” Vian berkedip beberapa kali dan melangkah maju.
“Aku ingin bernegosiasi denganmu.” Ucapnya. Heidi yang saat ini tengah dikuasai roh Dragon Flame langsung meraung keras. Persis seperti tingkah lakunya di masa lalu.
“KAU HARUS MATI! ITULAH SATU-SATUNYA URUSANMU DENGANKU!”
Iefan, Griffin dan Legardo sekarang berkumpul dan menyaksikan bagaimana dua makhluk itu berbicara. Walaupun hanya ancaman dan gelak tawa Vian saja yang mendominasi.
“Aku sampai sekarang masih sulit memahami bagaimana mereka berdua hidup di zaman dulu.” Ujar Griffin mewakili perkataan Iefan.
“Jadi naga di zaman dulu sungguhan ada?” Legardo malah bertanya. Sayangnya Griffin sedang tidak ingin memaki karena bodohnya pertanyaan itu.
Vian tahu membujuk Dragin Flame akan sangat sulit. Untuk itu ia memilih bernegosiasi saja.
“Aku tahu kau sedang mencari sisik emasmu yang lain. Setelah kau mendapatkan semua sisikmu, kau bisa terlahir kembali ke dunia bukan?” Tanyanya yang dibalas delikan tajam dari mata Heidi.
“SETELAH KALIAN BERDUA MATI, AKU AKAN MANGHANCURKAN BUMI INI!” Vian tersenyum kecil.
‘Persetan dengan mimpi konyolmu itu Dragon Flame.’
“Kau bisa terlahir kembali karena menyerap kekuatan kakakku selama ini. Tapi kau tidak akan bisa terlahir kembali jika kakakku menarik semua energi yang kau serap dari sisik emasmu itu… Apa aku salah?”
Heidi semakin menggeram. Sayang sekali Vian memiliki pemikiran yang tajam. Membaca tujuan Dragon Flame yang terlalu sederhana itu jelas saja hal yang mudah.
“Tapi aku bisa membuatmu terlahir kembali dengan kekuatan itu. Dengan satu syarat,” Griffin menggelengkan kepala.
“Mulai lagi….” Iefan memutar matanya malas.
Heidi tampak diam dan menunggu Vian mengatakan persyaratannya. Jika merugikan, ia tidak akan mau mengikuti perkataannya. Vian tersenyum lebar.
“Setelah kau lahir kembali, kau harus menjadi budakku selamanya.”
“....”
“PFFTTT! HAHAHAHA.”
Tawa Legardo pun pecah. Heidi sampai berbalik dan menyaksikan makhluk rendahan itu menertawakannya. Jelas sekali menertawakannya.
“BERHENTI TERTAWA!” Teriaknya keras. Griffin segera menutup mulut kakek tua itu dengan kuat dan tersenyum kecut. Takut jelmaan naga itu menyerangnya lagi.
“Aku bisa membujuk kakakku untuk tidak menarik kekuatannya darimu. Jadi kau akan tetap aman setelah lahir kembali ke muka bumi. Bagaimana? Setuju?”
Dragon Flame ingin sekali memecut Vian dengan ekornya. Tapi apalah daya ia dalam wujud roh saat ini. Terlebih tubuh yang digunakannya adalah tubuh vampir rendahan.
Dan tawaran siaL tadi tampaknya cukup menggiurkan juga. Ia berpikir akan menikam Vian dari belakang setelah ia lahir nanti.
Setelah ia menusuk keduanya dari belakang, ia akan menguasai dunia.
Iefan sudah bisa menebak apa yang dipikirkan naga bodoH seepertinya. Karena ia sudah pasti melanggar janji. Perkembangan pola pikir makhluk di zaman dulu masih menggunakan insting saja. Tidak berdasarkan pemikiran otak yang penuh pertimbangan.
“Penawaran ini tidak merugikanmu bukan?” Tanya Vian lagi. Menyembunyikan fakta dari makna ‘b***k’ itu apa dari Dragon Flame.
Heidi juga menatap Vian dengan senyum yang perlahan mengembang. Dan Griffin bisa melihat keduanya saling menyeringai karena keduanya juga berniat melanggar perjanjian.
“AKU TERIMA.”