Bab 75. Dampak Runtuhnya The Condescendent

1040 Words
Di sisi lain, Asura segera membawa Rivaille ke kastil barat. Karena dalam keadaan panik, ia sampai lupa jalan menuju kastil barat. Dan sejak tadi ia jalan memutar tidak tentu arah di koridor. Rivaille sendiri masih sadar ketika Asura membopongnya seperti karung beras. Demi tuhan tangannya putus dan perutnya berlubang. Jika ia manusia sudah sejak tadi ia menghadap tuhan. “Astaga… Kenapa aku sampai lupa jalan ini!” Asura memaki kasar. Kesal ia menendang meja vas bunga sampai hancur berkeping-keping. Rivaille juga ingin memaki, tapi sayangnya ia sudah tak bertenaga hanya untuk sekedar berkata sepatah dua patah kata. Sedangkan Asura terus berlari sampai akhirnya ia bertemu dengan Melvern di ujung koridor. “Rivaille! Ada apa dengannya?” Melvern histeris sekali. Tangannya terulur untuk membantu tapi saat melihat kondisi anaknya, Melvern hampir pingsan. “Bibi Veronica!” Asura berteriak. “D-di kastil barat! Cepat!” Ucap Melvern hampir gila sendiri. Mereka bertiga lalu pergi menuju kastil barat dan untunglah Bibi Veronica langsung bersiaga. Ia langsung memeriksa kondisi Rivaille dengan mulut yang terus saja berdecak kesal. “Bagaimana kondisinya?” Veronica menggeleng lemah. “Ini terlalu parah. Aku tidak bisa menyembuhkannya. Tenagaku tidak cukup banyak.” Asura tertunduk dalam. Tidak mungkin sekali jika harus membiarkan Rivaille sekarat dan mati begitu saja. Walaupun bukan adik kandung, tapi Rivaille ini bagian dari Heddwyn. Dan raja di masa ini. “Tidak bisa! Pasti ada cara lain untuk menyelamatkan Rivaille! Kumohon lakukan sesuatu!” Veronica bisa merasakan betapa putus asanya Melvern saat ini. Walaupun ia belum pernah melahirkan sebelumnya, tapi tetap saja ekspresi wajah dan histerisnya menjalar sampai ke dadanya juga. Ditatapnya kembali Rivaille yang terbaring. Hebat juga dia masih mempertahankan kesadarannya dengan kondisi seperti itu. Rivaille masih meringis dan matanya masih terbuka. “Apakah tidak ada cara lain?” Asura bertanya. Sebelumnya Heddwyn belum pernah kehilangan anggota keluarga sejak generasi pertama lahir. “Kumohon! Lakukan sesuatu! IEFAN!” Melvern berteriak memanggil suaminya. Entah harus berapa kali ia melihat putranya seperti ini. Baru dua kali Rivaille sekarat dan setiap kali ia melihatnya selalu saja rasanya lebih sakit dari apapun. Melvern menangis dan meremas kemeja putranya. Rivaille masih sadar, tapi pikirannya sudah lama berkelana di dalam kepalanya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Rivaille mempelajari banyak hal. Ia tahu Tiffa tidak mencintainya. Ia sadar perasaan wanita itu hanya untuk Aredric. Tapi dengan bodohnya ia berkorban nyawa demi cinta sepihak yang menyedihkan itu. Rivaille seharusnya tidak mengenal siapa Tiffa. Ia seharusnya tidak memiliki perasaan sedalam ini dengan kurun waktu kurang dari sebulan. Tapi pahitnya rasa itu harus menjadi derita paling menyiksa yang pertama kali ia rasakan. ‘Aku dan Aredric sudah merencanakan pernikahan di masa lalu. Tapi Aredric lebih dulu pergi meninggalkanku.’ ‘Selama ini aku bertahan hidup demi membalas semua kesalahanku pada Aredric.’ ‘Aku terlalu mencintainya.’ Begitu banyak perkataan Tiffa yang menggema di kepalanya. Tidak ada satupun ia mendengar Tiffa pernah menyebut namanya sedalam ia menyebut nama Aredric. Karena muak, Rivaille akhirnya menutup matanya. Sengaja ia tutup telinga dan tidak ingin mendengar apapun lagi. Mati mengenaskan memang bukan gayanya. Untuk itulah ia memfokuskan sisa kekuatannya. Ia akan berusaha meminimalisir pendarahan pada perut dan tangannya. Ia akan berjuang untuk dirinya sendiri mulai dari sekarang. “Ayolah! Kau tidak boleh mati sia-sia seperti ini. Kakakku bisa langsung bunuh diri jika dia bangun dari hibernasi dan tahu kau mati.” Rivaille langsung membuka mata. Cih! Ternyata Vian yang berdiri di samping tubuhnya. Jika boleh ia ingin pindah tubuh saja jika yang Tiffa inginkan hanya tubuhnya. Veronica sempat bingung dengan kedatangan Vian beserta rombongan ke kastil barat. Dan yang lebih mengejutkan adalah sosok Heidi yang ikut bersama mereka. “DASAR KAU KEPARATT! BERANI SEKALI KAU!” Melvern seketika menggila saat melihat batang hidung Heidi. Tapi Iefan dan Griffin tentunya segera menahan Melvern. Takut jelmaan naga itu akan tersinggung dan emosi. Sedangkan Vian langsung berjongkok lalu mengeluarkan satu keping sisik emas dari saku kemejanya. “Kali ini akan aman. Kau tenangkan saja pikiranmu.” Ujarnya sesantai itu. Hanya Heidi yang mendengus kasar disana. “Sisikku itu punya kekuatan regenerasi yang cepat. Cepat pakai sebelum kau mati.” Heidi berkata seenak jidatnya. Ada rasa ingin meninju wajah Heidi karena kesalnya. Semenyebalkannya Iefan, tidak pernah ia merasa sangat ingin menghajar seseorang. Iefan menyentuh keningnya, kepalanya sudah terasa berat sejak tadi. Vian lalu menempelkan sisik itu di d**a Rivaille dan menunggunya beberapa saat. Veronica sampai tidak berkedip ketika melihat tubuh Rivaille perlahan mengeluarkan cahaya. Silau tentunya, tapi efek dari sisik itu luar biasa sekali. Rivaille juga bisa membuka matanya lebar setelah sisik itu diambil kembali. Vian lantas memberikan sisik itu pada Heidi dan berdiri dengan santainya. “Oh anakku….” Melvern langsung memeluk putranya dengan erat. -Setahun kemudian- Setelah peperangan malam itu berakhir, seluruh anggota keluarga Heddwyn terpaksa pindah menuju kastil Alereria karena kastil Heddwyn sedang dalam proses perbaikan. Hari demi hari pun berlalu. Berita tentang runtuhnya The Condescendent merayap cepat sampai ke seluruh pelosok bumi. Peperangan para birokrat yang terjadi di Rjukan menjadi sorotan penting. Banyak dari para vampir biasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Mulai dari kematian Darwin, Draco yang ternyata pengecut dan para birokrat yang habis dibantai bangsawan Heddwyn. Para bangsawan lain tentu saja senang mendengar The Condescendent akhirnya musnah. Sedangkan bagi para vampir rendahan, itu sama saja bencana bagi mereka. Setahun berlalu bagai neraka. Para bangsawan mulai memperlihatkan taringnya karena tidak ada lagi peraturan dari organisasi yang sok berkuasa itu. Lalu bangsa manusia yang mulai menyadari adanya bangsa lain selain manusia juga dibuat risau. Berita tentang vampir tersebar seperti kilat. Kekuatan teknologi merambah cepat akibat tidak adanya The Condescendent. Dan dampaknya langsung terasa karena para manusia sudah mulai bergerak untuk bertindak mengatasi banyaknya korban yang berjatuhan. Vian tentunya menanggapi hal itu dengan santai. Begitu juga dengan anggota keluarga Heddwyn yang lain. “Dan sekarang para manusia membuat organisasi untuk memburu bangsa vampir.” Griffin memutar matanya malas. Iefan juga sempat-sempatnya membaca surat kabar. “Aku pikir setelah The Condescendent runtuh, dunia akan kembali damai. Ternyata malah sebaliknya ya.” Melvern ikut berkomentar. Ia tertarik membaca surat kabar yang dibawakan oleh suaminya. Griffin menghela nafasnya dengan berat. Matanya menatap langit cerah siang ini. Acara minum teh siang ini terasa membosankan karena mendengar berita yang itu-itu saja sejak kemarin. “Setahun sudah berlalu. Aku tidak menyangka Tiffa sudah hibernasi selama itu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD