bc

Sweet First Love

book_age18+
14
FOLLOW
1K
READ
like
intro-logo
Blurb

Nayara gadis remaja yang baru saja menginjak bangku sekolah menengah atas dan baru pertama kali mengenal cinta. Hari-harinya malah di penuhi oleh seorang anak laki-laki idaman hatinya yang saat ini selalu menarik perhatiannya. Sehingga melupakan dirinya sebagai pelajar.

Tak jarang pula terkadang berkat si idaman hatinya itulah yang membuatnya menjadi semangat belajar walau dengan keadaan yang selalu tak pernah membuatnya menjadi masuk peringkat dua puluh besar di kelasnya.

Nazriel atau biasa di panggil Ariel si anak laki-laki itu namanya.

Dia dingin. Tampak acuh. Dan terkesan seperti anak nakal. Namun siapa yang tak sangka dia adalah anak paling pintar satu kelasnya bersama Nayara dan juga anak yang paling pintar satu sekolahan.

Dari sinilah Kisah masa-masa remaja Nayara si gadis yang mencari cinta pertamanya di mulai..

chap-preview
Free preview
Senyuman Yang Tipis
Nayara adalah seorang gadis yang begitu lugu dan polos. Dia terlahir dari sebuah keluarga yang tampak begitu sempurna dengan segala kebahagiaan yang dia miliki. Walaupun nyatanya dia hidup hanya dengan kakek dan neneknya saja tanpa kedua orang tuanya yang entah berada di mana. Kedua orang tuanya berpisah begitu saja ketika mereka bercerai di waktu masa muda mereka yang meninggalkan Nayara kecil yang masih berusia sembilan bulan kepada kakek dan neneknya yang saat ini merawat Nayara hingga remaja. Setelah kabar perceraian itu, kabar kedua orang tua Nayara menjadi lebur kabur entah kemana. Namun semua kepiluan itu tak pernah di ungkit dan menjadi kisah seorang Nayara menjadi gadis yang menyedihkan dan memerlukan banyak rasa iba. Nayara tak seperti itu. Dia tumbuh menjadi gadis remaja yang mudah bergaul dan memiliki banyak kawan yang ingin berteman dengannya. Selain mudah bergaul dia juga memiliki paras yang lumayan cukup untuk dikatakan gadis yang cantik dengan wajah yang tampak putih bersih dengan bola mata yang hitam namun agak sipit di sudut kelopak matanya. Di tambah dengan rambutnya yang hitam kelam panjang tergerai hingga ke punggungnya. “Nayara!!!” Panggil Ana sahabat setia Nayara sedari masa dia duduk di bangku sekolah dasar. Mereka berdua senantiasa bersama tak terpisahkan. Hingga mereka kini duduk di bangku sekolah menengah atas. Sekolah menengah atas, masa di mana para remaja melakukan riset mereka mengenai cinta pertama mereka. Namun tak semuanya. Hanya tujuh remaja saja dari sepuluh remaja yang melakukan hal itu. Sisanya mereka mementingkan masa depan mereka yang sudah di atur oleh kedua orang tua mereka yang sudah di cita-citakan kedua orang tuanya. “Iya bentar!” Sahut Nayara dengan nada yang lebih keras dari Ana yang sedari tadi sudah menungguinya dengan setia di depan pintu rumah Nayara sambil memainkan ponselnya yang tengah bermain game favoritnya. “Ayo cepet udah siang nih!!” Paksa Ana yang sudah merasa tak sabar ketika melihat jam di tangannya sudah menunjukan jam tujuh lebih sepuluh menit. Ana pun menghentikan aktifitasnya da memasukan ponselnya ke dalam tasnya yang berwarna putih bergambar kartun. Tak lama kemudian Nayara keluar dari pintu itu sambil menggigit sepotong roti isi di bibirnya sambil menutup pintu dan tangan yang satunya lagi menyodorkan sepotong roti lainnya pada Ana yang sudah rela menungguinya hingga sepuluh menit lamanya. “Ayo!!” Ajak Nayara yang berjalan berbarengan dengan Ana sambil mengunyah roti di dalam mulutnya. Mereka pun berjalan kaki menuju sekolah mereka yang jarak tak jauh dan juga cukup untuk bisa dikatakan dekat yang jaraknya lumayan satu kilometer saja. Bagi Nayara itu hal yang masalah toh mereka berdua terbiasa berjalan kaki ketika mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama. *** Tibalah mereka di depan gerbang sekolah. Sekolah Menengah Atas Negeri Satu Harapan. Itulah sekolah Nayara dan juga Ana saat ini. Ketika sudah beberapa langkah memasuki gerbang sekolah perhatian Nayara teralihkan oleh seseorang yang sedang berdiri sambil membaca sebuah buku komik. Dialah, Nazriel atau dengan nama panggilan Ariel. Ana yang merasa kecolongan karena menyadari berjalan sendiri sedangkan Nayara malah berdiri terpatung memandangi Ariel. “Ariel? Dia masuk sekolah sini juga?” Tanya Ana yang heran namun juga penasaran pada sosok Ariel si Pria berdarah dingin dan tak berperasaan tersebut. Nayara menggelengkan kepalanya. Dia tak tahu. “Bukannya dia mau masuk sekolah Swasta Bina Bakti ya?” Nayara malah bertanya balik pada Ana karena dia sendiri pun penasaran dengan keberadaan Ariel yang tiba-tiba berada di sekolah mereka. Padahal sebelumnya dia pernah mengatakan akan masuk ke sekolah yang agak sulit untuk di masuki oleh Nayara yang hanya memiliki kapasitas otak setengah dari dirinya. Sekolah Swasta Bina Bakti memang terkenal dengan sekolah yang memiliki akreditas tinggi karena memiliki siswa yang memiliki kepintaran di atas rata-rata. Dan hal itu adalah yang sangat mustahil bagi Nayara untuk masuk ke sekolah itu. “Apa dia gagal masuk sana? Sampe harus masuk sekolah ini juga?!” Seru Ana dengan senyuman sinis dengan nada yang mengejek. Dia tampak seperti merasakan kepuasan di dalam hatinya melihat seorang Ariel masuk ke sekolah yang biasa saja bukan ke sekolah yang memiliki akreditas tinggi itu. “Gak mungkin!” Nayara tampak agak tak percaya jika memang ternyata Ariel bisa gagal tes masuk sekolah yang menjadi idaman banyak siswa sekolah menengah pertama untuk memasuki sekolah menengah atas yang memiliki akreditas tinggi tersebut. *** Beberapa bulan kebelakang. Sebelum hari ujian kelulusan sekolah menengah pertama tiba. Nayara dan Ana sedang berkumpul di kantin bersamaan dengan Doni dan Radit sambil menyantap makan siang mereka. “Nay lo udah persiapan sampe mana nih buat ujian nanti?” Tanya Radit yang tengah asyik makan dan tangan sambil fokus pada ponselnya. Nayara menggelengkan kepalanya. “Aku gak tahu! Walau udah banyak persiapan tapi rasanya semua yang udah aku persiapin selalu kabur. Dan ngerasa otakku selalu kosong kalo udah ngadepin lembaran soal!!” Jawab Nayara yang menahan sendok di bibirnya dengan wajah yang putus asa. “Gak usah segitunya! Toh kita semua pasti lulus kok!” Ujar Ana yang menyemangati Nayara karena melihat sahabatnya yang tampak begitu lesu dan tak bersemangat makan lagi jika harus membicarakan perkara ujian dan kelulusannya. “Tapi aku pengen banget masuk sekolah yang sama, sama Ariel!!!” Rengek Nayara sambil melepaskan sendoknya dari mulutnya dan menyimpannya di atas piringnya. “Hal yang mustahil buat lo bisa ngikutin gue ke sana!” Tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya suara Ariel yang mengejutkan Nayara sehingga membuatnya membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah belakang. “A.. A.. Ariel?!” Nayara tampak terbata-bata karena jantungnya yang hampir lepas dari tempatnya karena di hampiri oleh Ariel lelaki yang selama ini menjadi idaman hatinya. Ana pun menoleh ke arah Ariel yang duduk di samping Nayara dengan membawa makan siangnya. Lalu melahap dengan cueknya di samping Nayara yang tengah terkesima dengan pesona yang di miliki oleh Ariel yan begitu sangat bersinar di matanya dan juga di mata hatinya yang tak tergantikan. “Nay? Lo yakin mau masuk Bina Bakti?” Tanya Doni yang tampak begitu tak percaya dan terkesan seperti menyepelekan Nayara terdengar dari nada bicaranya dan cengengesan. “Eu?” Nayara celingukan menoleh ke arah Ariel mau pun Ana sahabatnya. Dia harus bilang Ya karena di sebelah kirinya ada Ariel namun dia juga ingin berkata Tidak karena dia tahu Ana juga tahu bagaimana batas kemampuan dirinya dalam belajar. “I.. Iya! Ya yakinlah!” “Emangnya orang-orang kayak Ariel aja yang bisa masuk ke sana?” Ujar Nayara yang menguatkan dirinya sendiri dia juga tak mau kalah dari Ariel. Dia juga ingin membuktikan dirinya pada Ariel jika dirinya juga mampu untuk masuk ke sekolah yang sama dengan Ariel. “Gak usah muluk-muluk! Nanti kalo gagal malah nangis!” Ketus Ariel yang selesai makan dan langsung pergi membawa piring kosongnya. Nayara mengerucutkan bibirnya. Dia tak terima di katai sepertiseperti itu. Walau pun dari mulut Ariel seseorang yang sangat dia sukai. “Lihat aja! Aku pasti buktiin ke kamu kalau aku juga bisa!!” Teriak Nayara pada Ariel yang tampak masih berjalan menjauhi dirinya. Namun Ariel tak menggubrisnya. Dia berjalan lurus ke depan seperti tak mau menghiraukan Nayara. Namun tampak di sudut bibirnya dia tersenyum tipis seperti ingin mengatakan kata Iya untuk Nayara.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Inseparable

read
379.2K
bc

Wild Love With My Triplet Mates

read
941.0K
bc

The Vampire's Servant

read
697.0K
bc

Desert Heat (Complete) (Book 1 to Desert Series)

read
1.6M
bc

His Redemption (Complete His Series)

read
5.7M
bc

Sold to the Billionaire Alpha

read
1.7M
bc

Don't Let Go

read
687.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook