“Anak-anak udah ngizinin kamu untuk nikah lagi?” Seru Maya dengan suara antusiasnya. Divan yang mendengar pertanyaan itu menarik napasnya lelah, wanita ini kenapa senang sekali menggunakan istilah yang frontal sih? Padahalkan kata atau kalimat yang tadi Divan pakai bukan seperti itu, lalu kenapa... “Ya bukan untuk menikah juga, maksudnya mereka tidak menggunakan kata sefrontal kamu. Farrel atau Rafa cuma bilang membebaskanku untuk memilih atau mencari apa yang membuatku bahagia, jadi yah...” “Ya itu sama aja mereka ngizinin kamu untuk nikah lagi.” Oh, ayolah. Sepertinya Divan memang harus menyerah untuk memperebatkan hal semacam ini dengan Maya, karena dirinya tidak akan pernah bisa memenangkannya. “Terserah kamu kalau begitu.” Maya mengangkat bahunya acuh dengan tanggapan Divan, na

