“Hm? Gimana? Jadi Mbak Laras pernah merasa Mas Divan keren atau ganteng, nggak? Pernah jatuh cinta sama Mas Divan, nggak?” Sepertinya antusias Risa pada pertanyaan itu membuat dirinya nyaman dengan keberadaannya bersama Laras, meski sebaliknya dengan apa yang Laras rasakan. Risa bahkan sudah meninggalkan embel-embel “Pak” yang dia gunakan untuk menetralkan pembicaraannya dengan Laras, yang ada saat ini hanya Risa—Risa yang tanpa sadar sudah menunjukan ke-spesial-an dirinya dengan memanggil Divan sebagaimana dirinya yang biasa. “Bu Risa—” Laras menelan ludahnya, memberanikan diri bersuara meski tidak tahu juga apa yang akan dia katakan. Toh, Laras juga tidak mungkin membiarkan hening di antara mereka berjalan terlalu panjang, dan terus mendapatkan tatapan semangat dari wanita itu yang men

