"Duh ... yang pagi-pagi udah nenteng sprei nyuruh si mbok nyuci." Aylin melirik pak suami. Itu nenek sedang menyindir Om Baja, kan? Ada senyuman jenaka yang super penuh arti di wajah tua beliau, terlebih saat melirik Aylin. Sudah sampai di ruang makan, by the way. Jalan di samping Baja, Aylin memegangi ujung kaus pria itu. Menolak menggandeng karena merasa terlalu berlebihan. Bagus-bagus saja, sih, kalau dilihat Om Raja, tetapi malu kalau disaksikan orang tua. Lagi pula dilihat Om Raja pun tak akan berarti apa-apa. Karena Aylin tak pernah menjadi siapa-siapa untuk lelaki itu, dan tak akan pernah. "Lin, ambilin air teh panas buat Nenek, Sayang. Tolong." Oh ... teh panas? Aylin baru mau duduk di kursi yang Om Baja tarikkan untuknya. Dan saat Aylin berdiri lagi mau mengambil teh pan

