Ronde 7 : Sang Menawan (1)

3202 Words
Beberapa hari kemudian. Tak ada yang berbeda dari ruang kelas itu, kecuali salah satu bangku kosong yang ditinggal penghuninya. Penghuninya telah terbang ke alam baka. Tak ada yang paling bersedih di kelas, kecuali Alam. Lelaki pribumi yang biasa berbuat onar itu hanya bisa terdiam dan termenung. Seluruh kelas tahu bahwa ia adalah teman dekat Panji. Hampir dimana Alam berada, Panji selalu di belakangnya. Mereka tak ubahnya sepasang Majikan dan Kacungnya. Namun Alam menganggap Panji adalah teman. Ia tak tahu lagi, apakah ada teman seperti Panji yang telah tiada. Getir di hati Melanie begitu dalam. Ketika kelas dan pelajaran berakhir. Ia melangkah keluar, tak ada yang memperhatikannya~~kecuali Dennis sang menawan yang memandang Melanie dengan penuh kekhawatiran. Namun ia hanya terdiam karena kekasih paksaannya berada di dekatnya~~Sonja. Dipikiran Melanie, mungkin Dennis ingin menanyakan perihal surat itu. Namun ia sendiri berkata bahwa Melanie tak harus tergesa-gesa. Langkah Melanie serasa berat, ketika dirinya berjalan menuju rumahnya. Panas terik matahari menyilaukan kulitnya yang putih memucat. Sebenarnya, terbesit keinginannya untuk pergi ke Schone Letteren. Namun Melanie mengurungkan niatnya karena ia belum selesei membaca buku yang dipinjamnya. Ya~~buku itu masih tersimpan rapi di laci pribadinya. Mungkin setelah ini, ia bisa sejenak menghibur dirinya dengan bacaan dewasa itu. Malam telah tiba, ketika hujan deras melanda. Petir menyambar, sehingga tidur Melanie terjaga. Tubuhnya mendadak terbangun dari keterkejutannya akan petir yang menggelegar. Peluh mengucur dari kening halusnya, nafasnya terengah karena pengaruh detakan jantungnya. Jarik yang menjadi selimutnya tersingkap, sehingga buah dadanya menggantung kenyal di dadanya. p****g susunya melemah seiring dengan redam nafsunya. Rasa haus melanda tenggorokannya, sehingga mengharuskan Melanie bangkit dan melangkah mengambil secangkir air untuknya. Matanya begitu berat, namun kerongkongannya memaksa. Sejenak, Melanie merapikan kain jariknya. Buah d**a mengkalnya tertutup walau tak tertutup sempurna. Lalu ia melangkahkan kakinya keluar kamarnya. Suasana gelap gulita. Hanya bola lampu temaram saja yang menyinari suasana. Dengan mata setengah terpejam, tubuhnya bergerak dengan sendirinya menuju dapur yang jauh di belakang rumah. Tirai-tirai penyekat ruangan demi ruangan tergerai indah ketika Melanie melewatinya. Tetapi terdengar sebuah desahan dari telinga Melanie. Mendadak, tubuhnya terkesiap mendengar desahan itu. Melanie mencari dimana sumber suara yang menganggu kesadarannya itu. Ternyata, suara bersumber dari kamar nyi Sindai dan pak Djoko~~pelayan di keluarganya. Mereka adalah suami istri yang baru saja menikah, atau lebih tepatnya dinikahkan oleh keluarga Arthaprawirya. Usia mereka setengah baya dan sangat sengat cocok jika dinikahkan, kata ayah Melanie. Namun bukan hal itu yang perlu diperjelas. Melanie mengintip keduanya di sela-sela jendela ukiran kayu yang seharusnya tertutup oleh tirai, namun tirai itu tak tertutup sempurna karena desauan angin yang menyibaknya. Mata Melanie mengerjap sehingga rasa kantuknya lenyap. Posisinya begitu sempurna, nyai Sindai duduk di atas pangkuan pak Djoko yang begitu ganas menghisap p****g s**u nyai Sindai yang membusung. Punggung nyai Sindai melengkung indah di pandangan Melanie yang lancang. Bongkahan pantatnya begitu kenyal. Namun yang ia perhatikan adalah batang kemaluan pak Djoko yang menghujam rongga kewanitaan nyai Sindai. Kejantanan pak Djoko terekam jelas di mata Melanie yang menajam. Ia mengamati bagian otot-ototnya yang menyembul di balik mengkilapnya batang itu karena terbasahi oleh cairan kelamin nyai Sindai. Tak pelak, nafas Melanie mendesah. Seakan ia terbius dalam pergumulan yang nikmat itu. Tak heran jika tangannya mulai bergerilya. Jemari lentiknya bergerak mengusap p****g susunya yang mulai mengeras. Gerakan jarinya berputar, mengitari pusat dari buah dadanya itu. Tanpa terasa, hidungnya mengembang dan mengempis dengan sendirinya. Nafasnya begitu hangat terasa menyentuh ujung bibirnya. Kedipan matanya hanya sesaat saja, seolah tak ingin melewatkan gambaran dari pergulatan kedua orang dewasa itu. Pinggul nyai Sindai bergoyang searah dengan panjang batang pak Djoko yang kesetanan. Tetesan lendir putih membasahi zakar pak Djoko yang hitam kusam dan berkerut. Nyai Sindai layaknya sedang menunggangi seekor kuda. Tubuhnya sedikit melompat dengan lompatan kecil, sehingga hujaman batang pak Djoko menusuk dalam kearah rongga pasangannya. Tak lama, nyai Sindai dan pak Djoko mengerang. Erangan yang berbuah kenikmatan. Nyai Sindai menekan pantatnya jauh ke dalam, sehingga tusukannya semakin dalam. Tubuh mereka bergetar dan saling berpelukan erat. Melanie menatap tangan pak Djoko yang mencuat dari hadapan nyi Sindai. Tanganya mengusap punggung halus nyi Sindai~~ia mengusapnya dari atas hingga ke belahan pantatnya yang basah. Lalu, nyai Sindai tumbang di tubuh suami barunya. Nafas mereka terengah ketika liang senggama itu meneteskan cairan kental yang menggelora. Seakan tak ada lagi yang perlu mereka lakukan selain tertidur sembari memimpikan hal-hal yang nikmat. Melanie begitu kesal, sehingga ia membalikkan badannya. Rasanya begitu cepat saja, sebelum ia merasakan rasa itu yang sesungguhnya. Namun semua itu hanya masalah waktu saja, sebelum Melanie menemukan orang yang tepat untuk menggumulinya. Perih terasa menusuk rongga kewanitaannya yang begitu lentur dan berbulu tebal. Melanie mengerjap sembari meremas buah dadanya. Ia memilin putingnya seakan ada seseorang yang sedang menghisap putingnya. Jemari Melanie mengusap bagian kewanitaannya sendiri, usapannya berputar laksana lidah seseorang sedang menjilati lubang kawinnya. Melanie mendesah, namun tertahan karena ia tak ingin membangun seisi rumahnya. Melanie hanya bisa mendongak, sembari jemarinya mencoba memasuki lubang senggamanya. Ia meringis kesakitan ketika jemarinya memasuki setengahnya, lalu ia mengusap bagian atas kewanitaannya sehingga kawah lendirnya tertumpah. Dirinya tak ubahnya seorang b***k yang mempertuan Nafsunya. Nafasnya mendengus kencang ketika tangan kiri memainkan kedua p****g susunya secara bergantian. Bergantian hingga akhirnya tubuhnya serasa melayang. Matanya terpejam dan mulutnya terbuka lebar. Jemari lentiknya mengusap bagian atas dari bibir berongga. Getaran tubuhnya memuncaki setiap hal yang membuat dirinya meragu selama ini. Nafsu... Sebuah rasa yang tak pernah diduga dan sulit dibicarakan lewat kata-kata. Perlahan, Melanie melepaskan sentuhannya. Tubuhnya melemas dan rongga lerdirnya berdenyut ringan. Nafasnya terengah seolah mengatakan bahwa ia sangat puas pada permainannya sendiri. Melanie meregangkan tubuhnya dan sejenak melemaskan ototnya. Senyum tersungging di antara bibirnya yang pucat. Dini hari itu, ia bangkit dari pembaringannya. Sejenak ia berkaca di cermin besar pemberian orang tuanya. Cermin itu juga beruntung, karena setiap harinya menatap tubuh Melanie yang kian Mekar dan sintal ketimbang sebelumnya. Sejenak, Melanie menatap tubuh blasterannya sendiri. Wajahnya putih pucat dan kantung mata menggantung karena kurang tidur. Buah dadanya kencang menantang siapa saja yang dihadapannya. Perutnya rata dan pinggulnya membentuk seperti biola. Kakinya jenjang dengan bulu s**********n yang lebat membahana. Jemari lentiknya mengusap buah dadanya. Ketika menyentuh bagian putingnya~~sedikit senyuman tersungging dari bibirnya. Senyum yang menawan dengan pandangan mata tetap kosong. Wajah itu membuat siapa saja tergoda. Walau saat ini hanya ada dirinya yang memandang tubuhnya sendiri. Jemarinya beralih ke perut ratanya. Perut yang menjadi pelindung rahim kecilnya. Ia berpikir, bahwa perut ini nantinya akan terisi dan hidupnya tak akan sunyi, ketika sang buah hati menyembul dari rahimnya. Melanie memiringkan badannya. Pikirannya mulai menggila ketika ia membayangkan perutnya membesar. Seakan ia sedang dalam masa kehamilannya. Namun saat ini perutnya sangat rata. Ia kembali dalam posisinya~~berdiri tegak memantang cermin besar dan tua. Jemarinya beringut ke arah rongga rahim basahnya. Telapak tangannya merasakan bulu-bulu halus yang menghiasi setiap selangkangannya. Terasa basah dan lembab, namun cairan itu begitu lengket jika dirasakan sesungguhnya. Tanpa sadar, tangannya kembali mengusap bagian berongga itu. Jemarinya menari lembut mengikuti alur lembah kenikmatan dunia itu. Matanya kembali menyayu dan nafasnya mendesah lirih. Begitu nikmat rasanya, hingga sesekali lidahnya keluar untuk menyapu bibirnya. Lidah itu bergerak melingkar membasahi bibir pucatnya. Tak bertahan lama, wajah Melanie mendongak ketika jemarinya mulai bergerak lebih cepat untuk merangsang rongga rahimnya. Pahanya sedikit terbuka agar jemarinya lebih leluasa. Matanya kadang tertutup sempurna, kadang sedikit terbuka karena merasakan kejutan-kejutan di dalam otak binalnya. Mulutnya terbuka, mengeluarkan hawa panas birahi yang keluar melewati rongga mulutnya. Salah satu tangannya mencubit p****l ranumnya, sehingga p****l itu serasa keras dan merah merona. Terkadang ia sengaja membasahi jarinya, lalu mengusapnya di p****g susunya. Basah... Sehingga ia berharap bahwa ada seorang pria yang sedang menjilati p****g susunya. Lalu, pria di pikirannya itu menggigit p****g susunya, hingga melar. Walau yang sebenarnya Melanie lalukan adalah mencupit putingnya sendiri. Lalu terkadang ia melakukan gerakan memilin, seperti layaknya sebuah hisapan oleh pria di alam fantasinya. Salah satu tangannya yang bergerak di rahimnya. Menyentil, seolah rongga itu sedang diserang oleh lidah seorang pria. Pria yang tak tahu siapa ia, namun selalu hadir dipikiran binalnya. Melanie merasakan getaran dalam tubuhnya, ketika jemarinya menyeruak di balik rongga selangkangannya itu. Rasanya sungguh nikmat, ketika buku-buku jarinya menggesek dinding nikmat itu. Seketika... Kejangan kembali melanda tubuh Melanie. Kakinya bergetar merasakan desakan terjal di rongga rahimnya. Tanpa sadar matanya terpejam, nafasnya mendesah di akhiri dengan lengkuhan nikmat. Tubuhnya bergetar memanas dan cairan rongga meleleh keluar membasahi paha dalamnya. Sayup matanya kembali sayu~~menatap dengan peluh yang membasahi keningnya. Pipinya merona dan senyum kembali tersungging menggambarkan sisa-sisa kenikmatannya. Esok pagi. Rasa lelah menerjang tubuh Melanie, ketika ia berada di kelasnya. Tubuhnya serasa lunglai dan pikirannya berat terasa. Tak pelak, tubuhnya hanya tertunduk lesu ketika Madame Suzane menjelaskan tentang pelajaran yang begitu kejam. Lalu, dentangan lonceng berbunyi nyaring seiring dengan gerak para siswa yang beranjak berdiri untuk menikmati santap siang mereka. Melanie berpikir bahwa satu tahun lagi ia masih disini. Tujuannya serasa buyar untuk hari ini, karena matanya hanya sebentar terpejam malam tadi. Melanie bangkit menuju ke pintu keluar ruang kelas yang serasa menyeramkan untuk hari ini. Suasana kelas begitu sepi dan Melanie menatap kedua pasang kekasih yang dipaksakan sedang berbincang di ambang pintu. Dennis dan Sonja. Kedua pasang kekasih itu sepertinya sedang dalam keributan. Mata Dennis menajam menatap Sonja yang juga bersikap sama. Rambut pirang keemasan mereka sangat serasa jika bersanding berdua, namun tidak untuk hari ini. Melanie hanya melewatinya saja, tanpa tahu apa yang mereka bicarakan~~lebih tepatnya, tidak perlu tahu! Namun ketika Melanie beranjak beberapa langkah dari sepasang rambut pirang itu. Kakinya serasa tak bertenaga. Kepalanya serasa ringan dan pandangannya buram seakan ingin pingsan. Lalu, lututnya tertekuk dan tubuhnya tersungkur ke depan. Seketika rasa mual melanda tubuhnya. Keringat dingin mengucur dan tenggorokannya serasa pahit. Dengan sigap, Dennis sang penawan menghampirinya, begitu juga dengan Sonja yang merasa marah karena diacuhkan. “Lanie! Kau tak apa?” tanya Dennis panik. Namun Sonja yang geram menyelanya, “hei! kita belum selesei berbicara?” “Tak ada yang perlu dibicarakan, aku tetap akan pergi dan itulah keinginanku selama ini!” Tegas Dennis sembari memapah Melanie. Melanie mendengar dengusan kesal dari Sonja yang berada di belakangnya. Lalu langkah kaki keras dari Sonja terdengar menjauhi mereka. “Kau tak apa?” tanya Dennis kembali. “Kepalaku pusing!” “Ya, kau memang terlihat pucat!” ujar Dennis yang menyeka keringat dingin di kening Melanie. “Badanmu juga panas. Ayo temui Dr. Krump!” Melanie merasakan getaran hebat dalam dirinya, ketika tangan kekar Dennis menyeka keringatnya. Terlebih lagi sekarang, salah satu tangan Dennis mencengkeram lengan Melanie satunya memegang pinggang Melanie untuk membantunya berjalan. Aroma serbuk cendana sangat kental di tubuh Dennis. Tak hanya tampan, tetapi ia juga pintar dan rajin merawat tubuhnya. Walau Dennis adalah seorang pria. Biasanya pria jarang sekali merawat dirinya. Pikiran Melanie melayang meninggalkan tubuh sintalnya di dalam papahan Dennis yang mengantarkannya ke ruang kesehatan. Ruangan tempat Dr. Krump bertugas untuk mengobati siapa saja yang sakit di Schulmachdenn atau Universiadenn. “Kenapa dengan Sonja?” tanya Melanie kepada Dennis yang memapahnya. “Ah, tidak! Ia tak ingin aku pergi ke Ardaka bersama Prof. Heringard.” “Jadi kau akan pergi?” “Ya, aku akan pergi. Ayahku sudah mengijinkan...” “Tapi Sonja...?” Sela Melanie. “Hmn!” dengus Dennis. “Biarkan saja! Aku tetap akan pergi!” “Eh, bagaimana dengan suratmu?” tambah Dennis. “Aku belum berbicara dengan orang tuaku,” ujar Melanie sembari tertunduk. Begitu juga Dennis yang tak mau lagi membahas surat itu sekarang. Mengingat, Melanie sedang tak sehat dan pikirannya harud tenang. Tak lama, sampailah mereka di depan pintu yang tertutup. Gezondheid, sebuah papan nama terpampang kusam di atas pintu yang menjulang. Semua wajah harus mendongak jika ingin membaca tulisan yang berarti kesehatan itu. Namun ketika Dennis dan Melanie sampai di ambang pintu. Seseorang keluar dari dalam. Seorang tua dengan kacamata bulat tebal dan rambut memutih sempurna. Kulit pipinya mengkerut dan jatuh kebawah seperti anjing Bulldog milik Dr. Stulivan. Namun di otaknya, semua pemikiran tentang pengobatan medis tercurah disana. Kabarnya, seseorang dari barat sana telah menemukan sebuah mesin yang dapat melihat isi perut manusia. Teknologi itu sedang dikembangkan sebelum diedarkan ke seluruh Gezondheid di seluruh dunia. “Dr. Krump...” panggil Dennis. “Ah, Dennis, Melanie,” sapa pria tua yang sedang tergesa itu. “Ada apa dengan kalian?” “Melanie sedang sakit. Jadi...” ujar Dennis namun disela oleh Dr. Krump. “Tapi ini jam istirahat.” Sela Dr. Krump yang bimbang dengan keputusannya. “Begini, tunggulah di dalam. Satu jam lagi aku akan datang. Istirahatlah dan kau...” kata Dr. Krump yang terhenti sembari menunjuk Dennis. “Jaga Melanie dan buatkan teh hangat, tanpa gula. Mengerti?” “Mengerti Dr. Krump...” Jawab Dennis. Melanie yang kacau hanya diam dan menunduk saja dari tadi. Tak pelak, raut wajahnya semakin pucat pasi. Seakan tak ada tenaga lagi di tubuhnya. Akhirnya, Dr. Krump meninggalkan Gezondheid dan mereka berdua memasuki ruangan itu. Ruangan yang bersih bercat putih. Lantai tegelnya abu-abu mengkilat karena kebersihan harus dijaga di ruang streril ini. Sebuah rak kaca dengan perlengkapan media teronggok di ujung ruangan. Beberapa tumpukan kertas tersusun rapi di sebuah meja, dan dipastikan itu adalah meja Dr. Krump yang selalu sibuk setiap harinya. Melanie dan Dennis memasuki ruangan berikutnya yang berisi tiga buah ranjang berjajar dengan kain sprei putih tertata rapi, ditambah dengan tirai-tirai transparan yang menyekat setiap ranjang. “Berbaringlah!” ujar Dennis halus sembari memapah Melanie ke atas ranjangnya. Melanie hanya terdiam menuruti perintah Dennis. Kepalanya pusing dan dadanya serasa sesak karena aroma pahit yang menusuk hidungnya. Keringatnya mengucur perlahan, namun hawa dingin kulitnya untuk tetap bersandar. Tak lama kemudian, Dennis datang dengan membawa sebuah nampan berisi teh hangat tanpa gula~~seperti yang Dr. Krump bilang. “Minumlah, selagi masih hangat!” pinta Dennis sembari menyodorkan cangkir itu. Hal itu membuat Melanie bangkit dari pembaringannya dan menyeruput pelan teh berasa kecut itu. Lalu, “Uhhuuuukkk!” Melanie tersedak dan menggoyangkan tangan Dennis yang memegang gelas itu. Seketika, cairan panas itu tumpah di kebaya Melanie yang berada tepat di bawah cangkir itu. “Auhhh!” Melanie mengerang kesakitan dan mencoba mengibaskan tangannya untuk mengusir rasa panas yang menyentuh kulit lehernya. “Aduh! Maaf,” ujar Dennis yang panik. Dengan sigap, ia berlari dan membawa sebuah handuk putih ke Melanie yang kepanasan. “Kau tak apa?” “Panas!” keluh Melanie yang kesal karena minuman teh panas itu membasahi tubuhnya. Dengan lembut, tangan Dennis mengusap leher Melanie. Ia mencoba membersihkan sisa teh yang lengket dari leher Melanie. Lalu tangan Dennis beralih lebih kebagian bawah. Bagian dimana ditumbuhi daging kembar yang makin kenyal setiap harinya. Mata Dennis terperangkap, ketika tangannya menyentuh bagian kenyal itu~~walau dibalik handuk dan kebaya Melanie. Seketika darah Melanie ikut berdesir diantara nadi-nadinya yang lemah. Dennis mengusap buah dadanya walau maksudnya adalah membersihkan tumpahan cairan yang lengket. Lalu tangan Dennis berhenti bergerak di buah d**a Melanie. Wajah Melanie yang sedari tadi tertunduk, sekarang mendongak kearah wajah Dennis. Begitu pula dengan Dennis. Mata birunya terpancar jernis sehingga Melanie dapat menatap wajahnya sendiri di mata itu. Wajah yang sangat menawan dan tampan. Keningnya lebar dengan juntaian rambut pirang. Bibirnya merah legam dengan segala godaan yang temaram. Benak Melanie semakin gusar, ketika wajah Dennis semakin mendekati wajahnya. Mata mereka saling bertatapan seakan membius satu sama lainnya. Lalu... Entah pikiran dari mana? Bibir Dennis menyentuh lembut bibir Melanie yang semakin gusar. Nafas hangat Dennis mengenai kulit wajah lembut Melanie. Tak pelak, ia merasakan sebuah dorongan nafsu yang memuncak dalam dirinya. Bibirnya bergetar dan dengusan nafas terdengar dari hidung Melanie. Lalu,,, Dennis mulai merengkuh tubuh Melanie. Tangan Dennis melingkar di lehernya dan seketika tubuh Melanie kembali tumbang di kasur kapuk yang empuk. Lumatan bibir Dennis semakin dalam menghisap bibir lembut Melanie. Tak terasa lagi panasnya cairan teh yang membasahi tubuhnya~~yang ada hanyalah nafsu ketika wajah Melanie semakin tertekan. Lidah Dennis menyeruak menjilati bibir Melanie, sehingga membuat wanita muda itu semakin tertekan diantara nafsunya yang jalang. Tanpa sadar, tangan Dennis mulai menyeruak di balik kebaya lembab milik Melanie yang kesurupan. Lidah mereka saling bertautan dan nafas hangat mulai mengabaikan pandangan. “Auuffff!” Desah Melanie mulai terdengar, ketika jemari nakal Dennis sang penawan mulai menyentuh ujung putingnya. Jemarinya terlihat gemas dan memutar-mutar p****g yang menegang. Bibir Dennis mulai bergerak dari bibir Melanie. Ia menyeret bibir merahnya ke pipi merah merona Melanie dan mengecupnya perlahan. Lalu bibirnya bergerak lagi ke arah telinga Melanie yang mulai kemerahan. Melanie hanya bisa melengkuh keenakan, ketika lidah Dennis menjulur dan menyentil cuping telinga Melanie. Mata Melanie membelalak namun kosong~~seakan kesadarannya mulai meninggalkan sang tuan. Desahan nafas Dennis mulai terasa hangat dan lirih terdengar ketika bibirnya mulai bergerak mengikuti jenjangan leher Melanie. Rasa geli dan nikmat terasa hingga di s**********n Melanie yang mulai terasa hangat, seakan cairan siap menyembul di balik kain batik yang legam namun menawan. Gigitan Melanie pada bibirnya sendiri menandakan bahwa nafsunya sudah diambang kebangkitan. Dennis yang nakal mulai menjulurkan lidahnya di leher Melanie. Rasanya sungguh kecut karena cairan teh tanpa gula lebih dulu menyerang leher Melanie. Melanie tak sadar bahwa dirinya mulai terbuai oleh nafsu yang tak tertahankan. Kebaya merah marunnya tersingkap berikut dengan kutang hitamnya. Kini Dennis memandang buah d**a Melanie yang terhampar di hadapannya. Dennis yang hanya berjongkok di bawah ranjang, mulai melancarkan hisapan bibirnya di p****g s**u Melanie yang terbaring di ranjang. Seketika, mata sayu mereka saling bertatapan. Mereka saling pandang tanpa ucapan. Lalu... Dennis mulai menghisap p****g s**u Melanie yang tegang. Hidungnya mendengus kencang dan nafas mulutnya menghisap gemas. Hisapan Dennis begitu kuat sehingga Melanie patah arang. Lidah Dennis menjulur lidahnya sehingga getaran serasa lebih nikmat di d**a Melanie. “Huuhhh! Lembut sekali, sruuuuppp!”  puji sang menawan yang ditawan itu. Melanie hanya terkekeh kecil melihat wajah Dennis yang hingga di antara bongkahan dadanya. Wajahnya bergoyang, sehingga kedua buah d**a Melanie bergoyang. Senyuman tersungging di bibir Melanie ketika mulut Dennis mulai beraksi lagi di buah d**a Melanie yang terhampar bebas. Melanie tak sadar bahwa buah dadanya makin membesar dan putingnya serasa melebar. Tonjolannya juga semakin besar seiring dengan pertumbuhannya. Suara decapan dari tubuh Dennis santer terdengar ketika Dennis menghisap lalu melepaskannya dalam sekejap. Melanie kembali mengerjap ketika p****g susunya menjadi objek pelampiasan bagi Dennis yang kesetanan. Bibirnya berpindah dari kiri ke kanan dan kembali lagi. Melanie hanya bisa melengkuh sembari meremas rambut Dennis yang mulai berantakan. Lalu, tangan Dennis mulai bergerak gusar. Tangannya menyeruak di balik kain jarik milik Melanie yang mulai tersingkap. Namun Melanie menepisnya dan bangkit dari pembaringannya. “Jangan disini!” keluh Melanie yang manja seakan memohon kepada Dennis agar membawanya ke alam yang lebih liar. Dennis menghentikan permainan singkat yang membuat Melanie kebasahan. Melanie bangkit dan duduk menghadap Dennis yang bersimpuh di bawah ranjang pendek itu. “Kita kerumahku saja!” Ujar Dennis sembari merengguh buah d**a Melanie yang menggantung dihadapannya. “Hah!” Melanie terkejut mendengar kata-kata Dennis yang tertahan. “Orang tuaku sedang pergi dan aku dirumah sendiri, hmnnpppfftt!” ujar Dennis sembari menghisap p****g s**u Melanie yang terpampang bebas di hadapannya. “Ssshhhh auhhhh,” Melanie melengkuh lagi. Namun ia mencoba menahan kesadarannya agar tak kelepasan, “bagaimana dengan pelayan-pelayanmu?” “Tak ada pelayan di rumahku!” Dennis mengatakan itu sembari menjulurkan lidahnya ke p****g s**u Melanie yang mencuat. “Apa?!” “Ya... Ayahku sangat menentang p********n. Jadi kami melakukan semuanya sendiri.” “Oh, hmn.” Melanie hanya berpura-pura terkejut memandang keluarga Dennis yang bijaksana. “Tapi bagaimana dengan... Sonja!” “Sonja!” ujar Dennis dengan nada sedikit kesal. “Aku tak begitu tertarik padanya. Ia seorang manja dan suka memerintah.” Lalu senyuman tersungging di bibir manis Melanie yang terbuai oleh ketampanan Dennis. Ia tak percaya bahwa sekarang Dennis sedang berada di pelukannya. Dennis bersandar di buah d**a Melanie yang hangat dan kenyal itu. “Baik! Sekarang berbaringlah dan aku akan menunggumu dirumahku. Itu saja jika kamu mau?” Ujar Dennis yang bangkit dari posisinya. Melanie hanya tersenyum sembari merapikan kebayanya yang berantakan. Entah apa yang diimpikannya malam ini. Ia bergumul singkat dengan seorang tampan yang sedari dulu menjadi incaran batinnya. Seolah-olah kemalangan beberapa hari ini terobat oleh Dennis yang mulai tertarik pada dirinya. Tentu saja, pria mana yang tak suka dengan wajah blesteran nan eksotis milik Melanie. Tubuhnya yang sintal dan seksi membuat pria seperti Dennis lupa daratan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD