“Hei! Kenapa melamun saja dari tadi?” protes Dennis sembari menyentuhkan tangan ke bahu Melanie. Sehingga sengatan petir itu hadir kembali dan menyengat otaknya agar kembali terarah ke Dennis.
“Ah! Tidak! Aku tak dengar apapun tentang Panji.” Jawab Melanie sekenanya.
“Tadi pagi, ayahku bercerita bahwa ia berubah gila. Tubuhnya mengerang kesakitan tanpa sebab. Seluruh dokter di kota sudah menanganinya, namun satupun tak berhasil mendeteksi penyakitnya. Kata ayahku, dari caranya mengerang, ia tidak sedang kesakitan. Tetapi mengerang menahan nikmat yang tak tertahankan.” Jelas Dennis menceritakan semua yang ia dengar dari ayahnya.
“Maksudnya mengerang menahan nikmat yang tak tertahan?” tanya Melanie dengan penuh kesan keheranan.
“Tak tahu! Mungkin semacam mimpi basah,” jawab Dennis sembari mengangkat bahunya pertanda ia menjawabnya dengan asal saja.
“Apa itu mimpi basah?”
“Hmn, gimana ya! Begini, mimpi itu sering melanda pria yang mulai beranjak dewasa. Kita akan bermimpi bergumul dengan seorang wanita, sehingga terbawa di alam nyata.” Dennis menjelaskan dengan bahasa yang tinggi dan sulit dicerna oleh Melanie.
“Oh, seperti itu!” tanggap Melanie yang sebenarnya sudah tahu arti mimpi basah itu, namun ia harus bersikap lugu dihadapan pangeran tampan ini. “Hmn, apa kau pernah mimpi basah?”
Pertanyaan itu membuat darah Dennis serasa membeku. Wajah putih ala kompeninya merona dan rahangnya bergetar menahan malu.
“Pernah, dulu. Hehehe...” jawab Dennis sembari terkekeh.
“Oh, benarkah. Dengan siapa?”
“Mnnn, denganmu. Hahahaha...”
Perkataan Dennis membuat Melanie naik pitam sehingga melancarkan cubitannya di bahu Dennis. Dennis yang tertawa karena berhasil menggoda Melanie~~langsung melarikan diri dengan berlari. Melanie yang harus bersikap anggun menahan dirinya. Ia hanya bisa tersenyum melihat tingkah Dennis yang biasa dingin, mendadak mencair begitu saja. Sehingga hati Melanie yang beberapa saat lalu membeku, menjadi hangat seperti sedia kala.
Lamunannya kembali melanda, ketika pelajaran baru saja akan dimulai kembali. Para murid telah bersiap di mejanya. Melanie hanya termenung, sembari menunggu gurunya datang dengan segala ilmu rahasianya. Tetapi, lamunan tentang surat dari profesor terhenti ketika Alam menyapanya.
“Lanie!” sapa Alam dengan pakaian kompeninya. Sama seperti Panji, pakaiannya kedodoran karena ukuran tubuh remaja pribumi dengan kompeni berbeda. Namun Alam sedikit lebih tinggi dari Panji, sehingga hanya beberapa bagian tubuhnya saja yang kedodoran.
“Eh, Apa?” jawab Melanie karena terkejut karena tiba-tiba Alam sudah berada dihadapannya.
“Kau sudah dengar kabar dari Panji?” tanya Alam.
“Sudah, kabarnya ia sakit.”
Alam yang biasanya serius, mendadak lebih serius dari biasanya. Sehingga wajahnya mendekat ke arah Melanie yang hanya terduduk.
“Bukan sakit, ia kesurupan,” bisik Alam yang mendekatkan wajahnya kearah Melanie.
“Hah, kesurupan apa?” Melanie terkejut dengan kata-kata Alam.
“Tidak tahu, tapi sepertinya hal ini berhubungan denganmu!”
“Apa hubungannya denganku?” Ujar Melanie yang keheranan.
“Iya, soalnya ia memanggil-manggil namamu tadi malam.”
“Apa! Jangan bicara sembarangan kau!” Protes Melanie.
“Sumpah! Demi langit dan bumi. Aku mendengarnya sendiri karena rumah kami bersebelahan.”
“Tapi...!”
Tuk... Tuk... Tuk... Terdengar suara langkah keras dari lantai tegel yang kelabu. Langkah itu berasal dari Dr. Stulivan yang kembali ke kelas untuk mengajar. Semua siswa berlarian ke mejanya masing-masing sehingga pembicaraan itu terganggu.
Dr. Stulivan kembali bercerita panjang lebar mengenai buku yang dibacanya. Ia tak lebih dari seorang pendongeng daripada seorang guru. Semua siswa terlihat tenang dan cenderung mengantuk. Mata-mata mereka terlihat berat dengan dagu yang hampir jatuh. Tetapi hal itu tidak bagi Melanie. Ia mencoba menerka apa yang terjadi pada Panji semalam. Sehingga sejenak ia melupakan surat dari Profesor yang menjadi keinginannya selama ini. Ia menganggap perjalanan masih lama, jadi ia bisa saja mengesampingkan masalah ini di lain hari.
Sekarang, satu masalah datang kembali. Entah kenapa ia begitu memikirkan Panji yang menghilang hari ini. Apa karena mimpinya semalam atau kejadian kemarin siang? Melanie tak tahu pasti.
Dalam setiap keraguannya, ia mencoba menahan pikiran itu. Namun pemikiran selalu datang dengan sendirinya. Instingnya mengatakan bahwa ia harus mendatangi Panji, walau segala urat malunya akan terlepas. Mungkin ia merasa bahwa keadaan Panji adalah hasil dari perbuatan bejatnya sendiri, perbuatan yang melecehkan seorang perawan blesteran. Melanie tak yakin hal itu menjadi sebuah hal yang perlu diperdebatkan. Namun hal itulah yang menjadi pemikirannya saat ini.
Denting lonceng berbunyi, pertanda berakhirnya pelajaran hari ini. Para siswa beranjak pergi, namun tidak dengan Melanie. Pikirannya begitu gusar, memikirkan dua hal yang merasuki pemikirannya. Ia memang selalu berpikir, namun tidak untuk yang seberat ini. Tentang surat dari Universiadenn dan Panji yang malang.
Melanie berdiri di hadapan cermin, disebuah bilik kamar mandi. Wajahnya sembab karena aliran air basuhan menetes mengikuti alur wajah cantiknya. Ia sedang menimbang sesuatu yang bakal terjadi hari ini. Jika ia pulang kerumah, ia akan meminta balasan surat itu, jika tidak ia akan mampir ke rumah Panji, untuk sekedar menanyakan apa yang terjadi atau memastikan penyakit yang dialami Panji bukan ia yang menyebabkannya.
Setelah cukup lama berpikir, ia menatap dirinya sendiri. Melanie begitu tegar dan memastikan semua masalahnya harus selesei hari ini. Pertama, ia mampir kerumah Panji. Selanjutnya, ia akan pulang dan menanyakan surat itu kepada orang tuanya. Dengan segala dayanya, Melanie melangkah menyusuri pintu keluar.
Dalam hati kecilnya, ia bertanya-tanya.
“Kenapa aku harus memikirkan si batok kelapa itu? Mungkin ini adalah akibat yang harus ia terima karena melakukan itu padaku. Kuharap ia mati sekalian! Sehingga tak perlu kupikirkan lagi!” Umpat Melanie di dalam hati.
Seketika, gemuruh petir di siang itu terjadi. Awan hitam mulai merambat pelan dan angin mulai bertiup kencang.
“Sial! Kenapa harus hujan!” umpatnya lagi. Sesekali didalam hatinya, Melanie muda tak bisa meredam emosinya. Ia dulu sering marah dengan para pelayannya. Entah karena apa ia akan membentak bahkan sesekali menampar pelayan yang begitu di bencinya. Tetapi lambat laun, seiring dengan pertumbuhannya~~ia melembut. Seperti halnya dengan para anak lainnya yang mulai memikirkan masa depannya. Hidupnya serba kecukupan, bahkan kelebihan. Namun ia tetap saja memikirkan hal lebih dan lebih dari cukupnya.
Diujung jalan sana, berdiri sebuah bak sampah di bawah sebuah lampu kota yang akan berpijar di kala petang. Terlihat seorang gadis kecil dengan pakaian lusuh, seperti seorang anak korban perang. Pakaian itu berlubang di segala bagian. Mata anak itu berbinar menyusuri setiap tumpukan sampah dan berharap menemukan sepotong makanan. Tak ada yang memperhatikan, bahkan para kompeni kaya yang lewat hanya menghindar.
Melanie menatap anak perempuan lusuh itu, entah kenapa wajahnya berbinar sayu. Ia merasa iba karena telah mengumpat sepanjang jalan. Ia tak tahu bahwa dirinya lebih beruntung dibanding gadis kecil yang kurus itu. Dengan langkah kaki ragu, Melanie yang belia mulai beranjak ke arah bocah itu. Setelah sebelumnya, ia mencoba menarik selembar Gulden dari balik kendit yang ia kenakan. Mungkin 1 Gulden tidak terlalu bagi Melanie yang kaya, tetapi sangat berguna bagi sang gadis kecil yang renta.
Tinggi badan gadis perempuan itu hanya sepinggang Melanie. Ia tak bisa membayangkan jika saat usia muda seperti itu, ia tak punya apa-apa. Rambutnya panjangnya lusuh dan kisut.
Tak membutuhkan waktu yang lama, ketika Melanie telah sampai di hadapan gadis itu. Seketika aroma busuk dari sampah menguar di hidungnya. Tak pelak, dirinya menutupi hidung mancungnya dengan jemari lentiknya.
“Dik!” Sapa Melanie.
Bocah itu tak tahu, bahwa ada seorang gadis yang berbaik hati hari ini. Ia hanya terfokus pada sampah-sampahnya yang bau. Lalu Melanie memanggilnya lebih keras lagi.
“Dik!” panggil Melanie lebih keras.
Tiba-tiba, sang bocah menoleh kearah Melanie. Namun hanya sekilas saja ia memandang Melanie. Lalu ia menunduk lagi dan berdiri di hadapan Melanie yang tinggi.
Melanie dengan senang hati berjongkok di hadapan anak perempuan itu. Lekuk tubuhnya sungguh sempurna ketika Melanie berjongkok menatap wajah sang gadis kecil yang kumuh dan kusam. Lalu, entah mengapa? gadis itu mengalirkan air matanya. Seharusnya gadis kecil itu senang karena ada seseorang yang berbaik hati padanya. Tetapi kenapa ia menangis seperti itu. Tak pelak, Melanie semakin iba dengan gadis pengumpul sampah itu.
“Kenapa kau menangis?” tanya Melanie dengan lembut. Perlahan bocah itu mengangkat wajah kusamnya. Aliran air matanya membuka cadar debu di wajah kecilnya.
“Te-teman kakak, akan mati!” ujar gadis itu sembari berlari meninggalkan Melanie.
Melanie yang terkejut, hanya bisa mengangkat tangannya untuk memanggil gadis itu, namun hasilnya sia-sia. Bibirnya seakan terkatup dan matanya tajam menatap punggung gadis kurus yang menghilang di balik kerumunan.
Batin Melanie semakin terguncang dengan apa yang baru di dengarnya. Ia yang tak begitu memikirkan apa kata orang, sekarang harus memikirkan apa saja yang ia dengarkan. Termasuk perkataan gadis kecil itu.
“Temanku akan mati!” Ujarnya dalam hati.
Tanpa berpikir lagi, ia memanggil seorang kusir andong guna mengantarkannya ke rumah keluarga Sudarman. Ia masih ingat dimana letak rumah Panji Sudarman, karena ia pernah datang ke pesta penikahan kakak perempuan Panji.
Hatinya semakin was-was ketika mendengar ketukan sepatu kuda yang menghujam jalanan berbatu yang halus. Ia sendiri tak tahu, kenapa hidupnya begitu aneh beberapa hari ini. Masalah demi masalah mengiringinya ketika ia beranjak dewasa.
Tak lama, kereta kuda yang disewanya terparkir di rumah temannya tersebut. Suasana begitu sepi tak berpenghuni. Melanie turun dari andongnya dan mulai melangkah kedalam halaman setelah memberikan beberapa keping Stuiver kepada sang kusir.
Halaman lengang dan luas, terawat rapi di seluruh bagian. Rumputnya halus selembut karpet dari timur tengah. Kaki Melanie telah sampai di depan pintu kayu tua yang dipoles dengan sedemikian rupa.
Jantungnya berdegup ketika tangannya mulai mengetuk kaca di pintu tersebut. Ketukan pertama, tak ada yang menjawabnya. Ketukan kedua, suara langkah kaki terbirit mendatangi pintu. Seakan orang itu berlari menjemputnya tamunya. Pintu terbuka, dan seorang pelayan wanita tua berada di dalamnya. Pelayan itu tahu, bahwa dirinya begitu rendah ketimbang Melanie yang ningrat. Pelayan itu tersenyum dan membungkuk kearah Melanie yang menjadi tamu tuan rumahnya.
“Panji ada bik?” tanya Melanie dengan lembut.
“Raden sedang sakit. Nona mau menjenguk?” ujar pelayan sopan itu.
“Ya.”
“Silahkan masuk nona!” ajak pelayan itu memasuki rumah Panji yang megah dan rapi ala ningrat kawan kompeni. “Langsung ke kamar saja, Raden tidak bisa bangun dari tidurnya.”
Melanie terkejut mendengar perkataan pelayan wanita yang mulai bungkuk itu. Wajahnya dipenuhi keriput dan rambutnya beruban sempurna. Matanya buram sehingga harus menatap tajam apa saja yang dilihatnya. Tetapi tak seharusnya ia mengantar Melanie ke kamar Panji, seharusnya ia menyuruhnya menunggu di ruang tamu atau mengusirnya jika tuannya sedang tak ingin di temui. Tetapi sepertinya ia tahu, bahwa hari ini beberapa orang akan datang untuk berkunjung.
Tak ada seorangpun dirumah ini, ketika Melanie melewati sebuah patung ukiran kayu berbentuk paruh burung elang garuda. Paruhnya tajam membengkok dengan rentangan sayap lebar. Namun ia sedikit heran dengan patung itu, karena burung itu tak seperti burung, tetapi seperti seorang manusia yang mengenakan pakaian layaknya burung. Kaki patung itu seperti manusia yang sedang berlari dan mencoba mengambil ancamg-ancang untuk terbang. Namun itu hanyalah sebuah patung yang dibuat oleh seorang seniman di timur jauh Java. Katanya, terdapat sebuah pulau kecil yang indah disana dan para bakat seorang pemahat mengalir di darah mereka. Pandangan Melanie akan patung itu teralih oleh suara lembut dari pelayan tua itu.
“Silahkan nona.” Ujarnya sembari membuka setengah pintu kamar Panji.
Melanie hanya tersenyum sembari merapikan rambut hitamnya. Langkahnya begitu canggung ketika ia memasuki kamar Panji yang sedang dalam pesakitannya. Seketika aroma kayu putih bercampur jahe semerbak di hidung Melanie. Ia mendengus pelan agar mengusir bebauan yang mengganggunya itu. Ia tahu, jahe dan kayu putih digunakan untuk menghangatkan badan orang yang sakit. Ia juga pernah memakainya beberapa kali.
Melanie mengamati kamar Panji yang besar seperti kamarnya, namun sedikit berantakan karena mungkin kamar lelaki berbeda dari kamar pria. Ia melihat pelayan rumah sudah meninggalkan ruang dimana Panji sedang tertidur pulas bertumpukan kain selimut yang menggunung di ranjangnya.
Perlahan, Melanie mendekati Panji yang masih meringkuk di balik selimutnya, hanya sedikit rambut batok kelapa yang terlihat oleh mata Melanie. Lalu, Melanie duduk di tepian ranjang milik si batok kelapa itu. Henyakan pantatnya membangunkan si empunya ranjang yang langsung terbangun dari tidurnya.
“Ah, Maaf!” kata Melanie sedikit merasa bersalah karena telah membangunkan orang sakit.
“Melanie!” ujar Panji yang terkejut karena tiba-tiba Melanie mengunjunginya. Matanya menajam seakan tak percaya bahwa bidadari kesayangannya telah hadir di hadapannya. Tanpa kata lagi, Panji meloncat kearah Melanie. Melanie mundur sekejap, namun ia menatap batok kelapa Panji yang bersimpuh di dekat pangkuannya.
“Lanie, maafkan aku!” ujarnya tergopoh-gopoh. Seakan Panji melakukan kesalahan yang menyebabkannya seperti ini. Tangis Panji mulai terdengar seiring dengan kata maafnya yang terus terlontar. Ia merengek meminta maaf kepada Melanie yang tak mengerti apa maksudnya ini. Walau Melanie tahu, bahwa Panji pernah melecehkannya di bilik sempit itu, dan Panji juga hinggap dalam kenikmatan mimpi sesaatnya.
“Tolong! Maafkan aku!”
“Hei, hei! Tenanglah!” ujar Melanie yang iba menatap Panji meraung pada dirinya.
“Tapi, aku bersalah padamu kemarin. Tolong! Ampuni aku!”
“Ya! Sudah! Hei... Hentikan!” tanpa sadar tubuh Panji memeluk pinggang Melanie. Ia sontak berdiri dan ingin meninggalkan temannya yang kesetanan ini. Namun tubuh Panji begitu ringan sehingga ia melompat turun dari ranjang dan mendekap paha Melanie, seperti seorang anak yang merengek karena ingin ditinggal ibunya ke pasar. Pintu kamar yang tadinya terbuka setengah, sekarang malah tertutup sempurna. Pintu itu mengeluarkan bunyi menggelegar di penjuru rumah. Namun sayang, pelayan tua di rumah Panji itu tak memiliki pendengaran yang baik. Ia sedang sibuk dengan pentikan kacang panjangnya sembari berlanggam.
Melanie tak habis pikir dengan perlakuan temannya ini. Tubuh Panji yang kecil memeluk kedua paha jenjang Melanie. Sehingga kedua kakinya seakan terikat oleh cengkeraman erat kedua tangan Panji. Melanie mendengus kesal menatap Panji yang terus meronta di kaki Melanie, namun rasa iba melanda dirinya. Ia tahu, bahwa sebuah kesalahan besar pernah temannya ini lakukan, tapi tak seharusnya ia bersikap cengeng seperti ini.
Melanie merasakan pelukan Panji kian kuat, sehingga kepala batoknya menekan s**********n Melanie yang masih terbungkus jarik batiknya. Sesekali ia terisak, sehingga menghasilkan kejangan ringan di bagian yang tak seharusnya tersentuh itu.
Hal itu, membuat Melanie mabuk kepayang. Nafasnya memberat seiring dengan tonjolan hidung Panji yang menekan daerah kewanitaannya yang masih terbungkus rapi.
“Auhhh, kenapa seperti ini?” ujar Melanie dalam hati.
Melanie sedikit meronta dengan menggeser pantatnya kebelakang, namun wajah Panji seakan menempel di bagian kewanitaannya, sehingga membuat Melanie semakin gelisah. Ia tahu, jika ia meneruskan, bisa saja ia ketahuan. Jika tidak, ia harus melepaskan dari cengkeraman Panji yang menggugah hasratnya ini.
Melanie tak sadar ketika dirinya seakan terlempar dari jurang kenistaan. Ia mengamati gerakan kepala Panji yang seakan mengoyak selangkangannya. Tak ada yang ia lakukan selain menarik rambut Panji untuk menghindarnya. Namun, di hati kecilnya ia merasakan desakan rangsangan. Entah kenapa, terkadang Melanie menarik rambut batok kelapa itu, atau terkadang ia membelai lembut batok kelapa itu.
Dengusan terdengar dari hidung Melanie yang mengempis, matanya menatap nanar kepala temannya yang sedang mengerjainya. Melanie yang membinal seakan tak sadar bahwa pelukan Panji yang bersimpuh di pahanya sudah mengendur. Tangan Panji mulai liar, ia menyusupkan tangan kecilnya dari rongga bawah jarik Melanie. Sehingga kulit betis Melanie tersentuh oleh jemari kecil milik Panji.
Perlahan, jemari Panji menyusuri bagian paha Melanie dari dalam kain jariknya. Melanie hanya berdiri terdiam dan punggungnya bertumpu pada dinding pintu yang tertutup. Terkadang ia harus menutup matanya ketika tangan nakal Panji membelai paha jenjangnya. Terkadang ia harus menggigit bibirnya agar desah nafasnya tak keluar. Bibirnya serasa begitu basah karena lidahnya menyapu bagian bibirnya sendiri.
Melanie terkejut, sehingga pahanya terguncang ketika jemari Panji mengusap bagian dalamnya. Usapannya begitu lembut sehingga wajahnya mendongak dan mulutnya terngaga lebar.
“Auh, auuhh!” desahan Melanie membisu karena jemari telunjuk Panji menusuk lubang di s**********n itu. Tusukannya pelan, seakan pemuda yang bertubuh bocah ini tahu dimana arah permainan.
Entah kenapa? Melanie justru melonggarkan pahanya, agar permainan jemari dari Panji semakin leluasa.
Entah pikiran dari mana? Melanie justru menanyakan sesuatu yang seharusnya tak ia tanyakan.
“Dimana semua orang di rumahmu?” tanya Melanie spontan.
Panji menjawab tapi suaranya tak terdengar jelas di telinga Melanie karena mulutnya terkunci di kain jariknya.
“Hei!” Ujar Melanie sembari menghentakkan pahanya sehingga wajah Panji terpental menjauhi s**********n Melanie.
“Semuanya pergi dan malam nanti akan kembali.”
“Tapi, pelayan itu.”
“Mbok Ijah tinggal di belakang, jarang sekali ia kedepan. Kecuali jika aku menarik gantungan itu. Ia akan langsung datang.” ujar Panji dengan cepat sembari menusuk rongga Melanie yang mulai mengeluarkan lendir. Tusukan jari telunjuk itu membuat Melanie kegerahan. Tangan Melanie menarik kain jariknya ke atas, sehingga kaki-kaki mulus miliknya terlihat oleh Panji yang membantu untuk menaikannya.
Melanie yang terpancing, membuat Panji semakin ganas. Dengan kasar, tangan Panji menyingkap kain jarik Melanie dan menyusupkan kepala batoknya ke s**********n Melanie. Walau Melanie awalnya menolak, namun tolakan itu hanyalah sebuah cara untuk memancing Panji agar memperlakukan dirinya secara lebih. Kini batok kelapa itu seakan terpendam di juntaian kain jarik Melanie yang terangkat. Ia tahu, bahwa seharusnya ia tak membukanya, namun hasratnya terlalu kuat untuk mengimbangi akal sehatnya.
Panji merasakan aroma sedap dihidungnya. Aroma yang membangkit nafsunya untuk menjilati daging keriput kenyal dan berlendir. Sehingga ia menjulurkan lidahnya menyapu bagian berbulu halus itu yang tercukur rapi itu. Jemari kurusnya menusuk semakin cepat saja, sehingga membuat rongga nikmat milik Melanie mencairkan cairan berbau anyir itu. Suara ceprutan terdengar dari telinga Panji yang semakin gencar mempermainkan Melanie yang kesetanan.
Pinggul Melanie seakan bergetar, mengeluarkan segala nafsu dan hasrat yang terpendam. Nafasnya mendenguskan segala kenikmatan yang mendalam. Tak sadar, tangan Melanie tak kuasa untuk menyentuh buah dadanya sendiri. Tangannya bergerak liar, seakan tak peduli lagi dengan sekitarnya. Kebaya-nya mulai berantakan seiring dengan pijatan tangannya untuk menguras nafsunya.
Melanie yang terangsang ingin menerima hal yang lebih dari yang ia pernah bayangkan. Sehingga ia kembali berkata dengan perkataan janggal yang seharusnya tak keluar dari mulut gadis sepintar dirinya.
“Auh, sudah, tidurlah!” pinta Melanie kepada Panji yang enggan melepaskan jilatan lidahnya. “Lepaskan dulu!”
Melanie meronta, namun Panji malah semakin mempercepat gerakan lidahnya. Tak ada yang bisa menahannya, sehingga Melanie harus terdiam sembari merasakan kenikmatan.
Pikirannya mulai buntu untuk melepaskan diri dari sergapan Panji yang begitu menawan nafsunya. Sehingga ia harus melakukan sesuatu. Sesuatu yang belum pernah ia pikirkan terdahulu. Melanie mengangkat salah satu pahanya dan melangkah ke pundak kurus Panji yang begitu asyik dengan bibir berongga itu.
Panji gelagapan menerima tumpuan kaki Melanie yang jenjang. Namun Panji juga tak kehabisan cara. Lidahnya malah semakin leluasa bergerak menyapu bibir kemaluan Melanie yang semakin basah saja. Bulu halus jembutnya terasa geli ketika menyentuh hidung Panji yang mendengus ringan. Wajah Panji mendongak menengadah, wajahnya memerah dengan mata setengah tertutup merasakan hamparan panas dari bibir berongga milik Melanie.
Perlahan, tubuh Melanie bergerak maju, sehingga tubuh Panji tertekuk hampir jatuh. Tak pelak, Melanie merasa geli dengan wajah Panji yang gelagapan karena Melanie menimpa wajahnya.
Dalam hitungan detik, Panji terbaring dilantai tegel kelabu. Sedangkan Melanie duduk mengangkang diatas wajah kecil temannya itu.
“Kau baik-baik saja?” tanya Melanie.
Panji hanya mengangguk cepat, anggukannya membuat hidung Panji menyapu singkat belahan berlendir Melanie. Wajah Panji telah basah oleh liur dan lendir. Namun ia tak menghentikan jilatan lidahnya di bibir halus Melanie. Melanie-pun kelojotan kembali. Tubuhnya condong kedepan sehingga tangannya harus menumpu dirinya.
Perlahan, Melanie menggoyang pingulnya untuk memberikan rangsangan kepada diri sendirinya. Rasa nikmat melanda dirinya sehingga kepalanya melingkar-lingkar mengusutkan rambutnya. Pinggulnya bergoyang semakin cepat. Sehingga lengkuhan terjadi.
Panji tak kuasa menahan laju nafsu birahi Melanie yang memuncak. Ia hanya bisa menjulurkan lidahnya ke arah rongga nikmat Melanie yang hangat. Lendir dari rongga Melanie membasahi hidung, bibir dan sedikit menetes di matanya, sehingga Panji menutup matanya.
Seketika, kejutan listrik melanda tubuh Melanie, sehingga tubuhnya menggelinjang dan mengejang tak tertahankan. Matanya tertutup sempurna mulutnya terbuka lebar seakan meneriakan desahan yang tak terdengar. Pahanya bergetar dan sesaat ia merasakan kucuran cairan yang mengucur di dalam rongga kelaminnya. Cairan itu memuncrat membasahi wajah lawan mainnya. Rasa yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Tubuhnya tegak kembali, namun rasa hangat dan lunglai melanda. Ia memandang kearah wajah Panji yang gelagapan di bawah sana. Dengan senyuman kecut ia mengangkat pahanya dari wajah Panji yang basah sempurna. Aroma anyir menyeruak dari seluruh penjuru ruangan.
Nafas Melanie terengah, begitu juga Panji yang menyusap cairan dari wajahnya. Ia tersenyum kearah Panji si batok kelapa yang sudah memberikan sesuatu yang jarang ia dapatkan.
Derasnya hujan begitu terdengar nyaring menyerang genting perumahan. Angin bertiup deras dengan iringan petir yang sesekali menyambar. Tak ada hal yang lebih nyaman malam ini, kecuali berdiam diri dikamar.
Melanie duduk terdiam dengan sorot bola lampu tua pemberian kakek dari ibunya. Bola lampu antik dengan gagang yang melengkuk menuju ke suatu bidang. Lampu baca, itulah sebutan lampu itu. Jarang sekali ada yang punya karena lampu itu berasal dari luar sana.
Melanie diam sejenak, meraba gagang lampu yang terbuat dari besi yang dicetak. Lalu matanya serasa silau ketika menatap bola lampu pijar itu. Ia teringat pelajaran di sekolahnya. Mungkin jika tak ada orang bernama Thomas, dunia ini akan gelap gulita. Cahaya dari atom Neon yang bereaksi dengan listrik, sehingga nyalanya terang benderang ketika malam tiba.
Tak lama kemudian, Melanie kembali lagi ke buku pelajarannya. Matanya tertuju ke halaman buram nan kusam itu, namun pikirannya melayang jauh mengingat kejadian tadi siang. Panji, pemuda buruk rupa dengan tubuh kurus itu~~telah membawa Melanie terbang jauh dari angannya. Melanie begitu mengingat apa yang telah ia rasakan, sehingga sikap duduknya berubah.
Rongga kewanitaannya serasa gatal, jika ia mengingat semua perbuatan tadi siang. Tak disangka, ia terbius oleh seseorang yang tak pernah sekalipun terbeslit dari pikirannya.
“Ada apa denganku! Hufftt! Dan Kenapa harus dia, tidak orang lain saja.” Batin Melanie sembari menundukan kepalanya di atas meja. Wajahnya terbenam di antara lipatan lengannya telanjangnya.
Rencana Melanie hari berbuah gagal. Seharusnya setelah ia pulang dari rumah Panji, ia akan bertemu dan berbicara dengan sang ayah. Namun tenaganya terkuras akibat pergumulan singkatnya dengan Panji si batok kelapa. Bahkan ia mendapati puncaknya dan memuncratkan cairan kenikmatannya diwajah Panji, sama seperti yang pernah ia lakukan di kain jarik Ahras. Hal itu membuat kakinya bergetar dan rongga kewanitaannya serasa nyeri sekarang ini. Tak pelak, rintih desisan sesekali terdengar dari bibir Melanie.
Lama berselang, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu pelan. Ketukan itu membuat Melanie terhentak dari pangguan lengan yang membantali wajahnya.
“Iya, sebentar!” Melanie bangkit, sembari merapikan jarik yang ia kenakan. Lalu langkah kakinya yang masih kaku, melangkah kearah pintu untuk membukanya.
Ketika pintu terbuka, sang ayah berdiri dan terdiam di ambang pintu. Selama ini, Melanie tak pernah melihat mata sang ayah yang sembab~~entah ia habis menangis atau kurang tidur. Tetapi itulah yang Melanie pertanyakan.
“Ada apa, Romo?” tanya Melanie yang penasaran.
Dengan sekali tarikan nafas berat, sang ayah mulai berkata, “besok Schulmachdenn diliburkan.”
“Haa, kenapa diliburkan?”
“Temanmu, Panji Sudarman meninggal dunia barusan. Berdoalah untuknya?” ujar sang ayah sambil berbalik meninggalkan putrinya yang terpukul.
Melanie tahu sekarang, Raden Sudarman adalah teman lama ayahnya. Ia sedih karena putra temannya itu meninggal dan ia harus menenang temannya yang dirundung kesedihan.
Begitu juga Melanie. Walau tubuhnya tak menunjukan reaksi berlebih, namun hati kecilnya begitu getir. Ia hanya terdiam sesaat di ambang pintu, lalu menutupnya dan bersandar di balik pintu. Bulu kuduknya berdiri seiring dengan kakinya yang beringsut menekuk, sehingga Melanie bersimpuh bersandarkan pintu.
Bukan masalah hati, tetapi sebuah pemikiran yang begitu janggal yang pernah ia rasakan. Sesaat sebelum kejadian meng-enak-an tadi siang, ia sempat mengumpat. Umpatan yang tabu, dan berharap si batok kelapa itu mati saja. Lalu sesaat setelahnya, ia mendekati bocah kecil yang berlumur sampah. Bocah itu mengatakan bahwa teman Melanie akan segera mati. Tapi saat itu, Melanie tak menghiraukan kata-kata bocah yang lusuh itu, karena pikirannya tertuju pada kesengsaraan para pribumi di kota sekelas Batavia. Ditambah lagi masalah-masalah yang mendera hati dan pikirannya saat itu.
Mata Melanie berpijar, namun sesaat kemudian memerah sembab. Ia merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Hidupnya bagai sebuah abu yang terhempas oleh angin, melayang tak tentu tujuan. Tanpa sadar, wajahnya meringkuk di pangkuannya, sembari mengisak tertahan. Gengsi di hatinya tak kuasa mencurahkan seluruh kesedihannya saat ini, ia tak ingin dipandang rendah oleh keluarganya. Hanya karena kehilangan seorang teman. Teman yang tak begitu berarti di kehidupan sosialnya, namun sangat berarti di alam nafsunya yang terbatas.
Hanya satu kata,
Kehilangan...
Mungkin saja, tetapi bukan kehilangan seperti itu yang Melanie rasakan. Bukan kehilangan cintanya yang telah pergi untuk selamanya. Namun kehilangan atas pemuas nafsunya. Tapi ia kembali mengingat ketika Ibu tirinya bercerita di masa lalu. Ibunya berkata bahwa jangan pernah mencintai seseorang dengan berlebihan, cintailah sewajarnya saja. Apabila Ia telah pergi, maka kau akan bersedih seperlunya.
Namun hatinya begitu kebal dengan ingatan sang ibu tiri bijaksana itu. Perlahan, matanya memerah dan kucuran air membasuh pipinya. Hidupnya tak semestinya seperti ini. Seharusnya ia tahu, bahwa penyesalan akan datang. Namun Melanie tak menyadarinya, sama sekali.
Esokpun tiba, tak ada cuaca cerah secerah hari ini sebelumnya. Namun tak begitu dengan Melanie muda yang dirundung duka. Sedari pagi, ia ingin memulas wajahnya. Namun sebuah hal tabu jika memulas wajah karena datang di prosesi pemakaman. Alhasil, ia tetap mengenakannya kebaya-nya. Serba hitam ditambah dengan selendang putih transparan untuk menutupi wajahnya dari mata orang yang memandang tajam.
Tak ada lebih sedih daripada keluarga Sudarman. Panji adalah anak laki-laki bungsu di keluarga itu. Terlebih lagi, ia adalah laki-laki satu-satunya. Kakak-kakak perempuannya sudah lebih dahulu meninggalkan rumah untuk tinggal bersama para suami mereka. Si Batok kelapa itulah salah satu harapan keluarga, dan menjadi pewaris nantinya.
Melanie tak sanggup lagi menahan tatapan matanya melihat ibunda Panji yang menangis terisak. Akhirnya, ia mengalihkan pandangannya jauh dari pusat keramaian. Entah kenapa? Pandangannya tertuju pada seorang gadis berbaju lusuh yang pernah ia lihat sebelumnya. Matanya tajam menatap sebuah nisan yang entah milik siapa.
Tak mungkin ia bisa masuk ke dalam area pemakaman para ningrat dan kompeni seperti ini? Ujar Melanie dalam hati.
Melanie hanya terdiam menatap gadis itu dari kejauhan. Matanya jauh memandang diantara jajaran nisan yang tersusun rapi. Tak pelak, Melanie heran.
Apa anak perempuan kecil itu punya keluarga yang dikubur disini? Ujarnya dalam hati lagi.
Melanie mulai mengendap, meninggalkan kerumunan pelayat. Setelah agak jauh, langkahnya berubah cepat dan matanya tajam menatap sang gadis. Seakan Melanie tak ingin kehilangan gadis itu untuk kedua kalinya. Jantung berdebar dan nafasnya terengah, pipinya memerah karena darah mengalir cepat disetiap nadinya.
Lalu, sang gadis menyadari bahwa Melanie sudah hampir dekat dengannya. Seketika ia langsung berlari, menghindari batuan nisan yang mencuat.
“Tunggu!” seru Melanie, sembari mengejar namun langkahnya terhenti di hadapan dua buah nisan yang menjadi perhatian gadis itu tadi. Gadis itu berlari sangat cepat, mungkin lebih cepat daripada anak perempuan pada umumnya. Tubuhnya yang ringan dengan mudahnya menghindari barisan nisan. Lalu, sosok gadis itu menghilang di balik rimbunnya pepohonan.
Melanie hanya terdiam mendapati keheningan yang mendera tubuhnya. Matanya memandang heran ke sela-sela pepohonan, tempat sang gadis misterius itu menghilang. Lalu, ia membalikkan badannya untuk mencoba mengobati sedikit rasa penasarannya.
Tatapannya berubah nanar dan cemerlang. Di kedua Nisan tua itu, tertulis sebuah nama yang begitu diingatnya. Nama yang selama ini menjadi idola dalam dirinya. Tetapi Nisan itu seakan kembar, disampingnya terdapat sebuah Nisan yang tak asing dalam hatinya.
Nisan pertama tertulis, Alicia Elia Piterzon Coen.
Nisan kedua tertulis, Saraswati.
Melanie begitu terkejut membaca nisan pertama itu. Nama yang digadang-gadang menjadi penerus Dr. Rafless dan nama yang menjadi inspirasi hidupnya. Kini ia telah terbujur kaku di dalam sana. Melanie memandang Nisan di sebelahnya, Nisan itu seakan kembar satu sama lain.
“Apakah mereka kakak beradik?” Ujar Melanie dalam hati. “Tetapi, tidak mungkin. Nama mereka sangatlah berbeda.”
Sesaat Melanie terpaku pada hal yang membuatnya berpikiran janggal. Hal yang seharusnya tak dipikirkan oleh dirinya seorang. Namun masalah yang menderanya kini, harus ia tanggapi dengan sendiri.
Masalah pertama telah usai. Yaitu Panji yang meninggal dunia dan tak akan membocorkan rahasianya. Tinggal yang kedua, yaitu surat dari Universiadenn.
Mungkin Melanie harus mencari cara, agar bisa membujuk orang tuanya. Ia tak harus mengatakannya hari ini kepada orang tuanya. Mungkin besok, atau besoknya lagi. Atau ia bisa menunggu saat yang tepat agar permintaannya di terima oleh orang tuanya.