Duk! Duk! Duk! “Lanie! Buka nduk! Kenapa teriak-teriak!” Suara Raden Arthaprawirya yang gelisah terhadap teriakan putrinya.
Melanie membuka matanya, ia menatap tubuh telanjangnya dengan selimut tersingkap.
“Iya Romo!” ujarnya sembari bergegas melilitkan kain jariknya dengan sembarangan. Lalu ia melangkah ke pintu dan membukanya.
Di ambang pintu, ayah dan ibunya sudah berdiri cemas. Sang ayah yang khawatir putri tunggalnya disambangi seseorang~~langsung merangsek masuk kedalam kamar Melanie yang kasurnya berantakan. Sang ibu yang khawatir langsung melingkarkan tangannya di tubuh putrinya.
Sang ayah melangkah memeriksa jendela yang masih tertutup rapat. Ayahnya mengetahui bahwa tak ada yang salah di kamar Melanie.
“Mimpi?” ujar ayahnya sembari tersenyum ke arah putri kecilnya yang sudah tinggi.
Melanie hanya menunduk saja menahan malu karena telah membangunkan seisi rumah. Ketika ayahnya mendekat~~lubang hidung sang ayah mendengus, seakan ia mencium sesuatu yang mengganggu indera penciumannya. Ibunya juga sama, ia juga mengendus asal bau tak sedap itu.
“Kamu ngompol ya, nduk!” Seru sang ayah meledek Melanie yang memasang muka paling masam yang pernah ia perlihatkan pada ayah dan ibunya. Muka masamnya ia gunakan untuk menutupi rasa malunya.
Ibunya curiga meraba s**********n Melanie dan merasakan cairan yang membasahi s**********n itu.
“Lanie! Sudah besar kok ngompol! Cepat mandi!” Bentak ibunya diiringi suara tawa kekehan dari ayahnya.
Dengan kesal, Melanie melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Schulmachdenn.
Pagi itu, tak ada yang berbeda dari para murid di kelas yang hanya termenung memperhatikan gurunya yang sedang bercerita banyak tentang peristiwa wabah hitam di Florence.
Pada saat itu, wabah hitam disebabkan oleh tikus liar melanda daratan utara yang jauh disana. Banyak korban jiwa atas wabah penyakit yang memporak-porandakan seluruh aspek kehidupan masyarakat. Banyak pekerja yang sakit dan mati, begitu pula dengan para tentara yang tak sanggup lagi untuk memegang senjata.
Dr. Stulivan, dengan kepala botak dan kumis garangnya dengan cekatan membaca setiap kata dan kalimat yang terangkum jelas di dalam buku. Melanie yang kala itu memperhatikan dengan samar, cukup terheran dengan tindakan sang pengajar itu. Stulivan adalah seorang terpelajar, tetapi setiap hari kerjaannya hanya membacakan isi buku yang isinya selalu sama dari waktu ke waktu.
Apakah mulutnya tak terlalu capek dengan cara membacanya itu? Ujar Melanie dalam hati. Ia sempat berpikir bahwa sebenarnya otak Dr. Stulivan itu kosong, karena ia hanya membacakan bukunya saja.
Cara membacanya seperti halnya seseorang yang sedang mendongeng. Sehingga sesekali para murid menguap karena kantuk melanda. Melanie akhirnya tak memperhatikan lagi cerita dongeng abad dulu dari Dr. Stulivan yang seperti-seperti itu.
Mata Melanie menyapu barisan punggung-punggung temannya dari bangku paling belakang. Ia memang duduk paling belakang karena tubuhnya tinggi~~dimaksudkan agar ia tak menutupi pandangan temannya yang lebih kecil dari dirinya.
Mata Melanie tertuju pada bangku kosong di depan kelas, tepatnya di hadapan Dr. Stulivan yang tak henti-hentinya membaca. Kepalanya meneleng celingukan melihat bangku yang biasanya diduduki oleh Panji si Batok kelapa.
Seketika ingatannya berputar di balik tempurung kepalanya. Ia teringat kejadian kemarin yang memilukan sekaligus menyenangkan, walau hasilnya tak begitu memuaskan. Ditambah lagi, ingatannya terasa masih segar tentang mimpi semalam. Semalam Melanie bermimpi sedang bergumul dengan Panji yang menyedihkan, tetapi kesan menyedihkan itu terasa samar karena desiran nafsu yang melanda. Di ingatan mimpi itu, Melanie seakan masih merasakan denyutan di p****g susunya yang membuat nafasnya sesak oleh desahan yang memenuhi tenggorokannya. Darahnya mendidih ketika ia mengingat sapuan lidah sang batok kelapa yang menyentil putingnya.
Tanpa sadar, paha Melanie bergerak gelisah. Pahanya mengapit sehingga bibir k*********a saling menggesek. Rasa gatal tiba-tiba menyerang p****g susunya, sehingga ia mencoba menekannya di tepian meja. Namun, gerakan Melanie terlalu cepat, sehingga meja kecil itu bergeser. Suara gesekan kaki meja terdengar di ruangan sunyi itu, sehingga Dr. Stulivan menghentikan laju ceritanya.
Dibalik kacamata bulat yang menggantung di hidung mancungnya, Stulivan yang setengah baya memandang ke arah sumber bunyi. Matanya bergerak awas ke ujung ruangan, tempat Melanie terduduk. Ia sepertinya tahu bahwa Melanie-lah yang membuat kegaduhan karena tampang Melanie merah merona seakan menandai dirinya sebagai pelakunya. Ditambah beberapa temannya yang menoleh kearahnya, seakan menguatkan tuduhan atas kegaduhan tak disengaja itu.
“Melanie!” panggil Stulivan sembari meletakkan bukunya di meja Panji yang tak masuk hari ini. “Bagaimana caranya kota Florence agar tidak tertular wabah hitam? Jelaskan?”
Dr. Stulivan memberikan pertanyaan yang cukup sulit untuk siswinya itu, namun pertanyaan itu mungkin cukup sulit bagi anak lain~~tidak untuk seorang Melanie yang sering membaca buku. Bahkan buku sejarah yang gurunya baca dengan lantang dan mendayu itu, Melanie sudah tahu.
“Eh!” Melanie sedikit terkejut ketika Dr. Stulivan memberikan pertanyaan padanya secara tiba-tiba. Melanie yang berotak cerdas, menjawab pertanyaan dari gurunya itu. “Pada waktu itu, pemerintahan Florence tak membiarkan para pendatang dari luar dengan mudah memasuki kota. Mereka yang mau datang, harus tinggal di dalam kapal selama 40 hari 40 malam. Jika seluruh penumpang dan awak kapal itu hidup dalam 40 hari 40 malam, maka mereka diperbolehkan untuk merapat ke pelabuhan. Jika ada seorang saja yang mati di kapal itu, maka seluruh penumpang sudah dipastikan terinfeksi wabah hitam dan kapal mereka akan di bakar~~berikut dengan penumpang dan awak yang hidup di dalamnya. Maka dari itu, dari peristiwa itu lahirlah kata KARANTINA. Karena 40 dalam bahasa Roma adalah Quaranta.”
Dr. Stulivan tertegun mendengar penjelasan Melanie yang gamblang dan benar. Walau tidak begitu sama dengan kalimat di buku, tapi intinya tepat. Mereka pelaut dari luar Florence yang ingin merapat ke Florence harus menghadapi masa karantina selama 40 hari. Jika awak kapal dan penumpang itu bisa melewati 40 hari tanpa ada salah satu penumpang atau awak kapal yang mati. Maka mereka semua tidak terinfeksi wabah hitam. Jika salah satu saja yang mati, maka dipastikan mereka semua akan dibakar, berikut kapalnya yang karam.
“Ah, engkau memang pintar, Melanie! Kuharap teman-temanmu bisa sepintar dirimu!” Puji Dr. Stulivan sembari memandang ke seluruh kelas dengan maksud memandang mereka agar sadar bahwa nilai mereka di bawah standar.
Biasanya, Melanie selalu tersenyum bangga jika sukses menjawab pertanyaan dari gurunya. Namun hari ini ia tidak, benaknya melayang memikirkan bocah batok kelapa yang menghilang entah kemana? Terutama untuk hari ini.
“Kenapa aku jadi memikirkan seseorang yang tidak penting seperti itu?” Ujarnya keheranan dalam hatinya. Melanie mendengus kesal melawan pikiran kalutnya yang terus-terusan memikirkan Panji yang tak menawan. Ia teringat senyuman gigi tanggal yang mengerikan. Ia juga teringat kulit yang hanya membungkus tulang. Melanie juga mengingat betul bentuk burung kecil yang menjijikan itu.
Lalu dalam angannya ia menerka, jika saja ada perasaan cinta di antara mereka. Dan mereka berdua bersanding di pelaminan ala Jawa mengenakan pakaian adat yang begitu rumit. Tentu saja, Panji si batok kelapa akan tersenyum bangga karena mendapatkan wanita seperti dirinya. Tetapi tidak dengan Melanie yang cantik jelita. Tak pelak, ia akan memandang ke seluruh penjuru mata yang hadir di pesta nan mengerikan itu. Ia akan melihat seluruh teman-teman sejawatnya hanya bisa tertawa merendahkannya, karena Melanie tak sepantasnya berada di sandingkan Panji yang jauh dari kata ‘mempesona.’
Lamunan penuh harunya berubah ketika mendengar detuman lonceng raksasa yang terpasang sempurna di sebuah menara. Lonceng sebagai penanda bahwa pelajaran hari ini akan mengalami jeda. Dr. Stulivan sejenak berhenti dan merasa kesal karena cerita panjangnya harus ditunda. Tetapi tidak bagi semua siswa yang menandai kebebasannya dengan raut wajah ceria.
Tak lama, Dr. Stulivan melenggang dengan santainya keluar dari kelas. Ia meninggalkan murid-murid yang juga bergegas untuk pergi ke ruang makan untuk mengisi perut mereka dengan beberapa camilan. Dalam perasaan gentar, Melanie melangkah keluar bangunan. Selop sandalnya terasa licin karena langkah kakinya yang terlalu cepat.
Kenapa balasan dari Prof. Herringard belum juga tiba? Apakah ia tak memilihku? Batin Melanie sembari melangkah menuju Universiadenn.
Kompleks pembelajaran jika dilihat dari jauh akan terasa kembar. Gedungnya menjulang dua lantai dengan pilar-pilar raksasa menggelora menyangga atapnya. Jika kita berdiri dipintu gerbang, maka kita tepat sejajar dengan sebuah menara dengan lonceng besar menghiasi pucuknya. Kabarnya, lonceng itu adalah hadiah dari Ratu Wilhemina yang berada jauh disana. Kompleks area sebelah kiri dari gerbang adalah Schulmachdenn, dan sebelah kanan adalah Universiadenn.
Walau tak ada pembatas untuk kedua bangunan megah di Batavia itu, para penghuninya seakan terpisah satu sama lain. Schulmachdenn diisi oleh para remaja yang baru belajar membaca dan menulis saja. Universiadenn berisi para ilmuwan, sastrawan dan lain-lain. Tentu saja, siswa di Universiadenn jarang sekali ada yang muda. Mereka kebanyakan berasal dari kaum tua yang botak dan berkumis tebal. Anggap saja, Universiadenn adalah ayah dari si kecil Schulmachdenn.
Tak lama kemudian, sampailah Melanie dihadapan sebuah ruangan dengan pintu sangat besar. Pintu itu terbuat dari kayu ulin yang dikirim langsung dari daratan Borneo. Motifnya kotak besar sehingga mudah sekali untuk menggambarnya. Melanie menghela nafasnya sejenak, ketika berada di hadapan pintu itu.
Pintu dari ruangan itu adalah milik orang terpintar di Batavia saat ini. Orangnya tak terlalu tua, mungkin bisa disebut setengah baya. Mata coklat cerah dengan alis hitam. Rambutnya selalu rapi dengan uban tipis menumbuhi bagian atas telinganya. Bicaranya selalu tenang namun berarti dalam. Orang itu adalah Prof. Herringard. Ia adalah salah satu pengajar di Universiadenn dan ia adalah salah satu idola dari Melanie~~gadis belia yang sedang mendamba.
Melanie mulai menyentuh gagang pintu besar tersebut dan bermaksud untuk menariknya. Namun ketika ia ingin menariknya, terjadi sebuah dorongan dari dalam pintu. Bukan pintu itu terbuka dengan sendirinya, tetapi pintu itu dibuka dari dalam. Melanie yang terkejut, kembali mundur beberapa langkah agar kena sapuan pintu besar yang jika terbuka secara sempurna akan menutupi seluruh lebar koridor.
Namun, pintu itu hanya terbuka setengahnya saja~~atau bahkan hanya seperempatnya saja. Melanie terkejut ketika dua orang pria keluar dari dalam ruang profesor yang sedang dalam rehatnya. Melanie tak tahu siapa kedua orang itu. Tetapi ia mendengar sayup percakapan diantara keduanya.
“Bocah milik keluarga Sudarman itu harus segera di karantina!” Kata pria pertama sembari nyusul pria kedua, “bisa saja ia terkena penyakit menular yang tak biasa!”
“Ya! Kita tunggu keputusan Profesor nanti malam.” Ujar pria kedua dengan tenang.
Melanie yang sedang menerka dan menduga, berupaya untuk mengartikan percakapan samar di antara mereka. Tak pelak, ia teringat sebuah nama. Nama keluarga seperti miliknya yang dimiliki oleh seorang temannya. Seorang teman yang pernah melecehkannya dan hadir di dalam mimpinya. Melanie enggan untuk menduga-duga karena bisa saja bocah yang dimaksud adalah Panji Sudarman. Mungkin saja itu orang lain yang bernama sama. Mana mungkin Panji bisa sakit separah itu dalam waktu sehari saja.
Ketika pintu hampir tertutup.
Tiba-tiba...
Universiadenn
Ketika pintu hampir tertutup, dengan sigap Melanie menahannya. Namun perjalannya menuju Prof-nya sepertinya terus terhambat. Terhambat karena kehadiran seorang pemuda dengan mata biru indahnya. Rambutnya tertata rapi dengan belahan tengah yang meruncing di ujungnya. Walau rahangnya begitu keras, ia tersenyum kepada teman sekelasnya.
“Itu Dennis! Kenapa ia kemari?” Ujar Melanie di dalam hati.
“Lanie,” sapa Dennis yang melangkah menuju kearah Melanie yang terdiam terpana menatap seorang yang menghampirinya.
“Dennis,” balas Melanie sembari menatap d**a bidang milik Dennis. Melanie melakukan hal itu karena tak sanggup untuk menatap mata sang pemuda yang sepertinya mempunyai tujuan sama dengannya.
“Kau ingin bertemu profesor?” tanya Dennis sembari menggenggam gagang pintu yang sama dengan yang pegang oleh Melanie. Sehingga jemari dingin milik Dennis menyentuh jemari lentik Melanie. Hal itu membuat darah Melanie berdesir kehilangan fokusnya.
“Ah, iya. Aku juga mau...”
“Sama,” sela Dennis. “Aku juga mau bertemu Prof. Herring. Mari?”
Dennis menarik pintu kayu ulin itu, sehingga Melanie harus mundur sejenak.
“Masuklah!” Pinta Dennis yang mempersilahkan Melanie untuk masuk ke dalam duluan. Ia tahu etika bahwa wanita harus didahulukan dimanapun berada.
Dengan perasaan canggung, Melanie melangkah ke dalam. Otot kakinya yang semula cepat serasa kaku dan wajahnya enggan untuk menengadah. Melanie tahu jika ia menengadah, maka ia menatap mata biru milik Dennis yang menggoda.
Dennispun mungkin berpikiran sama, ia berjalan mengikuti Melanie dari belakang. Seketika semerbak harum bunga melati tercium dari hidung mancung Dennis sang penawan. Hidungnya bagai terpasung mengikuti setiap lenggokan badan Melanie nan anggun.
“Hmn! Baunya harum sekali!” ujar Dennis dalam hati sembari mengikuti gerak p****t Melanie di balik jarik batiknya.
Kebaya biru muda Melanie mencetak setiap lekuk tubuh yang seksi. Lekuk tubuh yang menjadi idaman setiap pria mana saja yang menatapnya. Memang benar, ras campuran selalu memberikan kejutan.
Benak Dennis menerawang menyentuh balik pakaian pribumi Melanie. Seakan ia terbius oleh pesona tubuh harum Melanie. Namun, pikirannya terpecah ketika seorang pria pintar setengah baya mulai menyapa mereka.
“Ah! Melanie, Dennis,” sapa Prof. Herringard dengan senyuman ramah. “Aku menunggu kedatangan kalian!”
Mereka berdua hanya membalas dengan senyuman dan anggukan saja. Walau terkesan bersahabat, Herringard adalah sosok yang paling dihormati di Schulmachdenn dan Universiadenn ini.
Keahliannya dalam dunia Arkeologi sungguh mengesankan. Penemuan utamanya adalah menemukan tulang-tulang manusia purba di beberapa daerah di Jawa. Betapa terkejutnya Ia ketika melihat sosok tubuh orang Javanicus yang hidup di masa lampau. Sosoknya tinggi besar, melebihi tinggi pribumi yang sekarang ada, bahkan para kompenipun kalah gagahnya. Sebenarnya penemuan itu berasal dari guru besar yang mendahuluinya, yaitu Dr. Eugene Dubois. Sayang, ia meninggal dunia dengan segala misteri yang terpendam di tempurung otaknya. Tak hanya itu, Prof. Herringard juga meneliti soal klenik. Sebuah ilmu diluar nalar manusia yang menginginkan dirinya untuk berlayar jauh dari Batavia menuju Ardaka. Kabarnya, ada kejanggalan disaat kehancuran markas kompeni disana. Kehancuran yang mengebabkan seorang Governoor Jendral utusan Ratu Wilhemmina~~mati dengan mudahnya.
“Kalian bawa suratnya?” Ujar Prof. Herringard sembari merapikan beberapa catatan panjangnya.
Melanie terkejut ketika mendapati Dennis maju kedepan sembari menarik sebuah lipatan kertas dan menyodorkannya ke arah Herringard yang langsung membukanya. Sesaat ia membacanya, lalu ia berkata,
“Baik Dennis! Selamat bergabung di tim peneliti rerutuhan Ardaka.”
Melanie semakin bertanya-tanya tentang apa yang seharusnya menjadi miliknya itu. Tak disangka bahwa Dennis juga mengikutinya.
“Melanie, mana suratmu?” tanya Herringard dengan nada getir seolah ia memberikan sebuah pertanyaan yang tak pernah ia tahu jawabannya.
“Surat apa? Profesor,” Melanie bertanya balik.
“Temanku Ahras bercerita padaku bahwa engkau datang kerumahku untuk menawarkan diri sebagai peserta tim ekspedisi Ardaka. Aku telah menyetujuinya karena motivasimu sungguh besar, yaitu ingin seperti Dr. Alicia Coen. Dan sekarang aku menerimanya. Lalu aku mengirim Surat ijin persetujuan orang tua kerumahmu.” Ujar Profesor sembari menunjukan lembar surat milik Dennis. “Kami harus meminta ijin ke orang tuamu. Jika tak ada ijin, maka tak ada keberangkatan.”
Dalam seribu kata, Melanie terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa? Yang jelas, ia memang tak apa-apa mengenai surat-menyurat itu.
“Apa kau belum menerima suratmu?” tanya prof. Herringard sekali lagi.
Melanie hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Profesor. Bibirnya seakan terkatup dan jantungnya berdegup melebihi biasanya.
“Aku pernah seperti dirimu Lanie,” ujar prof. Herringard dengan santainya sembari memasukan surat milik Dennis ke amplopnya kembali. “Dulu orang tuaku sering menyembunyikan surat-surat dari para teman ilmuwanku. Karena mereka menganggap seorang anak lelaki harus berperang membela bangsanya, bukan berkutat dengan buku dan penetilian yang tak berguna. Namun aku selalu berkeras dan menginginkan surat-suratku kembali. Hanya itulah aku bisa berkembang sampai saat ini, bukan dari senapan dan meriam yang jika berdentum akan melukai.”
Perkataan Prof. Herringard semakin membuat Melanie bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ia tahu, bahwa kedua orang tuanya tak setuju jika mendapati Melanie pergi jauh dari rumahnya. Kodrat dan takdirnya sebagai seorang wanita yag seharusnya dirumah saja~~membantu mencuci, memasak dan belajar mengurus anak. Bukan malah keluyuran menjauh dari rumahnya. Ia bukan gadis lemah yang dipikirkan oleh orang tuanya. Walau suatu saat ia harus menggantungkan hidupnya pada seorang lelaki.
“Baiklah Melanie, jika kau tak membawa suratmu kemari. Maka kau tak bisa ikut dalam perjalanan ini! Kami adalah ilmuwan, bukan para tentara kompeni yang memaksa dan menculik anak gadis seseorang.” Ujar Prof. Herringard dengan lembut sembari menatap Melanie.
“Tapi prof...!” desak Melanie.
“Bicaralah baik-baik dengan orang tuamu.” Sela profesor memberikan saran kepada Melanie.
Melanie yang hanya menunduk saja, serasa harus menerima saran dari Prof. Herringard. Tak tahu lagi apa yang harus ia katakan kepada orang tuanya. Yang jelas ia tahu, perdebatan sengit akan terjadi malam ini.
Akhirnya, Melanie dan Dennis meninggalkan ruang Profesor. Namun sesaat sebelum ia berbalik. Profesor berkata, “ah! Aku punya kabar dari teman sekelasmu yang bernama Panji. Kabarnya ia sakit keras dan aku akan datang kesana malam ini. Berdoalah untuknya?”
Melanie dan Dennis hanya mengangguk saja dihadapan guru besarnya. Mungkin di benak Dennis, Panji bukanlah seseorang yang berarti. Tetapi berbeda dengan Melanie, bebannya semakin berat saja hari ini.
“Kenapa tiba-tiba ia sakit?” batin Melanie mengingat kejadian memilukan kemarin. “Apakah karena pukulan itu?”
Melanie dan Dennis keluar dari ruangan Profesor. Sejenak mereka terdiam di ambang pintu untuk saling berpikir di otaknya masing-masing. Melanie hanya tertunduk sembari memikirkan dua hal, surat dan Panji yang terbujur sakit. Tetapi untuk apa memikirkan Panji, ia adalah pria yang memperkosa Melanie secara tak nikmat. Pikiran Melanie tertuju pada surat itu, kenapa orang tuanya tak memberitahukan perihal surat itu. Ia masih dalam lamunannya ketika Dennis memanggilnya beberapa kali.
“Lanie, hei!” panggil Dennis sembari memegang bahu Melanie. Sehingga tubuh Melanie bagai tersengat petir bermuatan tinggi.
Hal itu membuat Melanie dengan terpaksa memandang Dennis yang begitu tampan dan menawan, “ah! Ada apa Dennis?”
“Kau baik-baik saja?”
“Ya, tapi kenapa surat itu tak sampai ke diriku.”
“Tenang saja! Masih banyak waktu untuk membujuk orang tuamu,” ujar Dennis sembari melangkahkan kakinya menyusuri koridor bersama Melanie.
“Ah, iya. Kapan keberangkatannya?”
“Dua bulan lagi,” jawab Dennis.
“Hmn, masih ada waktu,” gumam Melanie.
Sesaat mereka terdiam untuk memperhatikan langkah kakinya masing-masing. Lalu Dennis mulai berbicara lagi, “kuharap kau mengikuti perjalanan itu?”
Melanie tak menjawab apapun. Urat malunya seakan menegang dan menghindari tatapan mata dari Dennis yang menggoda hasratnya. Melanie berharap, perkataan Dennis bukanlah sebuah pernyataan kosong belaka. Karena Melanie tak menjawab, Dennis mengalihkan pembicaraannya.
“Kau tahu tentang kabar Panji?”
Darah Melanie seakan berdesir dengan perkataan Dennis. Seakan ia harus memikirkan apa yang seharuskan ia hilangkan tentang Panji si batok kelapa. Melanie kembali teringat mimpi itu. Mimpi dimana buah d**a dan p****g susunya menjadi sasaran lidah Panjinya yang bergerak cepat. Mimpi itu, seakan terasa kembali di tubuhnya, sehingga bulu kuduknya berdiri karena rangsangan dari gambaran mimpinya semalam. Ia mencoba membuang jauh ingatan yang menyenangkan sekaligus menyebalkan itu. Karena sesaat setelah dirinya mencapai puncak, terjadi ledakan yang membuka bilik kakus. Apalagi ia juga melihat teman-teman beserta gurunya berdiri disana. Tatapan mereka yang menertawai masih terdengar sayup di kepala Melanie. Terutama Panji yang tertawa terbahak memperlihatkan gigi tanggal yang menyeramkan itu.