Ronde 4 : Batok Kelapa (2)

3580 Words
Melanie melirik Panji yang hanya termenung menatap wajah Melanie yang dipenuhi peluh. Tubuhnya kecil dengan baju kompeni yang kebesaran. Tidak seperti Melanie, para pria pribumi diharuskan untuk memakai pakaian kompeni jika memasuki area Schulmachdenn. Hal itu dikarenakan bahwa pakaian beskap pribumi terlalu rumit dan harus dihiasi keris. Keris adalah senjata dan pria bersenjata tak boleh masuk ke Schulmachdenn. Namun kebaya wanita masih diperbolehkan memasuki schulmachden. Kebaya wanita tak memiliki senjata. Hal itu membuat Panji dan Alam sebagai anak laki-laki pribumi harus menuruti peraturan tersebut. Dengan jantung berdebar dan langkah kaku, Melanie memasuki kelasnya. Suaranya langkahnya terdengar nyaring dengan wajah tertunduk tak berani menatap siapa saja. Bahkan madam Suzan yang telah berdiri di hadapannya. “Melanie Arthaprawirya!” gertak madam Suzan dengan ejaan sempurna anak didiknya. “Kau tahu ini jam berapa?” “Ma~maaf madam Suzan!” “Oh ya, baru saja kami belajar soal waktu!” Ujar madam Suzan dengan nada sinisnya. “Kau tahu, satuan waktu terdiri dari detik, menit dan jam.” Madame Suzan memberi jeda sejenak, “Detikan pada jam dirumahmu, dihitung dari...” Melanie menyela penjelasan dari madam Suzan, “salah satu unsur atom di sistem periodik unsur karya Dimitri Mendellev. Atom yang digunakan adalah caesium yang terletak di kolom pertama dan baris ketujuh. Atom Caesium menghasilkan getaran stabil yang biasa disebut dengan detik. Kemudian atom itu digunakan oada sebuah jam atom sebagai penanda waktu dunia. Jam atom itu berada di ~~ Greenwich!” “Oh. Kamu pintar sekali!” puji madam Suzan sembari menutup bukunya dan bertepuk tangan kecil. Melanie hanya bisa tersenyum karena ia telah selamat akibat kebiasaannya membaca itu. Dengan bangga ia berbalik dan menuju bangkunya yang kosong di ujung ruangan. Namun ia baru menginjakkan langkah keduanya, madam Suzan memanggilnya, “Melanie, mau kemana?” Dengan leher kaku Melanie berpaling kepada gurunya yang kejam. Matanya memincing penuh ketakutan. “Anak yang terlambat harus di Strapp. Cepat berdiri diluar sampai pelajaran berakhir!” Lengan Melanie seakan tak bertenaga lagi. Dengan langkah gontai ia harus keluar dari kelasnya dan berdiri bersama Panji yang lebih dulu kena Strapp. Panji yang tubuhnya setinggi bahu Melanie hanya senyum-senyum saja mendapati temannya berdiri di sampingnya. Tampangnya compang-camping dengan potongan rambut seperti batok kelapa. Celananya terlalu panjang dengan sepatu kebesaran. Tak ada yang patut dibanggakan di tubuh si kecil ini, batin Melanie mengumpati temannya. Lalu Melanie berlalu melewati Panji. Ia begitu gerah dengan semua ini karena semua usahanya tak membuahkan hasil. Bahkan jawaban yang gamblang sekalipun, tak sedikitpun meluluhkan hati gurunya yang kejam itu. “Mau kemana?” Tanya Panji kepada Melanie yang meninggalkannya. “Ke kakus! Mau ikut?” jawabnya ketus. Jawaban Melanie hanya ditanggapi dengan tundukan kepala Panji yang begitu ketakutan dengan kekeras-kepalaan Melanie. Dengan perasaan kesal Melanie berjalan menyusuri lorong-lorong berlangit-langit tinggi di Schulmachdenn. Suasananya sepi dan tak ada siapapun karena para siswa sedang belajar di kelasnya masing-masing. Melanie memasuki kakus dan sejenak ia berkaca di cermin. Ia menghidupkan keran sehingga air jernih dan dingin menyirat dari ujung lubangnya. Wajah Melanie dipenuhi peluh, seketika segar kembali. Seakan air itu memberikan semangatnya yang baru. Melanie kembali terpikir tentang tawarannya untuk mengikuti Ekspedisi ke Ardaka. Tentu saja, bukan hal itu saja yang ia pikirkan. Beberapa minggu ini ia tak bertemu dengan pria yang telah mrngganggu pikirannya setiap malam. Pria pribumi bertubuh kekar dan sangat jantan bagi Melanie seorang. Namun hal pertama yang perlu ia lakukan adalah mengikuti perjalanan ke Ardaka. Tempat dimana para kompeni untuk pertama kalinya menginjakan kakinya di negeri penuh dengan rempah dan bebatuan murni ini. Tempat itu jaraknya cukup jauh, sehingga membutuhkan kapal untuk sampai kesana. Tempat bernama Ardaka. Dahulu merupakan Kedaton dan menjadi asal muasal penjajahan di masa lampau. Melanie berbalik, meninggalkan cermin yang berjajar rapi diatas pancuran air yang telah mati. Ia mendekati pintu kamar mandi yang setengah terbuka karena tak ada orang di dalamnya. Suasana begitu sepi, tak ada seorangpun disini. Ketika langkah pertama Melanie memasuki salah satu kamar mandi. Tubuhnya serasa terdorong oleh tenaga laki-laki. Tenaganya begitu besar walau ia mendapati tangan kecil yang memeluk pinggangnya. Tubuhnya dan tubuh pendorongnya terlontar memasuki kamar mandi sempit itu. Melanie meronta ketika tubuhnya mulai ditekan di dinding kamar mandi sempit itu. Ia ingin berteriak, namun tangan kecil yang menyerangnya itu dengan sigap membekap mulutnya. Sehingga teriakannya membisu. “Mmnnn! Mnnnnn!” teriaknya membisu. Dalam pikiran kalutnya ia menduga-duga. Siapa yang melakukan ini? Apakah Panji si batok kelapa? Berani sekali ia melakukan ini padaku? Pantat Melanie yang masih terbungkus oleh kain jarik~~tertusuk benda keras kecil seperti kapur tulis. Benda itu menggesek bagian alur pantatnya yang kenyal. Sejenak ia berhenti meronta. Tangan kecil itu menyekap bibir Melanie dan satunya lagi melingkar di pinggang. Penyerang itu mendorong Melanie sehingga tubuhnya tertekan dinding. Buah dadanya tertekan dinding hingga berbentuk pipih. Akal sehatnya mulai merasakan adanya gesekan benda keras dan kecil di balik jarik yang terus menggesek aliran pantatnya. Melanie mendengar dengusan nafas yang menggebu di balik punggungnya merasakan sentuhan hidung seseorang. Ia menerka siapa yang melakukan ini padanya. Rasanya ia seperti diperkosa oleh seseorang, namun pria itu sepertinya hanya memikirkan kenikmatannya sendiri. Pria itu hanya menggesekan kejantanannya yang kecil di bongkahan pantatnya yang menggoda. Entah bisikan dari mana? Melanie terpikir untuk menggoda pria yang memperkosanya itu. Pemerkosaannya begitu amatir, dan tak seperti apa yang ia dengar tentang kejahatan pemerkosaannya. Perlahan lidah Melanie menjulur, memberikan rasa geli pada telapak tangan yang membekap mulutnya. Liurnya membasahi telepak tangan yang sepertinya Melanie tahu ini milik siapa. Entah cara darimana dan siapa yang mengajarkannya? Melanie menunggingkan pantatnya setelah sebelumnya ia menyentak batang keras seperti kapur itu. Pemerkosanya semakin beringas ketika objek gesekannya serasa lebar dan semakin mengkal. Gerakan pinggul sang pemerkosa bergerak liar menggesek dan menikmati kenyalnya bongkahan p****t Melanie. Rasa penasarannya timbul, sehingga Melanie ikut menggoyangkan pantatnya melawan terjangan benda keras yang menusuk bongkahan p****t dibalik jariknya itu. Gerakan p****t Melanie menggoda pria pemerkosa itu, kadang gerakannya memutar, kadang menghujam dan kadang menekan batang kemaluan milik sang pemerkosa. Tangan Melanie menggenggam pergelangan kecil itu. Entah bisikan darimana, ia malah mengarahkan telapak tangannya ke dadanya. Dengan gemas, jemari kecil sang pria meremas-remas buah d**a Melanie yang masih terbungkus batiknya. Melanie meraih tangan satunya lagi yang membekap mulutnya, lalu ia meletakan tangan kecil itu di buah d**a satunya yang bebas dari remasan. Desiran nafsunya bangkit ketika ia merasakan buah dadanya dipijat dengan liarnya. Gerakan pinggul pria kecil itu semakin liar karena lengkuhannya mulai terdengarnya. “Auh!” desah pria itu. Suara pria kecil yang telah dikenalnya, namun baru kali ini ia mau melakukannya.  Gerakan pinggul Melanie juga semakin liar mengimbangi hentakan nafsu dari temannya itu. Melanie sesekali menutup matanya dan mendenguskan nafas hangat, ketika kebayanya mulai berantakan. Tangan kecil pria itu mulai berani menyusup di balik kebayanya untuk mencari p****g susunya yang mengeras. Selangkangan Melanie serasa hangat ketika kedua tangan pria itu berhasil menemukan putih di balik kutang Melanie yang mengendor. Tangan kecilnya begitu lincah menjepit p****g Melanie yang mengeras. Jari jemarinya terampil melakukan gerakan plintiran, sehingga Melanie harus menggigit bibirnya agar desahnya tertahan. Rasanya sungguh nikmat dibenak Melanie ketika kedua tangan kecil itu meremas bagian kenyal itu. Sehingga membuat pinggul Melanie menggoda pria kecil itu semakin buas. Lalu, sebuah dorongan keras terasa di bongkahan p****t Melanie. Rasa hangat menerjang dari bongkahan kenyal yang menungging itu. Pria kecil pemerkosa itu mengejang dan menggelinjang, merasakan sesuatu yang keluar dari dalam dirinya. Nafasnya terengah menandai sang pemerkosa yang telah mencapai puncaknya. Tangan pria itu mengendur dan badannya bertumpu di punggung Melanie yang lebih tinggi darinya. Nafasnya berhembus puas merasakan sisa-sisa kenikmatan yang melanda dirinya. Melanie yang kesal~~masih merasakan desiran cairan yang mungkin saja membasahi kain jarik penutup bagian pinggulnya. Seketika hasrat nafsunya berganti dengan amarah yang terbakar. Dengan sigap, Melanie membalikkan badannya. Lalu memandang dengan penuh kekejian kepada pemuda bertubuh pendek dan model rambut seperti batok kelapa itu. Melanie tahu, dari awal ini adalah perbuatan Panji. Raut wajahnya begitu kelelahan sehingga matanya hanya membuka setengah dengan pipi merah padam. Celananya terlepas sehingga burung kecilnya yang basah mengendur dan menuduk di buah zakarnya. Salah satu tangan Melanie meraba bagian pantatnya yang menjadi objek kesenangan si batok kelapa itu. Ia merasakan lendir yang begitu banyak membasahi kain jarik di bagian pantatnya. Seketika aroma amis menguar di hidungnya. Aroma amis yang bercampur kemarahan yang begitu besar. Matanya memandang Panji dengan ganasnya. Lalu, Plaaaaakkkkkk!!! “Aduh!” Panji tersungkur sembari mengaduh menerima tamparan keras dari Melanie. Tamparannya begitu keras seakan batok kepala yang dikenakannya terlepas dari kepalanya. Lalu Melanie merapikan baju dan kutangnya yang berantakan, sembari memandang Panji dengan penuh kemarahan. Ia tak sanggup melihat bagian p****t yang basah dipenuhi lendir liar. “Dasar! Tidak berguna!” umpat Melanie kepada temannya yang tersungkur itu. Lalu ia keluar dengan langkah kaki cepat. Umpatannya kepada Panji itu, mempunyai arti lain. Bukan ia tak senang diperlakukan seperti itu? Ia hanya berpikir bahwa Panji akan melakukan sesuatu yang lebih padanya, namun saat Melanie belum apa-apa. Panji sudah mengeluarkan cairan kawinnya sebagai pertanda permainan berakhir. Melanie tak semangat lagi untuk belajar hari ini. Alhasil ia keluar dari gerbang Schulmachdenn dengan perasaan malu, karena harus menutupi bagian pantatnya yang basah. Bibir selangkangannya yang tadi hangat, sekarang beringsut mendingin karena nafsunya berubah menjadi amarah. Amarah yang membuat mengumpat sepanjang jalan ke rumahnya. Dasar batok kelapa tak berguna! Dasar egois dan hanya memikirkan kesenangannya sendiri! Wajarlah! Burungnya kecil seperti itu! Aku sumpahi akan terus mengecil seperti itu! Umpat Melanie dalam hati. ♡♡♡♡ Kesunyian malam terpecah ketika rintikan hujan datang. Rintikannya terlihat  samar dan membendung setiap asa yang tertunda. Hembusan angin pelan, menyapu rintikannya sehingga rintikannga membias diantara atap bangunan. Tetesan air mengucur pelan, menghasilkan lekukan tajam diantara rerumputan. Udara malam yang dingin tak begitu terasa di tubuh Melanie yang telanjang di atas ranjang. Bola lampu dikamarnya padam, dan menyisakan lampu meja yang menyala temaram. Tubuhnya terkakang dengan buku novel yang kemarin lusa ia pinjam. Bola matanya bergerak cepat, menyusuri setiap kata erotis yang membangkitkan setiap bulu kuduknya. Bibirnya bergetar, ketika salah satu tangan liarnya memainkan daging kenyal yang makin mencuat. Kadang matanya berbinar, kadang matanya tertutup nikmat untuk membayangkan adegan yang tergambar di setiap tulisan. Lalu, matanya tertegun seakan tak ingin dikedipkan. Ketika ia melihat lukisan sebuah batang dengan urat yang terkeluar. Sangat besar dan panjang sehingga mata Melanie enggan untuk terpejam. Sembari tiduran, ia mengamati lukisan tangan itu. Lukisan itu tercetak di sebuah halaman buku satu halaman penuh tanpa tulisan. Seakan gambar itu menegaskan bahwa semuanya itu nyata adanya. Bahkan b***************n sebesar itupun ada di dunia. Tak sadar, Melani bangkit dari pembaringannya dan menatap sekitar. Tak ada benda yang sama dengan b***************n ini. Bentuknya begitunya dan tak ada duanya. “Hufftt!” Lengkuhnya sembari menutup bukunya dan membuangnya disamping tubuhnya. Lalu tubuhnya tumbang di kasurnya. Melanie begitu mendamba seseorang yang menyentuhnya. Namun siapa yang akan menyentuhnya malam ini. Jika saja, ada maling yang datang memasuki rumahnya, ia serta merta akan membuka selangkangannya dan merasakan hangatnya b***************n yang memasuki rahimnya. Tangannya sudah terlalu pegal untuk mengoyak bibir kewanitaannya yang tak kunjung terpuaskan. Apalagi, ia terbayang oleh tubuh Ahras yang kekar dan terbalur keringat mengkilat. Entah apa yang dilakukan Ahras saat itu sehingga tubuhnya berkeringat? Malam semakin larut dan hujanpun semakin deras. Melanie hanya termenung dibalik selimutnya sembari berguling kesana kemari memikirkan seorang pria yang akan merengkuhnya kelak. Namun hasratnya begitu menggebu, ketika memikirkan kejadian siang tadi. “Tak kusangka? Kepala batok itu membuatku seperti ini,” ujarnya dalam hati. Rintikan suara hujan, membuat kesadarannya berkurang. Sehingga lambat laun, dirinya terkurung dalam desiran alam mimpi yang membelenggu. Di mimpinya, ia menatap Panji. Potongan rambutnya rapi seperti batok kelapa yang di pakainya sehari-hari. Wajahnya terlihat bodoh seperti biasanya. Sebenarnya ia tidak bodoh, namun teman-temannya yang terlihat lebih menawan membuatnya terlihat seperti orang paling bodoh di kelas. Bibirnya tersenyum lebar memperlihat beberapa giginya yang tanggal. Entah kenapa? Panji tak mengenakan sehelai pakaianpun di mimpi Melanie. Dadanya kurus dengan lengan kecil seperti wayang. Melanie mengarahkan pandangannya ke arah bagian bawah tubuh Panji yang terlihat mengerikan. Ia menatap batang kecilnya yang mengkerut dengan buah zakar yang lebih besar dari batangnya. Bentuknya sangat berbeda dengan apa yang di bayangkannya selama ini, terutama ketika ia melihat lukisan Alicia di buku yang kemarin ia pinjam. Bola mata Melanie seakan tak ingin bergerak dari b***************n yang kecil itu. Tanpa sadar, Panji mendekati dirinya. Melanie terkejut ketika mendapati dirinya berada di dalam ruang sempit. Ia mencoba mengingat bahwa ruangan ini adalah bilik kamar mandi di sekolahnya. Sekatnya terbuat dari kayu papan berwarna hijau tua. Pintunya tertutup sempurna dengan aroma serbuk kayu yang menyengat hidungnya. Di dalam mimpinya, ia seperti merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakannya siang tadi. Namun kali ini lebih jelas melanda. Melanie seakan tak percaya bahwa mimpi itu seperti nyata. Tubuhnya telanjang bulat tanpa sehelai kain menutupi kulit putihnya. Dadanya bulat mengkal sempurna dengan bulatan p****g s**u yang mencuat menantang Panji yang wajahnya tepat berada di hadapannya. Bagian bawah tubuhnya terlihat jelas. Ia merasakan desiran nafsunya sendiri ketika melihat bulu-bulu halusnya yang menghiasi bagian selangkangannya. Lalu matanya kembali lagi ke Panji yang hanya terdiam menatap buah dadanya. Tatapannya nanar berbinar seakan menusuk d**a Melanie yang mulai berdebar. Melanie menunggu sejenak, ia menunggu apakah si batok kelapa ini akan menggumulinya. Atau tetap menatapnya seperti itu, tanpa menyentuhnya. Melanie diam dan terus menunggu. Namun perjaka yang baru akan dewasa itu hanya tetap memandangnya. Batinnya berteriak, “ayo! Tunggu apalagi.” Namun Panji tetap terdiam sembari menaik turunkan jakunnya. Akhirnya, Melanie-lah yang harus memulai semuanya. Melanie mengangkat tangannya dan melepas ikatan rambutnya. Lalu merapikannya lagi. Tangannya yang terangkat membuat dadanya membusung hebat dihadapan Panji yang hanya setinggi dadanya. Sudah dibilang, bahwa mimpi Melanie seperti nyata. Ia berada di bilik kamar mandi sekolahnya, seperti tadi siang. Namun sekarang mereka berdua telanjang. Wajah Melanie mendongak, ketika ia berpura-pura merapikan rambutnya. Namun Melanie tetap tak merasa apapun. Tak pelak, rasa kesal melanda dirinya. Dengan cepat ia mengikat kembali rambutnya dan memandang Panji yang masih menatap p****g s**u Melanie yang masih mencuat. Tak habis pikir, Melanie melakukan segala cara untuk menggoda Panji yang sepertinya enggan untuk menyentuhnya. Ia hanya terpaku di buah d**a Melanie yang kenyal. Alhasil, Melanie menggoyangkan buah dadanya. Buah dadanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Sehingga membuat bola mata Panji berputar cepat mengikuti goyangan buah d**a Melanie. Melanie menghentikan goyangan badannya, sehingga dadanya kembali berdiam. Lalu ia menggoyangkan buah dadanya lagi agar Panji tergoda lagi. Memang benar, raut wajah Panji berubah drastis ketika Melanie menggoyangkan badannya. Hal itu membuat Melanie sedikit tertawa geli, karena gerakan matanya seperti seorang anak pengemis yang disuguhi makanan enak. Tetapi, ada sesuatu yang mengganjal di tubuh Melanie. Ia menganggap bahwa dirinya tak mampu lagi memaksa Panji untuk menyentuh tubuh sintalnya. Akhirnya, dengan sekali bekukan tangannya, wajah bodoh di batok kelapa itu terbenam di d**a kenyalnya. Bibirnya terbuka menelan p****g s**u Melanie yang tersaji sempurna di hadapannya. Tak sadar, Panji menghisap buah d**a Melanie dengan kencangnya sehingga menghasilkan suara decapan kencang. Bibir Panji berpindah dari d**a kiri ke kanan. Luirnya membasahi setiap permukaan kenyal buah d**a Melanie, sehingga membuatnya melengkuh nikmat. Melanie melepaskan pelukannya tangannya dari leher Panji. Dalam posisi berdiri, Melanie mengayun tangannya ke belakang sehingga dadanya membusung sempurna. Matanya menatap sayu kearah Panji yang menyusu pada putingnya. Tangan Panji mulai bergerak liar. Tangannya mengusap pinggang Melanie, lalu beralih mengusap ke bongkahan pantatnya yang kenyal. Darah Melanie serasa berdesir ketika tangan kecil milik Panji menyusup di sela buritannya dan mengusap-usap lubang anusnya. Rasa geli bercampur nikmat terasa di tubuh Melanie. Rasanya seperti tak berada di alam mimpi, ketika tangan Panji menarik tubuh Melanie agar merapat ke tubuhnya. Melanie sedikit terhuyung karena pusat tarikan berasal dari dorongan tangannya yang menyusup di balik sela bongkahan pantatnya. Namun tak ada rasa risih atau amarah lagi. “Auhhh,, mnn!” Melanie melengkuh nikmat ketika Panji menarik tubuh Melanie untuk rapat kepadanya. Kepala Panji mendongak, seakan posisi itu tak membuatnya kesulitan untuk mengenyot p****g s**u Melanie yang mulai memerah dan basah. Terkadang Panji menghentikan hisapan untuk sekedar menarik nafasnya. Lalu ia kembali lagi dengan membuat gerakan melingkar di p****g s**u kesayangannya itu. Wajah Melanie terlihat sayu dengan hidung yang mengempis dan bibir yang mengerucut. Ia tak berani berkomentar apapun kecuali mendenguskan nafas nikmat ke ubun-ubun Panji yang bergerak dengan liarnya. Melanie merasakan pahanya disentil oleh b***************n Panji yang mulai mengeras. Lagi-lagi, Melanie terlihat linglung karena Panji mengusapkan batang kejantanannya di tempat yang tidak semestinya. Apakah ia tak tahu? Bagian mana yang enak dan tidak? Apakah ia secara  asal mengawiniku? Ujar Melanie dalam batin mimpinya. Tak ada yang tahu maksud Panji kecuali dirinya sendiri. Melanie perlahan membuka pahanya, sehingga tubuhnya sedikit lebih rendah. Semua serasa melayang, ketika bibir berbulu milik Melanie tersentuh oleh Batang kemaluan yang sebenarnya tak terlalu besar milik Panjinya. “Tak apa! Daripada tidak ada sama sekali!” ujar Melanie sedikit memuji b***************n milik Panji. Karena tubuh Melanie merendah, Panji terpaksa melepas hisapan p****g susunya. Namun, serangan berganti di leher Melanie. Dengan berani, Panji mengesekan batangnya di bibir berongga milik Melanie sembari menyesap lehernya. Melanie tak kuasa menahan nikmat ketika sodokan-sodokan itu menyeret bibir berlendirnya yang hampir terbuka. Melanie mengerjap nikmat ketika Panji mendorong tubuh Melanie untuk bersandar di dinding. Dengan terpaksa, Melanie harus melingkarkan tangannya ke punggung Panji. Dagu Melanie bersandar di bahu Panji sembari merasakan desakan nafas mereka yang memburu. Nafsu Melanie semakin bangkit ketika melihat p****t kurus milik Panji yang bergerak liar seakan mencari lubang nafsunya. Hal itu membuat Melanie semakin menggebu dan menggoyangkan pinggulnya melawan hentakan Panji. Tak terasa, Panji berhenti menghentakkan pinggulnya. Ia menjauh sembari memandang Melanie yang masih lemas bersandar di dinding. Sejenak Panji memainkan buah d**a Melanie yang mengencang. “Ayo! Kawini aku!” bisik Panji yang menggema di alam bawah sadar Melanie. Putingnya tertarik karena Panji menariknya, sehingga tubuhnya mengikuti gerakan p****g s**u itu. Melanie tersenyum tipis melihat tubuh Panji yang beringsut duduk di lantai tegel kelabu. Ia berpikir bahwa sekarang adalah gilirannya untuk bermain. Pada awalnya Melanie ragu. Ia turut duduk, namun tidak seperti yang diinginkan Panji. Melanie hanya berjongkok saja, sehingga membuat tangan Panji melingkar dan menarik Melanie yang bongsor ke pangkuannya. Seketika, s**********n Melanie menekan batang kemaluan yang kecil namun tegang itu. Melanie hanya diam saja menatap mulut Panji yang gemar sekali menyesapi d**a Melanie yang jelita. Perlahan-lahan, Panji mengoyangkan pinggul Melanie dengan tangannya yang melingkar di pinggangnya. Melanie merasakan dorongan hebat ketika desiran darahnya menyentuh rongga kenikmatan itu. Perlahan Melanie menggoyangkan pinggulnya memacu semangat Panji yang semakin tak terkendali. Di alam nyata, Melanie tertidur dengan posisi tengkurap. Sehingga punggung dan p****t mengkalnya tersirat oleh mata siapa saja yang memandangnya. Tangannya menyusup di selangkangannya. Jemarinya mengoyak selangkangannya dan diimbangi oleh gerakan pantatnya yang menghujam. Hujan semakin deras, sehingga lengkuhan Melanie tersamarkan. Lengkuhan yang sama, seperti yang ia kumandangkan di alam mimpi. Di alam mimpinya, udara semakin pengap ketika tubuh Melanie meronta nikmat di atas tubuh kecil Panji yang terhimpit. Panji menurunkan kepalanya, sehingga tangan kecilnya bebas untuk bergerilya di buah d**a Melanie yang basah oleh keringat bercampur liur. Aroma apak dari keringatnya semakin menambah gairah rahimnya. Sehingga pinggul Melanie kini tak perlu bantuan dari tangan kecil lawan mainnya. Pinggul Melanie bergerak maju mundur, terkadang memutar dan terkadang menghujam, sesuai dengan selera nafsu birahinya. Tak ada cinta sedikitpun, hanya nafsu yang meliputi bagian asa yang dipenuhi lendir bercampur keringat. Begitu hangat dan aroma anyir menguar di hidungnya. Tiba-tiba, rasa penasaran Melanie terbayarkan. Tubuhnya serasa melayang kearah yang berlawanan. Tangan Melanie menarik tubuh Panji dengan mudahnya. Tetapi kali ini ia tak mengarahkan wajah Panji ke buah dadanya, tetapi kepada bibirnya yang mendengus sintal. Seketika, bibir Melanie menyentuh bibir Panji yang gelagapan. Kepalanya mendongak karena Melanie memeluk lehernya erat. Sehingga tak ada ruang lagi untuk kepalanya bergerak. Lidah Melanie, dengan penuh nafsu menyapu rongga mulut Panji menguarkan bau. Seketika tubuh Melanie menggelinjang nikmat. Seakan desiran air seni namun kental menyisir nikmat dari balik bibir lendirnya. Nyawanya serasa keluar dan masuk kembali. Pinggul Melanie mengejang kencang diiringi dengan dengusan nikmat. Bibir mereka berdua saling menghisap liar, ketika kejangan demi kejangan terjadi. Lalu, Melanie melepaskan pagutan bibirnya. Senyumnya membasuh segala keraguan dalam dirinya. Baru kali ini dan baru di dalam mimpi ini. Dirinya mendesah diantara rengkuhan lawan jenisnya~~walau tak ada satupun rasa cinta yang berbuih di dalam hatinya. Wajar! Jika tak ada rasa cinta. Melanie adalah gadis blesteran pribumi kompeni yang amat langka. Tubuhnya subur berkembang sintal melebihi gadis pribumi asli atau kompeni asli. Sedangkan Panji berbeda. Tubuhnya kurus kering kerontang dengan potongan rambut batok kelapa kebanggaannya. Mungkin orang tuanya memasang batok kelapa di kepalanya lalu mencukur ujung rambutnya. Sehingga potongannya rapi dan terlihat seperti orang bodoh. Wajah Melanie masih diliputi rasa bahagia, walau hanya dalam mimpinya. Wajahnya merah merona sembari mengatur nafasnya yang berantakan. Lalu, terdengar dentuman kencang yang menggelegar. Sehingga tubuhnya terangkat mengikuti kerasnya kejutan itu. Bilik-bilik kayu sekat kakus itu terlepas dan remahan kayu berterbangan di udara yang pengap. Betapa terkejutnya Melanie yang masih duduk mengangkang di tubuh Panji yang sepertinya terlihat tenang dan tak terpengaruh oleh ledakan. Melanie menatap sekitar dan ia terkejut. Ternyata teman-teman sekelasnya sudah berdiri berjajar disana. Mata mereka memandang tajam posisi tubuh Melanie yang tak seharusnya diperlihatkan. Mata Melanie membelalak penuh rasa malu. Di dalam mimpinya, ia melihat Arjen, Martha, dan Madam Suzan. Lalu dibarisan belakang ia melihat beberapa teman lelakinya yang bertubuh tinggi, termasuk dengan Dennis yang paling tampan diantara mereka semua. Lalu suara tawa cekikikan terdengar nyaring. Ia melihat Sonja~~yang berdiri di paling depan. Tawanya seakan mengejek dirinya yang begitu hina. Lalu seluruh ruangan itu menertawainya dengan gelak tawa terpingkal. Di mata Melanie, wajah mereka semua seakan melonjong dan penuh dengan raut penghinaan. Ia memang hina karena bergumul dengan pria cebol berbatok kelapa. Tidak dengan pangeran tampan seperti Dennis atau Ahras yang selalu menghinggapi pikirannya. Mata Melanie beralih ke mantan lawan mainnya, Panji. Betapa heran dan malunya ketika Panji ikut tertawa. Tawanya paling keras dengar di telinga Melanie. Giginya yang tanggal membuat Melanie merasa mual dengan perutnya. Pandangannya serasa kabur dan nafasnya tersengal ingin pingsan. Lalu, TIIIDDDAAAAAAAKKKKKK!!!!!! Gelak tawa itu berganti dengan dengungan keras di telinga Melanie. Teriakan kerasnya terbawa ke alam nyata sehingga kegaduhan terjadi. Melanie menatap langit-langit rumahnya yang gelap dengan sesekali kilatan petir mengintip dari sela jendela. Lalu terdengar suara ketukan pintu keras yang dipastikan dari orang tuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD