Kiana tersenyum kikuk mendengarnya. Sial. Dari mana sih wanita itu tahu kalau dirinya seberantakan ini karena Ruben? Memangnya terlihat jelas, ya? Seingat Kiana dia tak mengatakan apa pun pada perempuan itu bahkan sejak semalam. Jadi, dari mana Sarah mengetahuinya? Sarah tertawa kecil. Matanya menatapi Kiana yang terlihat kebingungan. Tangan Sarah memunguti botolan make up yang tercecer di lantai lalu menaruhnya dengan rapi di atas meja rias. “Mbak Kiana … mbak Kiana. Sarah ‘kan udah bilang tadi, hal gituan buat Sarah tuh bukan hal baru lagi, Mbak. Sarah kenal mbak Kiana itu bukan setahun atau dua tahun, tapi lebih dari itu. Hal-hal kayak gini tuh bukan hal baru bagi Sarah.” “Ck,” Kiana berdecak pelan. Iya sih. Perempuan itu memang mengenalnya sudah sejak lama, tetapi tetap saja Kiana

