bab 231

1515 Words

“Apa, Mas Ruben? Ngomong apa?” tanya Ning. Ruben menahan napas. Jika boleh jujur, dia ketakutan, sungguh. Mimik wajah ibunya tak biasa, dan Ruben tahu jika wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu marah. Susah payah Ruben menelan saliva yang terasa pahit. “Itu … ibu … ada enggak ngomong sesuatu soal proyek coffee shopnya Kiana ke perempuan itu, Bu? Maaf kalau pertanyaan mas bikin ibu tersinggung, tapi mas merasa mas punya kewajiban untuk nanyain hal itu, Bu.” Yang ditanya tak langsung menjawab. Ning justru menatapi wajah sang putra dengan tatapan tak terbaca. Apa-apaan ini, ya? Dari mana putranya itu tahu? Apa Kiana mengadukan hal itu padanya? Oh, sial. Isi kepala Ning justru memikirkan hal yang tidak-tidak. “Kamu tahu dari mana, Mas Ruben? Kiana ngadu sesuatu ke kamu?” Ning be

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD