Risa tak pernah tak senang setiap kali jam makan siang tiba. Dia akan selalu bergembira hati, sebab perutnya yang keroncongan saat meeting dengan kolega atau apa pun itu, bisa terisi penuh di jam tersebut. Namun, sayangnya kali ini tidak. Risa tidak senang di jam makan siang hari ini. Hatinya berdetak dua kali lebih cepat daripada yang biasanya, dan perempuan itu tak tahu cara menghentikannya. Risa turun dari mobil sedan hitamnya dengan perasaaan gugup setengah mati. Tas tangan yang ada di lengannya ia cangklong dengan tenaga yang tersisa setengah. Oh tentu dia memaksakan diri untuk mempersiapkan hal ini. Ia tak akan kuat, sungguh. Bahkan batinnya sejak tadi tak berhenti merutuki diri yang membuat keputusan secara impulsif malam tadi. “Bisa, Risa, kamu bisa. Semangat, Risa. Kamu bisa.”

